Siklus akuntansi: tahap-tahap proses akuntansi

siklus akuntansi

Artikel ini membahas siklus akuntansi secara umum. Siklus akuntansi adalah serangkaian proses akuntansi yang dimulai dari analisis dan pencatatan transaksi dalam jurnal, posting transaksi akuntansi dari jurnal ke buku besar, penyusunan neraca saldo, hingga penyusunan laporan keuangan.


Warsidi, CA
Anggota Ikatan Akuntan Indonesia (RNA-15077)
Dosen Tetap Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman
Terakhir diperbaharui: Juni 2017

Daftar isi



Pengertian siklus akuntansi

Akuntansi adalah sistem informasi yang mengumpulkan dan mengolah data terkait transaksi akuntansi dan menyampaikan hasil-hasilnya yang berupa informasi keuangan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Salah satu informasi keuangan terpenting yang dihasilkan oleh sistem informasi akuntansi adalah laporan keuangan.

Siklus akuntansi adalah tahap-tahap proses akuntansi dalam sistem informasi akuntansi yang diperlukan untuk mengumpulkan dan mengolah data terkait transaksi akuntansi. Dikatakan sebagai siklus, karena tahap-tahap proses akuntansi dilaksanakan berulang kali selama perusahaan beroperasi.

Tahap-tahap proses akuntansi yang membentuk siklus akuntansi meliputi:

  • Mencatat transaksi akuntansi yang terjadi selama satu periode akuntansi ke dalam jurnal transaksi.
  • Memindahbukukan (posting) transaksi akuntansi dari jurnal ke buku besar.
  • Menyusun neraca saldo untuk mengecek kesamaan debit dan kredit transaksi akuntansi yang telah dicatat dan dibukukan.
  • Membuat jurnal penyesuaian dan membukukan (posting) jurnal penyesuaian itu ke buku besar.
  • Menyusun neraca saldo setelah penyesuaian. Neraca saldo disesuaikan ini menjadi sumber data dasar untuk menyusun laporan keuangan.
  • Menyusun laporan keuangan berdasarkan neraca saldo setelah penyesuaian.
  • Membuat jurnal penutup dan membukukan (posting) jurnal penutup itu ke buku besar.
  • Menyusun neraca saldo setelah penutupan (tahap opsional).
  • Membuat jurnal pembalik dan membukukan (posting) jurnal pembalik itu ke buku besar (tahap opsional).

Meskipun siklus akuntansi yang digambarkan di atas mengacu pada proses akuntansi dalam sistem akuntansi manual, siklus akuntansi pada dasarnya sama, terlepas dari apakah perusahaan menggunakan sistem akuntansi manual atau sistem informasi akuntansi berbasis komputer. Perusahaan melaksanakan tahap-tahap siklus akuntansi pada setiap periode akuntansi. Siklus akuntansi juga pada dasarnya sama, baik untuk perusahaan jasa, perusahaan dagang, maupun perusahaan manufaktur.

[kembali ke daftar isi]

Transaksi akuntansi

Tahap pertama dalam siklus akuntansi adalah analisis dan pencatatan transaksi akuntansi ke dalam jurnal. Ada dua jenis transaksi yang terjadi pada perusahaan, yaitu transaksi akuntansi dan transaksi non akuntansi. Siklus akuntansi hanya mencatat transaksi akuntansi.

Transaksi akuntansi adalah transaksi atau kejadian bisnis yang nilainya dapat dinyatakan dengan satuan moneter. Jenis transaksi akuntansi juga ada dua, yaitu transaksi eksternal dan transaksi internal.
Contoh transaksi akuntansi yang bersifat eksternal adalah penjualan barang dagangan kepada pelanggan dan pembelian barang dagangan kepada pemasok. Contoh transaksi akuntansi internal adalah dimulainya proses produksi di pabrik dan prosedur jurnal penyesuaian pada akhir periode.

Transaksi non akuntansi tidak dicatat dalam siklus akuntansi. Contoh transaksi non akuntansi adalah pengangkatan karyawan baru dan penandatanganan kontrak pembelian dengan pemasok untuk pengiriman di kemudian hari.

