Kecurangan (fraud) dan pentingnya pengendalian internal

Merriam-Webster secara sederhana merumuskan definisi istilah fraud sebagai berikut: seseorang atau satu pihak dikatakan melakukan tindakan fraud ketika dia menempuh cara-cara tidak jujur untuk mengambil barang berharga dari orang lain, atau ketika seseorang berpura-pura (menjadi dukun, dokter, atau pegawai bank) dengan maksud menipu atau mengelabui orang lain.

Dalam dunia bisnis, istilah fraud mempunyai konotasi yang sedikit atau banyak berbeda dengan arti kata itu dalam kamus. Kata fraud digunakan majalah bisnis, misalnya ketika membahas laporan keuangan yang direkayasa dengan maksud mengelabui pengguna informasi akuntansi mengenai fakta sesungguhnya yang ada di perusahaan. Anda mungkin pernah mendengar bahwa Arthur Andersen terlibat dalam apa yang disebut fraudulent financial reporting, bahwa kelahiran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah respon atas maraknya korupsi, kolusi, dan nepotisme. Singkat kata, fraud  dalam dunia bisnis biasa dikaitkan dengan tindakan-tindakan yang berdampak merugikan bagi orang banyak. Literatur bisnis dan akuntansi berbahasa Indonesia biasa menerjemahkan kata fraud menjadi kecurangan atau tindakan curang.

Fraud atau kecurangan juga marak di dunia kerja. Weygandt, Kimmel, dan Kieso (2010) menjelaskan fraud atau kecurangan sebagai tindakan tidak jujur seorang karyawan demi kepentingannya sendiri yang berdampak merugikan perusahaan atau organisasi tempat dia bekerja. Weygandt, Kimmel, dan Kieso (2010) menggunakan apa yang mereka sebut segitiga kecurangan (fraud triangle) untuk menjelaskan faktor-faktor utama yang mendorong tindakan curang.

segitiga kecurangan (fraud triangle)

Dari tiga faktor di atas (kesempatan, tekanan keuangan, dan rasionalisasi), faktor yang paling menentukan adalah kesempatan (opportunity). Ingat, kejahatan terjadi bukan semata-mata karena niat si pelaku, tapi juga karena ada kesempatan Smile Kontrol atau pengendalian internal yang lemah dikatakan sebagai lahan subur bagi tindak kecurangan, misalnya ketika perilaku karyawan tidak dipantau sebagaimana layaknya.

Manusia juga bisa curang karena terdesak secara keuangan, banyak utang, atau karena menginginkan sesuatu melebihi kemampuannya (faktor tekanan keuangan).

Rasionalisasi berarti pembenaran. Seseorang mencoba membenarkan tindakan korupsi kecil-kecilan karena merasa dia dibayar terlalu rendah, sedangkan sang majikan atau atasan menikmati hidup mewah.

Materi ini sebagian besar disadur dari Weygadt, Kimmel, dan Kieso (2010) untuk mahasiswa Pengantar Akuntansi,  Pertanyaannya, mengapa Anda sebagai calon akuntan diberi wawasan tentang kecurangan atau fraud?