30 January 2011

Guru bahasa Inggris-ku yang cantik

Karena dimakan usia, mungkin sekarang dia tak secantik 20 tahun silam. Waktu itu sepertinya dia baru lulus diploma pendidikan bahasa Inggris dan statusnya masih guru honorer (wiyata bhakti). Kenangan ini bukan soal saya naksir dia. Karena ramah dan tidak jutek, dia memang favorit di mata anak-anak seusia saya waktu itu.

Tapi pertanyaan saya saat ini, sebagai guru bahasa Inggris, pernahkah dia berkomunikasi langsung dengan native speakers? Ambil indikator paling simpel, kalau teks terjemahannya dihilangkan, bisakah dia mengikuti alur cerita sewaktu menonton film Barat. Seingat saya, kebanyakan yang dia ajarkan waktu itu adalah formula-formula grammar dasar, dan saya selalu mendapat nilai bagus.

Alhamdulillah, sebagian pasti karena jasa ibu guruku yang cantik itu, saat ini saya memang bisa membaca naskah berbahasa Inggris dengan lancar. Tapi  saya mohon dengan amat sangat, jangan suruh saya menulis dalam bahasa Inggris, atau nonton film Barat tanpa teks, apalagi merayu gadis bule. Smile

Lantas, seberapa pentingkah bahasa Inggris bagi pembelajar? Karena Indonesia tidak punya badan khusus yang bertugas mengalihbahasakan naskah-naskah ilmu pengetahuan dan teknologi ke dalam bahasa Indonesia, jawabannya pasti, “Sangat penting!”

Apa boleh buat, ilmu kita sebagian besar diimpor dari sana. Dan jangan tinggi-tinggi kita bicara soal daya saing bangsa, apalagi mengejar ketertinggalan dari orang sana, kalau memahami artifact pengetahuan yang saat ini ada saja kita tak mampu. Sad smile

1 comment:

  1. bisa jadi bu guru tsb memang blm pernah ngobrol langsung dgn native, dan sekarang ini terkadang profesi guru hanyalah sebuah profesi tanpa ruh.

    Seperti halnya ponakanku protes, bu gurunya di SD bahasa inggrisnya hanya ngajarin pola, dan tidak pernah mengajari muridnya percakapan in english, malah dia juga menggunakan bhs Indonesia ketika mengajar.

    Lalu pengalaman lainnya, ketika aku mengajar kursus bahasa Inggris di suatu tempat bimbingan. Ada salah seorang pengajar (yg lulusan D3 Bahasa Inggris) pun ternyata belum pernah tes TOEFL, dan bahkan dia sendiri pun tdk tahu apa itu tes TOEFL,..(waduh!)

    Jadi, kita siapkan semuanya, para pengajarnya juga harus kompeten, utk menghasilkan anak didik yg bersaing di dunia global. Semoga!!

    ReplyDelete