Siklus akuntansi: perusahaan jasa, dagang, dan manufaktur

siklus akuntansi

Siklus akuntansi adalah serangkaian proses akuntansi yang dimulai dari analisis dan pencatatan transaksi dalam jurnal akuntansi hingga penyusunan laporan keuangan. Siklus akuntansi pada dasarnya sama, baik untuk perusahaan jasa, perusahaan dagang, maupun perusahaan manufaktur.

 

Artikel ini membahas siklus akuntansi secara umum, mencakup siklus akuntansi perusahaan jasa, siklus akuntansi perusahaan dagang, dan siklus akuntansi perusahaan manufaktur. Untuk menghindari pengulangan pembahasan sehingga materi menjadi ringkas, contoh transaksi dan jurnal akuntansi dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu transaksi akuntansi terkait aktivitas pendanaan, transaksi akuntansi terkait aktivitas investasi, dan transaksi akuntansi terkait aktivitas operasi.

Khususnya terkait transaksi pendanaan dan investasi, siklus akuntansi pada dasarnya sama, baik untuk perusahaan jasa, perusahaan dagang, maupun perusahaan manufaktur. Perbedaan terletak pada transaksi terkait aktivitas operasi, karena ketiga perusahaan memang memiliki karakteristik operasi berbeda.

 

Daftar isi

 

 

Pengertian siklus akuntansi

Akuntansi adalah sistem informasi yang mengumpulkan dan mengolah data terkait transaksi akuntansi dan menyampaikan hasil-hasilnya yang berupa informasi keuangan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Salah satu informasi keuangan terpenting yang dihasilkan oleh sistem informasi akuntansi adalah laporan keuangan.

Siklus akuntansi adalah tahap-tahap proses akuntansi dalam sistem informasi akuntansi yang diperlukan untuk mengumpulkan dan mengolah data terkait transaksi akuntansi. Dikatakan sebagai siklus, karena tahap-tahap proses akuntansi dilaksanakan berulang kali selama perusahaan beroperasi.

Tahap-tahap proses akuntansi yang membentuk siklus akuntansi meliputi:

  • Mencatat transaksi akuntansi yang terjadi selama satu periode akuntansi ke dalam jurnal akuntansi.
  • Memindahbukukan (posting) transaksi akuntansi dari jurnal akuntansi ke buku besar.
  • Menyusun neraca saldo untuk mengecek kesamaan debit dan kredit transaksi akuntansi yang telah dicatat dan dibukukan.
  • Membuat ayat jurnal penyesuaian dan membukukan (posting) ayat jurnal penyesuaian itu ke buku besar.
  • Menyusun neraca saldo setelah penyesuaian. Neraca saldo disesuaikan ini menjadi sumber data dasar untuk menyusun laporan keuangan.
  • Menyusun laporan keuangan berdasarkan neraca saldo setelah penyesuaian.
  • Membuat ayat jurnal penutup dan membukukan (posting) ayat jurnal penutup itu ke buku besar.
  • Menyusun neraca saldo setelah penutupan (tahap opsional).
  • Membuat ayat jurnal pembalik dan membukukan (posting) ayat jurnal pembalik itu ke buku besar (tahap opsional).

Meskipun siklus akuntansi yang digambarkan di atas mengacu pada proses akuntansi dalam sistem akuntansi manual, siklus akuntansi pada dasarnya sama, terlepas dari apakah perusahaan menggunakan sistem akuntansi manual atau sistem informasi akuntansi berbasis komputer. Perusahaan melaksanakan tahap-tahap siklus akuntansi pada setiap periode akuntansi. Siklus akuntansi juga pada dasarnya sama, baik untuk perusahaan jasa, perusahaan dagang, maupun perusahaan manufaktur.

[kembali ke daftar isi]

 

Jurnal akuntansi

Tahap pertama dalam siklus akuntansi adalah analisis dan pencatatan transaksi akuntansi ke dalam jurnal akuntansi. Ada dua jenis transaksi yang terjadi pada perusahaan, yaitu transaksi akuntansi dan transaksi non akuntansi. Siklus akuntansi hanya mencatat transaksi akuntansi.

Transaksi akuntansi adalah transaksi atau kejadian bisnis yang nilainya dapat dinyatakan dengan satuan moneter. Jenis transaksi akuntansi juga ada dua, yaitu transaksi eksternal dan transaksi internal.

Contoh transaksi akuntansi yang bersifat eksternal adalah penjualan barang dagangan kepada pelanggan dan pembelian barang dagangan kepada pemasok. Contoh transaksi akuntansi internal adalah dimulainya proses produksi di pabrik dan prosedur ayat jurnal penyesuaian pada akhir periode.

Transaksi non akuntansi tidak dicatat dalam siklus akuntansi. Contoh transaksi non akuntansi adalah pengangkatan karyawan baru dan penandatanganan kontrak pembelian dengan pemasok untuk pengiriman di kemudian hari.

 

Sistem akuntansi berpasangan dan saldo normal

Akuntansi menganut sistem pencatatan yang disebut sistem pembukuan berpasangan. Menurut sistem pembukuan berpasangan atau kadang-kadang disebut juga sistem akuntansi berpasangan, tiap-tiap transaksi akuntansi mempengaruhi, dan dicatat pada, sekurang-kurangnya dua akun. Sistem pembukuan berpasangan juga berarti jumlah debit harus sama dengan jumlah kredit untuk tiap-tiap transaksi. Dengan demikian, jumlah debit secara keseluruhan juga harus sama dengan jumlah kredit untuk keseluruhan transaksi yang dimasukkan ke dalam sistem akuntansi.

Analisis transaksi adalah proses yang dimaksudkan untuk menentukan akun-akun apa saja yang dipengaruhi oleh suatu transaksi serta debit dan kredit terhadap akun-akun itu. Yang dimaksud debit dalam akuntansi adalah kolom kiri akun. Sebaliknya, kredit berarti kolom kanan akun. Debit atau kredit tidak dengan sendirinya berarti bertambah atau berkurangnya suatu akun. Debit atau kredit berarti bertambah atau berkurang tergantung pada apakah suatu akun memiliki saldo normal debit atau kredit.

Untuk memahami saldo normal akun, perhatikan persamaan akuntansi berikut:

Aset = Liabilitas + Ekuitas

Aset yang dikendalikan entitas (perusahaan) merupakan hak (klaim) kreditor (liabilitas) dan pemilik (ekuitas). Dengan asumsi tidak ada tambahan investasi pemilik, ekuitas bertambah dengan diperolehnya pendapatan dan berkurang dengan timbulnya beban dan dividen. Dengan diurainya unsur-unsur ekuitas, persamaan akuntansi di atas dapat diperluas sebagai berikut:

Aset = Liabilitas + Modal pemilik + Pendapatan – Beban – Dividen

Untuk menghilangkan tanda negatif (–) dari persamaan yang diperluas di atas, unsur-unsur ekuitas yang bertanda negatif dipindahkan ke sisi sebaliknya dari persamaan akuntansi sehingga menjadi sebagai berikut:

Aset + Beban + Dividen = Liabilitas + Modal pemilik + Pendapatan

Aturan aljabar yang mendasari persamaan akuntansi menjadi dasar aturan debit kredit dalam akuntansi. Akun-akun yang berada di sisi kiri persamaan akuntansi adalah akun-akun yang memiliki saldo normal debit. Dengan kata lain, debit ke akun aset, beban, dan dividen berarti menambah akun tersebut, dan kredit berarti mengurangi.

Sebaliknya, akun-akun yang berada di sisi kanan persamaan akuntansi adalah akun-akun yang memiliki saldo normal kredit. Dengan kata lain, kredit ke akun liabilitas, modal pemilik, dan pendapatan berarti menambah akun-akun tersebut, dan debit berarti mengurangi.

 

Jurnal umum dan jurnal khusus

Pencatatan transaksi dalam jurnal akuntansi didasarkan pada bukti transaksi yang juga disebut dokumen transaksi atau dokumen sumber. Contoh dokumen transaksi adalah faktur pembelian yang diterima dari pemasok dan bukti kas keluar yang sah.

Jurnal akuntansi adalah tempat pertama pencatatan transaksi dilakukan dalam siklus akuntansi. Ada dua jenis jurnal akuntansi, yaitu jurnal umum dan jurnal khusus.

Pengertian jurnal umum. Jurnal umum adalah jurnal akuntansi yang digunakan untuk mencatat transaksi non rutin. Pembelian aset tetap, pembiayaan jangka panjang, penerbitan obligasi dan saham adalah contoh-contoh transaksi non rutin yang dicatat dalam jurnal umum.

Contoh jurnal umum adalah sebagai berikut:contoh jurnal umum penjualan tunai

Seperti terlihat dalam contoh jurnal umum penjualan tunai di atas, ayat jurnal umum terdiri dari empat bagian: (1) nama akun dan jumlah debit, (2) nama akun dan jumlah kredit, (3) tanggal, dan (4) keterangan.

Pengertian jurnal khusus. Jurnal khusus adalah jurnal akuntansi yang digunakan untuk mencatat transaksi yang sering terjadi atau transaksi rutin. Contoh transaksi perusahaan dagang yang bersifat rutin adalah penjualan kredit, pembelian kredit, penerimaan kas (termasuk penerimaan kas dari penjualan tunai), dan pengeluaran kas (termasuk pengeluaran kas untuk pembelian tunai). Berdasarkan kelompok-kelompok transaksi rutin tersebut, perusahaan dagang mungkin akan membuat empat jenis jurnal khusus, yaitu jurnal penjualan, jurnal pembelian, jurnal penerimaan kas, dan jurnal pengeluaran kas.

Dalam sistem informasi akuntansi berbasis komputer, tahap siklus akuntansi terkait jurnal khusus dan jurnal umum bisa berupa formulir formulir elektronik di mana sistem informasi akuntansi menerima input data dari pengguna.

[kembali ke daftar isi]

 

Buku besar

Siklus akuntansi tahap berikutnya adalah posting atau pemindahbukuan ke buku besar. Apa yang dimaksud dengan buku besar? Dalam akuntansi, buku besar adalah catatan akuntansi yang digunakan untuk menyimpan data transaksi akuntansi yang mempengaruhi aset, liabilitas, dan ekuitas perusahaan. Buku besar merupakan kumpulan akun (dulu kadang disebut rekening atau perkiraan). Ada dua jenis buku besar yaitu buku besar utama dan buku besar pembantu. Artikel ini menggunakan istilah “buku besar” untuk mengacu pada “buku besar utama” atau “buku besar umum”. Untuk selanjutnya, jika saya menyebut “buku besar”, yang dimaksud adalah buku besar utama/umum.

Pengertian buku besar. Buku besar adalah catatan akuntansi yang berisi kumpulan akun-akun tiap-tiap aset, liabilitas, dan ekuitas yang disajikan dalam laporan keuangan. Sebagai contoh, buku besar akan terdiri dari akun kas, piutang usaha, persediaan, aset tetap, utang usaha, pinjaman, ekuitas pemilik, pendapatan penjualan, dan berbagai jenis beban.

