17 March 2016

Jurnal penyesuaian dan penyusunan laporan keuangan – materi pengantar akuntansi

definisi-akuntansi7

Materi ini adalah bagian dari
modul pengantar akuntansi
yang disusun oleh Warsidi


Topik jurnal penyesuaian umumnya dianggap sebagai materi yang sulit oleh pembelajar akuntansi pemula. Menurut pengalaman penulis, kesan sulit itu timbul karena tujuan jurnal penyesuaian tidak sepenuhnya dipahami. Materi ini akan membahas mengapa jurnal penyesuaian diperlukan, akun-akun apa saja yang saldo-saldonya perlu disesuaikan, bagaimana prosedur penyesuaian tiap-tiap akun itu dilakukan, serta bagaimana menyusun laporan keuangan dari saldo akun-akun yang telah disesuaikan.

Mengapa jurnal penyesuaian akhir periode diperlukan?

Untuk dapat menilai posisi keuangan dan mengukur kinerja perusahaan secara akurat, akuntansi harus menunggu sampai dengan perusahaan tidak lagi beroperasi. Sebagai contoh, ketika sebuah keluarga memutuskan untuk merantau ke Jakarta, bekal yang dibawa mungkin hanya uang sekadarnya dan beberapa potong pakaian. Empat puluh tahun kemudian keluarga itu pulang kampung dan memutuskan tidak akan kembali lagi. Apa saja yang mereka miliki sepulangnya dari Jakarta dan berapa selisihnya jika dibandingkan dengan pada saat mereka mulai merantau? Jika mereka menghitung dan mencatatnya dengan teliti, jawaban atas pertanyaan itu mencerminkan kinerja mereka selama merantau.

Tetapi pengguna laporan keuangan tidak mungkin menunggu hingga perusahaan menyelesaikan bisnisnya hanya untuk mendapatkan informasi final mengenai kinerja dan posisi keuangan bisnis itu. Nilai informasi biasanya juga terkait dengan ketepatan waktu. Informasi yang berguna harus sampai ke pengguna sesering mungkin dan tepat waktu.

Untuk menyajikan informasi secara tepat waktu, sistem akuntansi menyiapkan laporan dengan interval- interval waktu yang rutin. Dengan kata lain, proses akuntansi dipengaruhi oleh prinsip periode waktu (time period principle). Prinsip periode waktu menyatakan aktivitas-aktivitas organisasi dapat dipilah-pilah ke dalam periode-periode waktu yang tertentu, misalnya satu bulan, satu kuartal, satu semester, atau satu tahun. Kebanyakan organisasi menggunakan periode satu tahun sebagai periode akuntansi yang utama. Laporan keuangan yang mencakup periode satu tahun disebut laporan keuangan tahunan. Perusahaan juga umumnya menyusun laporan keuangan interim yang mencakup aktivitas selama satu bulan, satu kuartal, atau satu semester.

Perusahaan bisa saja menggunakan tahun fiskal yang mencakup 12 bulan berturut-turut tetapi tidak sama dengan tahun kalender yang berakhir tanggal 31 Desember. Ada juga perusahaan yang menggunakan periode pelaporan tahunan yang mencakup 52 minggu. Perusahaan-perusahaan yang penjualannya tidak tergantung pada siklus musiman biasanya memilih tahun kalender sebagai tahun fiskal. Perusahaan-perusahaan yang mengalami variasi penjualan musiman mungkin lebih tepat memilih akhir tahun fiskal pada saat penjualan berada pada level terendah dalam setahun.

Setelah transaksi dan kejadian bisnis dengan pihak luar direkam, beberapa akun masih memerlukan penyesuaian sebelum saldonya dimunculkan dalam laporan keuangan. Jurnal penyesuaian diperlukan karena transaksi/kejadian bisnis yang bersifat internal (tidak melibatkan pihak luar) mungkin sekali belum direkam ke dalam sistem akuntansi. Dengan kata lain, akuntansi basis akrual (accrual basis accounting) menggunakan jurnal penyesuaian untuk mengakui penghasilan dan beban pada saat terjadinya (penghasilan dipertemukan dengan beban-beban yang menghasilkannya).

Sementara itu, akuntansi basis kas (cash basis accounting) mengakui penghasilan pada saat kas diterima dan merekam beban ketika kas dibayarkan. Hal ini berarti laba-rugi basis kas untuk satu periode adalah selisih antara penerimaan kas dengan pengeluaran kas yang terjadi dalam periode yang bersangkutan. Akuntansi basis kas tidak konsisten dengan standar akuntansi dan praktik pelaporan keuangan keuangan.

Akuntansi basis akrual secara umum diyakini lebih baik dalam menggambarkan kinerja perusahaan dibandingkan informasi mengenai penerimaan dan pengeluaran kas. Akuntansi basis akrual juga meningkatkan daya banding (comparability) laporan keuangan antara satu periode dengan periode lainnya. Meskipun demikian, akuntansi basis kas juga bermanfaat untuk keputusan-keputusan bisnis tertentu—itulah yang menjadi alasan perusahaan diharuskan untuk menyajikan laporan arus kas.

