22 January 2011

Konsep laba dalam akuntansi

accounting_thumb1_thumb1_thumb1_thum_thumb[1]

Update: Materi berikut sebagian besar diadaptasi dari textbook teori akuntansi dari Amerika Serikat. Meskipun demikian, konsep-konsep dasar menurut US GAAP tidak berbeda signifikan dengan IFRS, sehingga materi ini tetap relevan.


Ada bebrapa cara untuk mengukur laba bersih. Tidak ada satu konsep pengukuran laba bersih yang dapat memenuhi semua tujuan. Dengan demikian penting bagi kita untuk mempelajari berbagai konsep pengukuran laba bersih.

Satu tujuan yang paling penting bagi semua pemakai laporan keuangan adalah kebutuhan untuk dapat membedakan antara modal yang diinvestasikan dengan laba. Atau dengan kata lain antara stock dan flow.

Konsep laba pada tingkat sintaksis

Akuntan sering memberikan suatu pernyataan bahwa laba akuntansi mempunyai interpretasi dunia nyata (real word) atau mempengaruhi perilaku (behavior). Padahal sesungguhnya tidak. Study group on the objective of financial statement menyatakan bahwa laba (earning) didasarkan oleh konversi dan aturan-aturan yang harus bersifat logis dan konsisten secara internal walaupun tidak mempunyai hubungan dengan laba ekonomi.

Dalam tingkat sintaksis ini ada dua cara pengukuran laba:

Pendekatan transaksi dalam pengukuran laba
Laba tercatat jika terjadi perubahan aset dan liabilitas sebagai akibat dilakukannya suatu transaksi. Laba baru dicatat ketika terjadi pemindahan hak kepemilikan pada pihak ketiga.

Pendekatan aktivitas dalam pengukuran laba
Berfokus pada deskripsi aktivitas dalam suatu perusahaan dan bukan pada pelaporan transaksi.

Contoh: Laba aktivitas akan dicatat selama perencanaan, pembelian, peroduksi, penjualan dan penagihan.

Perbedaan utama antara pendekatan transaksi dan aktivitas adalah pendekatan transaksi didasarkan pada proses pelaporan yang mengukur kejadian eksternal yaitu transaksi, sedangkan pendekatan aktivitas berusaha mendasarkan diri pada konsep real world dari aktivitas atau kejadian dalam arti yang lebih luas. Sayangnya, kedua pendekatan itu gagal untuk mencerminkan relitas dalam pengukuran laba karena keduanya tergantung pada hubungan struktural yang tidak mempunyai interpretasi dunia nyata (real world).

 

Konsep laba pada tingkat semantik

Dalam tingkat semantik ini akuntan berusaha untuk menghubungkan konsep laba menurut akuntansi dengan laba ekonomi.

Laba sebagai alat pengukuran efisiensi
Suatu perusahaan yang beroperasi secara efisien akan menghasilkan arus dividen yang memuaskan pemegang saham dan akan menggunakan modal yang ditanamkan secara efisien untuk meningkatkan arus dividen di kemudian hari. Manajemen yang gagal untuk beroperasi secara efisien akan diganti oleh manajemen baru. Atau pemegang saham dapat memberikan insentif untuk meningkatkan efisien manajemen. Laba telah dijadikan alat untuk mengukur efisiensi seperti dicerminkan di dalam SFAC 1 yang mengatakan bahwa pelaporan keuangan harus menyediakan Informasi tentang kinerja keuangan perusahaan selama periode tertentu.

Dapat menjadi alat pengukuran efisiensi jika modal yang digunakan konstan dari tahun ke tahun. Jika tidak maka pengukuran efisiensi dengan ROI lebih cepat.

Laba menurut akuntansi versus laba ekonomi
Baik pembuat maupun pemakai Informasi akuntansi selama bertahun-tahun telah berusaha mencari laba bersih yang memiliki arti ekonomi.

Laba bersih akuntansi = pendapatan – beban – depresiasi akuntansi

Laba bersih ekonomi = pendapatan – beban – depresiasi ekonomi.

Perbedaan antara kedua laba di atas disebabkan oleh perbedaan di dalam metode depresiasi. Akuntan menggunakan metode bunga. Perbedaan tersebut menyebabkan Informasi yang dihasilkan oleh akuntan bukanlah Informasi yang siap pakai, melainkan menjadi dasar bagi investor untuk menghitung laba ekonomi.

