23 January 2011

Teori akuntansi – ekuitas

Update: Materi berikut sebagian besar diadaptasi dari textbook teori akuntansi dari Amerika Serikat. Meskipun demikian, konsep-konsep dasar liabilitas menurut US GAAP tidak berbeda signifikan dengan IFRS, sehingga materi ini tetap relevan.


Sifat dari ekuitas dapat dilihat dari berbagai perspektif teori ekuitas, yaitu:

  1. Proprietary theory
  2. Entity theory
  3. Residual equity concept
  4. Enterprise theory
  5. Fund theory

Perbedaan di antara konsep-konsep di atas berhubungan dengan dua pertanyaan utama:

  1. Siapakah penerima manfaat dari laba bersih?
  2. Bagaimana hubungan antara komponen modal harus diperlihatkan dalam laporan keuangan?

Berikut akan dijelaskan konsep dari masing-masing teori di atas.

Proprietary Theory
Konsep ini dimulai dari persamaan akuntansi ∑A - ∑L = P, di mana pemilik merupakan pusat kepentingan. Aset diasumsikan dimiliki oleh pemilik dan liabilitas adalah utang pemilik. Konsep ini disebut konsep kekayaan karena selama umur perusahaan nilai perusahaan sama dengan investasi awal dan investasi tambahan ditambah akumulasi laba bersih dikurangi pengambilan oleh pemilik. Teori ini paling baik diadaptasi oleh perusahaan perorangan. Tetapi juga cocok untuk perusahaan persekutuan.

Entity Theory
Teori ini didasarkan pada persamaan ∑A = ∑L + SE, Assets = Ekuitas (liabilities + Stockholders Equity). Konsep ini memandang bahwa bunga yang dibayarkan kepada kreditor merupakan pendistribusian laba dan bukan beban. Sementara itu pajak penghasilan merupakan beban dan bukan pendistribusian laba.

Dalam konsep ini laba bersih perusahaan tidak langsung merupakan laba bersih bagi pemegang saham, karena yang dianggap sebagai pemilik adalah pemegang saham dan kreditor. Pendapatan dan beban tidak langsung merupakan kenaikan dan perununan dari modal pemegang saham.

Residual Equity Theory

Konsep ini terletak di antara proprietary theory dan entity theory. Persamaan Akuntansi menurut konsep ini adalah Asset – Specific Equities = Residual Equity. Yang dimaksud dengan specific equities adalah klaim oleh kreditor dan modal pemegang saham preferen.

Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk memberikan informasi yang lebih baik kepada pemegang saham biasa dalam membuat keputusan investasi. Dalam suatu perseroan terbatas, nlai sekarang dari saham biasa terutama tergantung pada pengharapan dividen di masa depan. Dividen ini tergantung pada pengharapan atas total penerimaan dan kebutuhan untuk melakukan investasi kembali (reinvestment). Kecenderungan nilai investasi antara lain dapat diukur dengan melihat kecenderungan nilai residual equitas yang diukur dengan nilai sekarang. Ekuitas pemegang saham biasa di neraca harus disajikan terpisah dari ekuitas saham preferen dan kreditor.

Enterprise Theory
Teori ini merupakan konsep yang lebih luas dibandingkan dengan konsep-konsep yang lain, tetapi tidak didefinisikan secara baik dalam lingkup dan aplikasinya. Menurut teori ini perusahaan adalah suatu institusi sosial yang beroperasi untuk kepentingan banyak pihak. Dalam bentuknya yang paling luas pihak-pihak ini meliputi pemegang saham, kreditor, karyawan, konsumen, pemerintah dan masyarakat umum. Oleh karena itu bentuk yang paling luas ini disebut juga social theory of accounting.

Konsep ini paling cocok dipakai oleh perusahaan modern yang besar, yang mempunyai kewajiban untuk mempertimbangkan efek dari kegiatannya terhadap berbagai kelompok dan masyarakat secara keseluruhan. Dalam konsep ini, bunga dan pajak bukan merupakan beban melainkan merupakan distribusi pendapatan.

Fund Theory
Teori ini berdasarkan pada persamaan Asset = Restriction of Asse (aset = pembatasan terhadap aset). Aset mencerminkan jasa prospektif dari mana atau unit operational. Liabilitas mencerminkan pembatasan atas aset tertentu atau aset umum. Modal yang diinvestasikasikan mencerminkan baik pembatasan secara hukum maupun keuangan dari penggunaan aset. Jadi modal yang diinvestasikan tersebut harus dijaga supaya utuh, kecuali jika diperoleh wewenang khusus untuk melakukan likuiditasi sebagian atau seluruh modal tersebut.

Konsep ini paling cocok untuk institusi pemerintah atau institusi nirlaba seperti universitas.

Tetapi konsep ini juga relevan bagi area kepentingan tertentu dalam perusahaan atau bahkan area kepentingan yang lebih besar dari pada kepentingan suatu perusahaan. Contohnya adalah sinking fund (dana yang dibentuk untuk pelunasan obligasi) dan akuntansi untuk cabang atau divisi.

