04 June 2012

Penelitian kualitatif, solusi konkret atau permainan kata-kata?

Penelitian kualitatif, solusi konkret, dan permainan kata-kata

Mendekati fenomena, melakukan studi kasus, menggunakan beragam teknik riset kualitatif untuk menjawab masalah sosial dan bisnis yang konkret…paling tidak, hal-hal itulah yang sedang coba saya lakukan akhir-akhir ini. Cukup menantang, dibumbui juga nuansa kompetitif dengan para kolega, baik di tingkat universitas maupun di tingkat nasional…

Teknik-teknik riset yang secara umum dikelompokkan sebagai metodologi kualitatif akhir-akhir ini semakin populer. Bahkan Dit. Litabmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan semakin banyak menyetujui usulan-usulan penelitian yang dirancang dengan rerangka kualitatif ini. LPPM Unsoed yang berorientasi pengembangan sumber daya perdesaan dan kearifan lokal juga menerima rerangka kualitatif sebagai pendekatan riset sosial di Unsoed. Keluhan bahwa riset yang didanai hanya riset kuantitatif yang cenderung menguntungkan peneliti ilmu-ilmu alam rasanya semakin tidak relevan.

Tapi, dalam bahasa anak muda jaman sekarang, jujur saja saya merasa sedikit galau. Pendekatan kualitatif memiliki ciri umum…validitas hasilnya tidak terukur dengan jelas. Atau kalaupun berusaha diukur, pengukurannya tidak seketat dalam pendekatan kuantitatif. Memang benar, jika dilaksanakan sebagaimana mestinya, penelitian studi kasus bisa menjadi solusi atas masalah sosial yang konkret. Secara intensif terlibat dalam fenomena yang diteliti, memang bisa berarti peneliti tahu betul masalah sosial atau masalah bisnis yang menjadi fokus penelitiannya. Tapi tidak adanya prosedur yang cermat untuk mengukur validitas hasilnya mengakibatkan penelitian kualitatif sangat mungkin terjebak pada permainan kata-kata saja.

Akhirnya, konkret atau tidaknya solusi yang ditawarkan oleh riset kualitatif sangat tergantung pada kesungguhan peneliti. Benarkah dia secara intensif melakukan studi kasus atau sekadar bermain kata-kata, sulit untuk diverifikasi…

No comments:

Post a Comment