22 March 2016

Penyusutan (depresiasi): definisi menurut PSAK 16

daftar istilah akuntansi

Penyusutan adalah alokasi sistematis jumlah tersusutkan dari aset selama umur manfaatnya.
Sumber: Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 16 Aset Tetap, paragraf 6 (PSAK 16.6)

Depreciation is the systematic allocation of the depreciable amount of an asset over its useful life.
Source: International Accounting Standard 16 Property, Plant and Equipment, paragraph 6 (IAS 16.6).

Penjelasan tambahan. Definisi penyusutan di sini harus dipahami dalam konteks tujuan dan ketentuan pelaporan aset tetap sebagaimana ditetapkan dalam PSAK 16. Sebagian literatur menggunakan istilah depresiasi. PSAK 16 mengharuskan beban penyusutan untuk setiap periode diakui dalam laba-rugi, kecuali jika beban tersebut termasuk dalam jumlah tercatat aset lain (misalnya sebagai salah satu komponen biaya overhead persediaan barang dalam proses dan barang jadi).

Read more ...

21 March 2016

Nilai residu aset: definisi menurut PSAK 16 dan PSAK 19

daftar istilah akuntansi

Nilai residu dari aset adalah estimasi jumlah yang dapat diperoleh entitas saat ini dari pelepasan aset, setelah dikurangi estimasi biaya pelepasan, jika aset telah mencapai umur dan kondisi yang diperkirakan pada akhir umur manfaatnya.

Sumber:

  • Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 16 Aset Tetap, paragraf 6 (PSAK 16.6)
  • Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 19 Aset Tak Berwujud, paragraf 8 (PSAK 19.8)

The residual value of an asset is the estimated amount that an entity would currently obtain from disposal of the asset, after deducting the estimated costs of disposal, if the asset were already of the age and in the condition expected at the end of its useful life.

Sources:

  • International Accounting Standard 16 Property, Plant and Equipment, paragraph 6 (IAS 16.6)
  • International Accounting Standard 38 Intangible Assets, paragraph 8 (IAS 38.8)

Penjelasan tambahan. Definisi nilai residu di sini harus dipahami dalam konteks tujuan dan ketentuan pelaporan aset tetap sebagaimana ditetapkan dalam PSAK 16 dan aset tidak berwujud sebagaimana ditetapkan dalam PSAK 19.

PSAK 16 mengharuskan entitas untuk menelaah nilai residu dan umur manfaat (atau masa manfaat) aset sekurang-kurangnya setiap akhir tahun buku dan jika hasil telaah berbeda dengan estimasi sebelumnya, perbedaannya harus diperlakukan sebagai sebagai estimasi akuntansi sesuai dengan PSAK 25 Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan (PSAK 16.51).

Jumlah tersusutkan aset ditentukan setelah dikurangi nilai residu. Dalam praktik, nilai residu aset terkadang tidak signifikan dan oleh karena itu tidak material dalam penghitungan jumlah tersusutkan (PSAK 16.53).

Read more ...

20 March 2016

Nilai spesifik entitas: definisi menurut PSAK 16 dan PSAK 19

daftar istilah akuntansi

Nilai spesifik entitas adalah nilai kini dari arus kas yang diharapkan entitas timbul dari penggunaan aset secara berkelanjutan dan dari pelepasan aset tersebut pada akhir umur manfaatnya atau diharapkan terjadi ketika penyelesaian liabilitas.

Sumber:

  • Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 16 Aset Tetap, paragraf 6 (PSAK 16.6)
  • Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 19 Aset Tak Berwujud, paragraf 8 (PSAK 19.8)

Entity-specific value is the present value of the cash flows an entity expects to arise from the continuing use of an asset and from its disposal at the end of its useful life or expects to incur when settling a liability.

Sources:

  • International Accounting Standard 16 Property, Plant and Equipment, paragraph 6 (IAS 16.6)
  • International Accounting Standard 38 Intangible Assets, paragraph 8 (IAS 38.8)

Penjelasan tambahan. Definisi nilai spesifik entitas di sini harus dipahami dalam konteks tujuan dan ketentuan pelaporan aset tetap sebagaimana ditetapkan dalam PSAK 16 dan aset tidak berwujud sebagaimana ditetapkan dalam PSAK 19.

Istilah nilai spesifik entitas digunakan dalam PSAK 16 terkait ketentuan mengenai pengukuran biaya perolehan aset tetap dalam transaksi pertukaran aset nonmoneter dengan aset nonmoneter lain.

Biaya perolehan aset tetap yang diperoleh melalui pertukaran diukur dengan nilai wajar kecuali (PSAK 16.24):

  1. transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial; atau
  2. nilai wajar aset yang diterima dan aset yang diserahkan tidak dapat diukur secara andal.

Transaksi pertukaran memiliki substansi komersial jika (PSAK 16.25):

  1. konfigurasi (risiko, waktu, dan jumlah) arus kas dari aset yang diterima berbeda dengan konfigurasi arus kas dari aset yang diserahkan; atau
  2. nilai spesifik entitas dari bagian operasi entitas yang terpengaruh oleh transaksi berubah sebagai akibat dari pertukaran; dan
  3. selisih di (a) atau (b) adalah relatif signifikan terhadap nilai wajar dari aset yang dipertukarkan.
Read more ...

19 March 2016

Rugi penurunan nilai: definisi menurut PSAK 16, PSAK 19, dan PSAK 48

daftar istilah akuntansi

Rugi penurunan nilai adalah jumlah yang merupakan selisih lebih jumlah tercataf aset atas jumlah terpulihkannya.

Sumber:

  • Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 16 Aset Tetap, (PSAK 16.6)
  • Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 19 Aset Tak Berwujud, (PSAK 19.8)
  • Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 48 Penurunan Nilai Aset, (PSAK 48.6)

An impairment loss is the amount by which the carrying amount of an asset exceeds its recoverable amount.

Sources:

  • International Accounting Standard 16 Property, Plant and Equipment, (IAS 16.6)
  • International Accounting Standard 36 Impairment of Assets, (IAS 36.6)
  • International Accounting Standard 38 Intangible Assets, (IAS 38.8)

Penjelasan tambahan. Definisi rugi penurunan nilai di sini harus dipahami dalam konteks tujuan PSAK 16, PSAK 19, dan PSAK 48.

Entitas bisa memilih model biaya atau model revaluasi sebagai kebijakan akuntansinya dan menerapkan kebijakan tersebut terhadap seluruh aset tetap dalam kelas yang sama (PSAK 16.25).

Jika entitas memilih model biaya, aset tetap dilaporkan dengan biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai.

Aset tetap yang nilai wajarnya dapat diukur secara andal bisa dilaporkan dengan jumlah revaluasian, yaitu nilai wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai setelah tanggal revaluasi.

Read more ...

18 March 2016

Jumlah terpulihkan: definisi menurut PSAK 16, PSAK 48, dan PSAK 58

daftar istilah akuntansi

Jumlah terpulihkan adalah jumlah yang lebih tinggi antara nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dan nilai pakainya.

