Kerangka konseptual pelaporan keuangan

IASB mewarisi Framework for the Preparation and Presentation of Financial Statements dari IASC. Konsep-konsep yang terkandung di dalam dokumen tersebut sebagian besar diambil dari Kerangka Konseptual FASB. IAI mengadopsi seluruh dokumen tersebut menjadi Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK).

Maksud dan Status KDPPLK. KDPPLK berisi konsep-konsep dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan dengan menetapkan tujuan laporan keuangan; mengidentifikasi karakteristik-karakteristik kualitatif yang menjadikan informasi dalam laporan keuangan bermanfaat; serta mendefinisikan dan menetapkan konsep-konsep pengakuan dan pengukuran elemen-elemen dasar laporan keuangan.

Penyusunan laporan keuangan bukan merupakan penggambaran pasti, tetapi didasarkan pada estimasi, pertimbangan (judgments), dan model. KDPPLK menyediakan konsep-konsep yang mendasari ketidakpastian-ketidakpastian terkait estimasi, pertimbangan, dan model yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan.

Elemen-elemen laporan keuangan adalah pengelompokan-pengelompokan secara umum untuk menunjukkan dampak keuangan transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian yang terkait dengan suatu entitas.

Untuk dimasukkan dalam laporan keuangan, kejadian atau transaksi harus memenuhi syarat-syarat definisi, pengakuan, dan pengukuran, yang dinyatakan dalam Kerangka Konseptual.

Tujuan utama KDPPLK adalah membantu penyusun standar (IASB/DSAK-IAI) dalam menyusun standar-standar baru dan mereview standar-standar yang ada. KDPPLK juga membantu penyusun laporan keuangan, auditor, pengguna, dan pihak-pihak lain dalam melaksanakan pekerjaan mereka.

KDPPLK bukan IFRS/SAK dan tidak bisa mengungguli IFRS/SAK jika terjadi pertentangan antara KDPPLK dengan IFRS/SAK.

Model akuntansi. Laporan keuangan disusun sesuai dengan model akuntansi berbasis biaya historis terpulihkan (recoverable historical cost) serta konsep pemeliharaan modal keuangan nominal (nominal financial capital maintenance concept). Model dan konsep lain bisa saja lebih tepat, tetapi saat ini belum ada konsensus untuk melakukan perubahan.

Kerangka Konseptual disusun untuk dapat diterapkan terhadap berbagai model akuntansi dan konsep modal dan pemeliharaan modal. Tujuan dan karakteristik kualitatif dalam Kerangka Konseptual diharapkan bisa digunakan untuk mengambil keputusan terkait model dan konsep yang tepat.

Tujuan laporan keuangan menurut KDPPLK. Menurut KDPPLK, tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, serta arus kas suatu entitas, untuk digunakan oleh beraneka ragam pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi. KDPPLK memandang kebutuhan informasi investor sebagai fokus utama. Meskipun demikian, laporan keuangan yang dirancang untuk mememnuhi kebutuhan investor juga akan memenuhi kebutuhan pengguna-pengguna laporan keuangan lainnya.

Menurut KDPPLK, sebagian besar pengguna laporan keuangan akan mengevaluasi kemampuan entitas dalam menghasilkan kas serta waktu dan kepastian dihasilkannya kas. Posisi keuangan dipengaruhi oleh sumber daya ekonomi yang dikendalikan oleh entitas, struktur keuangan, likuiditas dan solvabilitas, serta kemampuan entitas dalam beradaptasi dengan perubahan lingkungan tempat entitas beroperasi.

Karakteristik kualitatif menurut KDPPLK. KDPPLK menetapkan karakteristik kualitatif laporan keuangan yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan, yaitu kualitas terpahami (understandability), relevansi (relevance), terandalkan (reliability), dan kualitas terbandingkan (comparability). Kualitas terandalkan mencakup penggambaran sejujurnya (representational faithfulness), substansi mengungguli bentuk, lengkap, netral, dan hati-hati (prudence). Menurut KDPPLK, pemenuhan karakteristik-karakteristik kualitatif tersebut dibatasi oleh kendala biaya/manfaat. KDPPLK juga menyatakan bahwa dalam praktiknya karakteristik tertentu bisa saja mengorbankan karakteristik lainnya sehingga penyeimbangan (trade-off) antar-karakteristik seringkali diperlukan. KDPPLK menyatakan bahwa penerapan karakteristik-karakteristik kualitatif tersebut seharusnya akan menghasilkan penyajian laporan keuangan yang wajar.

IAS 1 yang sebagian besar ketentuannya diadopsi di Indonesia menjadi PSAK 1 menyatakan bahwa laporan keuangan merupakan “penggambaran terstruktur posisi keuangan dan kinerja keuangan entitas…yang bertujuan…untuk menyediakan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas, yang bermanfaat bagi beraneka ragam pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi.” Menurut IAS 1/PSAK 1, penyajian wajar mengharuskan penggambaran jujur (apa adanya) pengaruh transaksi, kejadian, dan kondisi entitas sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan…yang dinyatakan dalam KDPPLK….Penerapan IFRS/SAK, dengan pengungkapan tambahan yang diperlukan, dianggap akan menghasilkan laporan keuangan yang tersaji secara wajar.”

Sejak tahun 2005, IASB dan FASB meninjau kembali kerangka konseptual masing-masing. Berdasarkan pada kerangka konseptual masing-masing, kedua penyusun standar utama dunia itu bersepakat untuk menghaluskan dan memperbaharui serta mengembangkan satu kerangka bersama yang bisa digunakan untuk mengembangkan standar akuntansi. Tujuan proyek kerangka konseptual itu adalah untuk menciptakan fondasi yang kokoh bagi standar akuntansi masa depan yang berbasis prinsip, memiliki konsistensi internal serta konvergensi internasional.

IASB dan FASB telah menuntaskan Fase A dari Proyek Pembaharuan Kerangka Konseptual mereka, Tujuan dan Karakteristik Kualitatif, pada bulan September 2010. Dengan tuntasnya Fase A tersebut, IASB telah menerbitkan Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan 2010 (Conceptual Framework for Financial Reporting 2010), yang berisi dua bab baru serta kerangka konseptual lama yang belum direvisi. FASB menerbitkan Concepts Statement 8 yang menggantikan Concepts Statements 1 dan 2.

Meskipun belum diadopsi di Indonesia, paragraf-paragraf berikut memaparkan Kerangka Konseptual baru yang diterbitkan pada bulan September 2010, selanjutnya disebut Kerangka Konseptual.

Tujuan pelaporan keuangan menurut Kerangka Konseptual. Kerangka Konseptual menetapkan tujuan laporan keuangan bertujuan umum (general-purpose financial statements) sebagai berikut:

Tujuan pelaporan keuangan bertujuan umum adalah menyediakan informasi keuangan mengenai entitas pelapor yang bermanfaat bagi investor yang ada dan investor potensial, pemberi pinjaman, dan kreditor lainnya dalam mengambil keputusan penyediaan sumber daya kepada entitas.

Tujuan tersebut menegaskan orientasi manfaat keputusan yang menjadi dasar pelaporan keuangan. Pelaporan keuangan tidak menyediakan informasi mengenai nilai entitas pelapor, tetapi membantu dalam melakukan penilaian tersebut. Kebutuhan informasi investor, pemberi pinjaman, dan kreditor lainnya menjadi fokus utama. Mereka adalah pengguna utama karena mereka tidak bisa meminta informasi langsung dari entitas pelapor. Mereka mengambil keputusan mengenai pembelian atau penjualan instrumen ekuitas dan instrumen utang atau menyediakan dana bagi entitas.

