14 September 2010

Mengapa harus beralih ke Linux/Ubuntu?

Ubuntu Pertanyaan ini cukup lama ada di benak saya. Saya bukan seorang yang ahli dalam IT, kemampuan pas-pasan, hanya mentok di install dan uninstall software, buat apa repot-repot pindah ke Linux/Ubuntu? Bukankah semua kebutuhan saya dalam hal komputasi sudah terpenuhi dengan Windows, bahkan lebih dari cukup? Windows adalah sistem operasi yang dirancang untuk dijual, dapat dipastikan ada garansi dari Microsoft. Tapi Ubuntu, siapa yang akan membantu jika terjadi masalah?

Jika kita tidak punya cukup uang untuk membeli software, alasan ekonomislah yang paling penting untuk beralih ke Linux/Ubuntu. Sistem operasi ini dirancang dengan sistem terbuka (open source), sehingga tidak membebankan sepeser pun kepada penggunanya. Kita bisa menggandakan installer Ubuntu, membagikannya kepada siapa pun, dan tetap dalam posisi yang benar secara hokum. Kalau mampu, kita bahkan boleh memodifikasi dan membagikannya kepada siapa pun yang membutuhkan. Itulah inti dari filosofi open source, kode sumber program dibuka, dikembangkan bersama, digunakan bersama.

Khusus untuk Ubuntu, bahkan ada satu yang menggembirakan. Sebagai pengguna awam saya menemukan, Ubuntu lebih andal dibandingkan Windows XP! Saya mencoba dual-boot, XP dengan Ubuntu selama beberapa waktu dan ternyata Ubuntu versi 10.04 jauh lebih canggih daripada Windows XP. Sekali lagi, ini pendapat orang awam.

Sesaat setelah kita menginstal Ubuntu, sistem ini sudah dilengkapi dengan Mozilla Firefox, sehingga kita sudah langsung bisa mengakses Web. Ubuntu juga sudah dilengkapi dengan aplikasi-aplikasi dari OpenOffice.org, sehingga kita bisa langsung membuat dokumen, menggunakan spreadsheet, dan membuat presentasi, seperti yang biasa kita lakukan dengan Microsoft Office. Dan satu hal, aplikasi OpenOffice.org juga kompatibel dengan Microsoft Office. Artinya, file-file yang semula dibuat dengan Microsoft Office tetap bisa dibaca dan diedit di OpenOffice.org. Kita juga bisa tetap kerja bareng-bareng dengan teman atau kolega yang masih menggunakan Microsoft Office.

Apa lagi yang dibutuhkan oleh pengguna komputer pada umumnya? Multimedia? Lagi-lagi kita beruntung. Meskipun Ubuntu adalah sistem operasi gratisan, sistem ini juga sudah dilengkapi dengan software pemutar lagu dan video, semacam WinAmp atau Windows Media Player. Karena sebagian besar file multimedia terkait dengan hak cipta, kita hanya perlu mengunduh beberapa plugin dari Internet untuk memainkan MP3, VCD, dan DVD. Dan berbahagialah, karena semua software, termasuk plugin dan driver untuk meningkatkan fungsionalitas Ubuntu dapat diperoleh secara cuma-cuma alias gratis.

Nah, setelah semua kebutuhan dasar kita dalam menggunakan komputer bisa terpenuhi hanya dengan sistem operasi gratisan, masihkah ada alasan untuk tetap menggunakan Windows? Lebih malang lagi jika Anda pengguna Windows bajakan...segera bertobatlah karena Anda akan terkena razia di bandara setiap kali akan meninggalkan Indonesia. :)

Dan ini yang terpenting mengenai Ubuntu. Seperti yang biasa dibangga-banggakan oleh Microsoft, Ubuntu yang dibangun di atas kernel Linux juga sangat ramah dengan pengguna (user friendly). Anda, seperti juga saya, tak perlu memahami sedikitpun soal pemrograman, tinggal pilih menu, klik sana, klik sini, sama dengan ketika kita mengoperasikan Windows. Sejalan dengan spiritnya, “Linux untuk umat manusia,” Ubuntu juga mengakomodir orang-orang dengan kebutuhan khusus, seperti kekurangan penglihatan, pendengaran, atau tuna daksa. Teknologi asistif yang dikembangkan Ubuntu, sistem operasi gratisan itu, tak kalah canggih dengan Windows...

3 comments:

  1. tapi juga tragis sekali...ketika sebuah lembaga tinggi pada awalnya menggunakan Microsoft windows sebagai basis sistemnya, sistem sudah tertata dengan baik tinggal menyempurnakan...tiba-tiba ada pergantian pimpinan (tiap pimpinan aliran teknologi berbeda, dan tiba2 semua sistem secara perlahan diganti berbasis Linux.... staff IT programer sbg programer handal selama 10 th terakhir(aliran microsoft) tiba2 tak berharga sama sekali...karena pimpinan baru membawa Gang Linux-nya ....

    ReplyDelete
  2. Agak kompleks masalahnya kalau menyangkut lembaga, Pak. Apa yang Bapak sampaikan mengungkap kondisi di instansi2 kita, sistem lemah, preferensi atau selera pimpinan dominan. Padahal, perubahan sistem harusnya direncanakan dgn cermat, biaya dan manfaatnya dihitung, dst...

    ReplyDelete