[kembali ke daftar isi]

Pengertian debit dan kredit

Akuntansi menganut sistem pencatatan yang disebut sistem pembukuan berpasangan. Menurut sistem pembukuan berpasangan atau kadang-kadang disebut juga sistem akuntansi berpasangan, tiap-tiap transaksi akuntansi mempengaruhi, dan dicatat pada, sekurang-kurangnya dua akun. Sistem pembukuan berpasangan juga berarti jumlah debit harus sama dengan jumlah kredit untuk tiap-tiap transaksi. Dengan demikian, jumlah debit secara keseluruhan juga harus sama dengan jumlah kredit untuk keseluruhan transaksi yang dimasukkan ke dalam sistem akuntansi.

Analisis transaksi adalah proses yang dimaksudkan untuk menentukan akun-akun apa saja yang dipengaruhi oleh suatu transaksi serta debit dan kredit terhadap akun-akun itu. Yang dimaksud debit dalam akuntansi adalah kolom kiri akun. Sebaliknya, kredit berarti kolom kanan akun. Debit atau kredit tidak dengan sendirinya berarti bertambah atau berkurangnya suatu akun. Debit atau kredit berarti bertambah atau berkurang tergantung pada apakah suatu akun memiliki saldo normal debit atau kredit.

Untuk memahami saldo normal akun, perhatikan persamaan akuntansi berikut:

Aset = Liabilitas + Ekuitas

Aset yang dikendalikan entitas (perusahaan) merupakan hak (klaim) kreditor (liabilitas) dan pemilik (ekuitas). Dengan asumsi tidak ada tambahan investasi pemilik, ekuitas bertambah dengan diperolehnya pendapatan dan berkurang dengan timbulnya beban dan dividen. Dengan diurainya unsur-unsur ekuitas, persamaan akuntansi di atas dapat diperluas sebagai berikut:

Aset = Liabilitas + Modal pemilik + Pendapatan – Beban – Dividen

Untuk menghilangkan tanda negatif (–) dari persamaan yang diperluas di atas, unsur-unsur ekuitas yang bertanda negatif dipindahkan ke sisi sebaliknya dari persamaan akuntansi sehingga menjadi sebagai berikut:

Aset + Beban + Dividen = Liabilitas + Modal pemilik + Pendapatan

Dalam akuntansi, istilah debit berarti mencatat pada kolom sebelah kiri. Sebaliknya, kredit berarti mencatat pada kolom sebelah kanan. Aturan aljabar yang mendasari persamaan akuntansi menjadi dasar aturan debit kredit dalam akuntansi. Akun-akun yang berada di sisi kiri persamaan akuntansi adalah akun-akun yang memiliki saldo normal debit. Dengan kata lain, debit ke akun aset, beban, dan dividen berarti menambah akun tersebut, dan kredit berarti mengurangi.

Sebaliknya, akun-akun yang berada di sisi kanan persamaan akuntansi adalah akun-akun yang memiliki saldo normal kredit. Dengan kata lain, kredit ke akun liabilitas, modal pemilik, dan pendapatan berarti menambah akun-akun tersebut, dan debit berarti mengurangi.

[kembali ke daftar isi]

Jurnal umum dan jurnal khusus

Pencatatan transaksi dalam jurnal didasarkan pada bukti transaksi yang juga disebut dokumen transaksi atau dokumen sumber. Contoh dokumen transaksi adalah faktur pembelian yang diterima dari pemasok dan bukti kas keluar yang sah.

Istilah jurnal dalam akuntansi mengacu pada tempat pertama pencatatan transaksi dilakukan dalam siklus akuntansi. Ada dua jenis jurnal akuntansi, yaitu jurnal umum dan jurnal khusus.

Pengertian jurnal umum. Jurnal umum adalah jurnal akuntansi yang digunakan untuk mencatat transaksi non rutin. Pembelian aset tetap, pembiayaan jangka panjang, penerbitan obligasi dan saham adalah contoh-contoh transaksi non rutin yang dicatat dalam jurnal umum.

Contoh jurnal umum adalah sebagai berikut:

siklus akuntansi

Seperti terlihat dalam contoh jurnal umum penjualan tunai di atas, jurnal umum terdiri dari empat bagian: (1) nama akun dan jumlah debit, (2) nama akun dan jumlah kredit, (3) tanggal, dan (4) keterangan.