Laba banyak orang (multi person income)
Selain usaha untuk memberikan arti ekonomi bagi laba akuntansi, ada masalah lain yang timbul yaitu bahwa dalam realisasi banyak terjadi ketidakseimbangan Informasi di mana satu pihak tahu lebih banyak dari pihak lain. Dalam dunia yang tidak pasti dan tidak sempurna ini, konsensus atas fakta tidaklah memungkinkan karena fakta itu sendiri tidak ada. Yang ada hanyalah opini dan perkiraan. Dampaknya terhadap laba akuntansi adalah kita dapat menyetujui bagaimana laba dihitung tetapi tidak semua menyetujui arti dari laba tersebut.

 

Konsep laba pada tingkat pragmatis

Konsep laba pada tingkat pragmatis berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dari investor dan kreditor, reaksi harga saham dalam suatu pasar yang terorganisir terhadap pelaporan laba, keputusan pengeluaran modal (capital expenditure) dan reaksi umpan balik dari manajemen dan akuntan.

Laba sebagai alat prediksi
Tujuan dari Laporan Keuangan adalah untuk menetapkan arus kas. Jadi diasumsikan ada suatu hubungan antara laba dengan arus kas, termasuk kas yang didistribusikan kepada pemilik. Apakah laba dimasa lalu dapat dijadikan alat untuk memprediksi laba masa datang?. Suatuu penelitian menyimpulkan bahwa laba dimasa lalu yang dikukur berdasarkan historical cost memberikan prediksi yang lebih baik dibandingkan dengan laba yang diukur berdasarkan urrent cost. Tidak jelas apakah laba akuntansi mempunyai interpretasi dunia nyata atau tidak, yang penting adalah investor percaya bahwa laba masa lalu bisa dijadikan dasar untuk memprediksi laba masa depan. Dan laba masa depan bias dijadikan dasar untuk memprediksi arus kas.

Capital market approach
Pada bagian ini yang akan didiskusikan adalah dampak dari laba terhadap pasar modal secara keseluruhan . Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga saham di pasar bergerak searah dengan laba akuntanasi.

Ada dua kemungkinan penjelasan atas hasil penelitian ini:

  1. Laba Akuntansi betul-betul berisi Informasi yang diperlukam oleh pasar modal
  2. Pasar bersikap seolah-olah laba akuntansi berisi Informasi yang dibutuhkan

Hubungan antara laba dengan harga saham bersifat tidak sempurna . Salah satu alasannya adalah karena harga pasar mencerminkan informasi yang lebih luas dibandingkan dengan laba akuntansi. Contohnya harga saham bereaksi terhadap isu-isu, seperti dapat kita lihat di Indonesia. Alasan lain dari hubungan yang tidak sempurna ini adalah beberapa fluktuasi dalam laba akuntansi merupakan akibat dari perubahan perlakuan akuntansi yang sebetulnya tidak mempunyai implikasi ekonomi. Contoh hubungan antara laba dan harga saham adalah pada suatu ketika IBM melaporkan penurunan laba, tetapi harga saham malah meningkat. Alasan peningkatan ini adalah penurunan laba ternyata lebih kecil daripada yang diprediksi oleh pasar.

Pendekatan kontraktual atas laba
Pendekatan ini lebih mempunyai implikasi perilaku dibandingkan dengan semantik. Inti dari pendekatan kontraktual adalah mengakui adanya hubungan hukum dan kontrak antara berbagai pihak yang terlibat dalam perusahaan. Perilaku salah satu pihak akan dipengaruhi oleh kontrak yang mengikatnya. Misalnya perusahaan yang mendekati batas pinjaman akan memilih suatu metode akuntansi yang akan meningkatkan laba bersihnya sehingga menurunkan rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio).

 

Apa yang harus dimasukkan dalam laba?

Current operating concept of income
Konsep ini berfokus pada Pengukuran efisiensi dari satu perusahaan. Penekanan dalam pengukuran laba adalah pada terminologi current dan operating jadi hanya perubahan nilai dan kejadian yang dapat dikendalikan oleh manajemen dan merupakan hasil keputusan dari periode sekarang yang lebih dimasukkan dalam laba.

All inclusive concept of income ( comprehensive income )
Konsep ini mendefinisikan laba sebagai total perubahan dari kepemilikan yang diakui dengan mencatat transaksi atau melakukan revaluasi terhadap perubahan selama periode tertentu, kecuali distribusi dividen dan transaksi modal. Perbedaan utama current operating income dengan all inclusive income adalah perbedaan dalam tujuan pelaporan laba bersih.

