Visi dan misi hidup, sepenting apakah bagi kita

Istilah visi (vision), misi, (mission) dan nilai (values) adalah tiga hal yang perlu dirumuskan ketika sebuah organisasi menyusun rencana strategis. Pendekatan strategis ini sangat populer dan telah diterapkan baik oleh perusahaan maupun organisasi nirlaba, termasuk institusi pemerintah.

Sayang sekali dalam praktik, saya seringkali menjumpai dokumen rencana strategis sekadar dimaknai sebagai formalitas yang harus ada. Spirit atau ide dasar yang melandasinya kerap kali diabaikan.

Sebagai contoh, beberapa kali saya terlibat dalam perumusan rencana strategis di perguruan tinggi. Motivasi perumusan rencana strategis itu bukanlah untuk pengembangan lembaga, tetapi lebih karena tuntutan administratif. Seperti diketahui, pengajuan akreditasi program studi/institusi, pengajuan dana hibah, dan sebagainya, mensyaratkan perguruan tinggi untuk menyertakan dokumen rencana strategis. Setelah tujuan "khusus" itu tercapai, dokumen itupun dilupakan begitu saja. Tidak ada kesungguhan untuk memaknai keberadaan dokumen itu sebagaimana mestinya.

Mengawali perkuliahan semester ini, saya mengajak semua mahasiswa, terutama yang menjadi asuhan saya, untuk memaknai konsep visi, misi, dan nilai dasar ini secara sungguh-sungguh. Saya ingat pada awal saya kembali ke Unsoed, penugasan pertama yang saya terima sebagai "junior" adalah menjadi trainer soft skill.

Coba Anda ingat, apa visi dan misi Unsoed, apa visi dan misi Fakultas Ekonomi. Bila perlu, tanyakan kepada Ketua Program Studi, apa visi dan misi program studi Anda.

Tentu saja Anda boleh mengkritisi visi dan misi itu, baik menyangkut substansinya maupun implementasinya dalam praktik.

Dan yang tak kalah pentingnya adalah merefleksikan apa sebenarnya yang menjadi visi dan misi Anda sendiri sebagai pribadi, apa nilai-nilai yang Anda hayati selama ini. Apapun itu, bukanlah saya yang akan menentukannya, Anda sendirilah yang memutuskan.

Sekadar mengingatkan, status Anda sebagai mahasiswa di perguruan tinggi tidaklah gratis. Anda juga menanggung opportunity cost terkait waktu dan upaya yang Anda luangkan untuk belajar.

Cobalah berpikir ulang, apa yang sebenarnya diimpikan tentang diri Anda, lima atau sepuluh tahun mendatang. Saya yakin Anda sudah familiar dengan istilah cita-cita. Visi sebenarnya sama dengan mimpi atau cita-cita, tetapi dirasionalisasi sedemikian rupa sehingga menjadi terukur (measurable).

Sebagai contoh, saya bercita-cita dalam usia 45 tahun menjadi guru besar yang diperhitungkan di tingkat nasional dengan penghasilan di atas Rp20 juta per bulan. Anda mungkin menetapkan visi menjadi akuntan manajer di perusahaan multinasional dengan gaji Rp50 juta. Mengapa tidak?

Setelah impian itu ditetapkan dan terukur, maka 100% upaya (efforts) Anda curahkan untuk mencapainya. Tak ada jaminan bahwa apa yang Anda impikan akan tercapai, tapi saya percaya, hidup dengan orientasi yang jelas dan terukur jauh lebih berkualitas. Saya sampaikan ini secara datar, tidak emosional, karena tidak ingin merebut lahan para motivator seperti Mario Teguh. :) Saya juga aktor seperti Anda, tidak mencari nafkah dengan menjual motivasi kepada orang lain.

Upaya 100% (total) untuk mencapai visi itulah sebenarnya yang dimaksud dengan misi, merupakan jawaban atas pertanyaan apa yang akan Anda lakukan. Meraih prestasi terbaik di kelas, menjadi pengurus himpunan mahasiswa jurusan, aktif di seminar dan forum-forum mahasiswa, studi lanjut ke luar negeri, dan sebagainya adalah rencana aksi yang mungkin Anda pilih. Saya tegaskan Anda "memilih" karena resources dan kapasitas kita terbatas. Karena harus memilih inilah, konsep strategi menjadi penting.

Selain resources dan kapasitas Anda terbatas, faktor-faktor luar juga mempengaruhi pilihan tindakan Anda. Sebut saja persaingan global profesi akuntan, SDM lokal yang dipersepsikan kurang berkualitas, ketersediaan lapangan kerja dalam 5 - 10 tahun mendatang, adalah beberapa contoh variabel eksternal yang dipertimbangkan saat Anda menentukan strategi untuk bertindak.

Dan ingat, supaya visi, misi, dan strategi Anda dapat menjadi acuan kinerja, tetapkanlah ukuranya. Dalam rangka mencapai prestasi terbaik, Anda tetapkan berapa halaman buku teks, berapa judul artikel/berita, yang harus Anda baca per hari. Bila perlu, tentukan jadwal harian Anda secara rinci (walaupun saya sendiri tidak bisa menetapkan jadwal semacam ini).

Bersikap positif dalam segala situasi, menjalin persahabatan seluas-luasnya, percaya diri, jujur, menjaga kepercayaan dalam bermitra dengan orang lain, adalah contoh nilai-nilai dasar yang mungkin Anda anut dalam menjalani hidup sehari-hari.

Walaupun tidak bercita-cita menjadi motivator seperti Mario Teguh, percaya kepada saya, hidup Anda akan jauh lebih bermakna dan berkualitas ketika Anda memiliki mimpi yang jelas, dapat dicapai, dan terukur pencapaiannya.

No comments:

Post a Comment