Posting atau pemindahbukuan adalah proses pemindahan data dari ayat jurnal ke akun-akun dalam buku besar. Contoh buku besar dan posting adalah sebagai berikut:contoh buku besar dan posting

Langkah-langkah posting dari jurnal ke buku besar mencakup: 

  1. Pada buku besar, temukan halaman yang memuat akun yang didebit sesuai rujukan dari ayat jurnal. Pada contoh jurnal di atas, akun yang didebit adalah Kas. Masukkan tanggal transaksi (30/12/2017), halaman referensi jurnal umum (J1), serta jumlah debit sesuai yang tertulis dalam jurnal umum (Rp255.000.000). Kolom saldo sama dengan saldo sebelumnya ditambah debit tersebut.
  2. Pada kolom referensi jurnal umum, tulis kode akun yang jumlah debitnya sudah dipindahkan.
  3. Pada buku besar, temukan halaman yang memuat akun yang dikredit sesuai rujukan dari ayat jurnal. Pada contoh jurnal di atas, akun yang dikredit adalah Pendapatan Penjualan. Masukkan tanggal transaksi (30/12/2017), halaman referensi jurnal umum (J1), serta jumlah debit sesuai yang tertulis dalam jurnal umum (Rp255.000.000). Kolom saldo sama dengan jumlah tersebut karena saldo sebelumnya nol.
  4. Pada kolom referensi jurnal umum, tulis kode akun yang jumlah kreditnya sudah dipindahkan.

Contoh akun yang digambarkan di atas disebut akun tiga kolom karena memiliki tiga kolom untuk jumlah rupiah (debit, kredit, dan saldo). Kode akun atau nomor akun seperti 111 dan 511 serta nama akun dalam akuntansi ditetapkan dalam bagan akun standar perusahaan.

Jika siklus akuntansi dilaksanakan dengan alat bantu komputer, software akuntansi bisa melakukan posting ke buku besar secara seketika, bersamaan dengan saat data dimasukkan melalui terminal sistem. Mesin ATM merupakan salah satu contoh terminal sistem akuntansi bank. Ketika Anda melakukan penarikan tunai melalui ATM, sistem akuntansi bank akan melakukan debit ke akun tabungan Anda dan kredit ke akun kas.

[kembali ke daftar isi]

 

Neraca saldo

Tahap siklus akuntansi ketiga adalah pembuatan neraca saldo. Neraca saldo adalah daftar akun berikut saldo-saldonya pada waktu tertentu. Neraca saldo memuat seluruh saldo akun dengan saldo debit di kolom kiri dan saldo kredit di kolom kanan. Jumlah kolom debit dan kolom kredit neraca saldo harus sama.

Fungsi neraca saldo adalah untuk membuktikan kesamaan debit dan kredit setelah posting dari jurnal ke buku besar tuntas. Neraca saldo membantu menemukan kesalahan dalam jurnal akuntansi dan posting (pemindahbukuan). Neraca saldo juga menjadi data dasar dalam menyusun laporan keuangan.

Contoh neraca saldo disajikan sebagai berikut:contoh neraca saldo

Cara membuat neraca saldo:

  1. Salin semua nama akun dan saldo-saldonya ke kolom yang sesuai. Pada contoh neraca saldo di atas, nama akun yang dimaksud adalah kas, piutang usaha, barang habis pakai (juga biasa disebut perlengkapan), peralatan, utang usaha, uang muka klien (pendapatan diterima di muka), saham biasa, saldo laba, dividen, pendapatan jasa, beban gaji dan upah, dan beban kantor. Saldo-saldo akun aset, dividen, dan beban ditempatkan di kolom debit, sedangkan saldo-saldo akun liabilitas, ekuitas pemilik, dan pendapatan ditempatkan di kolom kredit.
  2. Jumlahkan masing-masing kolom debit dan kolom kredit.
  3. Cek apakah jumlah kolom debit sama dengan jumlah kolom kredit. Pada contoh neraca saldo di atas, jumlah kolom debit adalah Rp155.810.000 sama dengan jumlah kolom kredit.

[kembali ke daftar isi]

 

Ayat jurnal penyesuaian

Siklus akuntansi pada tahap ini dimaksudkan untuk mengakui pendapatan pada periode akuntansi ketika pendapatan itu menjadi hak perusahaan. Pada umumnya, pendapatan menjadi hak perusahaan pada saat penyerahan barang atau penyelenggaraan jasa, terlepas dari apakah perusahaan sudah menerima kas atau belum dari pelanggan. Ayat jurnal penyesuaian juga dimaksudkan untuk mencatat beban dalam periode terjadinya. Dengan kata lain, ayat jurnal penyesuaian dimaksudkan untuk memastikan bahwa siklus akuntansi menerapkan akuntansi berbasis akrual. Jurnal penyesuaian adalah prosedur akhir periode dalam siklus akuntansi sebelum penyusunan laporan keuangan.

Jenis-jenis ayat jurnal penyesuaian adalah sebagai berikut:

  1. Beban dibayar di muka, yaitu beban yang sudah dibayar tunai tetapi belum digunakan atau dimanfaatkan. Contoh beban dibayar di muka di antaranya adalah beban sewa, beban asuransi, dan beban iklan, yang pada umumnya perusahaan membayar tunai di muka untuk periode tertentu. Manfaat dari beban-beban itu akan digunakan perusahaan seiring dengan berlalunya waktu.
  2. Beban yang masih harus dibayar, adalah beban yang sudah terjadi tetapi belum dibayar tunai atau belum dicatat. Contoh beban yang masih harus dibayar adalah beban bunga terkait pinjaman yang belum dibayar karena tanggal pembayaran bunga/cicilan berbeda dengan tanggal laporan keuangan.
  3. Pendapatan diterima di muka, adalah kebalikan dari beban dibayar di muka, yaitu ditinjau dari sudut pandang perusahaan yang menyediakan barang atau jasa terkait. Sebagai contoh, iklan yang telah dibayar oleh pengguna jasa iklan akan menjadi pendapatan diterima di muka bagi perusahaan jasa iklan.
  4. Pendapatan yang masih akan diterima, adalah kebalikan dari beban yang masih harus dibayar. Contoh pendapatan yang masih akan diterima adalah pendapatan bunga yang sudah menjadi hak bank tetapi belum dibayar tunai oleh nasabah pada akhir periode akuntansi.

Penjelasan lebih lanjut serta contoh-contoh ayat jurnal penyesuaian diberikan pada bagian berikutnya dari artikel ini.

[kembali ke daftar isi]

 

Neraca saldo setelah penyesuaian

Neraca saldo setelah penyesuaian adalah neraca saldo yang dibuat setelah posting (pemindahbukuan) semua ayat jurnal penyesuaian ke buku besar tuntas dilakukan. Seperti neraca saldo sebelumnya, manfaat neraca saldo setelah penyesuaian adalah untuk mengecek kesamaan jumlah saldo debit dengan jumlah saldo kredit. Karena akun-akun di dalamnya telah mencakup semua data yang diperlukan untuk laporan keuangan, neraca saldo setelah penyesuaian adalah dasar utama untuk menyusun laporan keuangan. Format neraca saldo setelah penyesuaian sama dengan neraca saldo sebelumnya, tetapi sebagian saldo sudah berubah sesuai dengan standar akuntansi berbasis akrual.

Jika perusahaan menggunakan sistem informasi akuntansi berbasis komputer, software akuntansi yang mampu melakukan update secara seketika (real-time) bisa menghasilkan neraca saldo kapan pun diperlukan. Menyusun neraca saldo hanya dilakukan dengan mengklik tombol cetak pada tampilan bagan akun berikut saldo-saldo terakhir. Fungsi pengecekan kesamaan jumlah debit dan jumlah kredit juga dilakukan seketika sewaktu input data transaksi ke dalam sistem.

[kembali ke daftar isi]

 

Laporan keuangan

Tahap siklus akuntansi terpenting sebenarnya adalah penyusunan laporan keuangan. Akuntan bisa saja melakukan kompilasi laporan keuangan berdasarkan kumpulan bukti transaksi yang diberikan, tanpa melalui tahap-tahap siklus akuntansi sebagaimana diuraikan dalam artikel ini.

Akuntansi adalah sistem informasi dengan output utama berupa laporan keuangan yang terdiri dari:

  1. Laporan posisi keuangan (seringkali disebut neraca).
  2. Laporan laba-rugi (laporan keuangan perusahaan terbuka menggunakan istilah laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif lain).
  3. Laporan perubahan ekuitas (disebut juga laporan perubahan modal).
  4. Laporan arus kas.
  5. Catatan atas laporan keuangan (penjelasan dan rincian pos-pos pada empat laporan di atas).

Secara teknis, perusahaan menyusun laporan keuangan, terutama neraca dan laporan laba-rugi, berdasarkan saldo-saldo akun yang ada di dalam neraca saldo setelah penyesuaian. Dalam rangka penyusunan laporan keuangan, kita membedakan dua jenis akun, yaitu akun real dan akun nominal.

Akun real, atau kadang-kadang dieja akun riil, atau akun permanen mencakup semua akun aset, liabilitas, modal saham (atau modal pemilik dalam perusahaan perseorangan dan firma), dan saldo laba. Akun ini dikatakan permanen karena tidak ditutup pada akhir periode akuntansi. Saldo-saldo akun real diteruskan ke periode akuntansi berikutnya.

Akun nominal atau akun sementara atau akun temporer adalah akun-akun yang ditutup dan saldonya dipindahkan ke saldo laba (atau modal pemilik dalam perusahaan perseorangan dan firma). Akun nominal mencakup pendapatan (atau penghasilan), beban, dan dividen. Pendapatan dan beban merupakan komponen laporan laba-rugi, sedangkan dividen atau prive disajikan dalam laporan perubahan modal yang berdampak mengurangi saldo laba (modal pemilik).

Langkah-langkah membuat laporan keuangan adalah sebagai berikut:

  1. Semua saldo pendapatan dan beban disajikan dalam laporan laba-rugi. Pos-pos pendapatan disajikan pada bagian atas, diikuti pos-pos beban. Laba atau rugi bersih adalah selisih antara jumlah pos pendapatan dengan beban.
  2. Laba (rugi) bersih yang diperoleh dari perhitungan laba-rugi pada tahap pertama disajikan dalam laporan perubahan ekuitas (atau laporan perubahan modal pemilik) dengan cara ditambahkan (dikurangkan) terhadap saldo laba (atau modal pemilik) awal periode.
  3. Dividen atau prive disajikan langsung dalam laporan perubahan ekuitas (atau laporan perubahan modal) dengan cara dikurangkan terhadap saldo laba (atau modal pemilik) awal periode. Saldo laba (atau modal pemilik) awal periode ditambah laba bersih (dikurangi rugi bersih) dikurangi dividen akan menghasilkan saldo laba (atau modal pemilik) akhir periode yang disajikan di laporan posisi keuangan (neraca).
  4. Laporan posisi keuangan (neraca) disusun dengan menyajikan pos-pos aset dan kewajiban terlebih dahulu, diikuti dengan pos-pos ekuitas (setelah mencerminkan saldo akhir saldo laba atau modal pemilik). Jumlah aset yang disajikan dalam neraca harus sama dengan jumlah liabilitas dan ekuitas.

Contoh laporan keuangan yang disertai dengan ilustrasi angka-angka dan format laporan keuangan sesuai standar akuntansi keuangan diberikan dalam artikel terpisah.

[kembali ke daftar isi]

 

Ayat jurnal penutup

Jurnal penutup adalah ayat-ayat jurnal terakhir yang dibuat dalam satu siklus akuntansi. Fungsi jurnal penutup adalah menjadikan saldo-saldo akun nominal (pendapatan, beban, dan dividen/prive) menjadi nol. Pada periode berikutnya, akun-akun nominal dibuka kembali dengan saldo awal nol.