Recurring or non-recurring income
Pendukung konsep ini mengatakan bahwa pemisahan laba berdasarkan terulang (recurring) atau tidak terulang (non-recurring) meningkatkan kegunaan laba bersih sebagai alat prediksi bagi investor. Alasannya adalah lebih susah bagi pemakai untuk membedakan antara laba operasi dan non-operasi. Karena ada unsur dalam pembentukan laba operasi yang tidak terulang, misalnya beban lembur. Dan ada unsur pembentukan laba non operasi yang terulang misalnya pendapatan bunga.

Penyesuaian atas periode lalu (prior-period adjustment)
Jika suatu informasi baru muncul dan mempengaruhi saldo periode lalu, masalah yang timbul adalah apakah laporan periode yang lalu harus dinyatakan kembali atau dampaknya hanya dicerminkan pada periode berjalan. Perlakuan akuntansi untuk masalah ini masih bersifat arbitrer, misalnya :

  • Melaporkan seluruh dampak pada periode berjalan, misalnya perubahan metode penghitungan depresiasi dari garis lurus menjadi metode saldo menurun ganda.
  • Tidak melaporkan dampak masa lalu tapi dampak peruhanan dicerminkan pada periode berjalan dan periode mendatang, missalnya perubahan estimasi masa manfaat aktifa tetap.
  • Laporan Keuangan periode lalu yang terkena dampak disajikan kembali (retroaktif), misalnya perubahan dari penilaian persediaan berdasarkan LIFO ke metode lainnya.

Menurut hipotesis pasar efisien, bagaimana penyesuaian masa lalu diungkapkan tidak penting. Yang penting perusahaan telah mengungkapkan bahwa telah terjadi penyesuaian.

Pos luar biasa
Mencakup kejadian dan transaksi yang sifatnya tidak sering terjadi (tidak berulang) dan tidak biasa (tidak berhubungan dengan operasi normal perusahaan). Pos luar biasa harus disajikan terpisah untuk menjaga kemampuan prediksi dari laba bersih.

Operasi yang dihentikan (discontinued operation)
Operasi yang dihentikan harus disajikan terpisah untuk memberikan pandangan kepada pemakai laporan keuangan mengenai operasi yang akan berlanjut di kemudian hari. Sayangnya manajemen sering melakukan kecurangan dengan membebankan beban masa depan pada kerugian atas operasi yang dihentikan. Sehingga kinerja masa depan terlihat baik karena sebagian bebannya sudah diakui.

Pengungkapan
Contoh pengungkapan yang berkaitan dengan pos-pos di atas dapat terlihat di buku Kiesso edisi 9 halaman 164.

Laba untuk siapa?.

Konsep pertambahan nilai atas laba (value added concept)
Konsep ini memandang pihak yang berhak atas perusahaan tidak terbatas pada pemilik dan investor lainnya, tetapi juga karyawan dan pemilik aset yang disewa. Dalam terminologi ekonomi nilai tambah diartikan sebgai nilai output perusahaan dikurangi barang dan jasa yang diperoleh dari perusahaan lain. Jadi seluruh karyawan, pemilik, kreditor dan pemerintah adalah penerima dari laba perusahaan.

Laba perusahaan ini merupakan kue yang dibagi untuk berbagai konstributor dari berbagai input perusahaan dalam memproduksi barang dan jasa.

Bagaimana kue ini dibagi biasanya tergantung dari perjanjian kontrak dan tawar-menawar antar berbagai pihak tersebut. Konsep nilai tambah paling berarti ketika diaplikasikan ke perusahaan yang sangat besar yang mempengaruhi kehidupan ribuan orang dan mempunyai kepentingan sosial dan ekonomi yang luas. Penyajian laba rugi dengan menggunakan konsep nilai tambah dapat dilihat di Hendriksen hal 335.

Laba Bersih Perusahaan (enterprise net income)
Jika di dalam menghitung laba bersih biasanya dikurangi dengan beban bunga, pajak penghasilan, maka di dalam konsep ini kedua beban tersebut tidak dianggap sebagai beban. Dengan demikian laba bersih merupakan hak dari pemilik, kredotor jangka panjang dan pemerintah. Keuntungan dari konsep ini adalah adanya pemisahan antara aspek keuangan dengan aspek operasi. Dengan demikian laba bersih merupakan laba bersih operasi.

Laba bersih bagi investor
Dalam konsep ini laba bersih dianggap sebagai hak dari pemegang saham dan kreditor jangka panjang. Perbedaan antara pemegang saham dengan kreditor menjadi tidak penting. Sementara pajak penghasilan dianggap sebagai beban.