Untuk memperjelas perbedaan antara akuntansi basis akrual dengan akuntansi basis kas, coba lihat kembali akun Pembayaran di Muka Asuransi dalam contoh Sabrina Consulting sebelumnya (lihat topik analisis transaksi, jurnal, buku besar umum, dan neraca saldo). Sabrina Consulting membayar Rp12.000.000 untuk cakupan asuransi selama 24 bulan yang dimulai pada tanggal 1 Desember 2011. Akuntansi basis akrual mengharuskan Rp500.000 beban asuransi dilaporkan dalam laporan laba-rugi bulan Desember, Rp6.000.000 sebagai beban pada tahun 2012, dan sisanya Rp5.500.000 dilaporkan sebagai beban pada 11 bulan pertama tahun 2013.

Prinsip periode waktu digunakan untuk memilah-milah aktivitas-aktivitas perusahaan ke dalam periode-periode waktu tertentu, tetapi tidak semua aktivitas telah diselesaikan pada saat laporan keuangan disusun. Oleh karena itu, jurnal penyesuaian diperlukan untuk memastikan hanya penghasilan yang telah diselesaikan dan beban yang telah terjadi yang diakui dan diperhitungkan dalam laporan laba-rugi.

Dua prinsip akuntansi yang mendasari perlunya jurnal penyesuaian adalah prinsip pengakuan pendapatan dan prinsip mempertemukan (matching) biaya dengan pendapatan. Prinsip pengakuan pendapatan mengharuskan pendapatan direkam pada saat proses menghasilkannya telah diselesaikan, bukan sebelum atau sesudahnya. Perusahaan umumnya dianggap telah menyelesaikan proses pendapatan pada saat produk atau jasa diserahkan kepada kustomer. Tujuan utama jurnal penyesuaian adalah agar pendapatan diakui (dilaporkan) dalam periode waktu ketika pendapatan yang bersangkutan diselesaikan.

Di sisi lain, prinsip mempertemukan biaya dengan pendapatan (matching principle) dimaksudkan untuk merekam biaya-biaya dalam periode yang sama dengan periode diselesaikannya pendapatan. Akuntansi keuangan mendasarkan pada konsep upaya dan hasil (effort and accomplishment): beban yang terjadi merupakan pengorbanan atau upaya untuk memperoleh hasil berupa pendapatan.

Mempertemukan biaya dengan pendapatan mengharuskan akuntan untuk melakukan estimasi atas kejadian-kejadian tertentu di masa depan. Sebagai contoh untuk menentukan beban penyusutan/depresiasi, akuntan harus mengestimasi masa manfaat dan nilai residu aset yang didepresiasi. Pada saat pengguna membaca laporan keuangan, mereka juga harus menyadari adanya unsur estimasi sehingga laporan keuangan mengandung angka-angka dan hasil pengukuran yang sebenarnya tidak pasti.

Proses penyesuaian

Proses penyesuaian akun mencakup analisis saldo tiap-tiap akun serta transaksi dan kejadian bisnis yang mempengaruhinya untuk menentukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan. Jurnal penyesuaian dibuat pada akhir periode agar akun aset atau liabilitas saldonya benar. Jurnal penyesuaian juga dimaksudkan untuk memutakhirkan saldo akun beban dan penghasilan yang berkaitan.

Penyesuaian diperlukan atas transaksi dan kejadian bisnis yang berdampak lebih dari satu periode. Penyesuaian dapat dikelompokkan menurut waktu diterima atau dikeluarkannya kas dalam kaitannya dengan pengakuan beban dan penghasilan yang bersangkutan dengan penerimaan dan pembayaran kas tersebut. Gambar berikut menunjukkan empat jenis jurnal penyesuaian.

jenis-jenis jurnal penyesuaian

Bagian kiri adalah pembayaran di muka beban (termasuk di dalamnya adalah depresiasi) dan penerimaan di muka penghasilan, yaitu transaksi-transaksi yang kasnya sudah dibayarkan atau diterima sebelum beban atau penghasilannya diakui. Keduanya juga disebut tangguhan (deferrals) karena pengakuannya sebagai beban (atau penghasilan) ditangguhkan meskpun kasnya sudah dibayarkan (atau diterima). Bagian kanan adalah utang beban (accrued expenses) dan piutang penghasilan (accrued income), yaitu transaksi-transaksi yang kasnya dibayarkan atau diterima setelah beban atau penghasilannya diakui lebih dulu. Jurnal penyesuaian diperlukan untuk keempat jenis transaksi tersebut sehingga penghasilan, beban, aset, dan liabilitas dilaporkan sebagaimana mestinya. Satu poin yang harus diingat, setiap jurnal penyesuaian selalu mempengaruhi satu atau beberapa akun laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif lain di satu sisi dan satu atau beberapa akun laporan posisi keuangan (kecuali akun Kas) di sisi lainnya.