Sumber:

  • Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 16 Aset Tetap, paragraf 6 (PSAK 16.6)
  • Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 48 Penurunan Nilai Aset, paragraf 6 (PSAK 48.6)
  • Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 58 Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan, paragraf 8 (PSAK 58.8)

Recoverable amount is the higher of an asset’s fair value less costs to sell and its value in use.

Sources:

  • International Accounting Standard 16 Property, Plant and Equipment, paragraph 6 (IAS 16.6)
  • International Accounting Standard 36 Impairment of Assets, paragraph 6 (IAS 36.6)
  • International Financial Reporting Standard 5 Non-current Assets Held for Sale and Discontinued Operations, paragraph 8 (IFRS 5.8)

Penjelasan tambahan. Definisi jumlah terpulihkan (recoverable amount) di sini harus dipahami dalam konteks tujuan PSAK 48. Dalam uji penurunan nilai, suatu aset dikatakan mengalami penurunan nilai jika jumlah terpulihkan lebih rendah daripada jumlah tercatat.

Read more ...

17 March 2016

Jurnal penyesuaian dan penyusunan laporan keuangan

definisi-akuntansi7

Materi ini adalah bagian dari
modul pengantar akuntansi
yang disusun oleh Warsidi


Topik jurnal penyesuaian umumnya dianggap sebagai materi yang sulit oleh pembelajar akuntansi pemula. Menurut pengalaman penulis, kesan sulit itu timbul karena tujuan jurnal penyesuaian tidak sepenuhnya dipahami. Materi ini akan membahas mengapa jurnal penyesuaian diperlukan, akun-akun apa saja yang saldo-saldonya perlu disesuaikan, bagaimana prosedur penyesuaian tiap-tiap akun itu dilakukan, serta bagaimana menyusun laporan keuangan dari saldo akun-akun yang telah disesuaikan.

Mengapa jurnal penyesuaian akhir periode diperlukan?

Untuk dapat menilai posisi keuangan dan mengukur kinerja perusahaan secara akurat, akuntansi harus menunggu sampai dengan perusahaan tidak lagi beroperasi. Sebagai contoh, ketika sebuah keluarga memutuskan untuk merantau ke Jakarta, bekal yang dibawa mungkin hanya uang sekadarnya dan beberapa potong pakaian. Empat puluh tahun kemudian keluarga itu pulang kampung dan memutuskan tidak akan kembali lagi. Apa saja yang mereka miliki sepulangnya dari Jakarta dan berapa selisihnya jika dibandingkan dengan pada saat mereka mulai merantau? Jika mereka menghitung dan mencatatnya dengan teliti, jawaban atas pertanyaan itu mencerminkan kinerja mereka selama merantau.

Tetapi pengguna laporan keuangan tidak mungkin menunggu hingga perusahaan menyelesaikan bisnisnya hanya untuk mendapatkan informasi final mengenai kinerja dan posisi keuangan bisnis itu. Nilai informasi biasanya juga terkait dengan ketepatan waktu. Informasi yang berguna harus sampai ke pengguna sesering mungkin dan tepat waktu.

Untuk menyajikan informasi secara tepat waktu, sistem akuntansi menyiapkan laporan dengan interval- interval waktu yang rutin. Dengan kata lain, proses akuntansi dipengaruhi oleh prinsip periode waktu (time period principle). Prinsip periode waktu menyatakan aktivitas-aktivitas organisasi dapat dipilah-pilah ke dalam periode-periode waktu yang tertentu, misalnya satu bulan, satu kuartal, satu semester, atau satu tahun. Kebanyakan organisasi menggunakan periode satu tahun sebagai periode akuntansi yang utama. Laporan keuangan yang mencakup periode satu tahun disebut laporan keuangan tahunan. Perusahaan juga umumnya menyusun laporan keuangan interim yang mencakup aktivitas selama satu bulan, satu kuartal, atau satu semester.

Perusahaan bisa saja menggunakan tahun fiskal yang mencakup 12 bulan berturut-turut tetapi tidak sama dengan tahun kalender yang berakhir tanggal 31 Desember. Ada juga perusahaan yang menggunakan periode pelaporan tahunan yang mencakup 52 minggu. Perusahaan-perusahaan yang penjualannya tidak tergantung pada siklus musiman biasanya memilih tahun kalender sebagai tahun fiskal. Perusahaan-perusahaan yang mengalami variasi penjualan musiman mungkin lebih tepat memilih akhir tahun fiskal pada saat penjualan berada pada level terendah dalam setahun.

Setelah transaksi dan kejadian bisnis dengan pihak luar direkam, beberapa akun masih memerlukan penyesuaian sebelum saldonya dimunculkan dalam laporan keuangan. Jurnal penyesuaian diperlukan karena transaksi/kejadian bisnis yang bersifat internal (tidak melibatkan pihak luar) mungkin sekali belum direkam ke dalam sistem akuntansi. Dengan kata lain, akuntansi basis akrual (accrual basis accounting) menggunakan jurnal penyesuaian untuk mengakui penghasilan dan beban pada saat terjadinya (penghasilan dipertemukan dengan beban-beban yang menghasilkannya).

Sementara itu, akuntansi basis kas (cash basis accounting) mengakui penghasilan pada saat kas diterima dan merekam beban ketika kas dibayarkan. Hal ini berarti laba-rugi basis kas untuk satu periode adalah selisih antara penerimaan kas dengan pengeluaran kas yang terjadi dalam periode yang bersangkutan. Akuntansi basis kas tidak konsisten dengan standar akuntansi dan praktik pelaporan keuangan keuangan.

Akuntansi basis akrual secara umum diyakini lebih baik dalam menggambarkan kinerja perusahaan dibandingkan informasi mengenai penerimaan dan pengeluaran kas. Akuntansi basis akrual juga meningkatkan daya banding (comparability) laporan keuangan antara satu periode dengan periode lainnya. Meskipun demikian, akuntansi basis kas juga bermanfaat untuk keputusan-keputusan bisnis tertentu—itulah yang menjadi alasan perusahaan diharuskan untuk menyajikan laporan arus kas.

Untuk memperjelas perbedaan antara akuntansi basis akrual dengan akuntansi basis kas, coba lihat kembali akun Pembayaran di Muka Asuransi dalam contoh Sabrina Consulting sebelumnya (lihat topik analisis transaksi, jurnal, buku besar umum, dan neraca saldo). Sabrina Consulting membayar Rp12.000.000 untuk cakupan asuransi selama 24 bulan yang dimulai pada tanggal 1 Desember 2011. Akuntansi basis akrual mengharuskan Rp500.000 beban asuransi dilaporkan dalam laporan laba-rugi bulan Desember, Rp6.000.000 sebagai beban pada tahun 2012, dan sisanya Rp5.500.000 dilaporkan sebagai beban pada 11 bulan pertama tahun 2013.

Prinsip periode waktu digunakan untuk memilah-milah aktivitas-aktivitas perusahaan ke dalam periode-periode waktu tertentu, tetapi tidak semua aktivitas telah diselesaikan pada saat laporan keuangan disusun. Oleh karena itu, jurnal penyesuaian diperlukan untuk memastikan hanya penghasilan yang telah diselesaikan dan beban yang telah terjadi yang diakui dan diperhitungkan dalam laporan laba-rugi.