Kerangka Konseptual memandang pengguna perlu mengevaluasi prospek arus kas bersih yang akan masuk ke entitas pelapor di masa depan. Untuk menilai arus kas bersih, pengguna membutuhkan informasi mengenai sumber daya entitas, klaim terhadap sumber daya itu, serta kemampuan jajaran manajemen dan direksi dalam memikul tanggung jawab untuk menggunakan sumber daya tersebut. Dengan demikian, penilaian kepengurusan (stewardship) tercakup dalam kemampuan pengguna dalam menilai arus kas bersih entitas.

Laporan keuangan bertujuan umum menyediakan informasi mengenai posisi keuangan entitas, sumber daya yang dikendalikannya, serta klaim atas sumber daya tersebut. Posisi keuangan dipengaruhi oleh sumber daya ekonomi yang dikendalikan oleh entitas, struktur keuangan, likuiditas dan solvabilitas, serta kapasitasnya dalam beradaptasi dengan perubahan lingkungan tempat entitas beroperasi. Informasi disediakan mengenai kekuatan dan kelemahan entitas serta kemampuannya untuk memperoleh dana.

Perubahan sumber daya dan klaim entitas merupakan akibat dari kinerja keuangan entitas serta berasal dari transaksi-transaksi lain seperti penerbitan instrumen utang dan instrumen ekuitas. Kinerja keuangan dinilai baik melalui proses akuntansi akrual maupun perubahan arus kas. Proses tersebut membantu pengguna dalam memahami imbal hasil atas sumber daya entitas dan sejauh mana manajemen memikul tanggung jawab kepengurusan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Baik perubahan maupun implikasi dari perubahan yang tercermin dalam informasi historis membantu menilai kinerja masa depan.

Karakteristik kualitatif. Karakteristik kualitatif (qualitative characteristics) berarti kualitas-kualitas informasi yang paling bermanfaat dalam pelaporan keuangan. Pelaporan keuangan mencakup informasi dalam laporan keuangan serta informasi keuangan lainnya yang disediakan melalui sarana berbeda. Karakteristik kualitatif terdiri dari karakteristik kualitatif fundamental (fundamental qualitative characteristics) dan karakteristik kualitatif peningkat/yang meningkatkan (enhancing qualitative characteristics). Karakteristik kualitatif fundamental adalah relevansi (relevance) dan penggambaran jujur/apa adanya (faithful representation). Karakteristik kualitatif peningkat adalah terbandingkan (comparability), terverifikasi (verifiability), tepat waktu (timeliness), dan terpahami (understandability).

Terkait karakteristik kualitatif tersebut, Kerangka Konseptual tidak menerapkan hirakhi penerapannya. Kerangka Konseptual memandang penerapan karakteristik kualitatif sebagai proses. Entitas harus menerapkan karakteristik fundamental melalui proses yang terdiri dari tiga tahap. Pertama, entitas mengidentifikasi fenomena ekonomi yang mungkin akan bermanfaat untuk diketahui pengguna laporan keuangan. Kedua, entitas mengidentifikasi tipe informasi mengenai fenomena itu yang paling relevan yang dapat digambarkan sejujurnya. Ketiga, entitas menentukan apakah informasi itu tersedia dan dapat digambarkan sejujurnya.

Informasi keuangan yang relevan mampu menunjukkan perbedaan dalam pengambilan keputusan. Informasi mampu menunjukkan perbedaan jika informasi itu memiliki nilai prediksi (predictive value), nilai konfirmasi (confirmatory value), atau kedua-duanya. Informasi keuangan memiliki nilai prediksi jika pengguna bisa menggunakan informasi itu sebagai input dalam proses untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Informasi memiliki nilai konfirmasi jika informasi itu memberikan umpan balik mengenai evaluasi yang dilakukan sebelumnya. Materialitas tercakup dalam relevansi. Informasi yang material, jika tidak disajikan atau salah disajikan, bisa mempengaruhi keputusan pengguna.

Penggambaran sejujurnya berarti menggambarkan fenomena sebagaimana adanya. Karakteristik kualitatif ini mencakup tiga karakteristik: lengkap, netral, dan bebas dari kesalahan. Penggambaran lengkap memasukkan seluruh informasi yang diperlukan untuk memahami fenomena. Penggambaran netral berarti tanpa bias. Bebas dari kesalahan berarti tidak ada yang salah atau yang disembunyikan dalam memaparkan fenomena dan dalam proses yang diterapkan.

Terbandingkan berarti bisa digunakan untuk menemukan adanya kesamaan dan perbedaan. Konsistensi (penggunaan kebijakan dan prosedur akuntansi yang sama dalam satu entitas dari periode ke periode, atau dalam satu periode antar-entitas) akan membantu dalam mencapai karakteristik kualitatif terbandingkan.

Karakteristik kualitatif terverifikasi membantu pengguna dalam memastikan bahwa informasi menggambarkan fenomena ekonomi sebagaimana adanya. Terverifikasi berarti pengamat yang independen dan berpengetahuan akan mencapai satu konsensus umum (meskipun bukan berarti kesepakatan absolut) bahwa informasi memang menggambarkan fenomena ekonomi sebagaimana adanya, tanpa kesalahan material atau bias, atau bahwa suatu metode pengakuan atau pengukuran diterapkan sebagaimana mestinya tanpa kesalahan material atau bias. Terverifikasi berarti pengamatan-pengamatan independen akan menghasilkan ukuran atau kesimpulan yang esensinya sama.

Ketepatan waktu berarti informasi disediakan pada waktu informasi itu mampu mempengaruhi keputusan. Semakin lampau informasi umumnya semakin berkurang manfaatnya bagi pengguna.

Terpahami berarti mengklasifikasi, mengkarakterisasi, dan menyajikan informasi secara jelas dan ringkas. Informasi dengan karakteristik terpahami menjadikan pengguna yang memiliki cukup wawasan mengenai aktivitas bisnis, ekonomi, dan keuangan serta pelaporan keuangan, dan siapa saja yang memiliki cukup ketekunan untuk memahami informasi, dapat mengetahui posisi keuangan dan hasil operasi entitas, sebagaimana yang dimaksudkan oleh informasi itu.

Biaya menjadi satu-satunya batasan yang diperhitungkan terkait penyediaan informasi yang bermanfaat dalam laporan keuangan. Pertanyaannya adalah apakah manfaat penyediaan informasi lebih besar daripada biaya penyediaan dan penggunaan informasi itu. Biaya tampaknya menjadi kendala dibebankannya aturan-aturan baru. Seiring teknologi informasi yang terus berkembang, biaya penyusunan dan publikasi informasi keuangan dan informasi lainnya akan turun, yang juga berarti berkurangnya kendala penyediaan informasi.

Kerangka Konseptual menggunakan asumsi kelangsungan usaha (going concern assumption) sebagai asumsi yang mendasari (underlying assumption). Laporan keuangan menggunakan asumsi awal bahwa bisnis entitas pelapor sedang berjalan baik dan entitas pelapor akan terus beroperasi untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Jika asumsi awal tersebut tidak terpenuhi, entitas harus mengungkapkan fakta tidak terpenuhinya asumsi awal itu dan laporan keuangan harus disajikan dengan basis pengukuran yang berbeda.

Definisi elemen-elemen laporan keuangan, kriteria pengakuan, dan basis pengukuran yang dipaparkan pada paragraf-paragraf berikut masih sama dengan yang tertuang dalam KDPPLK.

Elemen laporan keuangan. Laporan keuangan menunjukkan dampak keuangan transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian lainnya dengan mengelompokkan transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian itu ke dalam klasifikasi-klasifikasi umum berdasarkan karakteristik ekonomi masing-masing transaksi dan kejadian. Klasifikasi-klasifikasi umum itu disebut elemen-elemen laporan keuangan.

