30 July 2016

Manajemen keuangan pribadi dan literasi keuangan

Anda bekerja, berpenghasilan, tapi mengapa uang Anda seperti menguap begitu saja. Tagihan menganga, utang menggunung, sementara anak-anak semakin besar dan biaya pendidikan mereka juga meningkat. Ya, Anda tentu ingin uang lebih banyak lagi untuk mengatasi semua itu. Tapi ketika penghasilan Anda bertambah, ternyata pengeluaran menjadi lebih banyak lagi. Akibatnya, Anda tetap berada pada masalah yang sama. Tagihan masih menganga, utang tetap menggunung.

Jika Anda mengalami penderitaan semacam itu, saatnya Anda melakukan introspeksi. Barangkali ada yang salah dengan cara Anda mengelola uang. Walaupun banyak uang, Anda mungkin tidak tahu cara untuk menggunakannya secara optimal. Jika demikian, Anda harus lebih serius dengan pengelolaan uang dan belajar bagaimana membelanjakan uang itu sebaik-baiknya…

Bagaimanapun juga, Anda ternyata tidak sendirian. Konsumerisme, rendahnya kesadaran akan pentingnya mengelola uang secara serius, dan kurangnya wawasan tentang pentingnya menabung dan berinvestasi, dengan sedikit didramatisasi bisa dikatakan, merupakan masalah nasional.

Bekerja sama dengan berbagai asosiasi industri jasa keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah melakukan upaya-upaya edukasi keuangan kepada masyarakat sejak tahun 2014. Portal Web sikapiuangmu.ojk.go.id hanyalah salah satu contoh dari upaya itu.

Sayangnya, tekanan Pemerintah sepertinya lebih kepada upaya memperkenalkan masyarakat pada produk dan layanan bank dan institusi keuangan lainnya. Dengan kata lain, literasi keuangan, istilah ini diserap dari istilah Bahasa Inggris “financial literacy”, lebih banyak diartikan sebagai penguasaan pengetahuan mengenai tabungan, asuransi, reksa dana, dana pensiun, dan sejenisnya yang dihasilkan oleh institusi keuangan.

Tapi tujuan tulisan ini bukan untuk mengevaluasi kebijakan Pemerintah. Cukup Anda tahu, Pemerintah peduli dengan bagaimana rakyatnya membelanjakan uang untuk tujuan-tujuan yang lebih produktif. Selebihnya, mari kita belajar…

Lantas, apa itu manajemen keuangan pribadi?

Semoga istilah “manajemen” tidak terkesan terlalu akademik. Saya harus mengingatkan diri sendiri bahwa target audien saya kali ini bukan hanya mahasiswa. Agar lebih terkesan praktis, istilah “manajemen” akan digunakan secara bergantian dengan “pengelolaan”, yang secara sederhana berarti mengurus sumber daya (yang jumlahnya terbatas) untuk mencapai tujuan tertentu.

Sumber daya bisa apa saja: manusia, uang, tanah, air, mineral, alat produksi, teknologi, pengetahuan…apa saja yang bermanfaat bisa dianggap sumber daya. Ketika uang diurus untuk tujuan tertentu, aktivitas dan keputusan dalam mengurus uang itu dinamakan manajemen keuangan. Dan ketika subyek yang berurusan dengan uang itu adalah Anda, sebagai individu atau “bendahara keluarga”, yang tentu memiliki tujuan-tujuan tertentu, itu berarti Anda sedang melakukan manajemen keuangan bagi diri Anda atau keluarga Anda. Anda adalah manajer keuangan, pengambil keputusan keuangan, bagi diri Anda atau keluarga Anda.

Sebagai manajer, Anda akan dihadapkan pada pertanyaan: untuk apa uang Anda? Anda punya kebutuhan dasar. Anda sudah berkeluarga atau belum, punya anak atau belum. Anda juga punya selera dan hobi. Semua itu akan menentukan preferensi Anda dalam menggunakan uang.

Sayangnya, seperti sumber daya lainnya, uang Anda jumlahnya terbatas. Orang yang paling kaya sekalipun jumlah uangnya bisa dihitung. Di sinilah pentingnya manajemen keuangan pribadi. Pertanyaan dasarnya adalah: dengan keterbatasan uang yang Anda miliki, bagaimana Anda mencapai tujuan keuangan Anda atau keluarga Anda.

  • Anda perlu menyusun rencana keuangan (anggaran), jangka pendek dan jangka panjang, untuk menjabarkan tujuan keuangan dalam angka-angka.
  • Anda harus menabung untuk mengantisipasi hal-hal tak terduga.
  • Jika memungkinkan, Anda mencoba membeli produk asuransi, produk investasi, atau dana pensiun.
  • Anda mungkin memutuskan meminjam uang untuk membeli rumah atau kendaraan.
  • Dengan semakin terkumpulnya kekayaan, Anda mulai serius dalam merencanakan pembayaran pajak.

Meskipun tujuan dan preferensi setiap individu atau keluarga berbeda, ada “praktik terbaik” yang menjadikan Anda mampu mengurus uang secara optimal untuk mencapai tujuan keuangan Anda dan keluarga.

Manajemen keuangan pribadi bukan hanya bagi orang dewasa yang berpenghasilan. Bagi pelajar atau mahasiswa, uang saku yang mereka terima dari orang tua juga merupakan “penghasilan” ketika mereka memiliki kebebasan untuk menggunakannya. Karena itulah banyak yang mengusulkan agar manajemen keuangan pribadi dimasukkan dalam kurikulum pendidikan, bahkan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi.

Paparan di atas sebenarnya sudah mencakup seluruh aspek manajemen keuangan pribadi. Secara singkat, saya menyebut manajemen keuangan pribadi atau pengelolaan keuangan pribadi sebagai “pendekatan rasional terhadap uang” yang digunakan setiap orang atau keluarga untuk mencapai tujuan-tujuan keuangan.

Literasi keuangan secara sederhana berarti penguasaan seseorang terhadap pengetahuan dan keterampilan terkait manajemen keuangan pribadi. Istilah “literacy” mengingatkan saya ke masa kecil, ketika Pemerintahan Soeharto memberantas buta huruf di tahun 1980an. Orang yang mampu mengelola uang secara efektif boleh disebut “melek duit” atau “financially literate”, sedangkan orang yang konsumtif, besar pasak daripada tiang, disebut “buta duit” atau “not financially literate”.

Termasuk dalam golongan orang yang manakah Anda?

(terakhir di-update 30 Juli 2016 – bersambung)

No comments:

Post a Comment