Dua prinsip akuntansi yang mendasari perlunya jurnal penyesuaian adalah prinsip pengakuan pendapatan dan prinsip mempertemukan (matching) biaya dengan pendapatan. Prinsip pengakuan pendapatan mengharuskan pendapatan direkam pada saat proses menghasilkannya telah diselesaikan, bukan sebelum atau sesudahnya. Perusahaan umumnya dianggap telah menyelesaikan proses pendapatan pada saat produk atau jasa diserahkan kepada kustomer. Tujuan utama jurnal penyesuaian adalah agar pendapatan diakui (dilaporkan) dalam periode waktu ketika pendapatan yang bersangkutan diselesaikan.

Di sisi lain, prinsip mempertemukan biaya dengan pendapatan (matching principle) dimaksudkan untuk merekam biaya-biaya dalam periode yang sama dengan periode diselesaikannya pendapatan. Akuntansi keuangan mendasarkan pada konsep upaya dan hasil (effort and accomplishment): beban yang terjadi merupakan pengorbanan atau upaya untuk memperoleh hasil berupa pendapatan.

Mempertemukan biaya dengan pendapatan mengharuskan akuntan untuk melakukan estimasi atas kejadian-kejadian tertentu di masa depan. Sebagai contoh untuk menentukan beban penyusutan/depresiasi, akuntan harus mengestimasi masa manfaat dan nilai residu aset yang didepresiasi. Pada saat pengguna membaca laporan keuangan, mereka juga harus menyadari adanya unsur estimasi sehingga laporan keuangan mengandung angka-angka dan hasil pengukuran yang sebenarnya tidak pasti.

Proses penyesuaian

Proses penyesuaian akun mencakup analisis saldo tiap-tiap akun serta transaksi dan kejadian bisnis yang mempengaruhinya untuk menentukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan. Jurnal penyesuaian dibuat pada akhir periode agar akun aset atau liabilitas saldonya benar. Jurnal penyesuaian juga dimaksudkan untuk memutakhirkan saldo akun beban dan penghasilan yang berkaitan.

Penyesuaian diperlukan atas transaksi dan kejadian bisnis yang berdampak lebih dari satu periode. Penyesuaian dapat dikelompokkan menurut waktu diterima atau dikeluarkannya kas dalam kaitannya dengan pengakuan beban dan penghasilan yang bersangkutan dengan penerimaan dan pembayaran kas tersebut. Gambar berikut menunjukkan empat jenis jurnal penyesuaian.

jenis-jenis jurnal penyesuaian

Bagian kiri adalah pembayaran di muka beban (termasuk di dalamnya adalah depresiasi) dan penerimaan di muka penghasilan, yaitu transaksi-transaksi yang kasnya sudah dibayarkan atau diterima sebelum beban atau penghasilannya diakui. Keduanya juga disebut tangguhan (deferrals) karena pengakuannya sebagai beban (atau penghasilan) ditangguhkan meskpun kasnya sudah dibayarkan (atau diterima). Bagian kanan adalah utang beban (accrued expenses) dan piutang penghasilan (accrued income), yaitu transaksi-transaksi yang kasnya dibayarkan atau diterima setelah beban atau penghasilannya diakui lebih dulu. Jurnal penyesuaian diperlukan untuk keempat jenis transaksi tersebut sehingga penghasilan, beban, aset, dan liabilitas dilaporkan sebagaimana mestinya. Satu poin yang harus diingat, setiap jurnal penyesuaian selalu mempengaruhi satu atau beberapa akun laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif lain di satu sisi dan satu atau beberapa akun laporan posisi keuangan (kecuali akun Kas) di sisi lainnya.

Pembayaran di muka beban

Pembayaran di muka biaya (juga dikenal dengan istilah beban dibayar di muka) mencakup item-item yang dibayar di muka sebelum manfaat dari pembayaran itu diterima. Pembayaran di muka beban adalah aset. Ketika aset itu digunakan, biayanya akan menjadi beban (expense). Jurnal penyesuaian untuk pembayaran di muka akan meningkatkan beban (di laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif lain) dan menurunkan aset (di laporan posisi keuangan) seperti ditunjukkan dengan akun T pada gambar berikut.

beban dibayar di muka

Penyesuaian terhadap pembayaran di muka beban dimaksudkan untuk mengakui transaksi/kejadian bisnis yang mengkonsumsi manfaat dari pembayaran di muka (termasuk berkurangnya manfaat karena berlalunya waktu). Untuk memperjelas, kita akan mengilustrasikan bagaimana perlakuan akuntansi atas pembayaran di muka asuransi, perlengkapan, dan depresiasi.

Pembayaran di muka asuransi. Kembali ke contoh Sabrina Consulting pada topik analisis transaksi, jurnal, buku besar umum, dan neraca saldo, perusahaan tersebut mengeluarkan kas sejumlah Rp12.000.000 sebagai pembayaran premi asuransi untuk jangka waktu 24 bulan terhitung sejak 1 Desember 2011. Dengan berlalunya waktu, manfaat dari pembayaran asuransi itu kadaluarsa sedikit demi sedikit sehingga sebagian aset Pembayaran di Muka Asuransi akan menjadi beban. Dalam contoh Sabrina Consulting, satu bulan cakupan asuransi menjadi kadaluarsa pada tanggal 31 Desember 2011. Dengan demikian, bagian yang menjadi beban adalah Rp500.000, 1/24 dari Rp12.000.000. Jurnal penyesuaian pada 31 Desember dimaksudkan untuk mengakui beban dan mengurangi aset sebagaimana ditunjukkan berikut:

jurnal penyesuaian beban asuransi dibayar di muka

Setelah penyesuaian dan pemindahbukuan, Beban Asuransi sebesar Rp500.000 dan saldo Pembayaran di Muka Asuransi sebesar Rp11.500.000 akan muncul di laporan keuangan sebagai angka-angka yang benar. Tidak dilakukannya penyesuaian pada akhir periode akan mengakibatkan (1) beban dilaporkan terlalu rendah (kurang dilaporkan) sebesar Rp500.000 sehingga laba-rugi akan dilaporkan terlalu tinggi sebesar Rp500.000 dalam laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif lain bulan Desember, dan (2) aset pembayaran di muka asuransi dan ekuitas akan dilaporkan terlalu tinggi (karena laba-rugi yang juga terlalu tinggi) sebesar Rp500.000 dalam laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember. Pada akhir tahun 2012 (setahun kemudian), penyesuaian atas asuransi dibayar di muka dilakukan dengan memindahkan sejumlah Rp6.000.000 dari aset Pembayaran di Muka Asuransi ke Beban Asuransi, sedangkan pada akhir tahun 2013 penyesuaian yang sama akan memindahkan sisanya sebesar Rp5.500.000 ke akun Beban Asuransi.

