09 December 2010

Teori X v.s. teori Y: mana yang paling cocok diterapkan di Indonesia?

Bagi yang terbiasa berinteraksi dengan pembelajar, Anda mungkin menganggap pertanyaan semacam itu khas pertanyaan mahasiswa. Ya, itu memang dilontarkan oleh seorang murid saya dalam kuliah beberapa minggu yang lalu. Bagi sebagian kita yang terlanjur diracuni dengan virus demokrasi, mungkin akan dengan cepat menganggap teori Y paling bagus. Teori Y yang menggambarkan pandangan positif manajer terhadap bawahannya terkesan lebih memberdayakan, lebih manusiawi...lebih positif.

Tapi benarkah itu cocok untuk mengelola orang Indonesia? Saya ingat cerita beberapa teman yang pernah menetap di luar negeri. Mereka bilang, orang-orang sana umumnya "lebih dewasa" dibandingkan kita. Ambil contoh dalam hal membuang sampah atau mematuhi aturan. Keegoisan orang-orang di terminal Kampung Melayu tercermin dari berserakannya sampah di sana. Saya juga baru saja usai mendengarkan komentar skeptis orang-orang di Elshinta, yang intinya sangat sulit orang kita dalam menegakkan aturan main bersama.

Kembali ke teori Y yang memberdayakan itu, apakah kalau diterapkan dalam budaya kita tidak justru mengakibatkan penyalahgunaan? :)

1 comment: