3/07/2010

Pendidikan di negeri antah berantah

Sewaktu masih bekerja di Jakarta, kepada seorang kolega saya pernah menyatakan, "Saya tidak percaya lagi dengan gelar akademik. Omong kosong itu."

Pernyataan tersebut sebenarnya merupakan ekspresi dari keprihatinan saya atas praktik pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, di Jakarta. Bukan rahasia lagi, sebagian perguruan tinggi di Jakarta menerbitkan ijazah/gelar akademik tanpa melalui proses pendidikan yang semestinya.

Saya melihat memang ada pasar bagi "layanan pendidikan" instan itu. Ketatnya persaingan antar perguruan tinggi di Jakarta sepertinya adalah penyebab lainnya. Situasi diperparah oleh mindset bisnis pemilik/pengelola perguruan tinggi yang pragmatis dan kontrol dari pemerintah yang lemah.

Terkait plagiarisme, ketika di Jakarta, saya juga dosen yang paling malas membimbing penelitian mahasiswa. Mengapa? Saya tahu persis banyak penelitian itu yang hanya ganti cover dan nama.

Saya justru heran, mengapa maraknya plagiarisme dan bobroknya pendidikan kita baru dipersoalkan setelah adanya kasus yang terungkap di media masa?

Pejabat publik di Indonesia sepertinya memang belum sembuh penyakitnya, kagetan. Ada isu, kaget, baru bereaksi alakadarnya, selesai.

Saya juga geli dengan pernyataan Jusuf Kalla. Beberapa waktu lalu dia bilang bingung melihat pejabat daerah yang gelar akademiknya "tiba-tiba" nongkrong. Dia bingung, kok cepat sekali, di mana sekolahnya. "Kalau dia sadar bahwa pendidikan adalah area strategis bagi kemajuan dan daya saing bangsa, mengapa waktu itu Bapak, selaku wapres, cuma berhenti di bingung, tidak mendalami lebih lanjut?"

Akuntansi keuangan lanjutan II, penugasan 1

Untuk lebih mengakrabkan mahasiswa dengan ketentuan, konsep, dan terminologi akuntansi dalam IFRS, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:

3/04/2010

Opsi AC dan omong kosong

Ada fenomena menarik dalam sidang paripurna DPR. Seperti diberitakan, lobi selama berjam-jam memunculkan alternatif opsi AC yang sempat diusulkan untuk disejajarkan dengan opsi A yang mendukung kebijakan bailout Century dan opsi C yang mempermasalahkan kebijakan tersebut.

Fraksi pengusung opsi AC berargumen bahwa baik opsi A maupun opsi C sama-sama mengandung kebenaran. Kedua opsi itu juga dianggap sama-sama berimplikasi kepada pengusutan secara hukum atas kasus Century. Masuk akalkah argumen itu?

Sedikit geli saya mencermatinya. Orang yang sangat awam politik pun pasti menangkap adanya semangat yang bertentangan antara opsi A yang mendukung kebijakan bailout Century dan opsi C yang mempermasalahkan kebijakan tersebut. Substansi kandungan dan kepentingan yang melandasi kedua opsi itu berbeda 180 derajat, itulah sebabnya Partai Demokrat merasa berseberangan dan dikhianati oleh partai-partai mitra koalisinya.

Pengakuan bahwa kedua opsi mengandung kebenaran dan sama-sama harus diterima, sebagaimana argumentasi pihak yang mengusung opsi alternatif kombinasi AC, justru mengandung "jebakan" yang manipulatif. Opsi tersebut tidak lain sekadar upaya kompromi Partai Demokrat pada saat-saat terakhir perjuangannya membela kebijakan bailout Century.

Untunglah opsi yang tidak masuk di akal itu akhirnya ditolak. Kalau saja diterima, berarti memang benar bahwa akal sehat legislator Senayan itu memang agak error. :)

Apakah kemenangan opsi C yang mempermasalahkan kebijakan penyelamatan Century itu benar-benar mencerminkan kemenangan rakyat? Tidak juga. Sejak awal saya skeptis dengan kinerja Pansus Angket Century. Dan ternyata terbukti. Pertanyaan awal bahwa dana Century mengalir ke tim kampanya SBY-Boediono dan ke partai politik tidak terungkap. Hm, kalau ujung-ujungnya hanya merekomendasikan proses hukum, mengapa harus ada panitia angket yang menghabiskan dana lebih dari Rp1 miliar? Kalau cuma mengawal proses hukum, tanpa angket pun bukan masalah.