Langkah-langkah membuat jurnal penutup adalah:

  1. Debit akun pendapatan dan penghasilan lainnya sebesar saldo akhir akun-akun tersebut, kredit akun Ikhtisar Laba-Rugi dengan jumlah yang sama. Karena pendapatan dan penghasilan lainnya memiliki saldo normal kredit, debit sejumlah saldo akhir akan menjadikan akun-akun itu bersaldo nol. Ayat jurnal penutup ini juga akan mengakibatkan sisi kredit akun Ikhtisar Laba-Rugi menampung total pendapatan dan penghasilan.
  2. Kredit semua akun beban sebesar saldo akhir akun-akun tersebut, debit akun Ikhtisar Laba-Rugi dengan jumlah yang sama. Karena beban memiliki saldo normal debit, kredit sejumlah saldo akhir akan menjadikan akun-akun itu bersaldo nol. Ayat jurnal penutup ini juga akan mengakibatkan sisi debit akun Ikhtisar Laba-Rugi menampung total beban. Saldo akhir Ikhtisar Laba-Rugi setelah dua ayat jurnal itu di-posting ke buku besar akan sama dengan laba (rugi) bersih yang dilaporkan di laporan laba-rugi. Jika perusahaan mengalami laba bersih, akun Ikhtisar Laba-Rugi memiliki saldo akhir kredit. Sebaliknya, jika perusahaan mengalami rugi bersih, akun Ikhtisar Laba-Rugi memiliki saldo akhir debit.
  3. Jika akun Ikhtisar Laba-Rugi memiliki saldo akhir kredit (laba bersih), debit akun Ikhtisar Laba-Rugi sebesar jumlah laba bersih, kredit akun saldo laba (atau modal pemilik) dengan jumlah yang sama. Ayat jurnal penutup ini akan mengakibatkan akun Ikhtisar Laba-Rugi memiliki saldo nol, dan laba bersih dipindahkan/ditambahkan ke akun saldo laba (atau modal pemilik). Hal yang sebaliknya berlaku jika akun Ikhtisar Laba-Rugi memiliki saldo akhir debit (rugi bersih).
  4. Kredit akun dividen/prive sebesar saldo akhir akun tersebut, debit akun saldo laba dengan jumlah yang sama. Ayat jurnal penutup ini akan mengakibatkan akun dividen/prive bersaldo nol dan jumlahnya dipindahkan/dikurangkan ke akun saldo laba (atau modal pemilik).

Contoh jurnal penutup perusahaan dagang disajikan sebagai berikut:contoh jurnal penutup perusahaan dagang

Contoh jurnal penutup di atas menunjukkan perusahaan memperoleh laba bersih sebesar Rp15.000 dan membagikan dividen sejumlah Rp7.500 kepada pemegang saham.

[kembali ke daftar isi]

 

Neraca saldo setelah penutupan

Neraca saldo setelah penutupan adalah neraca saldo yang dibuat setelah semua ayat jurnal penutup di-posting (dipindahkan) ke buku besar. Karena semua akun nominal telah ditutup, neraca saldo setelah penutupan hanya mencakup akun-akun real. Dalam sistem akuntansi manual, neraca saldo setelah penutupan berfungsi sebagai sarana terakhir untuk membuktikan kesamaan jumlah debit dan jumlah kredit saldo-saldo akun real yang akan digunakan untuk periode akuntansi berikutnya. Tahap siklus akuntansi ini tidak perlu dilakukan, terutama jika siklus akuntansi dijalankan melalui sistem informasi akuntansi berbasis komputer.

[kembali ke daftar isi]

 

Ayat jurnal pembalik

Ayat jurnal pembalik merupakan tahap opsional siklus akuntansi. Yang dibalik adalah sebagian ayat jurnal penyesuaian yang telah dibuat pada tahap sebelumnya. Ayat-ayat jurnal penyesuaian yang bisa dibalik di antaranya adalah:

  • Pendapatan yang masih harus diterima dan beban yang masih harus dibayar.
  • ·Pendapatan diterima di muka jika pada saat kas diterima dicatat sebagai pendapatan (bukan liabilitas).
  • Beban dibayar di muka jika pada saat kas dibayarkan dicatat sebagai beban (bukan aset).

Beban penyusutan dan beban piutang tak tertagih tidak termasuk ayat jurnal penyesuaian yang dibalik. Ayat jurnal pembalik dibuat pada awal periode, setelah neraca saldo setelah penutupan dibuat.

Pembahasan berikutnya akan difokuskan pada jurnal akuntansi untuk mencatat transaksi-transaksi yang umum terjadi di perusahaan jasa, perusahaan dagang, dan perusahaan manufaktur. Transaksi-transaksi akuntansi dikelompokkan ke dalam tiga kategori aktivitas: aktivitas pendanaan, aktivitas investasi, dan aktivitas operasi.

[kembali ke daftar isi]

 

Siklus akuntansi: aktivitas pendanaan

Aktivitas pendanaan, kadang-kadang juga disebut aktivitas pembiayaan, adalah upaya perusahaan untuk memperoleh dana (modal usaha). Aktivitas pendanaan dilakukan oleh semua jenis perusahaan, baik perusahaan jasa, perusahaan dagang, maupun perusahaan manufaktur.

 

Jurnal akuntansi #1: investasi pemilik

Perusahaan yang berbadan hukum perseroan terbatas (PT) menerbitkan saham untuk memperoleh dana dari pemegang saham. Pemegang saham adalah pemilik perseroan, meskipun mereka bisa saja tidak turut campur dalam kegiatan bisnis perseroan.

Jurnal akuntansi yang dibuat ketika perusahaan menerbitkan saham dan memperoleh dana dari pemegang saham adalah sebagai berikut:contoh jurnal penerbitan saham biasa

Perhatikan, akuntansi memandang perusahaan sebagai entitas yang berdiri sendiri, terpisah dari pemiliknya. Kas yang diterima dari pemegang saham menjadi aset perusahaan. Kas (aset, saldo normal debit) bertambah, dicatat di kolom debit, Saham Biasa (ekuitas, saldo normal kredit) bertambah, dicatat di kolom kredit. Saldo akun Saham Biasa tidak berubah, kecuali jika perusahaan menerbitkan saham baru kepada pemegang saham.

Pemegang saham melakukan investasi dalam rangka memperoleh imbal hasil berupa dividen. Jurnal akuntansi untuk mencatat pembayaran dividen kepada pemegang saham adalah sebagai berikut:contoh jurnal pembayaran dividen

Dividen (ekuitas, saldo normal debit) bertambah, dicatat di kolom debit. Kas (aset, saldo normal debit) berkurang, dicatat di kolom kredit.

Pada akhir periode, saldo akhir Dividen ditutup ke akun Saldo Laba (salah satu komponen ekuitas perseroan terbatas, saldo normal kredit).contoh jurnal penutupan dividen ke saldo laba

Setelah ayat jurnal penutup di atas dipindahkan ke buku besar, saldo akun Dividen menjadi nol. Dividen dilaporkan di laporan perubahan ekuitas sebagai pengurang Saldo Laba awal periode.

 

Jurnal akuntansi #2: pinjaman bank/utang obligasi

Perusahaan juga bisa memperoleh dana dari kreditor, berupa pinjaman dari lembaga keuangan (bank) atau dari masyarakat melalui penerbitan obligasi. Jurnal akuntansi yang dibuat ketika perusahaan memperoleh dana dari kreditor adalah sebagai berikut: contoh jurnal pendanaan pinjaman dan obligasi

Kas (aset, saldo normal debit) bertambah, dicatat di kolom debit. Pinjaman/Utang Obligasi (liabilitas, saldo normal kredit) bertambah, dicatat di kolom kredit.

Kreditor mengucurkan dana kepada perusahaan dalam rangka memperoleh imbal hasil berupa bunga. Jurnal akuntansi untuk mencatat pembayaran bunga kepada kreditor adalah sebagai berikut:contoh jurnal pembayaran bunga

Beban Bunga (beban, saldo normal debit) bertambah, dicatat di kolom debit. Kas (aset, saldo normal debit) berkurang, dicatat di kolom kredit.

Jika tanggal laporan keuangan tidak sama dengan tanggal pembayaran bunga, perusahaan membuat ayat jurnal penyesuaian untuk mencatat bunga berjalan dari tanggal pembayaran bunga terakhir sampai dengan tanggal laporan keuangan, meskipun bunga itu belum dibayarkan. Jurnal akuntansi terkait beban bunga yang masih harus dibayar adalah sebagai berikut:contoh jurnal pengakuan bunga yang masih harus diterima

Beban Bunga (beban, saldo normal debit) bertambah, dicatat di kolom debit. Utang Bunga (liabilitas, saldo normal kredit) bertambah, dicatat di kolom kredit.

Pada periode berikutnya ketika bunga dibayarkan, perusahaan membuat jurnal akuntansi sebagai berikut:contoh jurnal pembayaran bunga dan penghapusan utang bunga

Utang Bunga (liabilitas, saldo normal kredit) berkurang, dicatat di kolom debit sebesar jumlah yang diakui pada saat penyesuaian akhir periode sebelumnya. Beban Bunga (beban, saldo normal debit) bertambah, dicatat di kolom debit untuk bunga yang timbul sejak tanggal laporan keuangan sampai dengan tanggal pembayaran bunga. Kas (aset, saldo normal debit) berkurang, dicatat di kolom kredit.

[kembali ke daftar isi]

 

Siklus akuntansi: aktivitas investasi

Aktivitas investasi adalah upaya perusahaan untuk mengadakan aset-aset jangka panjang, misalnya ketika perusahaan membeli aset tetap (aktiva tetap) atau melakukan investasi dalam saham/obligasi yang diterbitkan perusahaan lain. Aktivitas investasi mendatangkan manfaat bagi perusahaan dalam jangka panjang.

Sebagai contoh, dengan membuka pabrik di Indonesia, sebuah perusahaan multinasional bisa menjangkau pasar Indonesia dengan biaya lebih murah. Dalam contoh ini, penghematan yang diakibatkan oleh pembukaan pabrik merupakan bentuk manfaat yang diperoleh perusahaan yang dalam jangka panjang berdampak meningkatkan laba perusahaan.

Seperti aktivitas pendanaan, aktivitas investasi juga dilakukan oleh semua jenis perusahaan, baik perusahaan jasa, perusahaan dagang, maupun perusahaan manufaktur.

 

Jurnal akuntansi #3: siklus akuntansi aset tetap

Aset tetap (aktiva tetap) adalah aset jangka panjang berwujud yang diadakan untuk mendukung kegiatan operasi utama perusahaan. Contoh aset tetap adalah tanah, bangunan, kendaraan, furniture, dan peralatan, termasuk mesin-mesin produksi.

Jurnal akuntansi yang dibuat ketika perusahaan membeli aset tetap adalah sebagai berikut:contoh jurnal pembelian aset tetap

Karena aset tetap memberikan manfaat jangka panjang, perusahaan mencatat beban penyusutan terkait aset tetap. Penyusutan adalah proses alokasi biaya perolehan aset tetap ke periode-periode yang menerima manfaat dari aset tetap.