Elemen-elemen laporan keuangan yang secara langsung terkait dengan posisi keuangan adalah aset, liabilitas, dan ekuitas. Elemen-elemen laporan keuangan yang secara langsung terkait dengan kinerja keuangan adalah penghasilan dan beban. Laporan arus kas merefleksikan baik elemen-elemen kinerja maupun perubahan elemen-elemen posisi keuangan tertentu.

Aset adalah sumber daya yang dikendalikan oleh entitas sebagai akibat dari kejadian yang sudah lampau yang dari sumber daya itu manfaat ekonomi akan mengalir kepada entitas di masa depan. Liabilitas adalah kewajiban entitas sekarang yang timbul dari kejadian yang sudah lampau yang penyelesaiannya akan mengakibatkan arus keluar sumber daya (manfaat ekonomi) dari entitas di masa depan. Ekuitas adalah kepentingan/klaim residual atas aset entitas setelah dikurangi seluruh liabilitasnya.

Penghasilan adalah bertambahnya manfaat ekonomi selama periode akuntansi berupa arus masuk atau peningkatan potensi jasa aset atau berkurangnya liabilitas yang mengakibatkan bertambahnya ekuitas, selain yang terkait dengan kontribusi dari pemilik. Beban adalah berkurangnya manfaat ekonomi selama periode akuntansi berupa arus keluar atau penurunan potensi jasa aset atau timbulnya liabilitas yang mengakibatkan berkurangnya ekuitas, selain yang terkait dengan distribusi kepada pemilik.

Definisi penghasilan mencakup pendapatan (revenue) dan keuntungan (gains). Pendapatan timbul dari aktivitas rutin entitas. Penjualan, pendapatan jasa, bunga, dividen, royalti, dan sewa adalah contoh-contoh pendapatan bagi entitas sesuai dengan bisnis yang dijalankannya. Keuntungan merepresentasikan item-item lainnya yang memenuhi definisi penghasilan dan berasal dari aktivitas non-rutin, meskipun bisa saja dari aktivitas rutin entitas. Keuntungan merepresentasikan bertambahnya manfaat ekonomi, sehingga pada hakikatnya sama dengan pendapatan. IFRS tidak memandang pendapatan dan keuntungan masing-masing sebagai elemen terpisah.

Definisi beban juga mencakup kerugian (losses). Beban pokok penjualan, upah, dan depresiasi adalah contoh-contoh beban yang timbul dari aktivitas rutin. Beban terjadi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya potensi jasa aset seperti kas dan setara kas, persediaan, dan aset tetap. Kerugian merepresentasikan item-item lainnya yang memenuhi definisi beban dan berasal dari aktivitas non-rutin, meskipun bisa saja dari aktivitas rutin entitas. Kerugian merepresentasikan berkurangnya manfaat ekonomi, sehingga pada hakikatnya sama denganbeban. IFRS tidak memandang beban dan kerugian masing-masing sebagai elemen terpisah.

Kriteria pengakuan. Pengakuan adalah proses dimasukkannya suatu item dalam laporan keuangan. Untuk dapat diakui, item itu harus memenuhi definisi salah satu elemen laporan keuangan serta memenuhi kriteria pengakuan berikut:

  • Manfaat ekonomi masa depan yang terkait dengan item itu hampir dapat dipastikan akan mengalir kepada atau dari entitas.
  • Biaya atau nilai item itu bisa diukur dengan andal.

Berdasarkan kriteria pengakuan secara umum tersebut:

  • Aset diakui dalam laporan posisi keuangan ketika manfaat ekonomi terkait aset akan mengalir kepada entitas di masa depan dan biaya atau nilai aset bisa diukur dengan andal.
  • Liabilitas diakui dalam laporan posisi keuangan ketika timbul kewajiban sekarang yang penyelesaiannya di masa depan akan mengakibatkan arus keluar sumber daya (manfaat ekonomi) dan jumlah penyelesaiannya bisa diukur dengan andal.
  • Penghasilan diakui dalam laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif lain ketika manfaat ekonomi bertambah yang terkait dengan bertambahnya aset atau berkurangnya liabilitas. Besarnya penambahan manfaat ekonomi itu dapat diukur dengan andal. Dengan kata lain, pengakuan penghasilan terjadi secara simultan dengan pengakuan bertambahnya aset atau berkurangnya liabilitas.
  • Beban diakui dalam laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif lain ketika manfaat ekonomi berkurang yang terkait dengan berkurangnya aset atau bertambahnya liabilitas. Besarnya pengurangan manfaat ekonomi itu dapat diukur dengan andal. Dengan kata lain, pengakuan beban terjadi secara simultan dengan pengakuan bertambahnya liabilitas atau berkurangnya aset.

Basis pengukuran. Pengukuran berarti menentukan jumlah rupiah elemen laporan keuangan yang akan disajikan dalam laporan keuangan. Kerangka Konseptual menyatakan bahwa berbagai basis pengukuran digunakan saat ini yang di antaranya adalah:

  • Biaya historis (historical cost)
  • Biaya kini (current cost)
  • Nilai realisasi bersih (net realisable value)
  • Nilai sekarang (present value)

Biaya historis adalah basis pengukuran yang paling lazim digunakan saat ini, tetapi tetap dikombinasikan dengan basis pengukuran lainnya. Kerangka Konseptual tidak mencakup konsep-konsep atau prinsip-prinsip untuk memilih basis pengukuran yang harus digunakan untuk elemen laporan keuangan tertentu atau dalam situasi tertentu. Panduan pengukuran dicakup dalam standar dan interpretasi.

Read more ...

Hirarki standar akuntansi

Kerangka konseptual digunakan oleh anggota dewan penyusun standar serta stafnya dalam memperdebatkan isu-isu akuntansi. Mereka juga mengharapkan bahwa siapa saja yang mengomentari Exposure Drafts akan mengartikulasikan argumen dengan mendasarkan pada Kerangka Konseptual. Meskipun demikian, Kerangka Konseptual tidak dimaksudkan untuk digunakan secara langsung oleh penyusun laporan keuangan dan auditor untuk menentukan metode akuntansi yang diadopsi.

Dalam IAS 8 Revisi 2003 (diadopsi menjadi PSAK 25), IASB memperkenalkan hirarkhi aturan akuntansi yang harus diikuti oleh penyusun laporan keuangan dalam mencari solusi masalah akuntansi. Menurut hirarkhi itu, panduan yang paling otoritatif adalah IFRS/SAK. Penyusun standar harus mencari panduan akuntansi dengan urutan sebagai berikut:

  1. IAS/IFRS dan interpretasinya (SIC/IFRIC) yang di Indonesia adalah PSAK dan ISAK, jika standar dan interpretasi tersebut bisa diterapkan terhadap transaksi atau kondisi yang dialami entitas penyusun laporan keuangan
  2. Jika standar yang dapat diterapkan secara langsung belum ada, pertimbangan (judgment) harus digunakan untuk mengembangkan dan menerapkan kebijakan akuntansi yang sesuai dengan definisi, kriteria pengakuan, dan konsep pengukuran aset, liabilitas, penghasilan, dan beban sebagaimana dinyatakan dalam Kerangka Konseptual.
  3. Jika poin 2 di atas tidak mungkin dilakukan, penyusun laporan keuangan harus memperhatikan publikasi terkini dari penyusun standar lain yang menggunakan kerangka konseptual serupa dalam pengembangan standar, literatur akuntansi lainnya, serta praktik industri yang tidak bertentangan dengan IFRS/SAK yang berkaitan dengan situasi dan kondisi yang sama atau serupa atau dengan definisi sebagaimana yang dinyatakan dalam Kerangka Konseptual.
Read more ...