Pembayaran di muka beban

Pembayaran di muka biaya (juga dikenal dengan istilah beban dibayar di muka) mencakup item-item yang dibayar di muka sebelum manfaat dari pembayaran itu diterima. Pembayaran di muka beban adalah aset. Ketika aset itu digunakan, biayanya akan menjadi beban (expense). Jurnal penyesuaian untuk pembayaran di muka akan meningkatkan beban (di laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif lain) dan menurunkan aset (di laporan posisi keuangan) seperti ditunjukkan dengan akun T pada gambar berikut.

beban dibayar di muka

Penyesuaian terhadap pembayaran di muka beban dimaksudkan untuk mengakui transaksi/kejadian bisnis yang mengkonsumsi manfaat dari pembayaran di muka (termasuk berkurangnya manfaat karena berlalunya waktu). Untuk memperjelas, kita akan mengilustrasikan bagaimana perlakuan akuntansi atas pembayaran di muka asuransi, perlengkapan, dan depresiasi.

Pembayaran di muka asuransi. Kembali ke contoh Sabrina Consulting pada topik analisis transaksi, jurnal, buku besar umum, dan neraca saldo, perusahaan tersebut mengeluarkan kas sejumlah Rp12.000.000 sebagai pembayaran premi asuransi untuk jangka waktu 24 bulan terhitung sejak 1 Desember 2011. Dengan berlalunya waktu, manfaat dari pembayaran asuransi itu kadaluarsa sedikit demi sedikit sehingga sebagian aset Pembayaran di Muka Asuransi akan menjadi beban. Dalam contoh Sabrina Consulting, satu bulan cakupan asuransi menjadi kadaluarsa pada tanggal 31 Desember 2011. Dengan demikian, bagian yang menjadi beban adalah Rp500.000, 1/24 dari Rp12.000.000. Jurnal penyesuaian pada 31 Desember dimaksudkan untuk mengakui beban dan mengurangi aset sebagaimana ditunjukkan berikut:

jurnal penyesuaian beban asuransi dibayar di muka

Setelah penyesuaian dan pemindahbukuan, Beban Asuransi sebesar Rp500.000 dan saldo Pembayaran di Muka Asuransi sebesar Rp11.500.000 akan muncul di laporan keuangan sebagai angka-angka yang benar. Tidak dilakukannya penyesuaian pada akhir periode akan mengakibatkan (1) beban dilaporkan terlalu rendah (kurang dilaporkan) sebesar Rp500.000 sehingga laba-rugi akan dilaporkan terlalu tinggi sebesar Rp500.000 dalam laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif lain bulan Desember, dan (2) aset pembayaran di muka asuransi dan ekuitas akan dilaporkan terlalu tinggi (karena laba-rugi yang juga terlalu tinggi) sebesar Rp500.000 dalam laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember. Pada akhir tahun 2012 (setahun kemudian), penyesuaian atas asuransi dibayar di muka dilakukan dengan memindahkan sejumlah Rp6.000.000 dari aset Pembayaran di Muka Asuransi ke Beban Asuransi, sedangkan pada akhir tahun 2013 penyesuaian yang sama akan memindahkan sisanya sebesar Rp5.500.000 ke akun Beban Asuransi.

Persediaan barang habis pakai Persediaan barang habis pakai adalah pembayaran di muka beban yang memerlukan penyesuaian. Sebagai contoh, Sabrina Consulting membeli barang habis pakai seharga Rp48.600.000 pada bulan Desember dan telah menggunakan sebagian barang habis pakai tersebut pada bulan Desember. Ketika laporan keuangan disiapkan pada tanggal 31 Desember, biaya barang habis pakai yang digunakan selama bulan Desember harus diakui sebagai beban bulan Desember. Dengan menghitung persediaan yang tersisa pada tanggal 31 Desember, ditemukan senilai Rp43.350.000 persediaan barang habis pakai masih tersisa. Dengan demikian dapat disimpulkan, selisih Rp5.250.000, Rp48.600.000 ˗ Rp43.350.000, merupakan beban barang habis pakai untuk bulan Desember. Jurnal penyesuaian diperlukan untuk mengakui beban barang habis pakai tersebut dan menurunkan aset Barang Habis Pakai sebagaimana ditunjukkan berikut:

jurnal penyesuaian beban barang habis pakai

Saldo aset Barang Habis Pakai sebesar Rp43.350.000 setelah pemindahbukuan—sama dengan biaya barang habis pakai yang tersisa. Tidak dilakukannya penyesuaian akhir periode akan mengakibatkan (1) beban dilaporkan terlalu rendah sebesar Rp5.250.000 sehingga laba-rugi dilaporkan terlalu tinggi dengan jumlah yang sama dalam laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif lain bulan Desember, dan (2) aset barang habis pakai dan ekuitas dilaporkan terlalu tinggi (karena laba-rugi yang juga terlalu tinggi) sebesar Rp5.250.000 dalam laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember.

Pembayaran di muka beban-beban lainnya, seperti pembayaran di muka sewa, diperlakukan dengan cara yang sama dengan asuransi dan barang habis pakai. Penting untuk diperhatikan, pembayaran di muka beban mungkin saja dibayar dan sepenuhnya digunakan pada periode akuntansi yang sama. Sebagai contoh, perusahaan membayar sewa bulanan pada hari pertama setiap awal bulan. Pembayaran tersebut menimbulkan aset pembayaran di muka sewa pada hari pertama setiap bulan yang akan kadaluarsa sepenuhnya pada akhir bulan. Dalam hal ini, kita bisa merekam pembayaran kas tersebut dengan mendebit akun beban, bukan aset.