Laba bersih bagi pemegang saham
Konsep ini merupakan konsep yang paling tradisional dan paling diterima. Konsep ini menganggap laba sebagai pengembalian bagi pemilik perusahaan. Konsep ini menggunakan pendekatan entitas seperti yang telah dijelaskan pada topik 6 mengenai modal.

Laba bersih bagi residual equity holders
Konsep ini menggunakan pendekatan kepemilikan (proprietory). Menurut konsep ini laba merupakan hak dari pemegang saham biasa saja, yang merupakan pemilik perusahaan. Pemegang saham preferen dan pemegang obligasi bukan merupakan pemilik perusahaan.

PSAK menganut konsep ini dan tercermin dalam penghitungan laba persaham (LPS). LPS dasar dihitung dengan membagi laba atau rugi bersih yang tersedia bagi pemegang saham biasa (laba bersih residual) dengan jumlah rata-rata terhitung saham biasa yang beredar dalam satu periode.

Pendapatan dan keuntungan (revenue and gains)

Bagian ini akan mencoba menjawab 4 pertanyaan yaitu:

  1. Apakah sifat dari pendapatan?
  2. Apa yang harus dimasukkan dalam pendapatan?
  3. Bagaimana pendapatan harus diukur?
  4. Kapan pendapatan terjadi dan kapan harus dilaporkan untuk tujuan akuntansi?

Apakah sifat dari pendapatan?
Pendapatan adalah kenaikan dari penghasilan (income). Seperti juga penghasilan, pendapatan merupakan arus penciptaan barang dan jasa oleh perusahaan selama jangka waktu tertentu.

Dengan demikian ada beberapa sudut pandang untuk melihat pendapatan yaitu:

  1. Melihat pendapatan sebagai produk perusahaan (product concept). Konsep ini paling dekat dengan konsep pendekatan menurut ekonom yang mengakui pendapatan (GNP/GDP) pada saat produk dihasilkan tanpa harus menunggu di transfer ke perusahaan lain.
  2. Pendapatan dianggap sebagai produk yang meninggalkan perusahaan (outflow concept).
  3. Pendapatan dipandang sebagai kas yang diterima pada saat penjualan atau sesudahnya jika penjualan merupakan penjualan kredit.

Standar akuntansi keuangan pada umumnya menganut outflow concept dengan beberapa pengecualian. Menurut pendapat Hendriksen, definisi pendapatan sebagai produk perusahaan lebih unggul daripada outflow concept dan outflow concept lebih unggul dari input concept. Alasannya product concept bersifat netral dalam hubungannya dengan waktu dan pelaporan. Walaupun demikian product concept cenderung diabaikan, karena secara tradisional pendapatan diasosiasikan dengan :

  1. Transaksi dan bukan sesuatu yang dihasilkan sepanjang waktu dan
  2. Diakui pada suatu titik tertentu.

Apa yang harus dimasukkan dalam pendapatan?
Apa yang harus dimasukkan dalam pendapatan dan keuntungan dengan cara membedakan antara aktivitas menghasilkan kekayaan oleh perusahaan dan transfer kekayaaan yang tidak diharapkan dan tidak terduga. Jadi semua aktivitas baik aktivitas utama maupun tidak, asal menghasilkan kekayaan harus dimasukkan ke dalam pendapatan (revenue).

Pendapatan ini digunakan oleh APB dalam pernyataan No. 4 . Sementara FASB memilih definisi pendapatan yang lebih sempit yaitu pendapatan dinyatakan sebagai hasil operasi utama perusahaan. Sementara keuntungan didefinisikan sebagai:

  1. Hasil dari aktivitas yang jarang terjadi misalnya penjualan aktiva tetap dan juga
  2. Peningkatan modal sebagai akibat dari sumbangan dan hal tak terduga lainnya.

Kapan pendapatan diakui?
Pendapatan diakui pada saat:

  1. Earned, yaitu apabila proses perolehan pendapatan telah diselesaikan
  2. Realized/realizable, yaitu saat barang/jasa ditukar dengan kas (realized) atau pada saat barang/jasa ditukar dengan aset yang dapat ditukar dengan kas dalam jumlah yang sudah diketahui (relizable).