Ketentuan-ketentuan umum penyajian laporan keuangan

Basis penyajian laporan keuangan bertujuan umum (general purpose financial statements) diatur dalam IAS 1 yang sebagian besar ketentuannya diadopsi di Indonesia menjadi PSAK 1. Laporan keuangan bertujuan umum, selanjutnya disebut laporan keuangan, adalah laporan keuangan yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pengguna yang tidak berada dalam posisi untuk meminta entitas menyiapkan laporan untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka. IAS 1/PSAK 1 juga bertujuan untuk memastikan keterbandingan laporan keuangan entitas, baik dengan laporan keuangan entitas itu untuk periode-periode sebelumnya maupun dengan laporan keuangan entitas-entitas lain.

IAS 1/PSAK 1 berisi ketentuan-ketentuan umum penyajian laporan keuangan, panduan struktur laporan keuangan, serta ketentuan-ketentuan minimum kandungan/isi laporan keuangan. Standar pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan transaksi-transaksi spesifik dibahas dalam standar-standar lain dan interpretasi-interpretasinya.

Tujuan laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan sarana utama entitas mengkomunikasikan informasi keuangannya kepada pihak eksternal. Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, serta arus kas suatu entitas, untuk digunakan oleh beraneka ragam pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi. Laporan keuangan juga harus menunjukkan prestasi manajemen dalam pengurusan (stewardship) sumber daya yang dipercayakan kepadanya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, laporan keuangan menyediakan informasi terkait entitas yang mencakup:

  • Aset
  • Liabilitas
  • Ekuitas
  • Penghasilan dan beban (termasuk keuntungan dan kerugian)
  • Kontribusi oleh dan distribusi kepada pemilik (dalam kapasitas mereka sebagai pemilik)
  • Arus kas

Semua informasi tersebut, serta informasi lain yang disajikan dalam catatan atas laporan keuangan, diharapkan akan membantu pengguna laporan keuangan dalam memprediksi arus kas entitas di masa depan serta waktu dan kepastiannya.

Laporan keuangan lengkap. Satu set laporan keuangan lengkap terdiri dari:

  • Laporan posisi keuangan per tanggal terakhir untuk periode yang dilaporkan
  • Laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif lain untuk periode yang dilaporkan (disajikan sebagai laporan tunggal, atau dengan menyajikan item-item laba-rugi dalam laporan laba-rugi terpisah yang segera diikuti dengan laporan lain yang menyajikan penghasilan komprehensif yang dimulai dengan laba-rugi)
  • Laporan perubahan ekuitas untuk periode yang dilaporkan
  • Laporan arus kas untuk periode yang dilaporkan
  • Catatan atas laporan keuangan, yang berisi ringkasan kebijakan akuntansi utama serta penjelasan-penjelasan lainnya.
  • Informasi komparatif

Semua laporan keuangan harus disajikan dan dipandang sama pentingnya.

Entitas juga harus menyajikan laporan posisi keuangan per awal periode dari periode komparatif paling lampau yang dilaporkan jika:

  • Entitas menerapkan kebijakan akuntansi secara retrospektif.
  • Entitas menyajikan kembali secara retrospektif item-item laporan keuangan.
  • Entitas melakukan reklasifikasi item-item laporan keuangan.

Sebagai contoh, PT ABI menyusun laporan keuangan secara komparatif untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2015 dan 2014. Pada tahun 2015, manajemen PT ABI memutuskan untuk melakukan reklasifikasi pos-pos laporan keuangannya. Laporan keuangan yang direklasifikasi harus disajikan secara komparatif untuk dua periode dan diawali dengan laporan posisi keuangan per 1 Januari 2014.

Catatan atas laporan keuangan memuat informasi tambahan dari yang disajikan dalam laporan posisi keuangan, laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif lain, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas. Catatan atas laporan keuangan berisi deskripsi naratif atau disagregasi (rincian) item-item yang disajikan dalam laporan-laporan itu serta informasi mengenai item-item yang tidak memenuhi kriteria pengakuan dalam laporan-laporan tersebut.

Laporan-laporan lainnya yang disediakan dalam laporan tahunan entitas, seperti ulasan manajemen mengenai kondisi keuangan entitas, laporan lingkungan, atau laporan nilai tambah, bukan merupakan bagian dari satu set laporan keuangan lengkap dan tidak diatur dalam IFRS.

Kepatuhan terhadap IFRS/SAK dan penyajian wajar. Penerapan IFRS/SAK dengan pengungkapan tambahan yang diperlukan seharusnya akan menghasilkan laporan keuangan yang menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas suatu entitas. Penyajian wajar berarti menggambarkan secara apa adanya (jujur) dampak transaksi, kejadian, serta kondisi lainnya sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan aset, liabilitas, penghasilan, dan beban yang dinyatakan dalam Kerangka Konseptual. Laporan keuangan harus menyajikan informasi keuangan tanpa bias, bukan hanya informasi yang sengaja dipilih untuk disediakan atau diungkapkan.

Entitas yang menyajikan laporan keuangan sesuai dengan IFRS/SAK harus mencakup pernyataan eksplisit dan tanpa syarat mengenai kesesuaiannya dengan seluruh ketentuan IFRS/SAK di dalam catatan atas laporan keuangan.

Entitas yang tidak menerapkan kebijakan akuntansi sebagaimana mestinya tidak dapat meralat atau memberitahukan kebijakan akuntansi yang tidak semestinya itu, baik dengan cara mengungkapkannya ataupun dengan cara menjelaskannya dalam catatan atas laporan keuangan atau media lain.

Dalam situasi ekstrem yang langka, manajemen mungkin saja menyimpulkan bahwa kepatuhan terhadap ketentuan-ketentuan tertentu dalam IFRS akan berdampak menyesatkan (misleading) sedemikian rupa sehingga bertentangan dengan tujuan laporan keuangan sebagaimana yang dinyatakan dalam Kerangka Konseptual. Dalam situasi demikian, entitas dapat menyimpang dari standar akuntansi, dengan mengungkapkan secara rinci hakikat (nature), alasan, serta dampak penyimpangan dimaksud.

PSAK 1 tidak mengadopsi prinsip di atas. Menurut PSAK 1, dalam situasi di mana kepatuhan terhadap PSAK akan mengakibatkan laporan keuangan menjadi menyesatkan sedemikian rupa sehingga bertentangan dengan tujuan laporan keuangan, entitas tidak diperbolehkan untuk menyimpang dari standar-standar terkait. Meskipun demikian, entitas bisa mengungkapkan fakta bahwa: (a) penerapan standar-standar dimaksud akan menyesatkan dan (b) basis pelaporan alternatif seharusnya diterapkan untuk mencapai penyajian wajar laporan keuangan. Secara spesifik, PSAK 1 mengharuskan entitas untuk semaksimal mungkin mengurangi aspek menyesatkan dari kepatuhan terhadap SAK dengan mengungkapkan semua hal berikut:

  • Judul dan ketentuan standar akuntansi yang dianggap menyesatkan serta alasan kesimpulan manajemen bahwa kepatuhan terhadap ketentuan dimaksud akan menyesatkan.
  • Penyesuaian terhadap tiap-tiap item dalam laporan keuangan untuk periode-periode yang disajikan yang menurut kesimpulan manajemen diperlukan dalam rangka mencapai penyajian wajar.

