Indikator kinerja dosen

Dalam suatu event di jurusan akuntansi, sempat terlontar “kebingungan” tentang bagaimana cara mengukur kinerja dosen. Semua orang, termasuk saya, memilih untuk diam. Walaupun saya tahu, di antara kami yang hadir, pasti tidak semuanya bingung.

Ukuran kinerja itu sebenarnya jelas dan terang, tinggal kita mau menegakkan atau tidak. Mengapa kami diam? Karena kita sama-sama tahu bahwa jika disampaikan resistensi pasti muncul. Kalau ukuran kinerja itu ditegakkan, pasti ada yang jadi korban, karena tidak semua sanggup memenuhinya. Sebagian yang keberatan mungkin bahkan adalah tokoh yang berpengaruh.

Khusus untuk saya lebih tak sopan lagi kalau bicara. Sebagai orang baru di sini, saya tidak punya rekam jejak sama sekali. Di Jakarta, saya memang pernah jadi ketua jurusan, sekretaris program magister akuntansi..tapi di sini, emangnya kamu siapa, apa prestasimu sehingga kamu berani ngomong begitu? Smile

Oke, ini untuk semuanya saja, tidak spesifik buat almamater saya. Mengukur kinerja dosen sebenarnya tidaklah terlalu membingungkan. Kembalikan saja ke tugas pokok dan fungsinya, ya...tri dharma itulah. Sebenarnya butir-butir penilaian di borang akreditasi atau dalam penetapan angka kredit sudah bisa dijadikan rujukan. Ambil saja beberapa contoh:

  • Berapa jam kita mengajar/memberikan mentoring kepada mahasiswa dalam satu semester?
  • Berapa judul penelitian yang dilaporkan dalam setahun? Berapa yang dipublikasikan? Berapa yang dipatenkan? Berapa yang didanai pihak lain?
  • Berapa kali malakukan pengabdian kepada masyarakat? Apa hasil konkretnya? Siapa yang mendanai?

Sebagai dosen, kita ‘kan pasti ngerti statistika, sedikit atau banyak. Tinggal hitung saja indeks kinerjanya dari item-item itu. Supaya tidak merepotkan pimpinan, sistemnya bisa dirancang self-reporting. Sediakan formulir, biar dosen masing-masing yang mengisi. Buat tim khusus sebagai reviewer, misalnya ketua-ketua jurusan dalam satu fakultas. Berikan rewards & punisment yang sesuai. Bla...bla...bla...

“Pak, itu ‘kan mereka? Kita belum sampai ke situlah...?”

“Ya, santai saja, Pak. Sama, kalau itu diterapkan, saya juga mungkin salah satu korbannya. Sad smile Sekarang lebih baik kita persiapkan saja diri kita sendiri dengan berkarya sebaik mungkin. Siapa tahu, kelak di kemudian hari, itu benar-benar diterapkan.”

No comments:

Post a Comment