Ayat jurnal penyesuaian untuk mencatat beban penyusutan adalah sebagai berikut:contoh jurnal penyusutan

Beban Penyusutan (beban, saldo normal debit) bertambah, dicatat di kolom debit. Perhatikan, sisi kredit pada jurnal di atas bukan Kas, melainkan Akumulasi Penyusutan (kontra aset, saldo normal kredit). Meskipun beban penyusutan tidak menimbulkan pembayaran kas, beban penyusutan merupakan akun nominal yang turut dikurangkan dari pendapatan dalam menentukan laba-rugi bersih.

Sebagai akun kontra aset, akumulasi penyusutan disajikan sebagai bagian dari aset tetap di laporan posisi keuangan (neraca), tetapi berdampak mengurangi biaya perolehan aset tetap yang disusutkan.

[kembali ke daftar isi]

 

Siklus akuntansi perusahaan jasa terkait aktivitas operasi

Aktivitas operasi adalah upaya perusahaan untuk memperoleh pendapatan dengan menjual barang/jasa kepada pelanggan. Sebagai bagian dari upaya tersebut, perusahaan mengeluarkan biaya-biaya, misalnya untuk gaji, iklan, sewa kantor, listrik, dan sebagainya.

Meskipun jurnal-jurnal berikut diberikan sebagai bagian dari siklus akuntansi perusahaan jasa, transaksi-transaksi akuntansi serupa juga sebenarnya terjadi pada perusahaan dagang dan perusahaan manufaktur.

 

Jurnal akuntansi #4: pengakuan pendapatan perusahaan jasa

Pendapatan adalah peningkatan aset bersih yang berasal dari aktivitas bisnis utama perusahaan. Sebagai contoh, pendapatan kantor jasa akuntan berasal dari honor yang diberikan klien. Pendapatan perusahaan retail berasal dari penjualan kepada konsumen.

Perusahaan pada umumnya mengakui pendapatan ketika barang/jasa diserahkan kepada pelanggan dan timbul hak untuk menerima imbalan dari penyerahan barang/jasa tersebut. Pendapatan bisa berupa pendapatan tunai atau pendapatan kredit.

Jurnal akuntansi pada perusahaan jasa untuk mencatat pendapatan jasa secara tunai adalah sebagai berikut:contoh jurnal penyerahan jasa secara tunai

Perusahaan jasa bisa memberi nama akun yang lebih spesifik untuk pendapatan jasa, misalnya pendapatan sewa, pendapatan bunga, pendapatan iklan, atau pendapatan honor. Jika timbulnya hak tidak bersamaan dengan diterimanya kas, sistem akuntansi akrual menggunakan patokan timbulnya hak untuk mengakui pendapatan sehingga dikenal adanya pendapatan kredit.

Jurnal akuntansi untuk mencatat pendapatan jasa secara kredit adalah sebagai berikut:contoh jurnal penyerahan jasa secara kredit

Piutang Usaha (aset, saldo normal debit) bertambah, dicatat di kolom debit. Pendapatan Jasa (pendapatan, saldo normal kredit) bertambah, dicatat di kolom kredit.

Jurnal akuntansi untuk pendapatan kredit di atas juga bisa menjadi bagian dari ayat jurnal penyesuaian, dalam hal perusahaan telah menyelenggarakan jasa, sebagian atau seluruhnya, tetapi belum dibayar atau ditagihkan kepada pelanggan (pendapatan yang masih harus diterima).

Pada saat pelanggan melakukan pembayaran, perusahaan membuat jurnal akuntansi sebagai berikut:contoh jurnal pembayaran pelanggan

Kas (aset, saldo normal debit) bertambah, dicatat di kolom debit. Piutang Usaha (aset, saldo normal debit) berkurang, dicatat di kolom kredit. Jurnal akuntansi ini dibuat baik di perusahaan jasa, perusahaan dagang, maupun perusahaan manufaktur yang menawarkan kredit kepada pelanggan.

 

Jurnal akuntansi #5: pencatatan pendapatan diterima di muka

Untuk perusahaan jasa tertentu, pelanggan biasanya membayar kas di muka untuk jasa yang mereka beli. Contohnya adalah jasa sewa hunian tetap (asrama), jasa langganan surat kabar, dan jasa asuransi yang ditawarkan perusahaan asuransi.

Jurnal akuntansi untuk mencatat pendapatan diterima di muka adalah sebagai berikut:contoh jurnal pendapatan diterima di muka

Kas (aset, saldo normal debit) bertambah, dicatat di kolom debit. Pendapatan Diterima di Muka (liabilitas, saldo normal kredit) bertambah, dicatat di kolom kredit. Perhatikan bahwa meskipun nama akun mengandung kata “pendapatan”, pendapatan diterima di muka merupakan liabilitas (utang) yang dilaporkan di laporan posisi keuangan (neraca).

Perusahaan baru mengakui pendapatan dari uang muka pelanggan ketika timbul hak, yaitu ketika jasa terkait uang muka itu telah dilaksanakan perusahaan. Ayat jurnal penyesuaian untuk mengakui bagian dari pendapatan diterima di muka yang telah menjadi pendapatan jasa adalah sebagai berikut:contoh jurnal penyesuaian pendapatan diterima di muka

Pendapatan Diterima di Muka (liabilitas, saldo normal kredit) berkurang, dicatat di kolom debit. Pendapatan Jasa (pendapatan, saldo normal kredit) bertambah, dicatat di kolom kredit.

 

Jurnal akuntansi #6: pengakuan beban operasi

Beban operasi adalah biaya-biaya yang terjadi selama periode akuntansi terkait dengan upaya untuk memperoleh pendapatan. Contoh beban operasi perusahaan jasa adalah beban gaji/upah, beban alat tulis kantor (perlengkapan), beban sewa kantor, dan beban penyusutan peralatan.

Jurnal akuntansi untuk mencatat timbulnya beban operasi adalah sebagai berikut:contoh jurnal pembayaran beban operasi

Beban Gaji/Upah (beban, saldo normal debit) bertambah, dicatat di kolom debit. Kas (aset, saldo normal debit) berkurang, dicatat di kolom kredit.

Jika pada akhir periode terdapat jasa karyawan yang terkait dengan periode berjalan, tetapi gaji/upahnya belum dibayar, perusahaan membuat ayat jurnal penyesuaian terkait beban gaji yang masih harus dibayar sebagai berikut:contoh jurnal penyesuaian beban yang masih harus dibayar

 

Beban Gaji/Upah (beban, saldo normal debit) bertambah, dicatat di kolom debit. Utang Gaji/Upah (liabilitas, saldo normal kredit) bertambah, dicatat di kolom kredit.

 

Jurnal akuntansi #7: pencatatan beban dibayar di muka

Untuk beban-beban operasi tertentu, perusahaan harus membayar di muka seluruh biaya yang manfaatnya kemungkinan besar masih tersedia untuk periode akuntansi berikutnya. Sebagai contoh, pada pertengahan tahun perusahaan mengadakan alat tulis kantor yang diperkirakan akan mencukupi kebutuhan kantor selama satu tahun. Dalam contoh ini, alat tulis kantor merupakan beban dibayar di muka. Contoh beban dibayar di muka lainnya adalah beban sewa kantor, beban asuransi, beban iklan, dan beban langganan surat kabar. Perhatikan bahwa sebagian besar beban dibayar di muka bagi pihak pembeli jasa adalah pendapatan diterima di muka bagi pihak penyedia jasa.

Jurnal akuntansi untuk mencatat beban dibayar di muka berupa pembelian alat tulis kantor (perlengkapan kantor) adalah sebagai berikut:contoh jurnal pembelian perlengkapan

 

Alat Tulis Kantor (aset, saldo normal debit) bertambah, dicatat di kolom debit. Kas (aset, saldo normal debit) berkurang, dicatat di kolom kredit.

Pada akhir periode, perusahaan harus menghitung biaya terkait alat tulis kantor tersebut yang telah digunakan dalam periode berjalan. Ayat jurnal penyesuaian diperlukan untuk mengakui timbulnya beban terkait alat tulis kantor yang sudah digunakan sebagai berikut:contoh jurnal penyesuaian beban perlengkapan

Beban Alat Tulis Kantor (beban, saldo normal debit) bertambah, dicatat di kolom debit. Alat Tulis Kantor (aset, saldo normal debit) berkurang, dicatat di kolom kredit.

[kembali ke daftar isi]

 

Siklus akuntansi perusahaan dagang terkait aktivitas operasi

Perusahaan dagang adalah bisnis dengan kegiatan utama menjual barang dagangan kepada pelanggan. Pendapatan yang diperoleh perusahaan dagang disebut pendapatan penjualan, atau biasa disebut penjualan saja. Satu ciri yang membedakan perusahaan dagang dengan perusahaan jasa terletak pada produk yang dijual. Perusahaan dagang menjual barang berwujud yang disebut barang dagangan.

Barang dagangan memunculkan satu jenis aset di laporan posisi keuangan (neraca) perusahaan dagang yang tidak ada di perusahaan jasa, yaitu persediaan barang dagang. Beban pokok penjualan, atau disebut juga harga pokok penjualan adalah biaya persediaan barang dagang yang sudah terjual selama periode akuntansi. Beban pokok penjualan adalah pos beban di laporan laba-rugi perusahaan dagang yang juga tidak ada di laporan laba-rugi perusahaan jasa.

Semua jurnal akuntansi yang telah diberikan di atas terkait pendapatan dan beban operasi sebenarnya juga berlaku untuk perusahaan dagang.

 

Jurnal akuntansi #8: pengakuan pendapatan perusahaan dagang

Perusahaan dagang mengakui pendapatan penjualan pada saat barang dagangan diserahkan kepada pelanggan, terlepas dari apakah kas sebagai imbalan dari penyerahan barang dagangan itu sudah diterima atau belum.

Jurnal akuntansi untuk mengakui pendapatan penjualan adalah sebagai berikut:contoh jurnal pengakuan pendapatan perusahaan dagang

Kas/Piutang Usaha (aset, saldo normal debit) bertambah, dicatat di kolom debit. Pendapatan Penjualan (pendapatan, saldo normal kredit) bertambah, dicatat di kolom kredit. Jurnal akuntansi ini pada dasarnya sama dengan jurnal akuntansi #4 di atas.

 

Jurnal akuntansi #9: pencatatan pembelian persediaan barang dagang

Ada dua sistem pencatatan persediaan, yaitu sistem perpetual dan sistem periodik. Contoh-contoh jurnal akuntansi terkait persediaan barang dagang yang diberikan dalam artikel ini menggunakan sistem pencatatan perpetual. Dalam sistem pencatatan perpetual, persediaan diakui/dicatat pada saat perusahaan menerima barang dari pemasok.

Jurnal akuntansi untuk mencatat pembelian barang dagangan adalah sebagai berikut:contoh jurnal pembelian barang dagangan

Persediaan barang dagang (aset, saldo normal debit) bertambah, dicatat di kolom debit. Sisi kredit tergantung pada apakah pembelian barang dagangan dilakukan secara tunai atau kredit.

 

Jurnal akuntansi #10: pencatatan beban pokok penjualan

Dengan sistem persediaan perpetual, pengakuan beban pokok penjualan diakui bersamaan dengan pengakuan pendapatan. Di sisi lain, persediaan barang dagang juga dikurangi (dicatat di kolom kredit). Jumlah rupiah yang dicatat adalah sebesar biaya (harga pokok) persediaan yang terjual. Jurnal akuntansi untuk mengakui beban pokok penjualan dan mengurangi persediaan adalah sebagai berikut:contoh jurnal beban pokok penjualan

Dalam sistem persediaan perpetual, jurnal #10 ini biasanya dibuat bersamaan dengan jurnal #8.