Depresiasi. Aset tetap, adalah pembayaran di muka yang dikategorikan secara khusus, yang merupakan aset jangka panjang berwujud yang digunakan untuk memproduksi dan menjual produk dan jasa. Aset tetap yang berupa tanah, bangunan, dan peralatan diharapkan akan memberikan manfaat lebih dari satu periode. Contohnya adalah bangunan kantor, mesin fotokopi, dan kendaraan. Semua aset jangka panjang tersebut, kecuali tanah, digunakan dalam operasi perusahaan dan manfaatnya akan berkurang dengan berlalunya waktu. Biaya aset-aset tersebut mula-mula ditangguhkan sebagai aset dan sedikit demi sedikit diakui dan dilaporkan sebagai beban dalam laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif lain sepanjang masa manfaatnya (periode manfaat). Depresiasi (SAK menggunakan istilah penyusutan) adalah proses pengalokasian biaya aset-aset tersebut selama estimasi masa manfaatnya. Beban depresiasi direkam dengan jurnal penyesuaian akhir periode dengan cara yang sama dengan beban-beban dibayar di muka lainnya.

Sebagai contoh, kita kembali ke transaksi pembelian peralatan oleh Sabrina Consulting seharga Rp130.000.000 pada awal Desember yang akan digunakan dalam rangka menghasilkan pendapatan. Biaya peralatan tersebut harus didepresiasi. Peralatannya diperkirakan memiliki masa manfaat empat tahun dan akan bernilai residu sekitar Rp40.000.000 pada akhir tahun keempat. Hal ini berarti, jumlah yang bisa didepresiasi dari peralatan tersebut selama masa manfaatnya adalah Rp90.000.000 (Rp130.000.000 - Rp40.000.000). Terdapat beberapa metode untuk mengalokasikan jumlah Rp90.000.000 tersebut menjadi beban. Sabrina Consulting menggunakan metode depresiasi garis lurus, yaitu metode yang mengalokasikan biaya secara merata selama masa manfaat. Membagi biaya Rp90.000.000 dengan 48 bulan masa manfaat akan menghasilkan beban depresiasi per bulan sebesar Rp1.875.000 (Rp90.000.000/48). Jurnal penyesuaian untuk merekam beban depresiasi atau beban penyusutan adalah sebagai berikut:

jurnal penyesuaian beban penyusutan depresiasi

Setelah jurnal penyesuaian dipindahbukukan, akun aset tetap Peralatan (Rp130.000.000) dikurangi akun Akumulasi Depresiasi (Rp1.875.000) sama dengan Rp128.125.000, yang merupakan jumlah tercatat atau nilai buku peralatan tersebut untuk 47 bulan masa manfaat yang tersisa. Saldo akun Beban Depresiasi (Rp1.875.000) akan dilaporkan dalam laporan laba-rugi bulan Desember. Tidak dilakukannya penyesuaian tanggal 31 Desember akan mengakibatkan (1) beban dilaporkan terlalu rendah sebesar Rp1.875.000 dan laba-rugi dilaporkan terlalu tinggi sebesar Rp1.875.000 dalam laporan laba-rugi bulan Desember, dan (2) baik aset maupun ekuitas akan dilaporkan terlalu tinggi sebesar Rp1.875.000 dalam laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember.

Akumulasi depresiasi (accumulated depreciation) adalah akun tersendiri yang merupakan akun kontra aset tetap peralatan yang didepresiasi. Akun kontra (contra account) adalah akun yang berkaitan dengan akun lainnya dan saldo normalnya berlawanan dan dilaporkan sebagai pengurang saldo aset yang berkaitan tersebut. Sebagai contoh, akun kontra Akumulasi Depresiasi—Peralatan dikurangkan atas akun Peralatan dalam laporan posisi keuangan Sabrina Consulting. Dengan dilaporkannya akun kontra, pembaca laporan posisi keuangan dapat mengetahui biaya awal aset dan jumlah total depresiasinya. Dengan mengetahui kedua angka tersebut, pengambil keputusan bisa menilai dengan lebih baik kapasitas perusahaan dan menilai perlu atau tidaknya mengganti aset.

Penerimaan di muka pendapatan

Penerimaan di muka pendapatan atau pendapatan tangguhan atau pendapatan diterima di muka (unearned revenues) adalah kas yang diterima di muka atas penyerahan produk dan jasa yang akan dilakukan di masa depan. Penerimaan di muka pendapatan merupakan liabilitas (utang). Dengan diterimanya pembayaran kas di muka dari kustomer, perusahaan berkewajiban menyerahkan produk atau jasa. Setelah produk atau jasa itu diserahkan, penerimaan di muka pendapatan yang semula merupakan liabilitas itu akan menjadi pendapatan. Jurnal penyesuaian akhir periode diperlukan unuk mengakui pendapatan dan mengurangi penerimaan di muka pendapatan seperti ditunjukkan berikut.