Kelangsungan usaha. Laporan keuangan disusun dengan asumsi bisnis entitas berjalan baik dan entitas akan terus beroperasi di masa depan, kecuali jika manajemen bermaksud untuk melikuidasi entitas atau menghentikan perdagangan, atau manajemen tidak memiliki alternatif realistik kecuali melikuidasi atau menghentikan perdagangan. IAS 1/PSAK 1 mengharuskan manajemen menilai kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan bisnisnya. Jika manajemen sangat meragukan kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan bisnisnya, ketidakpastian-ketidakpastian yang diakibatkannya harus diungkapkan dan laporan keuangan entitas harus disusun dengan basis yang berbeda. Sebaliknya, jika laporan keuangan disusun dengan basis kelangsungan usaha, pengungkapan mengenai basis kelangsungan usaha tidak diperlukan.

Sebagian besar metode akuntansi didasarkan pada asumsi kelangsungan usaha. Sebagai contoh, prinsip biaya (cost principle) tidak akan bermanfaat jika entitas pelapor akan dilikuidasi. Dengan pendekatan likuidasi, aset tetap akan lebih tepat diukur dengan nilai realisasi bersih (harga jual dikurangi biaya penjualan) daripada dengan biaya diamortisasi. Konsep depresiasi, amortisasi, dan deplesi, hanya bisa dibenarkan dan dianggap tepat jika entitas masih akan berumur panjang.

Basis akrual. IAS 1/PSAK 1 mengharuskan entitas menyajikan informasi dalam laporan keuangan dengan menggunakan basis akrual, kecuali informasi arus kas. Entitas mengakui elemen-elemen laporan keuangan (aset, liabilitas, penghasilan, dan beban) ketika elemen-elemen laporan keuangan memenuhi definisi dan kriteria pengakuan sebagaimana dinyatakan dalam Kerangka Konseptual. Transaksi dan kejadian diakui pada saat terjadinya. Dengan kata lain, transaksi dan kejadian direkam dalam sistem akuntansi dan disajikan di laporan keuangan dalam periode terjadinya, bukan dalam periode ketika kas yang terkait dengan transaksi dan kejadian itu diterima atau dibayarkan. Sebagai contoh, pendapatan diakui ketika pendapatan itu sudah menjadi hak entitas (earned) dan beban diakui pada periode terjadinya, tanpa memperhatikan kapan kas yang terkait dengan pendapatan dan beban itu diterima atau dibayarkan.

Konsistensi penyajian. Penyajian dan klasifikasi item-item dalam laporan keuangan harus dipertahankan antar-periode. Perubahan penyajian dan klasifikasi bisa saja menjadi keharusan jika:

  • Hakikat operasi entitas mengalami perubahan signifikan, sehingga penyajian dan klasifikasi lain dipandang lebih tepat (dengan mempertimbangkan kriteria yang dinyatakan dalam IAS 8/PSAK 25); atau
  • IFRS/SAK mengharuskan perubahan penyajian.

Ketika melakukan perubahan penyajian, entitas harus mereklasifikasi informasi komparatif serta memberikan pengungkapan yang memadai. Konsistensi berarti penggunaan kebijakan dan prosedur akuntansi yang sama, baik antar-periode dalam satu entitas ataupun antar-entitas dalam satu periode. Keterbandingan (comparability) merupakan tujuan, sedangkan konsistensi adalah salah satu cara untuk mencapai tujuan itu.

Materialitas dan agregasi. Laporan keuangan adalah hasil dari pengolahan, agregasi, dan pengelompokan sejumlah besar transaksi atau kejadian lainnya berdasarkan pada hakikat atau fungsi transaksi atau kejadian itu, serta penyajian sedemikian rupa sehingga menjadi data ringkasan terklasifikasi yang disebut item atau pos. Tiap-tiap kelompok item sejenis yang material harus disajikan secara terpisah dalam laporan keuangan, demikian juga item-item yang hakikat atau fungsinya tidak sejenis yang jumlahnya material.

Item-item yang tidak sejenis bisa saja diagregasi (digabungkan), baik pada bagian muka laporan keuangan atau dalam catatan atas laporan keuangan, hanya jika item-item itu secara individual tidak material. Item-item yang secara individual tidak material sehingga penyajiannya digabungkan pada bagian muka laporan keuangan bisa juga disajikan secara terpisah dalam catatan atas laporan keuangan.

Disagregasi (misalnya total pendapatan dirinci menjadi penjualan kepada pelanggan besar dan penjualan retail) bisa saja dilakukan sejauh disagregasi itu akan lebih bermanfaat bagi pengguna untuk memprediksi arus kas masa depan. Disagregasi juga harus dilakukan untuk item-item sejenis yang diukur dengan basis pengukuran yang berbeda. Sebagai contoh, investasi surat utang yang diukur dengan biaya diamortisasi tidak boleh diagregasi dengan investasi surat utang yang diukur dengan nilai wajar.

Informasi tidak boleh dikaburkan dengan agregasi atau dengan memberikan informasi yang tidak material. Pertimbangan materialitas berlaku untuk seluruh bagian laporan keuangan. Meskipun suatu standar mengharuskan pengungkapan tertentu, pertimbangan materialitas tetap berlaku, sehingga pengungkapan itu bisa diabaikan jika dianggap tidak material. Prinsip ini diadopsi oleh IASB melalui Disclosure Initiative (Amendemen IAS 1 yang mulai berlaku per 1 Januari 2016) dan belum diadopsi dalam PSAK 1.

Secara umum, item yang disajikan dalam laporan keuangan dianggap material—dan oleh karenanya relevan—jika tidak disajikannya atau kesalahan penyajian item itu akan mempengaruhi atau mengubah keputusan ekonomi pengguna yang diambil berdasarkan laporan keuangan. Materialitas tergantung pada besaran relatif dan hakikat item atau kesalahan yang dinilai dalam situasi dan kondisi tertentu. Sebagai contoh, penyusun laporan keuangan dan auditor mengadopsi aturan kasar (rule of thumb) bahwa jumlah yang lebih kecil dari 5% dari total aset atau laba bersih dianggap tidak material. Meskipun demikian, faktor-faktor lain, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif, harus dipertimbangkan. Sebagai contoh, pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan terkait lingkungan hidup bisa saja dipandang signifikan secara prinsip, meskipun jumlahnya kecil.

Saling hapus (offsetting). Aset dan liabilitas serta penghasilan dan beban tidak boleh disalinghapuskan kecuali jika hal itu diharuskan atau diperbolehkan oleh IFRS/SAK tertentu. Penyalinghapusan dalam laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif lain atau laporan laba-rugi (jika disajikan terpisah) atau laporan posisi keuangan diperbolehkan dalam situasi dan kondisi yang langka jika penyalinghapusan lebih mampu merefleksikan substansi transaksi atau kejadian.

Sebagai contoh, IAS 37/PSAK 57 memperbolehkan penyajian bersih (netting) pengeluaran garansi dengan penggantian (reimbursement) yang diterima dari pemasok. IAS 18/PSAK 23 mengharuskan pendapatan diukur dengan nilai wajar konsiderasi yang diterima atau akan diterima dikurangi diskon dagang atau rabat volume. Dalam IAS 11/PSAK 34, biaya kontrak ditambah/dikurangi laba/rugi konstruksi akan dikurangi tagihan konstruksi untuk menentukan jumlah piutang konstruksi. Entitas juga bisa menyajikan secara bersih (net) keuntungan dan kerugian tertentu yang berasal dari transaksi-transaksi sejenis, misalnya keuntungan dan kerugian terkait mata uang asing atau keuntungan dan kerugian terkait instrumen keuangan yang dimiliki untuk maksud diperdagangkan, kecuali jika jumlahnya material.