Laba kotor dalam perhitungan laba-rugi perusahaan dagang adalah pendapatan penjualan dikurangi beban pokok penjualan.

[kembali ke daftar isi]

 

Siklus akuntansi perusahaan manufaktur terkait aktivitas operasi

Perusahaan manufaktur adalah perusahaan yang juga menjual barang dagangan berwujud seperti perusahaan dagang. Perbedaannya terletak pada dari mana barang dagangan itu diperoleh. Perusahaan dagang membeli dari pemasok, sedangkan perusahaan manufaktur memproduksi sendiri. Dengan adanya proses produksi ini, prosedur akuntansi untuk menentukan biaya persediaan menjadi lebih rumit dalam perusahaan manufaktur. Ada tiga jenis persediaan dalam perusahaan manufaktur, yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses, dan persediaan barang jadi.

Meskipun demikian, contoh-contoh jurnal akuntansi yang telah diberikan sebelumnya juga tetap berlaku di perusahaan manufaktur.

 

Jurnal akuntansi #11: pengakuan pendapatan perusahaan manufaktur

Jurnal akuntansi untuk mengakui pendapatan penjualan dalam perusahaan manufaktur persis sama dengan pengakuan pendapatan pada perusahaan dagang.contoh jurnal pengakuan pendapatan perusahaan manufaktur

 

Pengakuan pendapatan terjadi pada saat barang dagangan diserahkan, terlepas dari apakah kas sebagai imbalan atas penyerahan barang itu sudah diterima atau belum.

 

Jurnal akuntansi #12: siklus akuntansi biaya (pencatatan biaya produksi)

Hal unik yang hanya terjadi pada perusahaan manufaktur adalah pencatatan biaya produksi. Siklus akuntansi biaya dimulai dari pembelian bahan baku kepada pemasok. Jurnal akuntansi untuk mencatat pembelian bahan baku adalah sebagai berikut:contoh jurnal pembelian bahan baku

Persediaan Bahan Baku (aset, saldo normal debit) bertambah, dicatat di kolom debit. Sisi kredit tergantung pada apakah pembelian bahan baku dilakukan secara tunai atau kredit.

Biaya produksi terdiri dari dua komponen, yaitu biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung. Biaya produksi langsung meliputi biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung dapat ditelusuri secara langsung dengan unit barang jadi yang dihasilkan. Sebagai contoh, secara teknis perbandingan antara unit bahan baku dengan unit barang jadi yang dihasilkan bisa diukur dengan cermat.

Biaya tidak langsung biasa juga disebut biaya overhead, mencakup seluruh biaya yang terjadi di pabrik (terkait dengan proses produksi), tetapi tidak dapat ditelusuri secara langsung dengan unit produk jadi yang dihasilkan. Contoh biaya overhead meliputi bahan tambahan, gaji supervisor dan staf bagian produksi, sewa peralatan pabrik, penyusutan fasilitas pabrik, serta semua biaya yang terjadi di pabrik selain bahan baku dan tenaga kerja langsung.

Biaya produksi tidak langsung yang terjadi selama satu periode akuntansi dicatat dalam akun nominal Biaya Overhead. Jurnal akuntansi untuk mencatat biaya overhead adalah sebagai berikut:contoh jurnal biaya overhead

Perhatikan, akun Biaya Overhead (beban, saldo normal debit) adalah tempat penampungan semua biaya produksi tidak langsung sebagaimana disebutkan di atas.

Biaya-biaya produksi yang terjadi selama periode akuntansi dipindahkan/dialokasi ke akun Persediaan Barang dalam Proses seiring berlangsungnya proses produksi. Jurnal akuntansi untuk mencatat alokasi biaya produksi adalah sebagai berikut:contoh jurnal akumulasi biaya produksi pada persediaan barang dalam proses

Jumlah kredit ke akun Persediaan Bahan Baku adalah sebesar biaya bahan baku yang digunakan selama periode akuntansi. Jumlah kredit ke akun Kas/Utang Gaji/Upah adalah sebesar biaya tenaga kerja langsung yang terjadi selama periode akuntansi. Setelah jurnal akuntansi di atas dipindahkan ke buku besar, akun Biaya Overhead yang menampung biaya-biaya produksi tidak langsung selama periode akuntansi akan bersaldo nol.

Biaya-biaya produksi terkait produk yang selesai diproduksi selama periode akuntansi dipindahkan/dialokasi dari akun Persediaan Barang dalam Proses ke akun Persediaan Barang Jadi dengan jurnal akuntansi berikut:contoh jurnal penetapan biaya produk jadi

Perhatikan, jurnal-jurnal alokasi di atas bisa saja dilakukan sebagai bagian dari jurnal penyesuaian akhir periode pada perusahaan manufaktur dengan bukti-bukti transaksi internal yang terkait dengan proses produksi.

 

Jurnal akuntansi #13: pencatatan beban pokok penjualan

Sistem persediaan perpetual seperti yang diterapkan di perusahaan dagang juga bisa digunakan di perusahaan manufaktur. Pengakuan beban pokok penjualan diakui bersamaan dengan pengakuan pendapatan. Di sisi lain, persediaan barang dagang juga dikurangi (dicatat di kolom kredit). Jumlah rupiah yang dicatat adalah sebesar biaya (harga pokok) persediaan yang terjual.

Jurnal akuntansi untuk mengakui beban pokok penjualan dan mengurangi persediaan adalah sebagai berikut:contoh jurnal beban pokok penjualan perusahaan manufaktur

Dalam sistem persediaan perpetual, jurnal #13 ini biasanya dibuat bersamaan dengan jurnal #11.

Laba kotor dalam perhitungan laba-rugi perusahaan manufaktur sama dengan pendapatan penjualan dikurangi beban pokok penjualan.

[kembali ke daftar isi]

 

Kesimpulan

Artikel ini tidak dimaksudkan untuk memberikan tutorial terinci mengenai perlakuan atas transaksi-transaksi akuntansi.

Terlepas dari apapun jenis kegiatan bisnis perusahaan (jasa, dagang, manufaktur) serta teknologi yang digunakan (manual atau berbasis komputer), siklus akuntansi sebagaimana yang diuraikan dalam artikel ini pada dasarnya tetap berlaku.

Perbedaan karakteristik operasi antara perusahaan jasa di satu sisi dengan perusahaan dagang dan manufaktur di sisi lain terletak pada produk yang diserahkan kepada pelanggan. Perusahaan jasa tidak menjual produk berwujud, sehingga tidak melaporkan persediaan barang dagang di dalam laporan posisi keuangan (neraca) dan tidak menyajikan beban pokok penjualan di laporan laba-rugi.

Perbedaan antara perusahaan dagang dengan perusahaan manufaktur terletak pada dari mana barang dagangan diperoleh: perusahaan manufaktur memproduksi sendiri barang dagangan, mengakibatkan siklus akuntansi persediaan di perusahaan manufaktur lebih rumit daripada siklus akuntansi persediaan di perusahaan dagang. Artikel-artike mendatang akan melihat lebih dekat terhadap semua aspek yang dibahas secara umum dalam artikel ini.

 


Warsidi, CA
Dosen Tetap Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman
Anggota Ikatan Akuntan Indonesia
Terakhir diperbaharui: April 2017

Read more ...

Business plan untuk pemula

 

Apakah anda sedang mencari pemodal untuk bisnis anda? Business Plan adalah jawabannya.

 

Apa itu business plan?

Setiap bisnis atau usaha pastilah membutuhkan modal, dan biasanya modal inilah yang menjadikan banyak orang mengurungkan niatnya untuk berbisnis atau memperbesar bisnisnya. Padahal, ternyata sangat banyak orang yang ingin terjun di dunia bisnis tetapi kendala mereka adalah tentang ide atau gagasan usaha. Untuk mempertemukan dua jenis pebisnis tersebut, perlu adanya media yang dapat mempermudah proses pertukaran informasi untuk mencapai kesepakatan kerja. Media tersebut dalam dunia bisnis biasa disebut dengan Business Plan.

Business Plan merupakan perwujudan nyata dari ide atau gagasan seorang pebisnis dalam bentuk tulisan. Business Plan biasanya terdiri dari beberapa komponen yang berisikan rincian usaha/ide tentang suatu usaha dalam hal perencanaan keuangan sampai dengan perencanaan pemasaran dan manajemen usaha. Selain itu, yang sangatlah wajib dan tidak boleh ketinggalan adalah deskripsi 5W1H tentang usaha tersebut seperti sejarah, visi misi dan lain sebagainya.

Singkatnya, Business Plan harus memiliki beberapa perencanaan seperti budget plan, market plan, dan lain sebagainya. Perencanaan tersebut diperlukan sebagai bahan pertimbangan para investor atau pemodal dan alat bukti tentang bagaimana kesiapan kita dalam menjalankan bisnis yang akan mereka bantu pendanaannya. Yang mana penulisannya harus dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dicerna karena proposal yang kita buat akan ditujukan kepada para calon investor atau pemodal guna menawarkan usaha kita untuk mereka modali.

Hal lain yang perlu diketahui pembaca mengenai Business Plan adalah tentunya tentang cara membuat Business Plan yang baik dan benar, tak lupa juga tentunya, yang menarik. Pada kesempatan kali ini, penulis akan mencoba menjelaskan tentang cara membuat business plan untuk para pemula.

 

Siapa itu Pemula?

Pemula yang kami maksud adalah para pebisnis yang ingin mencoba mengenal dan membuat business plan dari nol. Atau bisa dikatakan bahwa pemula yang penulis maksud adalah orang-orang yang sedari dulu belum terlalu paham atau bahkan belum pernah mengenal business plan.

 

Untuk apa Business Plan?

Seperti yang sudah penulis sampaikan di awal, business plan memiliki beberapa kegunaan, diantaranya

  • Pertama, menjadi media komunikasi antara calon investor dengan para pemilik usaha atau ide usaha. Para calon investor akan menjadikan proposal yang dibuat oleh sang pemilik usaha atau ide usaha sebagai sumber utama informasi yang akan mereka pertimbangkan dalam pengambilan keputusan, karena proposal dianggap sebagai ‘hitam di atas putih’ yang dapat dipercaya.
  • Kedua, untuk merayu para calon investor. Sudah bukan barang baru apabila dalam proposal rencana bisnis diselipkan beberapa keunggulan usaha dan juga penawaran kepada calon investor apabila mau berinvestasi guna menggoda para calon investor.
  • Ketiga, sebagai landasan arah gerak bisnis. Ketika kita sudah membuat business plan kita harus sebisa mungkin mengikutinya dan mendapatkan target yang sudah kita rencanakan, atau bahkan melampauinya. Hal tersebut menjadikan kita harus mengikuti apa yang sudah kita rencanakan dalam proposal kita, karena apabila kita tidak mengikutinya, itu artinya perencanaan kita pun dianggap belum matang dan terkesan tanpa ada perencanaan yang jelas.

Selain beberapa alasan diatas, alasan lain yang menurut penulis penting untuk dipertimbangkan adalah, kita bisa menjadikan business plan kita sebagai tolak ukur dari kematangan rencana usaha kita. Bagaimana bisa demikian? Apabila kita sudah menyelesaikan proposal kita dan mencoba mencari pendapat dari kenalan atau teman kita, kita dapat menanyakan kepada mereka tentang apa yang kurang atau perlu dievaluasi dalam proposal bisnis kita. Bisa juga kita melakukan review sendiri dengan apa yang sudah kita tulis, metode ini sangat baik untuk mengetahui seberapa siapkah kita dalam mewujudkan bisnis kita.