jurnal penyesuaian pendapatan diterima di muka

Kembali ke ilustrasi Sabrina Consulting, perusahaan tersebut juga memiliki penerimaan di muka pendapatan. Misalkan, pada tanggal 26 Desember, Sabrina Consulting sepakat untuk menyerahkan jasa konsultasi kepada salah satu klien dengan honorarium sebesar Rp15.000.000 untuk jangka waktu 60 hari. Pada tanggal tersebut, klien juga melakukan pembayaran di muka, yang akan mencakup periode layanan 27 Desember sampai dengan 24 Februari. Jurnal untuk merekam kas yang diterima di muka tersebut adalah:

jurnal penyesuaian pendapatan diterima di muka

Pembayaran di muka tersebut meningkatkan saldo kas dan menimbulkan liabilitas (kewajiban) untuk memberikan jasa konsultasi selama 60 hari ke depan. Dengan berlalunya waktu, Sabrina Consulting akan menghimpun pendapatan melalui penyerahan jasa konsultasi. Pada tanggal 31 Desember, perusahaan tersebut telah melaksanakan lima hari layanan dan menghimpun 5/60 dari Rp15.000.000 kewajibannya. Hasilnya adalah Rp1.250.000 (Rp15.000.000 x 5/60). Prinsip pengakuan pendapatan mengharuskan jumlah Rp1.250.000 tersebut diakui dan dilaporkan sebagai pendapatan dalam laporan laba-rugi bulan Desember. Jurnal penyesuaian akhir periode dimaksudkan untuk mengurangi akun liabilitas Penerimaan di Muka Pendapatan dan mengakui pendapatan yang telah diperoleh/dilaksanakan, sebagaimana ditunjukkan berikut:

jurnal penyesuaian pendapatan diterima di muka

Jurnal penyesuaian tersebut dimaksudkan untuk memindahkan Rp1.250.000 dari penerimaan di muka pendapatan (liabilitas) menjadi pendapatan. Tidak dilakukannya penyesuaian akhir periode akan mengakibatkan (1) pendapatan dan laba dilaporkan terlalu rendah sebesar Rp1.250.000 dalam laporan laba-rugi, dan (2) penerimaan di muka pendapatan dilaporkan terlalu tinggi dan ekuitas dilaporkan terlalu rendah sebesar Rp1.250.000 di neraca tanggal 31 Desember.

Beban terutang

Beban terutang (accrued expenses) adalah biaya yang telah terjadi pada periode kini tetapi belum dibayar dan belum direkam dalam sistem akuntansi. Beban terutang harus dilaporkan dalam laporan laba-rugi untuk periode pada saat terjadinya. Jurnal penyesuaian akhir periode dimaksudkan untuk merekam beban terutang dengan mengakui terjadinya beban dan meningkatkan liabilitas sebagaimana ditunjukkan berikut.

jurnal penyesuaian beban terutang

Dengan kata lain, penyesuaian atas beban terutang merupakan pengakuan beban yang telah terjadi dalam periode sekarang tapi belum dibayarkan. Contohnya adalah gaji, bunga, dan pajak. Untuk memperjelas proses penyesuaian atas beban terutang, berikut adalah ilustrasi perlakuan akuntansi atas gaji dan bunga.

Utang gaji. Satu-satunya karyawan Sabrina Consulting dibayar Rp350.000 per hari, atau Rp1.750.000 selama lima hari kerja (Senin – Jumat). Karyawan tersebut dibayar setiap dua minggu pada hari Jumat. Pada tanggal 12 dan 26 Desember, gajinya sudah dibayar dan telah direkam ke dalam jurnal, serta dipindahbukukan ke buku besar. Karena tahun buku berakhir tanggal 31 Desember, terdapat tiga hari kerja yang belum dibayar setelah pembayaran terakhir, yaitu tanggal 29, 30, dan 31 Desember. Dengan kata lain, perusahaan telah menerima manfaat dari pekerjaan karyawan selama tiga hari hingga akhir periode akuntansi yang jatuh pada hari Rabu, 31 Desember, tapi gajinya belum dibayarkan dan belum diakui.

jurnal penyesuaian beban terutang

Laporan keuangan akan mengandung kesalahan jika Sabrina Consulting tidak melaporkan beban dan liabilitas untuk mengakui manfaat pekerjaan karyawan tanggal 29 – 31 Desember dan gaji yang belum dibayarkan. Jurnal penyesuaian tanggal 31 Desember dimaksudkan untuk mengakui utang gaji sebagaimana ditunjukkan berikut:

jurnal penyesuaian beban terutang

Beban gaji Rp8.050.000 akan dilaporkan dalam laporan laba-rugi bulan Desember dan utang gaji sebesar Rp1.050.000 (liabilitas) akan dilaporkan dalam neraca tanggal 31 Desember. Tidak dilakukannya penyesuaian atas utang gaji pada tanggal 31 Desember akan mengakibatkan (1) beban gaji dilaporkan terlalu rendah dan laba dilaporkan terlalu tinggi sebesar Rp1.050.000 dalam laporan laba-rugi bulan Desember dan, (2) liabilitas berupa utang gaji dilaporkan terlalu rendah dan ekuitas dilaporkan terlalu tinggi sebesar Rp1.050.000 dalam neraca tanggal 31 Desember.

