01 March 2016

Akuntansi: definisi, fungsi dan pengguna, serta peran standar akuntansi

definisi akuntansi

Materi ini adalah bagian dari
modul pengantar akuntansi
yang disusun oleh Warsidi


Definisi akuntansi: apa yang dimaksud dengan akuntansi?

Akuntansi (accounting) adalah salah satu sistem informasi dan pengukuran yang digunakan oleh perusahaan atau organisasi.[1] Sistem informasi akuntansi melaksanakan tugas-tugas pemrosesan data yaitu mengidentifikasi dan merekam data mengenai aktivitas bisnis suatu perusahaan (input akuntansi), dan mengkomunikasikan informasi yang relevan dan yang menggambarkan sejujurnya (output akuntansi) kepada para pengambil keputusan (pengguna akuntansi).

  • Mengidentifikasi aktivitas-aktivitas bisnis berarti memilih transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian yang terkait dengan suatu perusahaan.
  • Merekam aktivitas-aktivitas bisnis berarti menyimpan catatan transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian bisnis secara urut waktu (kronologis) yang diukur dalam satuan mata uang (rupiah) serta diklasifikasi dan diringkas dengan format tertentu.
  • Mengkomunikasikan aktivitas-aktivitas bisnis berarti menyediakan, menganalisis, dan menginterpretasikan laporan-laporan akuntansi, yang salah satu di antaranya berupa laporan keuangan.

Sebagai sistem pengukuran, akuntansi memroses data transaksi dan menghasilkan informasi yang bersifat kuantitatif.

Akuntansi tidak sama dengan pembukuan. Pembukuan (bookkeeping/recordkeeping) adalah perekaman transaksi-transaksi atau kejadian-kejadian bisnis, baik secara manual maupun dengan alat bantu komputer. Dengan demikian, pembukuan merupakan bagian dari akuntansi.

Siapa pengguna informasi akuntansi?

Akuntansi seringkali disebut sebagai bahasa bisnis karena semua organisasi menggunakan sistem informasi akuntansi sebagai salah satu alat komunikasi kepada para pemangku kepentingan (stakeholders). Para pemangku kepentingan itulah yang dimaksud pengguna informasi akuntansi. Mereka menggunakan informasi akuntansi sebagai salah satu input dalam pengambilan keputusan.

Sistem informasi akuntansi melayani berbagai pengguna yang dapat dikategorikan menjadi dua kelompok: pengguna eksternal dan pengguna internal.

Pengguna eksternal informasi akuntansi mencakup pemilik (misalnya, pemegang saham dalam perseroan terbatas), lembaga pemberi pinjaman (misalnya, bank), lembaga pemerintah/regulator (misalnya, Otoritas Jasa Keuangan), auditor eksternal, kalangan media, kustomer, dan masyarakat umum yang tidak terlibat secara langsung dalam menjalankan bisnis organisasi. Pengguna eksternal hanya memiliki akses yang terbatas terhadap informasi yang dihasilkan oleh perusahaan. Oleh karena itulah, keputusan bisnis yang mereka lakukan sangat tergantung pada sejauh mana informasi akuntansi akuntansi itu relevan dengan keputusan yang akan diambil dan dapat dibandingkan (comparable), baik antar-waktu maupun antar-perusahaan.

Akuntansi keuangan (financial accounting) adalah bidang akuntansi yang dimaksudkan untuk melayani pengguna eksternal dengan menyediakan laporan keuangan (financial statement). Laporan keuangan yang ditujukan bagi pengguna eksternal juga biasa disebut laporan keuangan bertujuan umum (general-purpose financial statement). Istilah bertujuan umum (general-purpose) berarti pengguna eksternal yang mengandalkan laporan keuangan mencakup kalangan yang luas.

Auditor eksternal (independen), atau juga biasa disebut akuntan publik, menelaah laporan keuangan untuk memverifikasi kesesuaian laporan keuangan itu dengan prinsip-prinsip akuntansi berterima umum (generally accepted accounting principles). Prinsip-prinsip akuntansi itu harus dipatuhi oleh perusahaan sebagai penyusun laporan keuangan bertujuan umum agar informasi akuntansi yang dihasilkan menjadi relevan dan menggambarkan sejujurnya.

Pengguna internal informasi akuntansi adalah pihak internal yang secara langsung terlibat dalam pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan perusahaan, yang mencakup para manajer dan karyawan perusahaan. Mereka menggunakan informasi akuntansi untuk membantu meningkatkan efisiensi dan efektivitas organisasi.

Akuntansi manajemen (management accounting) adalah bidang akuntansi yang melayani kebutuhan pengambilan keputusan para pengguna internal. Laporan-laporan akuntansi internal tidak perlu mematuhi aturan-aturan yang sama dengan laporan eksternal dan dirancang untuk memenuhi kebutuhan pengguna internal.

Materi ini selanjutnya hanya akan difokuskan pada akuntansi keuangan.

 

Prinsip dan standar akuntansi keuangan

Praktik akuntansi keuangan diatur oleh seperangkat konsep dan aturan yang dikenal dengan istilah prinsip-prinsip akuntansi berterima umum (generally accepted accounting principles (GAAP)). Prinsip-prinsip akuntansi berterima umum diperlukan dalam penyusunan laporan keuangan kepada pengguna eksternal agar informasi yang terkandung di dalamnya memiliki karakteristik relevan dan menggambarkan sejujurnya.