Dari sudut pandang ekonomi, earning adalah suatu proses yang kontinyu. Jadi pendapatan seharusnya diakui secara bertahap mulai dari bahan mentah dipakai, kemudian diubah bentuknya melalui pemakaian tenaga kerja dan peralatan modal, menjadi barang jadi, dibawa ke pasar dan dijual. Contoh metode yang betul-betul mengaplikasikan konsep ini adalah metode persentase penyelesaian dalam kontrak jangka panjang (percentage of completion method). Masalahnya biaya untuk mengakui pendapatan secara bertahap ini cukup mahal. Akibatnya akuntan mencari satu titik di mana pendapatan secara sah dapat dikatakan telah berhak diakui (earned).

Pendapatan dapat diakui pada beberapa titik pelaporan:

  1. Selama produksi, contoh: kontrak jangka panjang
  2. Pada akhir produksi, contoh produk pertanian
  3. Pada saat penjualan, contoh: sebagian besar penjualan barang
  4. Pada saat kas diterima, contoh: penjualan cicilan

Pengakuan keuntungan
Saat pengakuan keuntungan harus sama dengan saat pengakuan pendapatan. tetapi akuntan umumnya lebih banyak menggunakan konsep realisasi, yaitu mereka tidak akan mengakui keuntungan sampai penjualan atau pertukaran terjadi.

Beban dan kerugian (expenses and losses)

Bagian ini mencoba untuk menjawab tiga pertanyaan:

  1. Apa yang harus dimasukkan dalam beban?
  2. Bagaimana beban harus diukur?
  3. Kapan beban terjadi dan kapan harus dilaporkan untuk tujuan akuntansi?

Apa yang harus dimasukkan dalam beban?
Seperti juga pemisahan antara pendapatan dan keuntungan, beban dan kerugian harus dipisahkan dengan cara yang sama. Beban berhubungan dengan operasi utama perusahaan, sementara kerugian merupakan akibat dari transaksi yang tidak utama atau tidak sering terjadi.

Beban adalah pengeluaran yang terjadi dalam rangka menghasilkan pendapatan. Beban harus dibedakan dengan pengurang (offset) pendapatan. Contoh dari pengurang pendapatan adalah retur penjualan dan diskon penjualan. Sementara beban piutang tak tertagih, menurut Hendriksen lebih tepat diperlakukan sebagai pengurang dari pendapatan daripada diperlakukan sebagai beban. Alasannya adalah pos tersebut tidak mencerminkan pemakaian barang atau jasa untuk menghasilkan pendapatan. Selain itu perlu juga dibedakan antara beban dengan pengurang (offset) terhadap modal. Contoh pengurang modal adalah beban yang timbul dari transaksi penjualan saham. Beban ini harus dikurangkan dari jumlah modal yang diterima oleh perusahan.

Bagaimana beban harus diukur?
Masalah bagaimana beban harus diukur bukanlah masalah yang sederhana, sebab beban itu sendiri belum didefinisikan secara jelas.

Ada dua definisi beban yaitu:

  1. Beban sebagai penurunan aset bersih perusahaan. Pengukuran beban yang tepat menurut definisi ini adalah nilai barang dan jasa yang digunakan dalam operasi perusahaan.
  2. Beban sebagai pengorbanan dalam melakukan transaksi. Pengukuran beban yang tepat menurut definisi ini adalah pengeluaran tunai di masa lalu, sekarang atau masa depan. Pandangan ini dianut oleh mereka yang menekankan pada pentingnya pelaporan arus kas.

Definisi beban menurut SAK lebih dekat pada definisi pertama, karena SAK menganut dasar akrual.

Pengukuran beban yang biasa digunakan adalah:

  1. Biaya historis. Alasan digunakannya biaya historis adalah karena memiliki sifat dapat diuji.
  2. Biaya saat ini. Argumen digunakannya biaya saat ini adalah karena pendapatan juga diukur dengan nilai saat ini.
  3. Biaya kesempatan (opportunity cost)

Kapan beban terjadi?
Secara definisi, beban terjadi saat barang dan jasa dikonsumsi atau digunakan dalam proses menghasilkan pendapatan. Selain itu beban juga harus diakui ketika terjadi penurunan nilai atau ketika tidak ada manfaat di kemudian hari yang dihasilkan oleh barang dan jasa.

Tetapi pihak yang menekankan pentingnya laporan arus kas berpendapat bahwa beban harus diakui ketika pengeluaran tunai dilakukan.

Perlu ditekankan di sini bahwa prinsip penandingan pendapatan dan beban berarti pendapatan harus ditetapkan terlebih dahulu dengan menggunakan prinsip pengakuan pendapatan seperti dibahas dalam bagian sebelumnya baru dicari beban yang akan ditandingkan dengan pendapatan tersebut.

No comments:

Post a Comment