 

Cara membuat budget plan

Tahap pertama adalah untuk mengetahui seberapa lama atau berapa target penghasilan kita demi mendapatkan kembalinya modal kita. Pada tahap ini kita harus memilih antara membuat target berdasarkan waktu atau berdasarkan besar pemasukan perhari.

Pertama-tama, kita membuat daftar pengeluaran kita untuk memulai bisnis dan menjalankan bisnis, yaitu perlengkapan, beban tetap dan beban tidak tetap. Perlengkapan atau peralatan (contoh: bisnis restoran) seperti alat masak, meja dan kursi tamu, dekorasi dan lain sebagainya harus dicatat dengan detail sesuai dengan kebutuhan. Beban tetap seperti sewa gedung, gaji pegawai, dan wi-fi dicatat langsung untuk tiga bulan pertama (lazimnya digunakan saat mengawali bisnis dengan asumsi masa promosi bisnis masih berjalan sebelum bisnis bisa stabil). Beban tidak tetap seperti listrik, promosi, air, dan bahan baku produksi dicatat sesuai estimasi dan diusahakan sedekat mungkin dengan aslinya untuk tiga bulan pertama seperti beban tetap. Sebetulnya, dalam menganggarkan beban tetap dan beban tidak tetap, kita tidak diharuskan untuk mengkalkulasikannya untuk tiga bulan sekaligus karena modal yang kita butuhkan akan sangat membengkak. Namun, ketika hal tersebut memungkinkan untuk dilakukan, tidak ada salahnya karena akan menunjang kesiapan keuangan kita pada masa promosi.

Setelah melakukan penghitungan pada perlengkapan, beban tetap dan beban tidak tetap, kita diharuskan menjumlahkan semua komponen beban tersebut. Hal ini untuk mengetahui berapa modal yang kita perlukan untuk memulai bisnis kita. Selain itu kita juga dapat mengetahui berapa kekurangan modal kita ketika mengurangi seluruh beban dengan modal yang sudah tersedia.

Sebelum kita menentukan waktu modal kita akan kembali, kita perlu menentukan harga barang yang akan kita jual, hal ini bisa dilakukan dengan presentase margin ( selisih modal dengan keuntungan ) atau dengan langsung menentukan harga jual seperti yang ada dibayangan kita. Namun, dalam usaha kuliner bergengsi (cafe, canteen, dsb) biasanya akan menaikkan harga jual tiga kali dari modal yang mereka keluarkan. Sebagai contoh, minuman kopi hitam panas yang bermodalkan Rp1.000-Rp1.500 akan mereka hargai sebesar Rp3.000-Rp4.500. dan margin keuntungan yang diharapkan adalah 1/3 dari harga jual, sedangkan 1/3 yang lain adalah untuk menutup biaya operasional yang lain.

Rumus untuk mengetahui lama modal akan kembali adalah

Modal = laba × waktu

Artinya semisal kita menginginkan modal Rp1.000.000 kita kembali dalam 10 bulan, maka kita harus mendapatkan keuntungan Rp100.000 per bulan atau Rp4.000 per hari (jika dalam satu bulan buka 25 hari).

Atau jika kita menghendaki modal Rp2.000.000 kita bisa kembali dengan keuntungan Rp250.000 per bulan atau Rp10.000 per hari (jika dalam satu bulan buka 25 hari), maka kita memerlukan delapan bulan untuk mengembalikan modal awal kita.

Setelah kita melakukan perhitungan target laba harian, maka yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah menghitung berapa pemasukan kita per hari. Menghitung pemasukan kotor per hari untuk beberapa jenis usaha yang memiliki lebih dari satu barang dagangan agaknya sedikit sulit karena kita harus mengetahui selera pasar dan prediksi barang mana yang akan lebih banyak dibeli dan mana yang kurang. Target pendapatan inilah yang nanti akan banyak dipakai untuk memotivasi pegawai dan menjadi gambaran kepada investor tentang seberapa besar usaha kita.

Untuk para pebisnis yang sudah handal atau ingin mencoba membuat perencanaan yang lebih matang lagi, bisa dengan cara mengubah perencanaan keuangannya menjadi beberapa pembagian waktu, misalnya ada tiga bagian (bagian pertama, kedua dan ketiga; diasumsikan usaha tersebut mempunyai target Rp3.000.000 per bulan). Pada bagian pertama, manajer hanya menargetkan Rp2.000.000 per bulan. Pada bagian kedua, target dinaikkan menjadi Rp3.000.000. Pada bagian ketiga, target dinaikkan kembali menjadi Rp4.000.000. Hal ini dilakukan apabila pada awal bisnis dirasa target tersebut kurang menjanjikan untuk diraih sedangkan sebenarnya bisnis tersebut memiliki masa depan yang dianggap sangat cerah.

Hal lain yang perlu dianggarkan atau dimasukkan dalam perhitungan adalah berapa besar keuntungan yang akan diambil dan dinikmati, berapa besar keuntungan yang akan digunakan untuk menjadi modal kembali dan berapa keuntungan yang akan digunakan untuk menjadi uang simpanan guna kebutuhan yang sifatnya mendesak.

 

Cara membuat market plan

Market plan atau rencana pemasaran adalah tentang bagaimana kita memasarkan atau mempromosikan produk yang akan kita jual. Biasanya terdiri dari penjelasan pasar kita, lalu juga penjelasan cara promosi kita.

Saat kita akan mencoba menawarkan produk, kita harus mengetahui siapa target pasar atau market target kita. Selain itu, kita harus memiliki alasan yang kuat mengapa pasar tersebut sangat cocok untuk dijadikan target, apakah produk kita paling disukai oleh pasar tersebut, atau karena alasan lain. Setelah menentukan target pasar, kita juga harus menentukan cara pemasaran atau marketing kita, yaitu cara mengenalkan produk kita ke khalayak umum. Cara yang kita ambil akan berbeda antara jika kita menjual jenis produk yang masih jarang orang ketahui dengan barang yang sudah banyak orang ketahui. Sebagai contoh, ketika kita memasarkan jenis produk yang baru, kita perlu memberikan edukasi kepada pasar kita tentang apa produk kita dan bagaimana keunggulannya. Namun apabila produk yang kita jual jenisnya sudah banyak orang ketahui, maka yang perlu kita lakukan adalah tinggal memberikan keunggulan produk kita tanpa harus mengenalkan apa jenis produk kita secara terperinci.

Dalam mengenalkan produk, kita memiliki beberapa metode yang sudah sering orang gunakan, yaitu dengan menyebarkan brosur, menempelkan pamflet, memasang baliho, dan sampai dengan memasang iklan pada media cetak, radio sampai dengan televisi. Adapun metode lain yang sekarang mulai sering digunakan adalah menarik perhatian orang dengan memberikan hiburan di sekitar toko kepada mereka sebelum akhirnya mengenalkan produknya kepada target. Atau juga dengan membuat acara besar dengan mengundang artis atau tokoh yang bertujuan untuk mengundang khalayak ramai guna memberikan permainan, hiburan dan/atau ilmu yang akan diarahkan nantinya kepada pengenalan produk atau brand tertentu.

Selain pengenalan produk, kita juga diberikan opsi untuk mengadakan promosi, biasanya dengan pemotongan harga atau pemberian bonus. Hal ini pun memiliki beragam cara untuk mengaplikasikannya, mulai dari pemberian voucher belanja tanpa syarat, sampai dengan yang bersyarat, mulai dari pemberian diskon di waktu tertentu, sampai pemberian diskon dalam kurun waktu tertentu tanpa batasan.

Dalam perkembangan jaman, pemasaran ternyata tidak berhenti hanya sampai iklan dan juga diskon. Dewasa ini fasilitas tambahan yang tak lazim menjadi daya tarik tersendiri bagi pasar, seperti adanya gratis makan nasi bandeng (khas angkringan) apabila sedang menunggu pesanan pada salah satu percetakan digital yang ada di Yogyakarta, dan ada juga fasilitas pijat gratis untuk para pengunjung dealer motor atau mobil yang sedang melakukan perawatan pada kendaraan mereka. Fasilitas tambahan ini pun terbilang cukup berhasil untuk membuat para pelanggan dapat kembali dan menggunakan jasa atau membeli produk mereka. Dan hal inilah yang memang sedang berkembang pesat karena dinilai sebagai persaingan yang dinamis karena tidak ada pembanding yang signifikan antara produk A dan produk lain, antara merk A dan merk lain.

Banyaknya pilihan sistem pemasaran inilah yang menjadikan biaya promosi sangatlah bervariatif dan relatif. Kita harus bijak dan penuh pertimbangan dalam menentukan rencana pemasaran mana yang akan kita aplikasikan pada bisnis kita. Dari yang hanya mengeluarkan ribuan rupiah sampai promosi ratusan bahkan miliaran rupiah, keputusannya ada di tangan kita.

 

Membuat Business Plan semenarik mungkin

Membuat proposal yang semenarik mungkin adalah kunci utama kita untuk mendapatkan hati para calon investor kita. Tentunya perlu adanya ketelitian dan nilai estetika yang kita tuangkan saat membuat proposal tersebut. Dan berikut adalah tips untuk membuat proposal bisnis kita menjadi lebih menarik:

  • Gunakan bahasa yang tidak berbelit dan tetap formal
  • Jangan lupa untuk menambahkan grafik bila diperlukan
  • Pilihlah warna-warna yang tidak mencolok namun serasi untuk dipadukan dalam design proposal.
  • Sedikit namun berisi.
  • Usahakan dalam satu lembar hanya terdiri dari 100-350 kata saja.
  • Berikan bukti gambar bila diperlukan.
  • Rapihkan perhitungan dalam tabel (perhitungan hanya ditampilkan apabila sangat diperlukan).

 

Susunan Business Plan

  • Cover
  • Daftar Isi
  • Executive Summary
  • Tujuan Pembuatan Proposal
  • Bab I Pendahuluan
    • Latar Belakang
    • Tujuan
    • Objek Study
    • Executive Agency
    • Metodology
    • Budget
  • Bab II Aspek Pemasaran
    • Analisis Permintaan
    • Analisis Penawaran
    • *Proyek Peluang
    • Strategi (STP)
    • *Marketing MIX
    • *Analisis SWOT
    • *Riset Pasar
    • *Saluran Distribusi
    • Analisis Persaingan
  • Bab III Aspek Operasional
    • Analisis Produk
    • Analisis Lokasi
    • *Kapasitas Produksi
    • Teknologi
    • *Standard Operational Procedure
    • *Product Life Cycle
    • Rencana Pengembangan Produk
  • *Bab IV Aspek Sumber Daya Manusia
    • *Job Analysis
    • *Job Specification
    • *Struktur Organisasi
    • *Job Qualification
    • *Recruitment
    • *Pemasok Tenaga Kerja
    • *Kompensasi
    • *Pendidikan dan Pelatihan
    • *Reward and Punishment
    • *Tata Tertib Perusahaan
  • *Bab V Aspek Legal
    • *Analisis Lembaga
    • *Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
    • *Perizinan
    • *Proses Perizinan
    • *Proses Hak Cipta
  • Bab VI Aspek Keuangan
    • Proyek Penjualan
    • Analisis Modal
    • *Neraca
    • Laba Rugi
    • Arus Kas
    • Rencana Investasi
    • *Rasio Keuangan
    • *Rencana Pengembalian Pinjaman
    • Proyeksi Usaha
  • Bab VII Kesimpulan
    • Rekomendasi
    • Kesimpulan

Contoh dapat dilihat dan diunduh pada ahmadsubagyo.com.

