02 April 2010

Rule-based versus principle-based accounting

Sebagian orang Amerika Serikat, akuntan dan pembuat kebijakan pasar modal di sana (SEC), bersikap resisten terhadap konvergensi standar akuntansi yang berlaku di negara itu (US GAAP) dengan standar akuntansi internasional (IFRS). Selama satu abad, bahkan mungkin lebih, Amerika Serikat memang menjadi rujukan dalam perkembangan profesi akuntansi dunia.

Salah satu argumen dari pihak yang tidak sepakat dengan konvergensi US GAAP dengan IFRS menyatakan, IFRS akan mengakibatkan komparabilitas (daya banding) laporan keuangan menjadi sulit, bahkan mustahil.

Oleh para penyusunnya, IASB, IFRS dirancang untuk menjadi standar akuntansi yang berlaku secara global. Mengingat konteks ekonomi, politik, dan hukum di masing-masing negara berbeda-beda satu sama lain, pengembangan IFRS diklami lebih berbasis prinsip (principle-based). Teori akuntansi yang original diharapkan lebih melandasi standar akuntansi internasional, bukan kebijakan negara atau produk hukum tertentu.

Implikasinya, IFRS memang lebih fleksibel dan memberikan keleluasaan yang lebih besar terhadap akuntan untuk menggunakan pertimbangan profesional (professional judgment). Implikasi inilah yang dijadikan alasan, IFRS justru akan mempersulit komparabilitas laporan keuangan dan menyuburkan manipulasi laporan keuangan. (Baca misalnya, IFRS Will Make Financial Statement Comparison an Impossibility.)

Bandingkan misalnya dengan US GAAP yang sangat ketat. Pertimbangan profesional telah “direduksi” menjadi pohon keputusan (decision tree), dalam kondisi apa harus melakukan apa. Standar akuntansi Amerika Serikat, seperti halnya standar nasional di negara-negara lain, sangat erat terkait dengan konteks ekonomi, sosial, dan hukum yang berlaku. Dengan kata lain, pengembangan standar akuntansi lebih berbasis aturan (rule-based).

No comments:

Post a Comment