Posisi SFAS dan PSAK
SFAS menggunakan residual equity theory sementara PSAK juga menganut teori yang sama, seperti yang tampak dalam definisi ekuitas yaitu :

Pada dasarnya ekuitas berasal dari investasi pemilik dan hasil usaha perusahaan. Ekuitas akan berkurang terutama dengan adanya penarikan kembali penyertaan oleh pemilik, pembagian keuntungan atau karena kerugian.

Penyajian ekuitas dalam neraca
Dalam perusahaan perorangan, seluruh modal pemilik biasanya disajikan dalam satu jumlah saja. Hal ini dilakukan berdasarkan propriatory theory di mana modal mencerminkan kepemilikan. Karenanya tidak ada kebutuhan untuk menyajikan sub klasifikasi dari modal karena pemilik tidak dibatasi dalam hal berapa banyak yang akan diinvestasi atau berapa banyak yang akan diambil dari perusahaan. Selain itu tidak ada klaim yang lebih unggul selain klaim oleh kreditor.

Dalam perusahaan persekutuan, penyajian modal mirip dengan dalam perusahaan perorangan kecuali modal harus diklasifikasikan untuk setiap sekutu. Akun pengambilan harus digunakan untuk menampung pengambilan-pengambilan oleh sekutu tapi diakhir periode akun ini ditutup pada akun modal. Penyajian modal berdasarkan tiap-tiap modal sekutu sebenarnya tidak mencerminkan pebagian laba diantara para sekutu.

Penyajian itu baru dibutuhkan sebagai titik awal pembagian aset kepada sekutu jika terjadi likuidasi. Kreditor tidak mempunyai kepentingan atas saldo masing-masing sekutu karena setiap sekutu bertanggung jawab renteng atas utang persekutuan.

Dalam perusahaan perseroan, ada beberapa hal yang harus diungkapkan dalam laporan keuangan, yaitu:

  1. Pengungkapan sumber-sumber utama dari modal pemegang saham yang terdiri dari:
    • Jumlah yang diinvestasikan oleh pemegang saham
    • Akses atas laba bersih terhadap dividen (saldo laba)
    • Sumbangan dari pihak-pihak selain pemegang saham
  2. Pengungkapan modal menurut hukum (legal capital). modal ini didefinisikan sebagai total nilai nominal dari semua lembar saham yang telah dikeluarkan atau sejumlah dana yang diterima pada saat penjualan saham jika saham tidak memiliki nilai nominal. Di Amerika, pemegang saham bertanggung jawab minimum sebesar modal menurut hukum (legal capital) apabila terjadi likuidasi perusahaan. Jadi jika seorang pemegang saham membeli saham dari perusahaan di bawah nilai nominal, maka ia mempunyai kewajiban kontinjen untuk menyetorkan sisanya jika diperlukan. Itulah sebabnya banyak perusahaan di Amerika mengeluarkan saham dengan nilai nominal yang sangat rendah.
  3. Pengungkapan atas pembatasan pembagian laba. Jika ada pembatasan atas pembagian laba maka hal terebut harus dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan.
  4. Pengungkapan pembatasan atas distribusi likuidasi. Kreditor selalu mempunyai prioritas dalam obligasi di atas pemagang saham. Dan beberapa kelompok pemegang saham preferen memiliki prioritas di atas kelompok pemegang saham lainnya.

Perubahan ekuitas pemegang saham

Seperti dijelaskan sebelumnya, modal para pemegang saham antara lain terdiri dari modal disetor (invested capital) dan saldo laba (retained earnings). Salah satu tujuan pembedaan ini adalah agar perusahaan tidak membayar dividen dari modal disetor. Dengan berjalannya waktu, terjadi perubahan-perubahan dalam kedua komponen ekuitas di atas. Dalam bagian in akan dibahas perubahan dalam modal disetor baik yang mengakibatkan kenaikan maupun penurunan.

Kenaikan Modal Disetor

Banyak hal yang dapat meningkatkan modal disetor, seperti penjualan saham baru, konversi utang menjadi modal, dan lain sebagainya. Pembahasan di bawah ini akan difokuskan pada usaha mencari kemungkinan jawaban atas hal-hal yang meragukan.