Tapi itulah "rakyat" Indonesia yang suka mencari-cari proyek di setiap kesempatan. Kalau tidak ada angket, Golkar dan PKS 'kan kurang tenar jadinya? Dan yang penting bagi mereka, Pak Boediono dan Bu Ani harus dilenyapkan.

3/02/2010

Rencana pembelajaran akuntansi keuangan lanjutan II

Seiring dengan agenda konvergensi Indonesia ke IFRS pada tahun 2012, mulai semester ini saya mengubah sepenuhnya orientasi pembelajaran akuntansi keuangan. Jika sebelumnya, IFRS hanya digunakan sebagai pembanding terhadap PSAK dan SFAS, maka mulai saat ini IFRS akan menjadi acuan utama pembelajaran.

Meskipun demikian, mengingat semester ini adalah semester genap, mata kuliah akuntansi keuangan lanjutan yang diajarkan masih merupakan kelanjutan dari semester sebelumnya. Perubahan hanya terkait dengan referensi utama yang digunakan.

Referensi pembelajaran

  • Tan & Lee, 2009. Advanced Financial Accounting: An IAS and IFRS Approch, Updated Edition, McGraw-Hill Education
  • IASB, 2009. International Financial Reporting Standards as issued at 1 January 2009
  • PSAK-IAI yang relevan
  • Regulasi tentang perseroan dan pasar modal di Indonesia

Tujuan pembelajaran

Dalam masa transisi ini, pokok bahasan untuk semester genap difokuskan kepada pelaporan kelompok usaha (group reporting). Urutan pembahasan ini sebenarnya hanya merupakan kelanjutan dari semester sebelumnya, mengingat topik-topik terkait group reporting belum diajarkan di semester ganjil.

Untuk semester-semester mendatang, topik tentang group reporting akan diajarkan di semester genap. Saya bahkan berpendapat, mata kuliah akuntansi keuangan lanjutan sebenarnya cukup diberikan satu semester.

Terkait group reporting ini, pembelajaran ditujukan agar mahasiswa memahami konsep dasar serta menguasai prinsip dan metode pengakuan, pengukuran, dan pelaporan kueangan atas transaksi dan kejadian yang terkait dengan hubungan korporasi. Transaksi dan kejadian dimaksud mencakup penggabungan usaha, pelaporan keuangan konsolidasi, perlakuan akuntansi untuk investasi dengan metode ekuitas, dan topik-topik khusus dalam pelaporan kelompok usaha.

Pokok-pokok bahasan

Secara rinci, topik-topik yang akan dibahas mencakup:

  • Basic concepts of group reporting (1 week)
  • Application of acquisition method under IFRS 3 (3 weeks)
  • Consolidation under IAS 27 (3 weeks)
  • Equity accounting under IAS 28 (2 weeks)
  • Special issues in group reporting (3 weeks)

Perkuliahan diagendakan selama 12 kali. Sisanya, jika ada, akan degunakan untuk pendalaman dan pemberian materi tambahan yang relevan (misalnya, akuntansi untuk ventura bersama – joint venture).

Evaluasi kemajuan belajar dan penilaian

Seperti perkuliahan pada semester ganjil, perkuliahan pada dasarnya lebih berorientasi proses. Dengan demikian mahasiswa DIWAJIBKAN untuk mengerjakan end-of-chapter assignment, baik secara individual maupun secara kolektif.

Mahasiswa juga disarankan untuk mengikuti perkembangan terkini terkait topik yang dibahas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Seperti semester sebelumnya, bobot penilaian akan deberikan lebih besar kepada kinerja mahasiswa dalam menyelesaikan penugasan.

2/27/2010

Visi dan misi hidup, sepenting apakah bagi kita

Istilah visi (vision), misi, (mission) dan nilai (values) adalah tiga hal yang perlu dirumuskan ketika sebuah organisasi menyusun rencana strategis. Pendekatan strategis ini sangat populer dan telah diterapkan baik oleh perusahaan maupun organisasi nirlaba, termasuk institusi pemerintah.

Sayang sekali dalam praktik, saya seringkali menjumpai dokumen rencana strategis sekadar dimaknai sebagai formalitas yang harus ada. Spirit atau ide dasar yang melandasinya kerap kali diabaikan.

Sebagai contoh, beberapa kali saya terlibat dalam perumusan rencana strategis di perguruan tinggi. Motivasi perumusan rencana strategis itu bukanlah untuk pengembangan lembaga, tetapi lebih karena tuntutan administratif. Seperti diketahui, pengajuan akreditasi program studi/institusi, pengajuan dana hibah, dan sebagainya, mensyaratkan perguruan tinggi untuk menyertakan dokumen rencana strategis. Setelah tujuan "khusus" itu tercapai, dokumen itupun dilupakan begitu saja. Tidak ada kesungguhan untuk memaknai keberadaan dokumen itu sebagaimana mestinya.