Menurut IASB, penyalinghapusan menurunkan kemampuan pengguna untuk memahami transaksi, kejadian, dan kondisi yang telah terjadi. Penyalinghapusan juga menurunkan kemampuan pengguna untuk menilai arus kas masa depan. Meskipun demikian, pengurangan piutang usaha dengan cadangan piutang tak tertagih atau aset tetap dengan akumulasi depresiasi adalah pengurangan aset dengan akun penilaian yang sudah semestinya dan tidak dianggap penyalinghapusan.

Informasi komparatif. IAS 1/PSAK 1 mengharuskan entitas mengungkapkan informasi secara komparatif dengan periode sebelumnya untuk semua jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan periode kini, pada bagian muka laporan keuangan maupun dalam catatan atas laporan keuangan, kecuali jika suatu standar tertentu menentukan lain. Informasi komparatif juga disajikan dalam bentuk narasi dan deskripsi jika cara itu relevan untuk memahami laporan keuangan periode kini.

Entitas harus menyajikan satu set laporan keuangan lengkap yang sekurang-kurangnya terdiri dari:

  • Dua laporan posisi keuangan
  • Dua laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif lain
  • Dua laporan laba-rugi (jika disajikan secara terpisah)
  • Dua laporan arus kas
  • Dua laporan perubahan ekuitas
  • Catatan terkait untuk tiap-tiap laporan di atas.

Keterbandingan (comparability) adalah kualitas informasi yang menjadikan pengguna mampu membandingkan laporan keuangan antar-periode, mengidentifikasi tren posisi keuangan dan kinerja keuangan, serta membandingkan laporan keuangan antar-entitas. Keterbandingan berbeda dengan keseragaman. Agar informasi memiliki kualitas terbandingkan, fakta-fakta yang serupa harus tampak serupa dan fenomena yang berbeda harus terlihat berbeda. Dengan demikian, pengguna mampu mengidentifikasi kesamaan dan perbedaan dua set fenomena ekonomi.

Pengguna juga harus mengetahui kebijakan akuntansi yang diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan, perubahan kebijakan akuntansi serta dampak perubahan kebijakan akuntansi, jika memang terjadi perubahan. Terkait dengan hal-hal tersebut, entitas harus menyajikan laporan posisi keuangan per awal periode komparatif paling lampau dalam hal entitas menerapkan kebijakan akuntansi secara retrospektif, atau menyajikan kembali item-item laporan keuangan secara retrospektif, atau mereklasifikasi item-item laporan keuangannya. Dengan kata lain, dalam situasi-situasi yang jarang terjadi tersebut, entitas harus menyajikan sekurang-kurangnya tiga laporan posisi keuangan serta catatan-catatan terkait per: (1) akhir periode kini; (2) akhir periode sebelumnya, yang berarti sama dengan awal periode kini; dan (3) awal periode komparatif paling lampau yang disajikan dalam satu set laporan keuangan lengkap.

Entitas bisa saja mengubah penyajian dan klasifikasi item-item laporan keuangan. Dalam hal demikian, entitas harus melakukan reklasifikasi jumlah-jumlah komparatif, kecuali jika reklasifikasi itu tidak praktis (impractical). Dalam melakukan reklasifikasi jumlah-jumlah komparatif, entitas harus memberikan pengungkapan mengenai: (1) hakikat reklasifikasi; (2) jumlah tiap-tiap item atau kelompok item yang mengalami reklasifikasi; dan (3) alasan dilakukannya reklasifikasi.

Jika reklasifikasi jumlah-jumlah komparatif dianggap tidak praktis, entitas harus memberikan pengungkapan mengenai: (1) alasan tidak dilakukannya reklasifikasi; dan (2) hakikat penyesuaian yang akan dilakukan jika reklasifikasi jumlah-jumlah komparatif benar-benar dilakukan.

IAS 8/PSAK 25 Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan juga menyatakan bahwa penyesuaian informasi komparatif diperlukan jika perubahan akuntansi merupakan perubahan kebijakan akuntansi atau koreksi kesalahan.

Meskipun demikian, dalam hal tidak terjadi penerapan retrospektif perubahan kebijakan akuntansi, atau tidak terjadi penyajian kembali laporan keuangan secara retrospektif untuk mengoreksi kesalahan, laporan posisi keuangan per awal periode komparatif paling lampau tidak wajib disajikan. Sebaliknya, IFRS/SAK tidak melarang entitas yang secara sukarela menyajikan laporan posisi keuangan per awal periode komparatif paling lampau.

Pada bulan Mei 2012, IASB menerbitkan Perbaikan Tahunan IFRS. Melalui proyek tersebut, IASB mempublikasikan penyempurnaan standar akuntansi yang sifatnya tidak mendesak tetapi diperlukan dan tidak menjadi bagian dari proyek lainnya. Amendemen dalam penyempurnaan tahunan tersebut menegaskan diwajibkannya laporan posisi keuangan per awal periode komparatif paling lampau dalam hal entitas menerapkan kebijakan akuntansi secara retrospektif, atau menyajikan kembali item-item laporan keuangan secara retrospektif, atau melakukan reklasifikasi item-item laporan keuangan. Dalam situasi-situasi tersebut, satu set laporan keuangan lengkap harus mencakup catatan atas laporan keuangan terkait laporan posisi keuangan per akhir periode kini dan akhir periode sebelumnya, tetapi tidak perlu mencakup catatan atas laporan keuangan terkait laporan posisi keuangan per awal periode sebelumnya.

Meskipun demikian, jika entitas secara sukarela memilih untuk menyediakan tambahan laporan posisi keuangan (selain untuk dua tanggal yang diwajibkan), catatan pendukung item-item aset, liabilitas, dan ekuitas harus disediakan untuk semua laporan posisi keuangan yang disajikan, terlepas dari apakah terjadi perubahan akuntansi atau tidak.

Pengungkapan dalam catatan atas laporan keuangan juga harus disajikan secara komparatif, kecuali untuk item-item pengungkapan yang akan menjadi tidak bermakna, atau bahkan akan membingungkan, jika disajikan secara komparatif. Sebagai contoh, skedul yang menunjukkan tanggal-tanggal dan nilai-nilai jatuh tempo utang per akhir periode sebelumnya akan dianggap tidak penting oleh pengguna laporan keuangan periode kini dan akan mengakibatkan kelebihan informasi jika skedul yang sama juga disediakan per akhir periode kini. Dengan demikian, skedul semacam itu tidak perlu disajikan secara komparatif. Meskipun demikian, pengungkapan-pengungkapan lainnya yang tetap bermakna untuk disajikan secara komparatif harus disajikan untuk semua periode komparatif yang disajikan.

Untuk meningkatkan manfaat laporan keuangan, laporan tahunan entitas menyajikan laporan keuangan ringkas untuk periode 5 atau 10 tahun. Praktik ini tidak diwajibkan dalam IFRS/SAK. Laporan-laporan keuangan yang disajikan secara komparatif semacam itu memungkinkan analis investasi dan pembaca-pembaca lainnya untuk melakukan analisis informasi yang berkaitan antar periode secara komparatif. Penyajian secara komparatif dalam laporan tahunan meningkatkan manfaat laporan tahunan serta memperjelas hakikat dan tren perubahan-perubahan terkini yang mempengaruhi entitas. Penyajian semacam itu menekankan fakta bahwa laporan-laporan yang disajikan untuk suatu rangkaian periode jauh lebih bermakna daripada laporan yang disajikan hanya untuk satu periode. Penyajian semacam itu juga menegaskan bahwa jumlah-jumlah untuk satu periode hanya merupakan satu tahapan dari sejarah yang pada dasarnya berkelanjutan.