Utang bunga Perusahaan umumnya memiliki utang bunga (accrued interest expense) atas utang wesel dan liabilitas jangka panjang lainnya pada akhir periode. Beban bunga timbul dengan berlalunya waktu. Karena bunga biasanya belum dibayarkan pada hari terakhir periode akuntansi, jurnal penyesuaian diperlukan untuk mengakui beban bunga yang telah terjadi tapi belum dibayarkan. Dengan kata lain, kita harus mengakui beban bunga yang terjadi sejak tanggal terakhir pembayaran hingga akhir periode. Rumus untuk menghitung utang bunga adalah:

Pokok pinjaman × Suku bunga tahunan × Bagian dari setahun sejak pembayaran terakhir

Sebagai ilustrasi, jika perusahaan mempunyai pinjaman dari bank sebesar Rp30.000.000 dengan suku bunga tahunan 6%. Dengan adanya liabilitas jangka panjang tersebut, utang bunga selama 30 hari adalah Rp150.000 (Rp30.000.000 × 0,06 × 30/360). Jurnal penyesuaian atas utang bunga akhir periode dilakukan dengan mendebit Beban Bunga sebesar Rp150.000 dan mengkredit Utang Bunga dengan jumlah yang sama.

Piutang pendapatan

Piutang pendapatan (accrued revenues) adalah pendapatan yang sudah dihimpun/dilaksanakan dalam periode sekarang tetapi belum diterima kasnya dan belum direkam dalam sistem akuntansi. Contohnya adalah penerjemah buku yang pembayarannya oleh penerbit baru akan diterima setelah pekerjaannya selesai. Jika baru sepertiga pekerjaan yang diselesaikan hingga akhir periode, penerjemah buku tersebut harus merekam nilai sepertiga pekerjaannya itu sebagai pendapatan—meskipun belum ada pembayaran sama sekali dari penerbit. Jurnal penyesuaian atas piutang pendapatan dimaksudkan untuk meningkatkan aset Piutang Pendapatan atau Piutang Usaha dan mengakui Pendapatan. Piutang pendapatan umumnya timbul dari jasa, produk, dan bunga.

jurnal penyesuaian piutang pendapatan

Ilustrasi honorarium jasa dan bunga akan disajikan berikut untuk memperjelas proses penyesuaian atas piutang pendapatan.

Piutang pendapatan jasa. Piutang pendapatan jasa (accrued services revenue) adalah pendapatan yang sebenarnya sudah dilaksanakan atau sudah terhimpun tapi belum direkam karena kustomer belum membayar atau penjual memang belum menerbitkan tagihan (bills). Sebagai ilustrasi, pada minggu kedua bulan Desember, Sabrina Consulting sepakat untuk memberikan jasa konsultasi selama 30 hari layanan ke sebuah sekolah menengah kejuruan yang baru saja mendirikan kursus perpajakan dengan honorarium tetap sebesar Rp13.500.000. Salah satu butir kesepakatan awal kedua belah pihak mengharuskan Sabrina Consulting untuk memberikan jasa konsultasi dari tanggal 12 Desember 2011 sampai dengan 10 Januari 2012, atau 30 hari layanan. Sekolah tersebut sepakat untuk membayar kepada Sabrina Consulting sebesar Rp13.500.000 pada tanggal 10 Januari 2012, ketika periode layanan berakhir. Pada tanggal 31 Desember 2011, 20 hari layanan telah dilaksanakan. Karena kontrak tersebut belum sepenuhnya terlaksana, Sabrina Consulting belum menerbitkan tagihan dan juga belum merekam dua pertiga pendapatan jasa yang sebenarnya telah diselesaikan senilai Rp9.000.000 (Rp13.500.000 × 20/30). Prinsip pengakukan pendapatan mengharuskan Sabrina Consulting untuk mengakui dan melaporkan pendapatan sebesar Rp9.000.000 tersebut dalam laporan laba-rugi bulan Desember. Neraca juga harus melaporkan utang sekolah menengah kejuruan kepada Sabrina Consulting sebesar Rp9.000.000. Jurnal penyesesuaian akhir periode untuk mengakui piutang pendapatan jasa adalah:

jurnal penyesuaian piutang pendapatan jasa

Piutang usaha dilaporkan di neraca sebesar Rp9.000.000, dan pendapatan jasa konsultasi sebesar Rp39.250.000 dilaporkan di laporan laba-rugi. Tidak dilakukannya penyesuaian atas piutang pendapatan tersebut akan mengakibatkan (1) pendapatan jasa konsultasi dan laba dilaporkan terlalu rendah Rp9.000.000 dalam laporan laba-rugi bulan Desember, dan (2) aset piutang usaha dan ekuitas dilaporkan terlalu rendah sebesar Rp9.000.000 dalam neraca tanggal 31 Desember.