Mengawali perkuliahan semester ini, saya mengajak semua mahasiswa, terutama yang menjadi asuhan saya, untuk memaknai konsep visi, misi, dan nilai dasar ini secara sungguh-sungguh. Saya ingat pada awal saya kembali ke Unsoed, penugasan pertama yang saya terima sebagai "junior" adalah menjadi trainer soft skill.

Coba Anda ingat, apa visi dan misi Unsoed, apa visi dan misi Fakultas Ekonomi. Bila perlu, tanyakan kepada Ketua Program Studi, apa visi dan misi program studi Anda.

Tentu saja Anda boleh mengkritisi visi dan misi itu, baik menyangkut substansinya maupun implementasinya dalam praktik.

Dan yang tak kalah pentingnya adalah merefleksikan apa sebenarnya yang menjadi visi dan misi Anda sendiri sebagai pribadi, apa nilai-nilai yang Anda hayati selama ini. Apapun itu, bukanlah saya yang akan menentukannya, Anda sendirilah yang memutuskan.

Sekadar mengingatkan, status Anda sebagai mahasiswa di perguruan tinggi tidaklah gratis. Anda juga menanggung opportunity cost terkait waktu dan upaya yang Anda luangkan untuk belajar.

Cobalah berpikir ulang, apa yang sebenarnya diimpikan tentang diri Anda, lima atau sepuluh tahun mendatang. Saya yakin Anda sudah familiar dengan istilah cita-cita. Visi sebenarnya sama dengan mimpi atau cita-cita, tetapi dirasionalisasi sedemikian rupa sehingga menjadi terukur (measurable).

Sebagai contoh, saya bercita-cita dalam usia 45 tahun menjadi guru besar yang diperhitungkan di tingkat nasional dengan penghasilan di atas Rp20 juta per bulan. Anda mungkin menetapkan visi menjadi akuntan manajer di perusahaan multinasional dengan gaji Rp50 juta. Mengapa tidak?

Setelah impian itu ditetapkan dan terukur, maka 100% upaya (efforts) Anda curahkan untuk mencapainya. Tak ada jaminan bahwa apa yang Anda impikan akan tercapai, tapi saya percaya, hidup dengan orientasi yang jelas dan terukur jauh lebih berkualitas. Saya sampaikan ini secara datar, tidak emosional, karena tidak ingin merebut lahan para motivator seperti Mario Teguh. :) Saya juga aktor seperti Anda, tidak mencari nafkah dengan menjual motivasi kepada orang lain.

Upaya 100% (total) untuk mencapai visi itulah sebenarnya yang dimaksud dengan misi, merupakan jawaban atas pertanyaan apa yang akan Anda lakukan. Meraih prestasi terbaik di kelas, menjadi pengurus himpunan mahasiswa jurusan, aktif di seminar dan forum-forum mahasiswa, studi lanjut ke luar negeri, dan sebagainya adalah rencana aksi yang mungkin Anda pilih. Saya tegaskan Anda "memilih" karena resources dan kapasitas kita terbatas. Karena harus memilih inilah, konsep strategi menjadi penting.

Selain resources dan kapasitas Anda terbatas, faktor-faktor luar juga mempengaruhi pilihan tindakan Anda. Sebut saja persaingan global profesi akuntan, SDM lokal yang dipersepsikan kurang berkualitas, ketersediaan lapangan kerja dalam 5 - 10 tahun mendatang, adalah beberapa contoh variabel eksternal yang dipertimbangkan saat Anda menentukan strategi untuk bertindak.

Dan ingat, supaya visi, misi, dan strategi Anda dapat menjadi acuan kinerja, tetapkanlah ukuranya. Dalam rangka mencapai prestasi terbaik, Anda tetapkan berapa halaman buku teks, berapa judul artikel/berita, yang harus Anda baca per hari. Bila perlu, tentukan jadwal harian Anda secara rinci (walaupun saya sendiri tidak bisa menetapkan jadwal semacam ini).

Bersikap positif dalam segala situasi, menjalin persahabatan seluas-luasnya, percaya diri, jujur, menjaga kepercayaan dalam bermitra dengan orang lain, adalah contoh nilai-nilai dasar yang mungkin Anda anut dalam menjalani hidup sehari-hari.

Walaupun tidak bercita-cita menjadi motivator seperti Mario Teguh, percaya kepada saya, hidup Anda akan jauh lebih bermakna dan berkualitas ketika Anda memiliki mimpi yang jelas, dapat dicapai, dan terukur pencapaiannya.

 
Copyright © 2009 Warsidi