Persediaan barang habis pakai Persediaan barang habis pakai adalah pembayaran di muka beban yang memerlukan penyesuaian. Sebagai contoh, Sabrina Consulting membeli barang habis pakai seharga Rp48.600.000 pada bulan Desember dan telah menggunakan sebagian barang habis pakai tersebut pada bulan Desember. Ketika laporan keuangan disiapkan pada tanggal 31 Desember, biaya barang habis pakai yang digunakan selama bulan Desember harus diakui sebagai beban bulan Desember. Dengan menghitung persediaan yang tersisa pada tanggal 31 Desember, ditemukan senilai Rp43.350.000 persediaan barang habis pakai masih tersisa. Dengan demikian dapat disimpulkan, selisih Rp5.250.000, Rp48.600.000 ˗ Rp43.350.000, merupakan beban barang habis pakai untuk bulan Desember. Jurnal penyesuaian diperlukan untuk mengakui beban barang habis pakai tersebut dan menurunkan aset Barang Habis Pakai sebagaimana ditunjukkan berikut:

jurnal penyesuaian beban barang habis pakai

Saldo aset Barang Habis Pakai sebesar Rp43.350.000 setelah pemindahbukuan—sama dengan biaya barang habis pakai yang tersisa. Tidak dilakukannya penyesuaian akhir periode akan mengakibatkan (1) beban dilaporkan terlalu rendah sebesar Rp5.250.000 sehingga laba-rugi dilaporkan terlalu tinggi dengan jumlah yang sama dalam laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif lain bulan Desember, dan (2) aset barang habis pakai dan ekuitas dilaporkan terlalu tinggi (karena laba-rugi yang juga terlalu tinggi) sebesar Rp5.250.000 dalam laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember.

Pembayaran di muka beban-beban lainnya, seperti pembayaran di muka sewa, diperlakukan dengan cara yang sama dengan asuransi dan barang habis pakai. Penting untuk diperhatikan, pembayaran di muka beban mungkin saja dibayar dan sepenuhnya digunakan pada periode akuntansi yang sama. Sebagai contoh, perusahaan membayar sewa bulanan pada hari pertama setiap awal bulan. Pembayaran tersebut menimbulkan aset pembayaran di muka sewa pada hari pertama setiap bulan yang akan kadaluarsa sepenuhnya pada akhir bulan. Dalam hal ini, kita bisa merekam pembayaran kas tersebut dengan mendebit akun beban, bukan aset.

Depresiasi. Aset tetap, adalah pembayaran di muka yang dikategorikan secara khusus, yang merupakan aset jangka panjang berwujud yang digunakan untuk memproduksi dan menjual produk dan jasa. Aset tetap yang berupa tanah, bangunan, dan peralatan diharapkan akan memberikan manfaat lebih dari satu periode. Contohnya adalah bangunan kantor, mesin fotokopi, dan kendaraan. Semua aset jangka panjang tersebut, kecuali tanah, digunakan dalam operasi perusahaan dan manfaatnya akan berkurang dengan berlalunya waktu. Biaya aset-aset tersebut mula-mula ditangguhkan sebagai aset dan sedikit demi sedikit diakui dan dilaporkan sebagai beban dalam laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif lain sepanjang masa manfaatnya (periode manfaat). Depresiasi (SAK menggunakan istilah penyusutan) adalah proses pengalokasian biaya aset-aset tersebut selama estimasi masa manfaatnya. Beban depresiasi direkam dengan jurnal penyesuaian akhir periode dengan cara yang sama dengan beban-beban dibayar di muka lainnya.

Sebagai contoh, kita kembali ke transaksi pembelian peralatan oleh Sabrina Consulting seharga Rp130.000.000 pada awal Desember yang akan digunakan dalam rangka menghasilkan pendapatan. Biaya peralatan tersebut harus didepresiasi. Peralatannya diperkirakan memiliki masa manfaat empat tahun dan akan bernilai residu sekitar Rp40.000.000 pada akhir tahun keempat. Hal ini berarti, jumlah yang bisa didepresiasi dari peralatan tersebut selama masa manfaatnya adalah Rp90.000.000 (Rp130.000.000 - Rp40.000.000). Terdapat beberapa metode untuk mengalokasikan jumlah Rp90.000.000 tersebut menjadi beban. Sabrina Consulting menggunakan metode depresiasi garis lurus, yaitu metode yang mengalokasikan biaya secara merata selama masa manfaat. Membagi biaya Rp90.000.000 dengan 48 bulan masa manfaat akan menghasilkan beban depresiasi per bulan sebesar Rp1.875.000 (Rp90.000.000/48). Jurnal penyesuaian untuk merekam beban depresiasi atau beban penyusutan adalah sebagai berikut:

jurnal penyesuaian beban penyusutan depresiasi

Setelah jurnal penyesuaian dipindahbukukan, akun aset tetap Peralatan (Rp130.000.000) dikurangi akun Akumulasi Depresiasi (Rp1.875.000) sama dengan Rp128.125.000, yang merupakan jumlah tercatat atau nilai buku peralatan tersebut untuk 47 bulan masa manfaat yang tersisa. Saldo akun Beban Depresiasi (Rp1.875.000) akan dilaporkan dalam laporan laba-rugi bulan Desember. Tidak dilakukannya penyesuaian tanggal 31 Desember akan mengakibatkan (1) beban dilaporkan terlalu rendah sebesar Rp1.875.000 dan laba-rugi dilaporkan terlalu tinggi sebesar Rp1.875.000 dalam laporan laba-rugi bulan Desember, dan (2) baik aset maupun ekuitas akan dilaporkan terlalu tinggi sebesar Rp1.875.000 dalam laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember.

Akumulasi depresiasi (accumulated depreciation) adalah akun tersendiri yang merupakan akun kontra aset tetap peralatan yang didepresiasi. Akun kontra (contra account) adalah akun yang berkaitan dengan akun lainnya dan saldo normalnya berlawanan dan dilaporkan sebagai pengurang saldo aset yang berkaitan tersebut. Sebagai contoh, akun kontra Akumulasi Depresiasi—Peralatan dikurangkan atas akun Peralatan dalam laporan posisi keuangan Sabrina Consulting. Dengan dilaporkannya akun kontra, pembaca laporan posisi keuangan dapat mengetahui biaya awal aset dan jumlah total depresiasinya. Dengan mengetahui kedua angka tersebut, pengambil keputusan bisa menilai dengan lebih baik kapasitas perusahaan dan menilai perlu atau tidaknya mengganti aset.

(terakhir di-update tanggal 18 Maret 2016 – bersambung)

Read more ...

16 March 2016

Analisis transaksi, jurnal, buku besar umum, dan neraca saldo – materi pengantar akuntansi

Bagaimana transaksi dianalisis dan direkam dalam sistem akuntansi?

Materi mengenai persamaan akuntansi membahas dan mengilustrasikan analisis transaksi dengan menggunakan persamaan akuntansi. Meskipun demikian, persamaan akuntansi sebenarnya bukan merupakan bagian dari proses akuntansi yang sesungguhnya dipraktikkan. Persamaan akuntansi diperkenalkan hanya sebagai alat bantu untuk menjelaskan bagaimana transaksi/kejadian bisnis mempengaruhi aset, liabilitas, ekuitas, penghasilan, dan beban.