Piutang pendapatan bunga. Selain beban bunga terutang, bunga juga bisa menghasilkan piutang pendapatan (accrued revenue), yaitu ketika debitor berutang uang (atau aset lainnya) kepada perusahaan. Jika perusahaan memegang wesel atau memiliki piutang usaha yang berbunga, jurnal penyesuaian diperlukan untuk merekam pendapatan bunga yang telah diperoleh atau terhimpun tetapi belum diterima pembayarannya. Jurnal penyesuaiannya mirip dengan jurnal penyesuaian untuk piutang pendapatan jasa. Akun Piutang Bunga didebit dan akun Pendapatan Bunga dikredit.

Neraca saldo setelah penyesuaian

Neraca saldo sebelum penyesuaian adalah daftar akun-akun beserta saldonya yang disiapkan sebelum proses penyesuaian. Neraca saldo setelah penyesuaian adalah daftar akun-akun beserta saldonya yang disiapkan setelah jurnal penyesuaian direkam dan dipindahbukukan ke akun-akun di buku besar. Gambar berikut menyajikan neraca saldo Sabrina Consulting, baik sebelum maupun setelah penyesuaian, tanggal 31 Desember 2011. Beberapa akun baru dibuka dengan dipindahbukukannya jurnal penyesuaian. Akun-akunnya diurutkan sesuai dengan kode dalam bagan akun.

neraca saldo

Penyesuaian (lihat kolom di tengah) ditandai dengan huruf dalam tanda kurung yang menghubungkannya dengan jurnal penyesuaian sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Jumlah-jumlah dalam kolom Daftar Saldo Setelah Penyesuaian dihitung dari jumlah-jumlah dalam kolom Daftar Saldo Sebelum Penyesuaian ditambah/dikurangi jumlah-jumlah dalam kolom Penyesuaian. Misalnya, Barang Habis Pakai bersaldo debit Rp48.600.000 di kolom yang belum disesuaikan. Dikurangi dengan kredit Rp5.250.000 di kolom penyesuaian menghasilkan saldo debit Barang Habis Pakai setelah disesuaikan sebesar Rp43.350.000. Satu akun bisa dipengaruhi oleh lebih dari satu penyesuaian, misalnya Pendapatan Jasa Konsultasi. Sebagian akun lainnya mungkin tidak memerlukan penyesuaian untuk periode sekarang, misalnya Utang Usaha.

Penyusunan laporan keuangan

Laporan keuangan dapat disusun secara langsung dari informasi dalam neraca saldo setelah penyesuaian. Neraca saldo setelah penyesuaian (dua kolom paling kanan pada gambar di atas) mencakup semua akun dan saldo yang akan muncul di laporan keuangan.

Gambar berikut menyajikan bagaimana saldo-saldo pendapatan dan beban dipindahkan dari neraca saldo setelah penyesuaian ke laporan laba-rugi (garis warna merah). Angka laba, laba ditahan, dan dividen kemudian digunakan untuk menyusun laporan laba ditahan (garis warna biru). Saldo-saldo aset, liabilitas, dan saham biasa di neraca saldo setelah penyesuaian dipindahkan ke neraca (garis warna hijau). Laba ditahan akhir dihitung dalam laporan laba ditahan dan dipindahkan ke neraca (garis warna hijau).

(klik pada gambar untuk menampilkannya dalam ukuran penuh)

laporan keuangan

Laporan keuangan biasanya disusun dengan urutan sebagai berikut: (1) laporan laba-rugi, (2) laporan laba ditahan, dan (3) neraca. Urutan ini logis karena neraca menggunakan informasi dari laporan laba ditahan. Laporan laba ditahan disusun berdasarkan informasi dari laporan laba-rugi. Laporan arus kas biasanya disusun paling akhir.

Proses penutupan

Proses penutupan (closing process) merupakan tahap yang penting pada akhir periode akuntansi setelah laporan keuangan selesai disusun. Proses penutupan dimaksudkan untuk menyiapkan akun-akun yang akan digunakan untuk merekam transaksi dan kejadian bisnis periode berikutnya. Proses penutupan mencakup (1) pengidentifikasian akun-akun yang akan ditutup, (2) perekaman dan pemindahbukuan jurnal penutupan, dan (3) penyusunan neraca saldo setelah penutupan. Proses penutupan akan mengembalikan akun pendapatan, beban, dan dividen menjadi bersaldo nol pada akhir periode, sehingga akun-akun tersebut bisa digunakan untuk menghitung laba dan dividen periode selanjutnya dengan benar. Di samping itu, proses penutupan juga membantu pengikhtisaran pendapatan dan beban selama satu periode.

Akun temporer atau akun nominal (nominal accounts) adalah akun-akun yang dimaksudkan untuk mengumpulkan data transaksi yang hanya berkaitan dengan satu periode akuntansi. Akun nominal mencakup semua akun laporan laba-rugi, akun dividen, dan akun ikhtisar laba-rugi. Akun nominal juga dikatakan akun temporer atau akun sementara karena dibuka pada awal periode akuntansi, digunakan untuk merekam transaksi dan kejadian bisnis selama satu periode, dan kemudian ditutup pada akhir peiode. Proses penutupan hanya berlaku untuk akun-akun temporer. Akun permanan atau akun real (real accounts) berisi data mengenai aktivitas-aktivitas yang terkait dengan satu periode akuntansi atau lebih. Saldo-saldo akhir akun permanen akan diteruskan (tidak ditutup) ke periode berikutnya dan mencakup semua akun neraca.