Periode pelaporan. Laporan keuangan disusun sekurang-kurangnya sekali dalam setahun. Jika entitas mengubah periode pelaporan dan menyusun laporan keuangan untuk periode yang bukan satu tahun, entitas harus mengungkapkan alasan perubahan itu dan menegaskan bahwa jumlah-jumlah yang disajikan tidak sepenuhnya dapat dibandingkan.

Karena alasan-alasan praktis, sebagian entitas secara rutin melaporkan keuangannya untuk periode yang bukan satu tahun, misalnya untuk periode 52 minggu. IAS 1/PSAK 1 tidak melarang praktik semacam itu.

Identifikasi laporan keuangan secara umum. IAS 1/PSAK 1 mengharuskan entitas mengidentifikasi dengan jelas hal-hal berikut:

  • Laporan keuangan, yang harus dibedakan dari informasi lainnya dalam dokumen yang dipublikasikan oleh entitas.
  • Tiap-tiap laporan keuangan dan catatan atas laporan keuangan.

Informasi berikut juga harus ditonjolkan dan diulang pada setiap halaman laporan keuangan, jika diperlukan:

  • Nama entitas pelapor dan perubahan nama entitas pelapor (jika memang terjadi perubahan)
  • Apakah laporan keuangan merupakan laporan kelompok usaha atau laporan entitas secara tersendiri.
  • Informasi mengenai periode yang dilaporkan
  • Mata uang penyajian (sebagaimana didefinisikan dalam IAS 21/PSAK 10)
  • Tingkat pembulatan yang digunakan (ribuan, jutaan, atau lainnya).
Read more ...

Perbandingan IAS 1 dengan PSAK 1

PSAK 1 yang saat ini berlaku adalah PSAK 1 (Revisi 2013), yang mulai berlaku terhitung sejak tanggal 1 Januari 2015. PSAK 1 (Revisi 2013) telah memasukkan seluruh amendemen IAS 1 setelah tahun 2009 sehingga konsisten dengan IAS 1 terbaru menyangkut semua hal penting.

PSAK 1 mendefinisikan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) terdiri dari Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK), serta peraturan-peraturan yang diterbitkan oleh regulator pasar modal bagi entitas yang berada di bawah pengawasannya. IAS 1 tidak mencakup peraturan-peraturan yang diterbitkan oleh regulator pasar modal.

PSAK 1 tidak memperbolehkan entitas untuk menggunakan judul-judul laporan keuangan selain dari yang digunakan dalam PSAK 1. Meskipun demikian, PSAK 1 tetap memperbolehkan entitas untuk menggunakan istilah “neraca”, tidak mewajibkan penggunaan istilah “laporan posisi keuangan”.

Menurut PSAK 1, dalam situasi di mana kepatuhan terhadap PSAK akan mengakibatkan laporan keuangan menjadi menyesatkan sedemikian rupa sehingga bertentangan dengan tujuan laporan keuangan, entitas tidak diperbolehkan untuk menyimpang dari standar-standar terkait. Meskipun demikian, entitas bisa mengungkapkan fakta bahwa: (a) penerapan standar-standar dimaksud akan menyesatkan dan (b) basis pelaporan alternatif seharusnya diterapkan untuk mencapai penyajian wajar laporan keuangan. IAS 1, dalam situasi yang sama, memperbolehkan penyimpangan dari standar.

PSAK 1 menambahkan pengecualian ruang lingkup dengan menegaskan bahwa PSAK 1 tidak berlaku bagi entitas syariah yang penyajian laporan keuangannya diatur dalam standar tersendiri, yaitu PSAK 101 Penyajian Laporan Keuangan Syariah. PSAK 1 juga tidak boleh diterapkan oleh entitas sektor publik, karena pelaporan keuangan entitas sektor publik diatur dalam Standar Akuntansi Pemerintahan tersendiri, tidak diatur dalam Standar Akuntansi Keuangan.

PSAK 1 (Revisi 2013) telah mengadopsi ketentuan IAS 1 yang mengharuskan penyajian item-item penghasilan komprehensif lain dipisahkan menjadi dua kelompok, yaitu item-item yang akan didaur ulang ke laba-rugi di masa depan dan item-item yang tidak akan didaur ulang. Entitas yang memilih untuk menyajikan item-item penghasilan komprehensif lain sebelum pajak diharuskan untuk menunjukkan jumlah pajak terkait kedua kelompok.

Ilustrasi laporan posisi keuangan yang ditunjukkan dalam IAS 1 menyajikan aset non-lancar di bagian atas yang diikuti oleh aset lancar, dan menyajikan ekuitas yang diikuti oleh liabilitas non-lancar, dan kemudian liabilitas lancar (item yang paling likuid disajikan paling akhir). PSAK 1 memberikan ilustrasi dengan urutan terbalik: aset lancar di bagian atas yang diikuti oleh aset non-lancar, liabilitas lancar yang diikuti oleh liabilitas non-lancar, dan kemudian ekuitas.

Read more ...

IAS 10/PSAK 8 peristiwa setelah periode pelaporan

IAS 10/PSAK 8 peristiwa setelah periode pelaporaIAS 10/PSAK 8 mendefinisikan peristiwa setelah periode pelaporan (events after the reporting period) sebagai berikut (paragraf 3):

Events after the reporting period are those events, favourable and unfavourable, that occur between the end of the reporting period and the date when the financial statements are authorised for issue. Two types of events can be identified: Peristiwa setelah periode pelaporan adalah peristiwa yang terjadi antara akhir periode pelaporan dan tanggal laporan keuangan diotorisasi untuk terbit, baik peristiwa yang menguntungkan maupun yang tidak. Peristiwa-peristiwa tersebut dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
(a) those that provide evidence of conditions that existed at the end of the reporting period (adjusting events after the reporting period); and (a) peristiwa yang memberikan bukti atas kondisi yang ada pada akhir periode pelaporan (peristiwa penyesuai setelah periode pelaporan); dan
(b) those that are indicative of conditions that arose after the reporting period (non-adjusting events after the reporting period). (b) peristiwa yang mengindikasikan kondisi yang timbul setelah periode pelaporan (peristiwa non-penyesuai setelah periode pelaporan).

IAS 10/PSAK 8 menentukan sebagai berikut (paragraf 8):

An entity shall adjust the amounts recognised in its financial statements to reflect adjusting events after the reporting period. Entitas harus menyesuaikan jumlah-jumlah yang diakui dalam laporan keuangan untuk mencerminkan peristiwa penyesuai setelah periode pelaporan.

Sebagai contoh, PT SBS sedang menyusun laporan keuangan untuk tahun fiskal yang berakhir tanggal 31 Desember 2015. PT SBS pada awalnya mengestimasi liabilitas garansi produk Rp700 juta per 31 Desember 2015.

Pada tanggal 26 Februari 2016, sebelum laporan keuangan diotorisasi untuk diterbitkan, PT SBS menerima informasi mengenai kerusakan produk yang kemungkinan besar mengakibatkan PT SBS harus menarik kembali unit-unit yang terjual pada tahun 2015 lebih banyak dari yang diestimasi sebelumnya. PT SBS memperkirakan penarikan produk itu akan menimbulkan biaya tambahan sejumlah Rp1 miliar untuk reparasi produk-produk bergaransi.

Informasi mengenai kerusakan produk merefleksikan peristiwa atau kejadian setelah periode pelaporan yang mengharuskan penyesuaian (adjusting event) terhadap laporan keuangan tahun 2015. Penyesuaian itu dimaksudkan untuk menambah estimasi liabilitas garansi sebesar Rp 1 miliar, sehingga laporan posisi keuangan PT SBS per 31 Desember 2015 akan melaporkan item tersebut sejumlah Rp1,7 miliar dan laba-rugi akan berkurang Rp1 miliar.

