08 April 2010

Identifiable net assets dan goodwill

Seperti pembelian pada umumnya, penerapan metode akuisisi dalam penggabungan usaha juga mengharuskan adanya “sesuatu” yang dibeli. Karena yang dibeli adalah bisnis atau usaha, maka akuisisi berarti mengambil alih asset dan menanggung liabilitas dari bisnis yang diakuisisi. Penting untuk diklarifikasi di awal, istilah asset netto (net assets) dalam konteks penggabungan usaha adalah asset yang diperoleh dikurangi liabilitas yang ditanggung. Istilah ini disebutkan berulang-ulang dalam IFRS 3.

Seperti halnya konsiderasi, asset yang diperoleh dan liabilitas yang ditanggung juga harus diukur nilai wajarnya pada tanggal akuisisi. Prinsip nilai wajar ini didasari asumsi, akuisisi bukan merupakan likuidasi, melainkan transaksi sukarela oleh pihak-pihak yang mau dan memiliki informasi yang memadai terkait transaksi yang mereka lakukan.

Seperti disinggung sebelumnya, salah satu tahap dalam penerapan metode akuisisi adalah mengidentifikasi, mengukur, dan mengakui asset netto yang diperoleh dan kepentingan non-pengendali (non-controlling interests), jika ada. Tahap “mengidentifikasi” penting untuk dicermati. IFRS 3 membedakan asset yang diperoleh menjadi dua, yang dapat diidentifikasi (identifiable) dengan yang tidak dapat diidentifikasi (unidentifiable).

Penting juga untuk dicermati, asset yang dapat diidentifikasi (identifiable assets) juga mencakup asset tidak berwujud (intangible assets). Di samping itu, ketika “mengidentifikasi”, liabilitas bersyarat (continget liabilities) juga harus diidentifikasi. (Maaf, kalimat saya mengandung kata-kata yang diulang, disengaja untuk memberikan penekanan.)

Dalam kaitannya dengan intangible assets dan contingent liabilities, IFRS 3 bahkan mengharuskan acquirer untuk mengidentifkasi, mengakui dan mengukur nilai wajarnya pada tanggal akuisisi, meskipun dalam laporan keuangan terpisah acquiree, item-item intangibles dan contingencies itu tidak dicatat. Lagi-lagi, alasannya adalah karena penggabungan usaha dipandang sebagai pembelian. Implikasinya, semua asset, termasuk intangibles, dan semua liabilitas, termasuk contingencies, harus dianggap sebagai bagian dari bisnis yang dibeli, dan diukur nilai wajarnya.

Setelah semua asset dan liabilitas diidentifikasi dan diukur nilai wajarnya per tanggal akuisisi—sekali lagi termasuk intangibles dan contingencies, jumlah nettonya disebut identifiable net assets dalam IFRS 3.

Bandingkan identifiable net assets itu dengan konsiderasi yang diserahkan ditambah jumlah kepentingan non-pengendali, jika ada. Konsiderasi yang diserahkan ditambah jumlah kepentingan non-pengendali bisa dianggap sebagai harga dari bisnis yang diakuisisi (acquiree) secara keseluruhan. Jika harga keseluruhan itu lebih besar dari identifiable net assets, artinya investor (acquirer) membeli dengan harga mahal. Selisih harga yang lebih mahal inilah yang dinamakan goodwill.

Sebaliknya, jika identifiable net assets­-nya lebih bisar dibandingkan harga keseluruhan, acquirer mendapatkan harga murah, sehingga timbullah keuntungan dari pembelian murah (gain from a bargain purchase).

Jika dinyatakan secara matematis, goodwill dapat dinyatakan sebagai berikut:

Godwill = (CT + NCI + PEI) – (INA – TAX)

CT = konsiderasi yang diserahkan (consideration transferred) oleh acquirer
NCI = jumlah kepentingan non-pengendali (non-controlling interests), jika ada—akan dibahas menyusul
PEI = kepentingan ekuitas yang dimiliki sebelumnya oleh acquirer (sebelum kendali diperoleh melalui penggabungan usaha)
INA = nilai wajar asset netto yang dapat diidentifikasi (identifiable net assets)
TAX = tarif pajak penghasilan perseroan dikalikan selisih nilai wajar dikurangi nilai buku identifiable net assets—akan dibahas menyusul

Goodwill dikatakan sebagai sisa (residual) asset acquiree yang tidak dapat diidentifikasi (unidentifiable) dalam penggabungan usaha karena jumlahnya tergantung kepada pengukuran asset netto yang dapat diidentifikasi.

No comments:

Post a Comment