Secara umum, proses akuntansi dimulai dengan mengidentifikasi transaksi/kejadian bisnis, menganalisis dan merekam pengaruhnya, serta meringkas dan menyajikannya dalam bentuk laporan keuangan dan laporan-laporan akuntansi lainnya. Laporan-laporan tersebut digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan investasi, keputusan pemberian pinjaman, dan keputusan-keputusan bisnis lainnya.

Khusus terkait dengan identifikasi, analisis, dan perekaman transaksi/kejadian bisnis, tahap-tahap proses akuntansi dapat dirinci lebih lanjut sebagai berikut:

  1. Menganalisis tiap-tiap transaksi/kejadian bisnis dari dokumen sumber.
  2. Merekam transaksi/kejadian-kejadian bisnis yang relevan ke dalam jurnal.
  3. Memindahbukukan informasi di dalam jurnal ke dalam akun-akun di buku besar.
  4. Menyusun dan menganalisis neraca saldo.

Apakah yang dimaksud dokumen sumber?

Dokumen sumber merupakan sumber data akuntansi yang bisa berbahan kertas (hard copy) atau dari formulir elektronik. Contoh dokumen sumber adalah faktur, cek, dokumen order pembelian, tagihan dari pemasok, kartu jam kerja karyawan, dan laporan bulanan bank. Ketika sebuah barang dibeli secara kredit, pihak penjual biasanya menyiapkan faktur sekurang-kurangnya rangkap dua. Satu salinan faktur tersebut diserahkan kepada pembeli. Salinan lainnya ditransmisikan secara elektronis ke dalam sistem akuntansi pihak penjual yang mengakibatkan terekamnya transaksi penjualan tersebut. Mesin register kas merekam informasi untuk tiap-tiap penjualan pada pita atau file electronik yang terkunci. Rekaman tersebut juga dapat digunakan sebagai dokumen sumber untuk mengakui terjadinya penjualan tunai.

Apakah yang dimaksud dengan akun?

Akun (literatur akuntansi lama menyebutnya ‘rekening’ atau ‘perkiraan’) adalah rekaman atau catatan mengenai kenaikan dan penurunan unsur-unsur aset, liabilitas, ekuitas, penghasilan, atau beban tertentu. Informasi yang terekam dalam akun dianalisis, diringkas, dan disajikan dalam laporan keuangan dan laporan-laporan akuntansi lainnya. Buku besar umum (general ledger) merupakan kumpulan semua akun yang diperlukan dalam penyusunan laporan keuangan sebuah perusahaan. Buku besar bisa berformat elektronik (file komputer), tetapi bisa juga sebuah buku dalam sistem akuntansi manual. Meskipun buku besar umum kebanyakan perusahaan berisi akun-akun yang hampir sama, perusahaan tertentu biasanya memiliki beberapa akun yang unik karena tipe operasinya yang unik pula. Akun-akun diorganisasikan/disusun menurut tiga kategori umum (sesuai dengan persamaan akuntansi), yaitu aset, liabilitas, dan ekuitas.

Buku besar umum (general ledger) mencakup semua akun yang ada dalam suatu sistem informasi. Jika akun-akun itu berupa file komputer yang tersimpan dalam hard drive komputer, kumpulan file-file itulah yang kita maksud sebagai buku besar umum. Jika akun-akunnya menempati halaman-halaman dalam sebuah file, maka file itulah buku besar. Ukuran dan keragaman operasi perusahaan menentukan jumlah akun yang diperlukan. Sebuah perusahaan kecil mungkin saja hanya memerlukan 20 hingga 30 akun, sedangkan perusahaan besar bisa memiliki ribuan akun. Bagan akun (chart of accounts) adalah daftar semua akun yang digunakan oleh sebuah perusahaan berikut kode/nomer identifikasi untuk tiap-tiap akun.

Apakah yang dimaksud debit dan kredit?

Akun-T (T-account) lazim digunakan untuk mengilustrasikan komponen-komponen suatu akun dan merupakan alat bantu untuk memahami pengaruh satu atau beberapa transaksi terhadap akun tertentu. Seperti ditunjukkan pada gambar berikut, komponen-komponen akun T terdiri dari (1) nama akun pada bagian atas, (2) sisi kiri atau sisi debit, dan (3) sisi kanan atau sisi kredit.

akun T

Sisi kiri akun T disebut sisi debit, biasanya disingkat “D” atau “Dr.” Sisi kanan disebut sisi kredit, disingkat “K” atau “Cr.” Memasukan angka pada sisi kiri dikatakan mendebit dan memasukan angka pada sisi kanan berarti mengkredit. Perhatikan, debit dan kredit bukan berarti penambahan atau pengurangan. Debit atau kredit bisa berarti menambah atau mengurangi tergantung pada jenis akunnya. Untuk akun yang debitnya berarti bertambah, sisi kreditnya berarti berkurang. Sebaliknya untuk akun yang sisi debitnya berarti berkurang, maka kreditnya adalah bertambah.

Selisih antara jumlah debit dan jumlah kredit suatu akun disebut saldo akun (account balance) yang bersangkutan. Jika jumlah debit lebih besar dibandingkan jumlah kredit, suatu akun memiliki saldo debit. Sebaliknya, saldo kredit terjadi jika jumlah kredit lebih besar dibandingkan jumlah debit. Jika jumlah debit sama dengan jumlah kredit, akun memiliki saldo nol.

Apakah yang dimaksud sistem akuntansi berpasangan?

Sistem akuntansi berpasangan (double-entry accounting) berarti tiap-tiap transaksi mempengaruhi, dan direkam pada, sekurang-kurangnya dua akun. Seperti disebutkan dalam istilah ini, double entry, berarti memasukkan dua kali atau merekam dua kali. Sistem akuntansi berpasangan juga berarti jumlah total yang didebit harus sama dengan jumlah total yang dikredit untuk tiap-tiap transaksi. Dengan demikian, jumlah debit secara keseluruhan juga harus sama dengan jumlah kredit untuk keseluruhan transaksi yang dimasukkan ke dalam sistem akuntansi.

Untuk memahami prosedur akuntansi berpasangan, perhatikan kembali topik mengenai persamaan akuntansi.

Aset = Liabilitas + Ekuitas

Dengan asumsi tidak ada tambahan investasi dari pemegang saham, ekuitas meningkat dengan adanya penghasilan dan akan mengalami penurunan dengan terjadinya beban dan dividen. Dengan diurainya unsur-unsur ekuitas, persamaan akuntansi di atas dapat diperluas sebagai berikut:

Aset = Liabilitas + Saham Biasa + Penghasilan – Beban – Dividen

Untuk menghilangkan tanda negatif (–) dari persamaan yang diperluas di atas, kedua sisi persamaan ditambah dengan unsur beban dan dividen sebagai berikut:

Aset + Beban + Dividen = Liabilitas + Saham Biasa + Penghasilan

Perhatikan, unsur beban dan dividen berpindah ke sisi kiri persamaan dan tandanya menjadi positif (+). Rumusan persamaan akuntansi dengan meniadakan tanda negatif sebagaimana dinyatakan di atas pada dasarnya memisahkan unsur-unsur akuntansi menjadi dua kategori, yaitu unsur-unsur yang mencerminkan penggunaan dana (aset, biaya, dan dividen) dan unsur-unsur yang mencerminkan sumber pendanaan [Soni Warsono, Arif Darmawan, dan M. Arsyadi Ridha (2009)].