Contoh lain peristiwa penyesuai setelah periode pelaporan yang mengharuskan entitas melakukan penyesuaian jumlah yang diakui dalam laporan keuangan adalah:

  • Terselesaikannya kasus pengadilan setelah periode pelaporan yang memutuskan bahwa entitas memiliki kewajiban kini pada akhir periode pelaporan.
  • Diterimanya informasi setelah periode pelaporan yang mengindikasikan adanya penurunan nilai aset pada akhir periode pelaporan.
  • Ditentukannya biaya (cost) aset setelah periode pelaporan yang pembeliannya dilakukan sebelum akhir periode pelaporan.
  • Ditentukannya hasil penjualan aset yang penjualannya dilakukan sebelum akhir periode pelaporan.
  • Ditentukannya jumlah pembayaran pembagian laba (profit-sharing) atau bonus setelah periode pelaporan yang telah menjadi kewajiban entitas pada akhir periode pelaporan.
  • Ditemukannya kecurangan atau kesalahan yang mengakibatkan laporan keuangan juga mengandung kesalahan.

Peristiwa atau kejadian setelah periode pelaporan yang tidak memenuhi definisi sebagai peristiwa penyesuai (adjusting events) harus tetap diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan jika dipandang material. Informasi yang harus diungkapkan adalah:

  • Hakikat peristiwa atau kejadian (apakah peristiwa atau kejadian dimaksud), dan
  • Estimasi dampak keuangannya, atau pernyataan bahwa estimasi itu tidak dapat dilakukan.

Contoh peristiwa atau kejadian penyesuai yang memerlukan pengungkapan antara lain:

  • Kombinasi bisnis yang signifikan setelah periode pelaporan.
  • Pelepasan entitas anak yang signifikan setelah periode pelaporan.
  • Pengumuman untuk menghentikan segmen operasi tertentu.
  • Pembelian aset besar-besaran, pengklasifikasian aset sebagai dimiliki untuk dijual, pelepasan aset, atau pengambilalihan aset oleh pemerintah.
  • Kerusakan fasilitas produksi yang diakibatkan oleh kebakaran setelah periode pelaporan.
  • Diumumkannya atau dimulainya implementasi restrukturisasi.
  • Transaksi saham biasa dan transaksi saham biasa potensial yang signifikan setelah periode pelaporan.
  • Perubahan harga aset atau kurs mata uang asing setelah periode pelaporan.
  • Perubahan tarif pajak atau peraturan perpajakan setelah periode pelaporan dan berdampak signifikan terhadap aset dan liabilitas pajak kini dan tangguhan.
  • Pemberian komitmen atau timbulnya liabilitas kontinjensi yang signifikan, misalnya menerbitkan kontrak garansi yang dampak keuangannya akan signifikan.
  • Dimulainya proses litigasi yang signifikan yang timbul semata-mata dari peristiwa atau kejadian yang terjadi setelah periode pelaporan.
Read more ...

Kombinasi bisnis dan pelaporan kelompok usaha

Download Slide (PDF)Dari segi akuntansi, kombinasi bisnis adalah suatu transaksi atau peristiwa lain di mana pihak pengakuisisi memperoleh kendali atas satu atau lebih bisnis. True mergers atau mergers of equals juga termasuk kombinasi bisnis. Di Indonesia, kombinasi bisnis diatur dalam PSAK 22 Kombinasi Bisnis.

Read more ...

PSAK 4/IAS 27 laporan keuangan tersendiri

PSAK 4 laporan keuangan tersendiri

Istilah “laporan keuangan tersendiri” diterjemahkan dari istilah “separate financial statements” yang dalam IFRS diatur dalam International Accounting Standard 27 Separate Financial Statements (IAS 27). DSAK IAI mengadopsi sebagian ketentuan dalam IAS 27 menjadi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 4 Laporan Keuangan Tersendiri (PSAK 4).

Apakah laporan keuangan tersendiri? Menurut PSAK 4, laporan keuangan tersendiri adalah laporan keuangan yang disajikan oleh entitas induk (yaitu investor yang memiliki pengendalian atas entitas anak) yang mencatat investasi pada entitas anak, entitas asosiasi, dan ventura bersama berdasarkan biaya perolehan atau sesuai dengan PSAK 55 Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran. (PSAK 4.4)

Definisi di atas menyiratkan bahwa laporan keuangan tersendiri hanya disajikan oleh entitas induk (parent) yang juga diharuskan untuk menyajikan laporan keuangan konsolidasi. Ketentuan tersebut berbeda dengan IAS 27. Menurut IAS 27, laporan keuangan tersendiri bisa disajikan oleh entitas induk, investor dalam entitas asosiasi, dan investor dalam ventura bersama.

Apakah perbedaan laporan keuangan konsolidasi dengan laporan keuangan tersendiri? Menurut PSAK 4, laporan keuangan konsolidasi harus disajikan oleh entitas induk. Laporan keuangan tersendiri juga disajikan oleh entitas induk sebagai tambahan atau lampiran laporan keuangan konsolidasi.

Laporan keuangan konsolidasian adalah laporan keuangan kelompok usaha (entitas induk dan entitas anak) yang di dalamnya aset, liabilitas, ekuitas, penghasilan, beban, dan arus kas entitas induk dan entitas anak disajikan sebagai satu entitas ekonomi tunggal. Jika entitas induk juga memiliki investasi dalam entitas asosiasi dan ventura bersama, laporan keuangan konsolidasi menyajikan investasi dalam entitas asosiasi dan ventura bersama dengan metode ekuitas.

Dalam laporan keuangan tersendiri, investasi di entitas anak, entitas asosiasi, dan ventura bersama disajikan dengan metode biaya, atau dengan metode nilai wajar sebagaimana ditentukan dalam PSAK 55. Selain investasi di entitas anak, entitas asosiasi, dan ventura bersama, laporan keuangan tersendiri disusun sesuai dengan SAK yang berlaku.

Menurut PSAK 4, laporan keuangan tersendiri sekurang-kurangnya terdiri dari laporan posisi keuangan, laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif lain, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus-kas. (PSAK 4.6)

Karena laporan keuangan tersendiri hanya merupakan lampiran atau tambahan laporan konsolidasi, PSAK 4 tidak mengharuskan pengungkapan tambahan dalam catatan atas laporan keuangan untuk laporan keuangan tersendiri. Seluruh ketentuan pengungkapan dalam IAS 27 tidak diadopsi.

PSAK 4 belum mengadopsi amendement IAS 27 pada Agustus 2014 yang memperbolehkan entitas menggunakan metode ekuitas dalam melaporkan investasi di entitas anak, entitas asosiasi, dan ventura bersama dalam laporan keuangan tersendiri.

Read more ...

Download PSAK & ISAK (exposure draft)

Berikut saya share exposure draft Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) hasil adopsi International Financial Reporting Standards (IFRS). Meskipun naskah ini berlabel exposure draft, tidak terdapat perbedaan signifikan dengan naskah finalnya, sehingga bisa digunakan untuk kepentingan akademik/pembelajaran. Untuk kepentingan praktis, saya tetap menyarankan untuk merujuk kepada naskah final PSAK/ISAK…

Read more ...

Akuntansi keuangan berbasis IFRS

akuntansi keuangan berbasis IFRS

Berikut ini adalah handout/bahan ajar mata kuliah akuntansi keuangan berbasis IFRS/SAK terbaru, baik untuk level pengantar, menengah (intermediate), maupun lanjutan (advanced). Materi akan selalu dimutakhirkan.

Read more ...

Download handout management information systems

Download handout management information systems

Khusus untuk mahasiswa mata kuliah Sistem Informasi Manajemen.

Read more ...