Pengertian jurnal khusus. Jurnal khusus adalah jurnal akuntansi yang digunakan untuk mencatat transaksi yang sering terjadi atau transaksi rutin. Contoh transaksi perusahaan dagang yang bersifat rutin adalah penjualan kredit, pembelian kredit, penerimaan kas (termasuk penerimaan kas dari penjualan tunai), dan pengeluaran kas (termasuk pengeluaran kas untuk pembelian tunai). Berdasarkan kelompok-kelompok transaksi rutin tersebut, perusahaan dagang mungkin akan membuat empat jenis jurnal khusus, yaitu jurnal penjualan, jurnal pembelian, jurnal penerimaan kas, dan jurnal pengeluaran kas.

Dalam sistem informasi akuntansi berbasis komputer, tahap siklus akuntansi terkait jurnal khusus dan jurnal umum bisa berupa formulir formulir elektronik di mana sistem informasi akuntansi menerima input data dari pengguna.


Baca juga:

[kembali ke daftar isi]

Buku besar

Siklus akuntansi tahap berikutnya adalah posting atau pemindahbukuan ke buku besar. Apa yang dimaksud dengan buku besar? Dalam akuntansi, buku besar adalah catatan akuntansi yang digunakan untuk menyimpan data transaksi akuntansi yang mempengaruhi aset, liabilitas, dan ekuitas perusahaan. Buku besar merupakan kumpulan akun (dulu kadang disebut rekening atau perkiraan). Ada dua jenis buku besar yaitu buku besar utama dan buku besar pembantu. Artikel ini menggunakan istilah “buku besar” untuk mengacu pada “buku besar utama” atau “buku besar umum”. Untuk selanjutnya, jika saya menyebut “buku besar”, yang dimaksud adalah buku besar utama/umum.

Pengertian buku besar. Buku besar adalah catatan akuntansi yang berisi kumpulan akun-akun tiap-tiap aset, liabilitas, dan ekuitas yang disajikan dalam laporan keuangan. Sebagai contoh, buku besar akan terdiri dari akun kas, piutang usaha, persediaan, aset tetap, utang usaha, pinjaman, ekuitas pemilik, pendapatan penjualan, dan berbagai jenis beban.

Posting atau pemindahbukuan adalah proses pemindahan data dari jurnal ke akun-akun dalam buku besar. Contoh buku besar dan posting adalah sebagai berikut:

siklus akuntansi

Langkah-langkah posting dari jurnal ke buku besar mencakup: 

  1. Pada buku besar, temukan halaman yang memuat akun yang didebit sesuai rujukan dari jurnal. Pada contoh jurnal di atas, akun yang didebit adalah Kas. Masukkan tanggal transaksi (30/12/2017), halaman referensi jurnal umum (J1), serta jumlah debit sesuai yang tertulis dalam jurnal umum (Rp255.000.000). Kolom saldo sama dengan saldo sebelumnya ditambah debit tersebut.
  2. Pada kolom referensi jurnal umum, tulis kode akun yang jumlah debitnya sudah dipindahkan.
  3. Pada buku besar, temukan halaman yang memuat akun yang dikredit sesuai rujukan dari jurnal. Pada contoh jurnal di atas, akun yang dikredit adalah Pendapatan Penjualan. Masukkan tanggal transaksi (30/12/2017), halaman referensi jurnal umum (J1), serta jumlah debit sesuai yang tertulis dalam jurnal umum (Rp255.000.000). Kolom saldo sama dengan jumlah tersebut karena saldo sebelumnya nol.
  4. Pada kolom referensi jurnal umum, tulis kode akun yang jumlah kreditnya sudah dipindahkan.

Contoh akun yang digambarkan di atas disebut akun tiga kolom karena memiliki tiga kolom untuk jumlah rupiah (debit, kredit, dan saldo). Kode akun atau nomor akun seperti 111 dan 511 serta nama akun dalam akuntansi ditetapkan dalam bagan akun standar perusahaan.

Jika siklus akuntansi dilaksanakan dengan alat bantu komputer, software akuntansi bisa melakukan posting ke buku besar secara seketika, bersamaan dengan saat data dimasukkan melalui terminal sistem. Mesin ATM merupakan salah satu contoh terminal sistem akuntansi bank. Ketika Anda melakukan penarikan tunai melalui ATM, sistem akuntansi bank akan melakukan debit ke akun tabungan Anda dan kredit ke akun kas.

[kembali ke daftar isi]

Neraca saldo

Tahap siklus akuntansi ketiga adalah pembuatan neraca saldo. Neraca saldo adalah daftar akun berikut saldo-saldonya pada waktu tertentu. Neraca saldo memuat seluruh saldo akun dengan saldo debit di kolom kiri dan saldo kredit di kolom kanan. Jumlah kolom debit dan kolom kredit neraca saldo harus sama.