Menutup akun-akun temporer dilakukan dengan memindahkan semua saldonya ke sebuah akun yang disebut Ikhtisar Laba-Rugi (Income Summary). Ikhtisar laba-rugi juga merupakan akun temporer (hanya digunakan untuk proses penutupan) yang sisi kreditnya menampung jumlah semua saldo pendapatan, dan sisi debitnya menampung jumlah semua biaya. Saldo akun ikhtisar laba-rugi akan sama dengan laba atau rugi bersih yang kemudian dipindahkan ke laba ditahan. Selanjutnya, saldo akun dividen juga dipindahkan ke laba ditahan. Setelah semua jurnal penutupan dipindahbukukan ke buku besar, akun-akun pendapatan, biaya, dividen, dan ikhtisar laba-rugi akan bersaldo nol. Itulah sebabnya proses ini dikatakan penutupan.

Tahap-tahap proses penutupan ditunjukkan pada gambar berikut.

proses penutupan akun

Ilustrasi proses penutupan akun berdasarkan saldo-saldo dalam neraca saldo setelah penyesuaian ditunjukkan pada gambar berikut:

jurnal penutup

Tahap 1: Menutup saldo kredit akun pendapatan ke ikhtisar laba-rugi. Jurnal penutupan mula-mula dimaksudkan untuk memindahkan saldo kredit akun pendapatan ke akun ikhtisar laba-rugi. Saldo kredit akun pendapatan akan menjadi nol dengan cara mendebitnya dengan jumlah yang sama. Tahap 1 pada gambar di atas megnilustrasikan penutupan akun pendapatan tersebut. Jurnal penutupan menutup akun-akun pendapatan dan membiarkannya bersaldo nol. Dengan demikian, akun-akun pendapatan siap digunakan untuk merekam pendapatan yang terjadi dalam periode selanjutnya.

Tahap 2: Menutup saldo debit akun-akun beban ke ikhtisar laba-rugi. Jurnal penutupan kedua dimaksudkan untuk memindahkan saldo-saldo debit akun beban ke akun ikhtisar laba-rugi. Saldo debit akun-akun beban menjadi nol dengan mengkreditnya dengan jumlah yang sama, sehingga akun-akun tersebut siap digunakan untuk merekam beban-beban yang akan terjadi pada periode berikutnya.

Tahap 3: Menutup ikhtisar laba-rugi ke laba ditahan. Setelah tahap 1 dan 2, saldo ikhtisar laba-rugi akan sama dengan laba-rugi selama periode. Jurnal penutupan ketiga dimaksudkan untuk memindahkan saldo akun ikhtisar laba-rugi ke laba ditahan. Jurnal ini menutup akun ikhtisar laba-rugi dan ditunjukkan sebagai tahap 3 pada gambar di atas. Akun ikhtisar laba-rugi akan bersaldo nol setelah jurnal ketiga ini dipindahbukukan. Akun ini akan terus bersaldo nol hingga proses penutupan berikutnya pada akhir periode selanjutnya. Jika perusahaan mengalami rugi bersih karena biaya yang terjadi melebihi pendapatan yang diperoleh, jurnal ketiga akan terbalik: debit ke laba ditahan dan kredit ke ikhtisar laba-rugi.

Tahap 4: Menutup akun dividen ke laba ditahan. Jurnal penutupan keempat dimaksudkan untuk memindahkan saldo debit akun dividen ke laba ditahan—lihat tahap 4 pada gambar di atas. Jurnal ini mengakibatkan akun dividen bersaldo nol, sehingga akun tersebut siap digunakan untuk menampung dividen yang diumumkan pada periode selanjutnya. Jurnal ini juga akan mengurangi saldo laba ditahan hingga sama dengan saldo akhir yang dilaporkan di neraca.

Neraca saldo setelah penutupan

Gambar berikut menunjukkan buku besar umum pada akhir periode setelah jurnal penyesuaian dan penutupan dipindahbukukan. Akun-akun temporer (pendaptan, beban, dan dividen) bersaldo akhir nol.

(klik pada gambar untuk menampilkannya dalam ukuran penuh)

buku besar umum

Neraca saldo setelah penutupan (post-closing trial balance) adalah daftar akun-akun permanen beserta saldonya dari buku besar setelah semua jurnal penutupan dibuat dan dipindahbukukan. Dengan kata lain, neraca saldo setelah penutupan berisi saldo-saldo semua akun yang tidak ditutup, yaitu akun-akun aset, liabilitas, dan ekuitas yang akan disajikan di neraca. Tujuan disiapkannya neraca saldo setelah penutupan adalah untuk memverifikasi (1) total debit sama dengan total kredit untuk semua akun permanen, dan (2) semua akun temporer telah bersaldo nol. Neraca saldo setelah penutupan diilustrasikan pada gambar berikut. Neraca saldo setelah penutupan merupakan tahap akhir proses akuntansi.

neraca saldo setelah penutupan

(terakhir di-update tanggal 29 Juli 2016)

No comments:

Post a Comment