Apabila anda seorang pemula, beberapa poin yang penulis tandai dengan bintang, sekiranya tidak wajib untuk diterapkan kecuali memang sudah sangat memahaminya.

 

Kelemahan Business Plan pada umumnya

Pada umumnya, orang dalam pembuatan proposal bisnisnya memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut:

  1. Kurangnya informasi mengenai keuangan seperti masa kembali modal, dan target perputaran uang.
  2. Bahasa yang terlalu berbelit dalam mendeskripsikan sesuatu sehingga mengurangi minat baca atau pemahaman calon investor.
  3. Design yang kurang menarik.
  4. Market plan yang kurang matang sehingga menimbulkan pertanyaan yang tidak bisa terjawab dalam proposal dan menimbulkan keraguan pada calon investor.
  5. Tidak adanya grafik yang memperjelas posisi keuangan atau yang lainnya.
  6. Visi misi yang tidak jelas atau kurang relevan.
  7. Tidak adanya rencana pengembangan bisnis ke tahap yang lebih lagi.

Demikian pembahasan tentang Business Plan/Rencana Bisnis/Proposal Bisnis untuk Pemula, semoga dapat bermanfaat da mudah dalam pengaplikasiannya.

Apabila ada kritik, saran dan pertanyaan kepada penulis, penulis dengan senang hati akan menerimanya dan semoga tidak ada kendala berarti dalam memperbaiki diri dan menjawab pertanyaan dari para pembaca sekalian.


Kontributor:
Rizqa Sulaiman Wibisono
Mahasiswa FEB Unsoed

Read more ...

Contoh jurnal dan laporan keuangan perusahaan dagang

contoh jurnal dan laporan keuangan perusahaan dagang

Artikel ini memberikan contoh jurnal, buku besar, neraca saldo, dan laporan keuangan yang membentuk siklus akuntansi perusahaan dagang.

Sebagaimana dijelaskan dalam artikel saya mengenai siklus akuntansi, siklus akuntansi dimulai dengan mengidentifikasi dan mencatat data terkait transaksi akuntansi serta meringkas dan menyajikannya dalam bentuk laporan keuangan dan laporan-laporan akuntansi lainnya. Laporan keuangan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan investasi, keputusan pemberian pinjaman, dan keputusan-keputusan bisnis lainnya.

 

 

Pengertian perusahaan dagang

Apa yang dimaksud dengan perusahaan dagang? Perusahaan dagang adalah jenis perusahaan dengan aktivitas penghasil pendapatan utama berupa pembelian dan penjualan barang dagangan. Berbeda dengan perusahaan jasa yang menyelenggarakan/menyerahkan jasa/pelayanan, perusahaan dagang menjual barang berwujud.

Ada beberapa jenis perusahaan dagang. Perusahaan dagang eceran adalah perusahaan dagang yang membeli dan menjual kembali barang dagangan kepada konsumen akhir. Perusahaan dagang eceran juga sering disebut retailer. Contoh pedagang eceran adalah pasar swalayan seperti Matahari, Hero, serta jaringan waralaba Indomart dan Alfamart.

Perusahaan dagang besar atau pedagang besar atau dikenal juga dengan istilah distributor adalah perusahaan dagang yang membeli barang dari produsen dan menjualnya dalam jumlah besar. Contohnya adalah penjualan obat oleh pedagang besar farmasi kepada rumah sakit. Istilah pedagang grosir mengacu pada perusahaan dagang yang membeli dan menjual barang dalam partai besar. Pelanggan pedagang besar dan pedagang grosir adalah perusahaan dagang eceran, perusahaan jasa dan lembaga pemerintah untuk digunakan sendiri, serta perusahaan manufaktur untuk digunakan sendiri atau dijadikan input produksi.

Adanya barang berwujud yang diperjualbelikan mengakibatkan perusahaan dagang memiliki satu jenis aset yang tidak ada dalam perusahaan jasa, yaitu persediaan barang dagang.

 

Pengertian persediaan barang dagang

Persediaan barang dagang adalah barang-barang yang dibeli perusahaan dagang dari pemasok untuk kemudian dijual kembali kepada pelanggan. Persediaan barang dagang memiliki karakteristik yang sama dengan persediaan barang habis pakai (perlengkapan): baik persediaan barang dagang maupun persediaan barang habis pakai merupakan aset berwujud yang tergolong aset lancar (aktiva lancar). Perbedaan keduanya terletak pada tujuan penggunaan. Persediaan barang dagangan dibeli untuk dijual kembali, sedangkan persediaan barang habis pakai (perlengkapan) dibeli untuk digunakan sendiri oleh perusahaan.

Terdapat dua sistem pencatatan persediaan dalam akuntansi persediaan, yaitu sistem persediaan perpetual dan sistem persediaan periodik.

 

Sistem persediaan perpetual

Arti “perpetual” dalam istilah sistem persediaan perpetual adalah bahwa persediaan dicatat secara terus-menerus.

 

Jurnal pembelian—perpetual

Pada saat barang dagangan dibeli dari pemasok, akun persediaan barang dagang (aset/aktiva) didebit sebesar biaya perolehan.jurnal pembelian - perpetual

 

Jurnal biaya angkut pembelian—perpetual

Jika perusahaan dagang menanggung biaya pengiriman barang dari tempat pemasok ke perusahaan (FOB Shipping Point/franco gudang penjual), biaya angkut pembelian itu didebit/ditambahkan ke akun persediaan barang dagang (menambah biaya perolehan persediaan).jurnal biaya angkut pembelian - perpetual

 

Jurnal retur pembelian dan pengurangan harga—perpetual

Jika perusahaan dagang menerima persetujuan retur barang atau pengurangan harga dari pemasok, misalnya karena barang rusak atau tidak sesuai dengan spesifikasi pesanan, akun persediaan barang dagang dikredit/dikurangi sejumlah biaya perolehan barang yang dikembalikan/pengurangan harga yang disepakati.jurnal retur pembelian - perpetual

 

Jurnal potongan pembelian—perpetual

Jika perusahaan dagang memperoleh potongan pembelian atau diskon pembelian, misalnya karena melunasi faktur dalam periode potongan, potongan atau diskon itu dikurangkan/dikredit ke akun persediaan barang dagang (mengurangi biaya perolehan persediaan).jurnal potongan pembelian - perpetual 

 

Jurnal penjualan—perpetual

Pada saat barang dagangan dijual kepada pelanggan, akun persediaan barang dagang dikredit sebesar biaya perolehan barang dagangan yang terjual, akun yang didebit adalah beban pokok penjualan (harga pokok penjualan) yang merupakan akun nominal (beban).jurnal penjualan - perpetual

Perhatikan, jurnal penjualan di atas terdiri dari dua pasang jurnal. Akun penjualan, atau pendapatan penjualan, identik dengan akun pendapatan jasa dalam perusahaan jasa. Pada saat barang diserahkan kepada pelanggan, akun penjualan dikredit sebesar harga jual barang dagangan. Dalam akuntansi dasar akrual, hak atas pendapatan timbul bersamaan dengan penyerahan barang kepada pelanggan, terlepas dari apakah pembayaran kas sudah dilakukan atau belum oleh pelanggan. Sisi debit bisa akun Kas atau Piutang Usaha tergantung pada apakah penjualan itu dilakukan secara tunai atau kredit.

 

Jurnal retur penjualan dan pengurangan harga—perpetual

Jika perusahaan dagang sebagai penjual memberikan persetujuan retur barang atau pengurangan harga kepada pelanggan, misalnya karena barang rusak atau tidak sesuai dengan spesifikasi pesanan, akun retur penjualan dan pengurangan harga didebit/ditambah sejumlah harga jual barang yang dikembalikan/pengurangan harga yang disepakati. Retur penjualan dan pengurangan harga memiliki saldo normal debit dan dilaporkan sebagai pengurang pendapatan penjualan dalam laporan laba-rugi..jurnal retur penjualan - perpetual

Perhatikan, jurnal retur penjualan dan pengurangan harga di atas terdiri dari dua pasang jurnal. Pada saat barang dikembalikan oleh pelanggan, akun persediaan barang dagang juga didebit sebesar biaya perolehan barang yang dikembalikan oleh pelanggan. Akun beban pokok penjualan (harga pokok penjualan) dikredit untuk membatalkan pengakuan beban terkait biaya perolehan barang yang dikembalikan oleh pelanggan.

 

Jurnal biaya angkut penjualan—perpetual

Jika perusahaan dagang selaku penjual menanggung biaya pengiriman barang dari tempat perusahaan ke tempat pelanggan (FOB Destination/franco gudang pembeli), biaya angkut penjualan itu didebit/ditambahkan ke akun beban pengiriman penjualan dan dilaporkan sebagai bagian dari beban operasi dalam laporan laba-rugi.jurnal biaya angkut penjualan - perpetual

 

Jurnal potongan penjualan—perpetual

Jika perusahaan dagang memberikan potongan penjualan atau diskon penjualan, misalnya karena pelanggan melunasi faktur dalam periode potongan, potongan atau diskon itu didedit ke akun potongan penjualan. Potongan penjualan memiliki saldo normal debit dan dilaporkan sebagai pengurang pendapatan penjualan dalam laporan laba-rugi.jurnal potongan penjualan - perpetual

 

Jurnal penyesuaian perusahaan dagang—perpetual

Sistem persediaan perpetual tidak memerlukan jurnal penyesuaian terkait persediaan barang dagang dan beban pokok penjualan (harga pokok penjualan) pada akhir periode. Satu-satunya ayat jurnal penyesuaian yang diperlukan dalam perusahaan dagang yang menggunakan sistem perpetual adalah ketika terjadi selisih antara biaya perolehan persediaan barang dagang akhir menurut catatan akuntansi dengan biaya perolehan persediaan barang dagang akhir menurut hasil penghitungan fisik (stock opname). Jika ditemukan selisih, jurnal penyesuaian diperlukan untuk merekonsiliasi catatan akuntansi dengan hasil penghitungan fisik sebagai berikut:jurnal penyesuaian perusahaan dagang - perpetual

 

Jurnal penutup perusahaan dagang—perpetual

Jurnal penutup perusahaan dagang yang menggunakan sistem persediaan perpetual adalah sebagai berikut:jurnal penutupan perusahaan dagang - perpetual

Dengan dukungan teknologi komputer, sistem perpetual lebih unggul karena saldo persediaan dapat diketahui setiap waktu dan penghitungan fisik persediaan (stock opname) hanya perlu dilakukan sesuai kebutuhan (tidak harus dilakukan pada setiap akhir periode akuntansi). Contoh jurnal berikut menggunakan sistem persediaan perpetual. Pembahasan mengenai sistem persediaan periodik diberikan pada bagian berikutnya dari artikel ini.

 

Contoh jurnal perusahaan dagang

Ilustrasi siklus akuntansi perusahaan dagang yang diberikan di sini menggunakan contoh transaksi yang terjadi di DistriMarena, perusahaan distributor tunggal produk-produk kecantikan “Marena”. Ilustrasi hanya difokuskan pada transaksi-transaksi rutin perusahaan dagang, yaitu pembelian kredit, pembelian tunai, penjualan kredit, dan penjualan tunai.