Informasi akuntansi yang relevan adalah informasi akuntansi yang mampu menunjukkan perbedaan dalam konteks keputusan yang diambil oleh pengguna. Informasi akuntansi yang menggambarkan sejujurnya berarti angka-angka dan deskripsi yang terkandung dalam informasi akuntansi itu sesuai dengan apa yang benar-benar ada atau terjadi.

Untuk dapat menggunakan dan menginterpretasikan laporan keuangan sebagaimana mestinya, pengguna laporan keuangan juga harus memahami prinsip-prinsip akuntansi itu. Dengan demikian, prinsip akuntansi berterima umum bisa dipandang sebagai kaidah atau aturan akuntansi yang memungkinkan komunikasi antara penyusun (perusahaan) dan pemangku kepentingan (pengguna) berlangsung secara efektif.

Siapa yang mengembangkan prinsip akuntansi? Salah satu bagian penting dari prinsip-prinsip akuntansi berterima umum adalah standar akuntansi keuangan. Di era globalisasi perekonomian sekarang ini, pengguna eksternal laporan keuangan semakin menuntut informasi akuntansi yang dapat dibandingkan, terutama ketika perusahaan ingin memperoleh tambahan modal dari pemberi pinjaman dan investor dari berbagai negara.

Untuk menjawab tuntutan tersebut, International Accounting Standards Board (IASB) menerbitkan lnternational Financial Reporting Standards (IFRS). IASB mengidentifikasi praktik-praktik akuntansi yang diinginkan oleh para pengguna. Tujuan akhirnya adalah terciptanya konvergensi praktik-praktik akuntansi di berbagai negara, sehingga sebuah perusahaan bisa menggunakan satu set laporan keuangan saja untuk mengkomunikasikan kondisi dan kinerja keuangannya di pasar keuangan manapun di seluruh dunia.

Di Indonesia, Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI) telah menetapkan konvergensi IFRS menjadi Standar Akuntansi Keuangan (SAK) sejak tahun 2009. SAK hasil konvergensi berlaku untuk perusahaan-perusahaan terbuka dan lembaga keuangan pada tahun 2012. Indonesia juga memberlakukan Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) pada tahun 2011, yang merupakan pengadopsian dari IFRS for SMEs.

Selain SAK, praktik akuntansi di Indonesia juga diatur oleh badan pemerintah, terutama Otoritas Jasa Keuangan (dahulu BAPEPAM-LK).

Prinsip-prinsip akuntansi berterima umum juga mencakup kaidah-kaidah dan konvensi yang telah lama dipraktikkan dan diterima secara luas (generally accepted).

 

Prinsip-prinsip pengukuran dalam akuntansi keuangan

Prinsip biaya (cost principle) berarti informasi akuntansi didasarkan pada biaya yang benar-benar telah terjadi. Biaya (cost) diukur berdasarkan kas atau instrumen setara kas. Jika uang tunai (cash) diserahkan untuk memperoleh satu unit layanan, maka biaya layanan itu sama dengan jumlah kas yang dibayarkan. Jika sesuatu selain kas turut dipertukarkan (misalnya sepuluh unit sepeda motor ditukar dengan sebuah truk), biaya truk yang diperoleh adalah nilai tunai dari aset yang diserahkan atau yang diperoleh. Prinsip biaya menekankan keandalan (reliability), dan informasi akuntansi yang didasarkan pada prinsip biaya dianggap obyektif. Sebagai contoh, PT ABC membayar Rp50 juta untuk memperoleh satu set peralatan. Prinsip biaya mengharuskan pembelian tersebut direkam sebesar biaya yang benar-benar terjadi yaitu Rp50 juta, meskipun pemilik perusahaan menganggap bahwa nilai peralatan itu seharusnya adalah Rp70 juta.

Prinsip nilai wajar (fair value principle) menyatakan bahwa aset dan liabilitas seharusnya dilaporkan dengan nilai wajar (harga yang diterima untuk menjual aset atau menyelesaikan liabilitas). Informasi nilai wajar bisa lebih bermanfaat daripada biaya historis untuk jenis-jenis aset dan liabilitas tertentu. Sebagai contoh, investasi dalam efek tertentu dilaporkan dengan nilai wajar karena informasi nilai pasar efek biasanya tersedia.

Anda bisa melanjutkan materi ini dengan membaca perkembangan standar akuntansi keuangan (SAK) di Indonesia.

 


[1] Dalam praktik, akuntansi diterapkan baik oleh entitas bisnis maupun organisasi nirlaba. Pembahasan dalam buku ini lebih difokuskan pada akuntansi untuk entitas bisnis.

3 comments:

  1. Selamat Sore Pak Warsidi,

    pak saya Hanna , mahasiswa di Univ.Jambi .
    pak saya mau nanya, apakah teori akuntansi keuangan tsbt berbasis IFRS pak?
    dan boleh saya tahu sumbernya pak? atau referensinya pak?

    skripsi saya butuh teori pengertian akuntansi keuangan yang mana telah menganut ifrs. apakah bs bantu saya pak?


    terima kasih pak Warsidi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. IFRS dan standar akuntansi bisa dipandang sebagai teori akuntansi normatif. Tapi topik teori akuntansi lebih luas dari itu. Pengelompokan pelaporan eksternal sebagai bidang akuntansi keuangan itu konvensi saja, diterima begitu saja.

      Delete
  2. Selamat Siang Pak,,,,

    Saya mau nanya nih,,, sebenarnya tahap tahap pembelajaran untuk belajar akuntansi itu sendiri dimuali dari apa ya Pak ?

    ReplyDelete