Sebagaimana hubungan matematis sederhana lainnya, kenaikan atau penurunan neto pada satu sisi persamaan memiliki pengaruh neto yang sama pada sisi lainnya. Sebagai contoh, kenaikan neto aset harus diikuti dengan kenaikan neto dengan jumlah yang sama pada sisi liabilitas, saham biasa, dan/atau penghasilan. Meskipun demikian, ada juga transaksi yang hanya mempengaruhi satu sisi persamaan, yang berarti dua atau lebih akun pada satu sisi saja yang dipengaruhi, tetapi pengaruh netonya pada satu sisi tersebut adalah nol.

Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah, sisi kiri (debit) adalah saldo normal untuk aset, beban, dan dividen, sedangkan sisi kanan (kredit) adalah saldo normal untuk liabilitas, saham biasa, dan penghasilan. Saldo normal ini sesuai dengan posisi setiap kelompok akun dalam persamaan akuntansi, di mana aset, beban, dan dividen berada pada sisi kiri dan liabilitas, saham biasa, dan penghasilan berada pada sisi kanan persamaan akuntansi.

Saldo normal masing-masing kelompok akun secara visual ditunjukkan pada gambar berikut.

saldo normal

Konsep saldo normal ini digunakan untuk menganalisis pengaruh debit atau kredit dari suatu transaksi pada saat transaksi direkam ke dalam jurnal. Akun yang bersaldo normal debit berarti peningkatannya akan mempengaruhi/direkam di sisi debit, sedangkan akun yang bersaldo normal kredit berarti peningkatannya akan mempengaruhi/direkam di sisi kredit. Sebagai contoh, investasi uang tunai yang dilakukan oleh pemegang saham akan meningkatkan jumlah kas yang tersedia di perusahaan. Dengan sistem akuntansi berpasangan, aset berupa kas akan didebit dan saham biasa (ekuitas) akan dikredit karena kedua akun tersebut sama-sama mengalami peningkatan, tetapi saldo normalnya berkebalikan satu sama lain. Kas sebagai aset bersaldo normal debit, dan saham biasa (ekuitas) bersaldo normal kredit.

Apa yang dimaksud dengan jurnal transaksi?

Jurnal merupakan rekaman awal transaksi/kejadian bisnis dalam sistem akuntansi dan berisi informasi mengenai tiap-tiap transaksi yang mencakup; (1) tanggal transaksi, (2) nama akun yang dipengaruhi oleh suatu transaksi tertentu, (3) jumlah rupiah akun-akun yang didebit dan dikredit, dan (4) keterangan mengenai transaksi yang bersangkutan. Gambar 3‑3 menunjukkan bagaimana dua transaksi pertama yang terjadi di Sabrina Consulting direkam dalam jurnal umum. Proses ini hampir sama, baik untuk sistem manual maupun sistem yang menggunakan komputer. Jurnal dalam sistem berbasis komputer biasanya dirancang mirip dengan halaman jurnal dalam sistem manual.

contoh jurnal transaksi

Untuk merekam transaksi ke dalam jurnal umum, tahap-tahap yang harus dilakukan meliputi:

  1. Masukkan angka tahun pada kolom pertama paling atas serta tanggal dan bulan pada baris pertama untuk setiap transaksi.
  2. Masukkan nama akun(-akun) yang didebit pada kolom Nama Akun dan Keterangan dan masukkan jumlah(-jumlah)nya pada kolom Debit pada baris yang sama. Nama akun mengacu pada bagan akun.
  3. Masukkan nama akun(-akun) yang dikredit pada kolom Nama Akun dan Keterangan dan masukkan jumlah(-jumlah)nya pada kolom Kredit pada baris yang sama. Nama akun mengacu pada bagan akun.
  4. Masukkan penjelasan singkat transaksi pada baris setelah nama akun yang dikredit. Untuk membedakannya dengan nama akun, indentasinya bisa dibuat sedikit menjorok ke kanan dan dimiringkan (italic).

Dalam sistem manual, ketika suatu transaksi mula-mula direkam dalam jurnal, kolom referensi pemindahbukuan (Ref) dibiarkan kosong. Pada saat informasi transaksi di dalam jurnal dipindahbukukan ke buku besar, kode akun dari masing-masing akun buku besar dimasukkan ke kolom Ref tersebut.

Pemindahbukuan (posting) transaksi yang telah direkam di dalam jurnal ke akun-akun buku besar umum dilakukan untuk memutakhirkan (updating) buku besar umum. Pemindahbukuan mungkin dilakukan pada akhir jam kerja setiap hari, setiap minggu, atau pada saat waktunya memungkinkan. Semua rekaman transaksi harus dipindahbukukan ke buku besar umum sebelum laporan keuangan disusun untuk memastikan saldo-saldo semua akun mutakhir (up-to-date). Ketika suatu transaksi dipindahbukukan, debit dalam jurnal dipindahkan ke akun buku besar umum terkait pada sisi debit, dan kredit dalam jurnal dipindahkan ke akun buku besar umum terkait pada sisi kredit.

Contoh analisis transaksi dan jurnal

Transaksi/kejadian bisnis yang terjadi di Sabrina Consulting akan digunakan kembali untuk melihat bagaimana sistem akuntansi berpasangan bermanfaat untuk menganalisis dan memroses transaksi. Sebelas transaksi pertama sama dengan yang dibahas pada topik tentang persamaan akuntansi. Untuk melengkapi pembahasan saat ini, lima transaksi ditambahkan (transaksi 12 – 16). Analisis pengaruh debit dan kredit transaksi akan mengacu kepada saldo normal sebagaimana ditunjukkan pada gambar di atas.

Transaksi #1. Menerima investasi dari pemilik
Sabrina menginvestasikan Rp150.000.000 uang tuna di Sabrina Consulting dan menjadi satu-satunya pemegang saham perusahaan tersebut.

Analisis
Aset berupa kas bertambah dan ekuitas saham biasa juga bertambah sebesar Rp150.000.000. Aset bersaldo normal debit, sehingga penambahan kas sebesar Rp150.000.000 didebit ke akun kas. Ekuitas aham biasa bersaldo normal kredit sehingga penambahannya dikredit ke akun saham biasa.

Jurnal transaksi

jurnal transaksi investasi dari pemilik

Pemindahbukuan ke buku besar umum

pemindahbukuan investasi dari pemilik

Transaksi #2. Membeli persediaan barang habis pakai secara tunai
Sabrina Consulting membayar Rp12.500.000 tunai untuk pengadaan persediaan barang habis pakai.

Analisis
Aset berupa persediaan barang habis pakai bertambah sebesar Rp12.500.000, sedangkan aset berupa kas berkurang sebesar Rp12.500.000. Aset bersaldo normal debit. Bertambahnya aset berupa persediaan barang habis pakai didebit ke akun barang habis pakai, sedangkan berkurangnya aset berupa kas dikredit ke akun kas.

