31 January 2011

Kontribusi riset yang dipublikasikan oleh jurnal akuntansi

The Accounting ReviewBelum layak mengaku sebagai master di bidang akuntansi jika Anda belum pernah membaca artikel riset yang dimuat oleh The Accounting Review. Mengapa? Karena jurnal yang diterbitkan oleh The American Accounting Association ini dianggap sebagai salah satu jurnal paling bergengsi di dunia. Smile

Tapi pernahkan Anda membaca tulisan Jean L. Heck dan Robert E. Jensen yang judulnya, “An Analysis of the Evolution of Research Contributions by the Accounting Review: 1926-2005”?

Konon, tingkat pengutipan (citation rate) riset akuntansi lebih rendah jika dibandingkan dengan riset dalam bidang keuangan, manajemen, dan pemasaran. Konon juga, kurang beragamnya topik yang disajikan serta metode penelitian yang digunakan hanya itu-itu saja, dianggap sebagai biang keladi alias biang kerok dari rendahnya tingkat pengutipan itu.

Sebagian pimpinan AAA bahkan meyakini,The Accounting Review harus melakukan perubahan kebijakan publikasi dan kebijakan editorialnya secara signifikan. Sebagai cerita pelengkap, The Accounting Review telah terbit lebih dari 80 tahun. Tahun 1926an kalau tidak salah mulai publikasinya, lebih dulu ada dari bapak (alm) saya yang lahir tahun 1938. Kalau Nita Sayuri, geisha yang dalam novelnya dilukiskan sangat cantik itu benar-benar ada, kurang lebih seumuranlah dengan jurnal ini. Smile

Khusus menyangkut The Accounting Review, Heck dan Jensen menyatakan bahwa sebenarnya pada empat puluh tahun pertama publikasinya, penelitian-penelitian yang dimuat oleh The Accounting Review mencakup topik-topik yang berkaitan langsung dengan praktik akuntansi.

Perubahan kebijakan editorial secara besar-besaran terjadi pada dekade 1970an. Sejak itu, riset akuntansi yang dianggap “akademik” dipersempit menjadi apa yang oleh Heck dan Jensen disebut sebagai akuntika (accountics).

Makanan apaan tuh accountics? Istilah itu digunakan oleh Heck dan Jensen untuk menyebut metode ilmiah dan alat-alat analisis kuantitatif yang banyak digunakan di jurnal-jurnal akuntansi papan atas, termasuk The Accounting Review.

Flesher (1991) dalam tulisannya yang berjudul “The Third-Quarter Century of the American Accounting Association 1966-1991” seperti dikutip dalam artikel Heck dan Jensen mengungkapkan opini sebagian kalangan. Artikel-artikel yang dimuat oleh The Accounting Review dan jurnal-jurnal akuntansi bergengsi lainnya dianggap sulit dipahami dan juga kurang diminati, baik oleh para praktisi maupun pendidik akuntansi.

Mengapa kurang diminati? Dalam kesimpulannya, Heck dan Jensen menegaskan, paradigma ilmiah yang dianut oleh jurnal-jurnal akuntansi terlalu sempit. Akibatnya, para akademisi yang butuh publikasi untuk pengembangan karir mereka dipaksa untuk mengabaikan isu-isu besar yang sebenarnya menarik dari segi praktis, karena tidak ter-cover oleh paradigma ilmiah yang sempit itu, misalnya karena tidak tersedianya data yang dapat diuji secara kuantitatif.

Artikel-artikel riset akuntansi akademik juga jarang dikutip, konon karena metode dan teknik yang digunakannya (misalnya Capital Assets Pricing Model dan Option Pricing Model) ditemukan bukan dari ranah akuntansi. Para peneliti akuntansi sejauh ini belum berhasil menemukan metode dan model yang genuine dari dalam disiplinnya. Karena modelnya yang minjem tetangga, dan topiknya yang sempit itu, jangan salahkan bunda mengandung, kalau orang selain mahasiswa dan dosen akuntansi sendiri males baca jurnal-jurnal akuntansi. Mahasiswa dan dosen itu pun terpaksa baca lebih karena tuntutan karir akademik mereka. Winking smile

Celakanya lagi, inovasi dalam praktik akuntansi juga jarang dihasilkan dari riset yang dipublikasikan oleh jurnal-jurnal akademik yang dipandang “papan atas” itu. Ambil contoh, artikel-artikel mengenai Activity-Based Costing (ABC) pada akhirnya memang banyak bermunculan dalam jurnal riset akuntansi. Tetapi ide mengenai ABC itu sendiri konon lahir dalam praktik, yaitu dari para konsultan manajemen di John Deere Company. Dollar-value LIFO, contoh inovasi lainnya dalam profesi akuntansi, juga konon tidak dilahirkan oleh akademisi, melainkan oleh kalangan praktisi akuntansi.

Tidak adanya “discovery research” yang dihasilkan oleh kalangan akademisi ini semakin dipertanyakan oleh praktisi akuntansi.

Lantas, apa tanggapan orang-orang yang pro dengan akuntika? Ittner dan Larker (2001) dalam tulisannya yang berjudul, “Assessing empirical research in managerial accounting: A value-based management perspective,” seperti dikutip oleh Heck dan Jensen, mengkritik riset-riset praktis yang dilakukan oleh para konsultan. Ittner dan Larker (2001) bilang, karena menggunakan metode penelitian studi kasus dan survey lapangan, hasil-hasil penelitian ala konsultan itu tidak dapat digeneralisasi. Maksudnya, tidak bisa diterapkan secara umum. Mereka bahkan ngece, riset-riset itu hanya menyoroti tren-tren sesaat dalam manajemen. Winking smile Studi kasus dan survey lapangan dianggap dangkal dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Zimmerman (2001), mbah-nya positivisme dalam akuntansi, ikut nimbrung dan bilang riset-riset ala konsultan tidak mendorong pengembangan dan pengujian teori ilmiah dalam akuntansi. Sebagaimana dikutip oleh Heck dan Jensen, Zimmerman (2001) juga keukeuh dengan pendiriannya: peneliti empiris harus menggunakan hipotesis yang didasarkan kepada teori-teori ekonomi dan menekankan fungsi pengendalian dari akuntansi. Ujung-ujungnya dia ngomong, kalau riset model konsultan itu terus di-gala-ken (ikut-ikutan cara ngomong almarhum mbah Harto), kualitas riset akuntansi secara keseluruhan bakal melorot.

Seru ‘kan cerita saya? Mau baca artikel lengkapnya? Klik di sini

Bagaimana dengan di Indonesia? Pertanyaan klise ini emang pas dilontarkan oleh pihak yang tidak berposisi sebagai mainstream (pelaku utama), pertanyaan khas pengikut alias pengekor. Smile Saya punya cerita khusus soal ini, tapi tunggu, ya…

1 comment:

  1. I am agree with the theory of Heck and Jensen's journal. I have read it very carefully. It is better then The Accounting Review.

    ReplyDelete