  1. Apakah pememesanan modal saham (capital stock subscriptions) merupakan bagian dari modal disetor ataukah hanya suatu janji untuk meningkatkan modal? Pemesanan modal saham dicatat sebagai bagian dari modal disetor hanya jika :
    • Pemesanan tersebut mencerminkan klaim legal terhadap pemesan
    • Perusahaan bermaksud menagih pemesanan tersebut dalam suatu periode waktu yang pasti dan masuk akal.
  2. Metode mana yang lebih baik dalam mencatat konversi utang menjadi modal, metode nilai buku ataukah nilai pasar? Kedua metode tersebut mempunyai proponen masing-masing yaitu:
    • Metode nilai buku didukung oleh APB 14 karena sesuai dengan entity theory yang menganggap baik kreditor maupun pemegang saham sama-sama merupakan pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan, atau dengan kata lain kedudukan keduanya setara. Jadi perubahan dari utang dan modal seharusnya tidak menimbulkan keuntungan ataupun kerugian.
    • Metode nilai pasar didukung oleh AAA sebab konsisten dengan proprietary theory, dimana kreditor dianggap sebagai pihak luar, sehingga perubahan nilai pasar obligasi harus dilihat dari segi dampaknya terhadap pemegang saham. Hanya saja sebenarnya yang relevan untuk dilihat hanyalah nilai pasar yang berhubungan dengan sifat dapat dikonversi.
  3. Apakah dividen saham merupakan pendapatan bagi pemegang saham? Ada beberapa pendapat mengenai hal ini tetapi sebagian besar pendapat setuju bahwa dividen saham bukanlah pendapatan, dengan argumen yang berbeda seperti dijelaskan di bawah ini:
    • Berdasarkan konsep realisasi dividen saham bukanlah pendapatan, karena belum direalisasikan menjadi kas.
    • Menurut entity theory yang didasarkan pada persamaan aset sama dengan ekuitas, dividen saham bukanlah pendapatan karena hanyalah reklasifikasi dari modal pemegang saham.
    • Berdasarkan proprietary theory baik dividen tunai maupun dividen saham bukanlah pendapatan bagi pemilik. Dividen tunai merupakan penilaian oleh pemilik atas sesuatu yang memang sudah menjadi miliknya. Dividen saham bukanlah pendapatan karena tidak meningkatkan jumlah kepemilikan.
  4. Berapa jumlah dividen saham yang harus dikapitalisasi ke modal disetor?.Ada dua nilai yang harus dipakai sebagai dasar kapitalisasi:
      • Harga pasar. CAP merekomendasikan untuk menggunakan nilai pasar sebagai dasar kapitalisasi. Ada dua argumen untuk penggunaan nilai pasar. Argumen pertama dividen saham dapat dianggap sebagai dua transaksi yaitu transaksi dividen tunai dan transaksi pembelian saham oleh pemegang saham pada harga pasar. Argumen kedua mengatakan bahwa dividen saham merupakan opportunity cost dari pembagian dividen saham kepada pemegang saham daripada penjualan saham ke pasar. Kedua argumen ini lemah karena situasi yang diasumsikan tidak benar-benar terjadi. Walaupun demikian PSAK 21 (P.23) menganut argumen pertama seperti tampak di bawah ini:

        “Pembagian dividen termasuk dividen saham berasal dari saldo laba. Pembagian dividen saham adalah pembagian saldo laba kepada pemegang saham, yang diinvestasikan kembali oleh mereka dalam bentuk modal disetor. Pembagian dividen saham dicatat berdasarkan nilai wajar saham.”
    • Nilai nominal. Dalam hal saham yang dikeluarkan cukup besar jumlahnya untuk secara material mempengaruhi harga saham per lembar yang digunakn adalah nilai nominal saham. Perbedaan antara dividen saham kecil dan besar ditentukan secara arbiter yaitu 20% sampai 25% dari total saham yang beredar sebagai garis pemisah. PSAK tidak menjelaskan perlakuan atas dividen saham besar.

    Penurunan modal disetor

    Penurunan modal disetor dapat disebabkan oleh dividen likuidasi atau pembelian saham treasury. Ada dua pertanyaan yang berhubungan dengan saham treasury yaitu:

    1. Berapa dari pembayaran kepada pemegang saham yang harus diperlakukan sebagai pengembalian modal disetor dan berapa yang harus diperlakukan sebagai distribusi saldo laba?
    2. Bagaimana dampaknya terhadap legal capital harus diperlihatkan?

    Ada dua konsep yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan di atas :

    • Konsep transaksi tunggal. Konsep ini menganggap perolehan dan penjualan kembali saham treasury sebagai transaksi tungga, oleh karena itu pada saat perolehan saham treasury harus dicatat sesuai nilai perolehannya.
    • Konsep transasi ganda. Menurut konsep ini perolehan saham treasury merupakan kontraksi dari struktur modal. Jika saham tersebut kemudian dikeluarkan kembali maka perlakuannya harus sama seperti saham yang belum pernah dikeluarkan. Dengan demikian pada saat perolehan saham treasury pencatatannya harus menggunakan nilai nominal.

    Laba per Saham

    Penghitungan laba per saham bukanlah hal yang mudah jika perusahaan mempunyai uutang, saham preferen, dan waran yang dapat dikonversi menjadi saham biasa. Ada dua metode penghitungan yang dapat dipakai yaitu:

    1. Laba per saham dasar (primary Earning Per Share). PSAK 56.10 menjelaskan penghitungan laba per saham dasar sebagai berikut:

      LPS dasar dihitung dengan membagi laba atau rugi bersih yang tersedia bagi pemegang saham biasa (laba bersih residual) dengan junlah rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar dalam satu periode.
    2. Laba per saham dilusian (diluted Earning Per Share). PSAK 56.24 menjelaskan cara menghitung laba per saham dilusian sebagai berikut:

      Untuk tujuan penghitungan LPS dilusian laba bersih residual dan jumlah rata-rata tertimbang saham biasa beredar harus disesuaikan dengan memperhitungkan dampak dari semua efek berpotensi saham biasa yang dilutif.

    No comments:

    Post a Comment