Jurnal transaksi

jurnal transaksi pembelian persediaan barang habis pakai secara tunai

Pemindahbukuan ke buku besar umum

pemindahbukuan pembelian persediaan barang habis pakai secara tunai

Transaksi #3. Membeli aset tetap peralatan secara tunai
Sabrina Consulting membayar Rp130.000.000 tunai untuk pengadaan aset tetap peralatan.

Analisis
Aset berupa aset tetap peralatan bertambah sebesar Rp130.000.000. Di sisi lain, aset berupa kas berkurnag sebesar Rp130.000.000. Aset bersaldo normal debit. Bertambahnya aset tetap berupa peralatan didebit ke akun peralatan, sedangkan berkurangnya aset berupa kas dikredit ke akun kas.

Jurnal transaksi

jurnal transaksi membeli aset tetap peralatan secara tunai

Pemindahbukuan ke buku besar umum

pemindahbukuan pembelian aset tetap peralatan secara tunai

Transaksi #4. Membeli persediaan barang habis pakai secara kredit
Sabrina Consulting membeli persediaan barang habis pakai secara kredit seharga Rp35.500.000.

Analisis
Aset berupa persediaan barang habis pakai dan liabilitas berupa utang usaha sama-sama bertambah sebesar Rp35.500.000. Aset bersaldo normal debit, sehingga bertambahnya aset berupa persediaan barang habis pakai didebit ke akun barang habis pakai. Di sisi lain, liabilitas bersaldo normal kredit, sehingga bertambahnya liabilitas berupa utang usaha dikredit ke akun utang usaha.

Jurnal transaksi

jurnal transaksi membeli persediaan barang habis pakai secara kredit

Pemindahbukuan ke buku besar umum

pemindahbukuan pembelian persediaan barang habis pakai secara kredit

Transaksi #5. Menyerahkan jasa secara tunai
Sabrina Consulting menyerahkan jasa konsultansi dan menerima pembayaran tunai sejumlah Rp21.000.000.

Analisis
Aset (kas) dan penghasilan (pendapatan jasa konsultasi) sama-sama bertambah sebesar Rp21.000.000. Aset bersaldo normal debit, sehingga bertambahnya aset (kas) didebit ke akun kas. Di sisi lain, penghasilan bersaldo normal kredit, sehingga bertambahnya penghasilan (pendapatan jasa konsultasi) dikredit ke akun pendapatan jasa konsultasi.

Jurnal transaksi

jurnal transaksi menyerahkan jasa secara tunai

Pemindahbukuan ke buku besar umum

pemindahbukuan penyerahan jasa secara tunai

Transaksi #6. Membayar beban secara tunai
Sabrina Consulting membayar Rp5.000.000 tunai untuk beban sewa kantor bulan Desember.

Analisis
Aset (kas) berkurang sebesar Rp5.000.000, sedangkan beban (beban sewa) bertambah sebesar Rp5.000.000. Beban bersaldo normal debit, sehingga timbulnya beban sewa didebit ke akun beban sewa. Aset bersaldo normal debit, sehingga berkurngnya aset (kas) dikredit ke akun kas.

Jurnal transaksi

jurnal transaksi membayar beban secara tunai

Pemindahbukuan ke buku besar umum

pemindahbukuan pembayaran beban secara tunai

Transaksi #7. Membayar beban secara tunai
Sabrina Consulting membayar Rp3.500.000 tunai untuk gaji karyawan.

Analisis
Aset (kas) berkurang sebesar Rp3.500.000, sedangkan beban (beban gaji) bertambah sebesar Rp3.500.000. Beban bersaldo normal debit, sehingga timbulnya beban (gaji) didebit ke akun beban gaji. Aset bersaldo normal debit, sehingga berkurngnya aset (kas) dikredit ke akun kas.

Jurnal transaksi

jurnal transaksi membayar beban gaji

Pemindahbukuan ke buku besar umum

pemindahbukuan pembayaran beban gaji

Transaksi #8. Penyediaan jasa konsultasi dan pelatihan secara kredit
Sabrina Consulting memberikan jasa konsultasi senilai Rp8.000.000 dan pelatihan senilai Rp1.500.000 secara kredit.

Analisis
Aset (piutang usaha), penghasilan (pendapatan jasa konsultasi), dan penghasilan (pendapatan jasa pelatihan) sama-sama bertambah. Aset bersaldo normal debit, sehingga bertambahnya aset (piutang usaha) sebesar Rp9.500.000 didebit ke akun piutang usaha. Di sisi lain, penghasilan bersaldo normal kredit, sehingga bertambahnya penghasilan dari pendapatan jasa konsultasi dikredit sebesar Rp8.000.000 dan bertambahnya penghasilan dari pendapatan jasa pelatihan dikredit sebesar Rp1.500.000 ke akun masing-masing.

Jurnal transaksi

jurnal pengakuan pendapatan jasa konsultasi dan pelatihan

Pemindahbukuan ke buku besar umum

pemindahbukuan transaksi pendapatan

Transaksi #9. Menerima kas sebagai pembayaran piutang kustomer
Sabrina Consulting menerima Rp9.500.000 uang tunai dari klien yang tagihan (billing)-nya diterbitkan pada transaksi 8.

Analisis
Aset (kas) bertambah sebesar Rp9.500.000, sedangkan aset (piutang usaha) berkurang sebesar Rp9.500.000. Aset bersaldo normal debit. Bertambahnya aset (kas) didebit ke akun kas. Sebaliknya, berkurangnya aset (piutang usaha) dikredit ke akun piutang usaha.

Jurnal transaksi

jurnal transaksi penerimaan kas dari piutang

Pemindahbukuan ke buku besar umum

pemindahbukuan transaksi penerimaan kas dari piutang usaha

Transaksi #10. Membayar sebagian utang usaha
Sabrina Consulting membayar Rp4.500.000 uang tunai kepada Metro Supply sebagai pembayaran sebagian utang yang timbul pada transaksi 4.

Analisis
Aset (kas) dan liabilitas (utang usaha) sama-sama berkurang sebesar Rp4.500.000. Aset bersaldo normal debit, sehingga berkurangnya aset (kas) dikredit ke akun kas. Liabilitas bersaldo normal kredit, sehingga berkurangnya liabilitas (utang usaha) didebit ke akun utang usaha.

Jurnal transaksi

jurnal transaksi pembayaran utang usaha

Pemindahbukuan ke buku besar umum

pemindahbukuan transaksi pembayaran utang usaha

Transaksi #11. Membayar dividen kas
Sabrina Consulting membayar Rp1.000.000 dividen kas kepada Sabrina selaku pemegang saham.

Analisis
Aset (kas) berkurang Rp1.000.000, sedangkan dividen bertambah sebesar Rp1.000.000. Dividen bersaldo normal debit, sehingga bertambahnya dividen didebit ke akun dividen. Aset juga bersaldo normal kredit, sehingga berkurangnya aset (kas) dikredit ke akun kas.

