Teori X v.s. teori Y: mana yang paling cocok diterapkan di Indonesia?

Bagi yang terbiasa berinteraksi dengan pembelajar, Anda mungkin menganggap pertanyaan semacam itu khas pertanyaan mahasiswa. Ya, itu memang dilontarkan oleh seorang murid saya dalam kuliah beberapa minggu yang lalu. Bagi sebagian kita yang terlanjur diracuni dengan virus demokrasi, mungkin akan dengan cepat menganggap teori Y paling bagus. Teori Y yang menggambarkan pandangan positif manajer terhadap bawahannya terkesan lebih memberdayakan, lebih manusiawi...lebih positif.

Tapi benarkah itu cocok untuk mengelola orang Indonesia? Saya ingat cerita beberapa teman yang pernah menetap di luar negeri. Mereka bilang, orang-orang sana umumnya "lebih dewasa" dibandingkan kita. Ambil contoh dalam hal membuang sampah atau mematuhi aturan. Keegoisan orang-orang di terminal Kampung Melayu tercermin dari berserakannya sampah di sana. Saya juga baru saja usai mendengarkan komentar skeptis orang-orang di Elshinta, yang intinya sangat sulit orang kita dalam menegakkan aturan main bersama.

Kembali ke teori Y yang memberdayakan itu, apakah kalau diterapkan dalam budaya kita tidak justru mengakibatkan penyalahgunaan? :)

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Download PSAK terbaru | PDF | exposure draft

Contoh jurnal dan laporan keuangan perusahaan jasa

Contoh jurnal penjualan dan pertukaran aktiva tetap

Pengertian dan contoh jurnal transaksi penerbitan saham perseroan terbatas

Pengertian dan contoh jurnal utang wesel (wesel bayar)

Neraca: laporan posisi keuangan

Cara menghitung nilai sekarang obligasi

Akuntansi piutang usaha | piutang dagang

Contoh jurnal dan cara menghitung PPh pasal 23

Cara menghitung biaya persediaan FIFO dan HPP dengan Excel