Contoh dan pembahasan siklus akuntansi perusahaan dagang dalam artikel ini mengasumsikan bahwa DistriMarena adalah perusahaan dagang yang sudah beroperasi dan telah menerapkan sistem akuntansi berbasis akrual. Neraca saldo setelah penutupan DistriMarena per 30 November 20X1 disajikan sebagai berikut:neraca saldo setelah penutupan perusahaan dagang

Analisis transaksi DistriMarena yang terjadi selama bulan Desember dibahas pada bagian-bagian berikut.

 

Contoh jurnal #1: aktivitas operasi (pembayaran biaya operasi—gaji karyawan)

Pada tanggal 6 Desember, DistriMarena membayar biaya gaji dan upah sejumlah Rp8.000.000. Dari jumlah tersebut, Rp3.000.000 terkait dengan pekerjaan karyawan pada bulan Desember, sedangkan sisanya Rp5.000.000 terkait dengan pekerjaan karyawan pada bulan November (lihat akun Utang Gaji dan Upah dalam neraca saldo di atas).

Akun Utang Gaji dan Upah dalam neraca saldo di atas memiliki saldo kredit Rp5.000.000. Sebagaimana dalam siklus akuntansi perusahaan jasa, saldo kredit tersebut berasal dari pengakuan beban gaji dan upah yang masih harus dibayar pada saat DistriMarena membuat jurnal penyesuaian pada akhir bulan November, yaitu dengan debit ke akun Beban Gaji dan Upah dan kredit ke akun Utang Gaji dan Upah sejumlah Rp5.000.000.

Pembayaran gaji tanggal 6 Desember ini sebenarnya merupakan “pelunasan” utang gaji dan upah tersebut. Beban gaji dan upah untuk bulan Desember juga telah terjadi sebagian, yaitu dari tanggal 1 Desember (awal periode berjalan) sampai dengan tanggal 6 Desember. Jurnal untuk mencatat pembayaran gaji dan upah adalah sebagai berikut:contoh jurnal - pembayaran biaya operasi

Pada saat pemindahbukuan (posting) ke buku besar, akun Beban Gaji dan Upah (beban) didebit (bertambah) Rp3.000.000 dan akun Utang Gaji dan Upah (liabilitas/kewajiban) didebit (berkurang) Rp5.000.000. Di sisi lain, akun Kas (aset/aktiva) dikredit (berkurang) Rp8.000.000.

Setelah pemindahbukuan (posting) tersebut, akun Beban Gaji dan Upah memiliki saldo debit Rp3.000.000. Akun Utang Gaji dan Upah, yang merupakan beban yang masih harus dibayar menurut posisi keuangan tanggal 30 November, memiliki saldo nol. Akun Kas memiliki saldo Rp28.000.000 (Rp36.000.000 – Rp8.000.000).

 

Contoh jurnal #2: aktivitas operasi (penerimaan kas dari pelanggan)

Pada tanggal 8 Desember, DistriMarena menerima kas sejumlah Rp9.500.000 yang merupakan pembayaran faktur dari pelanggan (tidak ada potongan penjualan yang diberikan).

Penerimaan kas ini terkait saldo piutang usaha yang dibawa dari periode sebelumnya. Tidak ada pengakuan pendapatan pada saat ini, karena penjualan telah diakui dalam laba-rugi periode sebelumnya. Diskon tidak diberikan, diasumsikan pelanggan membayar faktur setelah periode potongan berakhir.

Jurnal untuk mencatat penerimaan kas oleh perusahaan dagang terkait pembayaran faktur dari pelanggan adalah sebagai berikut:contoh jurnal penerimaan kas - perpetual

Pada saat pemindahbukuan (posting) ke buku besar, akun Kas (aset/aktiva) didebit (bertambah) Rp9.500.000 dan akun Piutang Usaha (aset/aktiva) dikrebit (berkurang) dengan jumlah yang sama.

Setelah pemindahbukuan (posting) tersebut, akun Kas memiliki saldo debit Rp37.500.000 (Rp28.000.000 + Rp9.500.000). Akun Piutang Usaha memiliki saldo Rp13.500.000 (Rp23.000.000 – Rp9.500.000).

 

Contoh jurnal #3: aktivitas operasi (penjualan tunai barang dagangan)

Pada tanggal 10 Desember, DistriMarena menjual barang dagangan secara tunai dengan harga jual Rp31.500.000. Jumlah biaya perolehan (harga pokok) barang dagangan yang dijual itu adalah Rp20.500.000.

Dalam sistem perpetual, baik harga jual maupun biaya perolehan (harga pokok) barang yang dijual dicatat. Pengakuan pendapatan dilakukan dengan mengkredit akun pendapatan penjualan, atau seringkali disebut “penjualan” saja, dengan jumlah harga jual barang dagangan yang diserahkan kepada pelanggan. Dalam penjualan tunai, akun yang didebit adalah kas.

Pengakuan beban terkait penjualan dilakukan dengan mendebit akun beban pokok penjualan dengan jumlah biaya perolehan barang dagangan yang terjual. Akun yang dikredit adalah persediaan barang dagang, menghapuskan biaya perolehan barang dagangan yang terjual dari akun persediaan barang dagang.

Jurnal untuk mencatat penjualan tunai kepada pelanggan adalah sebagai berikut:contoh jurnal penjualan tunai - perpetual

Pada saat pemindahbukuan (posting) ke buku besar, akun Kas (aset/aktiva) didebit (bertambah) Rp31.500.000 dan akun Pendapatan Penjualan (pendapatan) dikrebit (bertambah) dengan jumlah yang sama. Di sisi lain, akun Beban Pokok Penjualan (beban) didebit (bertambah) Rp20.500.000 dan akun Persediaan Barang Dagang (aset/aktiva) dikrebit (berkurang) dengan jumlah yang sama.

Setelah pemindahbukuan (posting) tersebut, akun Kas memiliki saldo debit Rp69.000.000 (Rp37.500.000 + Rp31.500.000). akun Persediaan Barang Dagang memiliki saldo debit Rp39.500.000 (Rp60.000.000 – Rp20.500.000), akun Pendapatan Penjualan memiliki saldo kredit Rp31.500.000, dan akun Beban Pokok Penjualan memiliki saldo debit Rp20.500.000.

Laba kotor yang diperoleh dari transaksi di atas adalah Rp11.000.000 (Rp31.500.000 – Rp20.500.000).

 

Contoh jurnal #4: aktivitas operasi (pembelian kredit)

Pada tanggal 13 Desember, DistriMarena membeli barang dagangan secara kredit dari PT Marena Indonesian Beauty dengan biaya perolehan Rp45.000.000, syarat pembayaran 2/10, n/30.

Dalam sistem perpetual, pembelian barang dagangan didebit langsung ke akun persediaan barang dagang. Akun yang dikredit adalah utang usaha jika pembelian dilakukan secara kredit atau kas jika pembelian dilakukan secara tunai.

Jurnal untuk mencatat pembelian kredit kepada pemasok adalah sebagai berikut:contoh jurnal pembelian kredit - perpetual

Pada saat pemindahbukuan (posting) ke buku besar, akun Persediaan Barang Dagang (aset/aktiva) didebit (bertambah) Rp45.000.000 dan akun Utang Usaha (liabilitas/kewajiban) dikrebit (bertambah) dengan jumlah yang sama.

Setelah pemindahbukuan (posting) tersebut, akun Persediaan Barang Dagang memiliki saldo debit Rp84.500.000 (Rp39.500.000 + Rp45.000.000) dan akun Utang Usaha memiliki saldo kredit Rp67.500.000 (Rp22.500.000 + Rp45.000.000).

 

Contoh jurnal #5: aktivitas operasi (pembelian tunai barang habis pakai)

Pada tanggal 15 Desember, DistriMarena membeli barang habis pakai secara tunai dari PT Sidharta dengan biaya perolehan Rp10.000.000.

Pembelian persediaan barang habis pakai diperlakukan sama dengan pembelian persediaan barang dagang, yaitu dengan debit langsung ke akun aset/aktiva sebesar biaya perolehan. Akun yang dikredit adalah utang usaha jika pembelian dilakukan secara kredit atau kas jika pembelian dilakukan secara tunai.

Jurnal untuk mencatat pembelian tunai barang habis pakai kepada pemasok adalah sebagai berikut:contoh jurnal pembelian tunai - perpetual

Pada saat pemindahbukuan (posting) ke buku besar, akun Persediaan Barang Habis Pakai (aset/aktiva) didebit (bertambah) Rp10.000.000 dan akun Kas (aset/aktiva) dikrebit (berkurang) dengan jumlah yang sama.

Setelah pemindahbukuan (posting) tersebut, akun Persediaan Barang Habis Pakai memiliki saldo debit Rp16.000.000 (Rp6.000.000 + Rp10.000.000) dan akun Kas memiliki saldo debit Rp59.000.000 (Rp69.000.000 – Rp10.000.000).

 

Contoh jurnal #6: aktivitas operasi (penjualan kredit barang dagangan)

Pada tanggal 18 Desember, DistriMarena menjual barang dagangan secara kredit kepada pelanggan, harga jual Rp60.000.000, biaya perolehan Rp40.000.000, syarat faktur 3/10, n/30.

Sifat transaksi ini sama dengan transaksi #3 penjualan tunai barang dagangan. Pengakuan pendapatan dilakukan dengan mengkredit akun pendapatan penjualan, dengan jumlah harga jual barang dagangan yang diserahkan kepada pelanggan. Dalam penjualan kredit, akun yang didebit adalah piutang usaha.

Pengakuan beban terkait penjualan dilakukan dengan mendebit akun beban pokok penjualan dengan jumlah biaya perolehan barang dagangan yang terjual. Akun yang dikredit adalah persediaan barang dagang, menghapuskan biaya perolehan barang dagangan yang terjual dari akun persediaan barang dagang.

Jurnal untuk mencatat penjualan kredit kepada pelanggan adalah sebagai berikut:contoh jurnal penjualan kredit - perpetual

Pada saat pemindahbukuan (posting) ke buku besar, akun Piutang Usaha (aset/aktiva) didebit (bertambah) Rp60.000.000 dan akun Pendapatan Penjualan (pendapatan) dikrebit (bertambah) dengan jumlah yang sama. Di sisi lain, akun Beban Pokok Penjualan (beban) didebit (bertambah) Rp40.000.000 dan akun Persediaan Barang Dagang (aset/aktiva) dikrebit (berkurang) dengan jumlah yang sama.

Setelah pemindahbukuan (posting) tersebut, akun Piutang Usaha memiliki saldo debit Rp73.500.000 (Rp13.500.000 + Rp60.000.000). akun Persediaan Barang Dagang memiliki saldo debit Rp44.500.000 (Rp84.500.000 – Rp40.000.000), akun Pendapatan Penjualan memiliki saldo kredit Rp91.500.000 (Rp31.500.000 + Rp60.000.000), dan akun Beban Pokok Penjualan memiliki saldo debit Rp60.500.000 (Rp20.500.000 + Rp40.000.000).

Laba kotor yang diperoleh dari transaksi di atas adalah Rp20.000.000 (Rp60.000.000 – Rp40.000.000).

 


Warsidi, CA
Dosen Tetap Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman
Anggota Ikatan Akuntan Indonesia
Terakhir diperbaharui: April 2017 (dalam proses penulisan)
Read more ...