Jurnal transaksi

jurnal transaksi pembayaran dividen kas

Pemindahbukuan ke buku besar umum

pemindahbukuan transaksi pembayaran dividen kas

Transaksi #12. Menerima uang muka untuk jasa konsultasi
Sabrina Consulting menerima uang tunai senilai Rp15.000.000 dari kustomer yang merupakan penerimaan di muka jasa konsultasi yang akan diberikan di masa depan.

Analisis
Aset (kas) bertambah sebesar Rp15.000.000, dan liabilitas (penerimaan di muka untuk jasa konsultasi) juga bertambah sebesar Rp15.000.000. Aset bersaldo normal debit, sehingga bertambahnya aset (kas) didebit ke akun kas. Di sisi lain, liabilitas bersaldo normal kredit, sehingga bertambahnya liabilitas (penerimaan di muka jasa konsultasi) dikredit ke akun penerimaan jasa konsultasi.

Jurnal transaksi

jurnal transaksi penerimaan di muka pendapatan

Pemindahbukuan ke buku besar umum

pemindahbukuan transaksi penerimaan di muka pendapatan

Transaksi #13. Membayar di muka asuransi
Sabrina Consulting membayar Rp12.000.000 tunai untuk premi asuransi selama 24 bulan ke depan. Cakupan periode layanan asuransi tersebut terhitung sejak tanggal 1 Desember.

Analisis
Aset (kas) berkurang sebesar Rp12.000.000, sedangkan aset (pembayaran di muka asuransi) bertambah sebesar Rp12.000.000. Aset bersaldo normal debit, sehingga bertambahnya aset (pembayaran di muka asuransi) didebit ke akun pembayaran di muka asuransi. Sebaliknya, berkurangnya aset (kas) dikredit ke akun kas.

Jurnal transaksi

jurnal transaksi pembayaran di muka asuransi

Pemindahbukuan ke buku besar umum

pemindahbukuan transaksi pembayaran di muka asuransi

Transaksi #14. Membeli barang habis pakai secara tunai
Sabrina Consulting membayar Rp600.000 tunai untuk pengadaan persediaan barang habis pakai.

Analisis
Aset (kas) berkurang sebesar Rp600.000, sedangkan aset (persediaan barang habis pakai) bertambah sebesar Rp600.000. Aset bersaldo normal debit, sehingga bertambahnya aset (persediaan barang habis pakai) didebit ke akun barang habis pakai. Sebaliknya, berkurangnya aset (kas) dikredit ke akun kas.

Jurnal transaksi

jurnal transaksi pembelian persediaan barang habis pakai

Pemindahbukuan ke buku besar umum

pemindahbukuan transaksi pembelian persediaan barang habis pakai

Transaksi #15. Membayar beban secara tunai
Sabrina Consulting membayar Rp1.150.000 tunai untuk listrik bulan Desember.

Analisis
Aset (kas) berkurang sebesar Rp1.150.000 dan beban (listrik) bertambah sebesar Rp1.150.000. Beban bersaldo normal debit, sehingga bertambahnya beban listrik didebit ke akun beban listrik. Aset juga bersaldo normal debit, sehingga berkurangnya aset (kas) dikredit ke akun kas.

Jurnal transaksi

jurnal transaksi pembayaran biaya secara tunai

Pemindahbukuan ke buku besar umum

pemindahbukuan transaksi pembayaran biaya secara tunai

Transaksi #16. Membayar beban secara tunai
Sabrina Consulting membayar Rp3.500.000 tunai untuk pembayaran gaji karyawan dua minggu terakhir bulan Desember.

Analisis
Aset (kas) berkurang sebesar Rp3.500.000 dan beban (gaji) bertambah sebesar Rp3.500.000. Beban bersaldo normal debit, sehingga bertambahnya beban (gaji) didebit ke akun beban gaji. Aset juga bersaldo normal debit, sehingga berkurangnya aset (kas) dikredit ke akun kas.

Jurnal transaksi

jurnal transaksi pembayaran beban gaji

Pemindahbukuan ke buku besar umum

pemindahbukuan transaksi pembayaran beban gaji

Penghitungan saldo. Setelah semua transaksi dipindahbukukan ke akun-akun di buku besar umum, saldo tiap-tiap akun dihitung sebesar selisih antara sisi kiri (debit) dengan sisi kanan (kredit). Jika sisi debit lebih besar dibandingkan sisi kredit, selisihnya disebut saldo debit. Sebaliknya, jika sisi kredit lebih besar dibandingkan sisi debit, selisihnya disebut saldo kredit.

Sebagai contoh, penghitungan saldo akun kas ditunjukkan pada gambar berikut.penghitungan saldo kas

Sisi kiri (debit) dijumlah ke bawah dan menghasilkan angka Rp195.500.000. Sisi kanan (kredit) juga dijumlahkan dan menghasilkan angka Rp173.750.000. Jumlah sisi debit lebih besar dibandingkan jumlah sisi kredit, sehingga kas bersaldo debit sebesar Rp21.750.000 (Rp195.500.000 – Rp173.750.000).

Prosedur yang sama dilakukan untuk akun-akun lainnya. Hasil penghitungan saldo semua akun akan digunakan untuk menyiapkan neraca saldo.

Format akun T yang telah digunakan sejauh ini sebenarnya hanya dimaksudkan sebagai alat bantu untuk memahami pengaruh satu atau beberapa transaksi terhadap akun tertentu. Dalam praktiknya, format akun tidak sesederhana itu. Sebagai contoh, akun kas pada gambar di atas bisa disajikan dalam format akun berkolom saldo sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut.

bentuk akun kas yang lebih lengkap

Karena transaksi-transaksinya tidak diasosiasikan dengan tanggal, kolom dalam contoh pada Gambar 3‑5 diisi dengan label transaksi. Perhatikan, penghitungan saldo dilakukan setiap kali transaksi dipindahbukukan ke akun. Kas bersaldo normal debit, sehingga setiap pemindahbukuan ke kolom debit ditambahkan ke saldo sebelumnya. Sebaliknya, pemindahbukuan ke kolom kredit dikurangkan dari saldo sebelumnya.

Format akun berkolom saldo disebut juga format akun standar atau format akun tiga kolom.

Neraca saldo

Sistem akuntansi berpasangan mengharuskan jumlah semua saldo debit sama dengan jumlah semua saldo kredit. Neraca saldo digunakan untuk memeriksa kesamaan tersebut. Neraca saldo (trial balance) adalah daftar semua akun beserta saldo-saldonya pada saat tertentu. Saldo-saldo semua akun dimasukkan ke kolom debit atau kredit. Gambar berikut menyajikan neraca saldo Sabrina Consulting setelah 16 transaksi bulan Desember dipindahbukukan ke buku besar umum. neraca saldo

Penting untuk diketahui, neraca saldo di atas merupakan neraca saldo sebelum penyesuaian.

Tahap-tahap penyusunan neraca saldo meliputi:

  1. Masukkan tiap-tiap nama akun berikut saldonya (dari buku besar umum) di neraca saldo.
  2. Hitung total saldo debit dan total saldo kredit.
  3. Periksa apakah total saldo debit sama dengan total saldo kredit.
Read more ...