Fungsi neraca saldo adalah untuk membuktikan kesamaan debit dan kredit setelah posting dari jurnal ke buku besar tuntas. Neraca saldo membantu menemukan kesalahan dalam jurnal akuntansi dan posting (pemindahbukuan). Neraca saldo juga menjadi data dasar dalam menyusun laporan keuangan.

Contoh neraca saldo disajikan sebagai berikut:

siklus akuntansi

Cara membuat neraca saldo:

  1. Salin semua nama akun dan saldo-saldonya ke kolom yang sesuai. Pada contoh neraca saldo di atas, nama akun yang dimaksud adalah kas, piutang usaha, barang habis pakai (juga biasa disebut perlengkapan), peralatan, utang usaha, uang muka klien (pendapatan diterima di muka), saham biasa, saldo laba (biasa juga disebut laba ditahan), dividen, pendapatan jasa, beban gaji dan upah, dan beban kantor. Saldo-saldo akun aset, dividen, dan beban ditempatkan di kolom debit, sedangkan saldo-saldo akun liabilitas, ekuitas pemilik, dan pendapatan ditempatkan di kolom kredit.
  2. Jumlahkan masing-masing kolom debit dan kolom kredit.
  3. Cek apakah jumlah kolom debit sama dengan jumlah kolom kredit. Pada contoh neraca saldo di atas, jumlah kolom debit adalah Rp155.810.000 sama dengan jumlah kolom kredit.
[kembali ke daftar isi]

Jurnal penyesuaian

Siklus akuntansi pada tahap ini dimaksudkan untuk mengakui pendapatan pada periode akuntansi ketika pendapatan itu menjadi hak perusahaan. Pada umumnya, pendapatan menjadi hak perusahaan pada saat penyerahan barang atau penyelenggaraan jasa, terlepas dari apakah perusahaan sudah menerima kas atau belum dari pelanggan. Jurnal penyesuaian juga dimaksudkan untuk mencatat beban dalam periode terjadinya. Dengan kata lain, jurnal penyesuaian dimaksudkan untuk memastikan bahwa siklus akuntansi menerapkan akuntansi berbasis akrual. Jurnal penyesuaian adalah prosedur akhir periode dalam siklus akuntansi sebelum penyusunan laporan keuangan.

Jenis-jenis jurnal penyesuaian adalah sebagai berikut:

  1. Beban dibayar di muka, yaitu beban yang sudah dibayar tunai tetapi belum digunakan atau dimanfaatkan. Contoh beban dibayar di muka di antaranya adalah beban sewa, beban asuransi, dan beban iklan, yang pada umumnya perusahaan membayar tunai di muka untuk periode tertentu. Manfaat dari beban-beban itu akan digunakan perusahaan seiring dengan berlalunya waktu.
  2. Beban yang masih harus dibayar, adalah beban yang sudah terjadi tetapi belum dibayar tunai atau belum dicatat. Contoh beban yang masih harus dibayar adalah beban bunga terkait pinjaman yang belum dibayar karena tanggal pembayaran bunga/cicilan berbeda dengan tanggal laporan keuangan.
  3. Pendapatan diterima di muka, adalah kebalikan dari beban dibayar di muka, yaitu ditinjau dari sudut pandang perusahaan yang menyediakan barang atau jasa terkait. Sebagai contoh, iklan yang telah dibayar oleh pengguna jasa iklan akan menjadi pendapatan diterima di muka bagi perusahaan jasa iklan.
  4. Pendapatan yang masih akan diterima, adalah kebalikan dari beban yang masih harus dibayar. Contoh pendapatan yang masih akan diterima adalah pendapatan bunga yang sudah menjadi hak bank tetapi belum dibayar tunai oleh nasabah pada akhir periode akuntansi.

Untuk contoh dan penjelasan lebih lanjut mengenai jurnal penyesuaian, Anda mungkin perlu membaca artikel saya mengenai contoh jurnal penyesuaian pada perusahaan jasa dan perusahaan dagang. Baca juga artikel saya yang secara khusus membahas jurnal penyesuaian yang dilengkapi dengan contoh soal akuntansi terkait.

[kembali ke daftar isi]

Neraca saldo setelah penyesuaian

Neraca saldo setelah penyesuaian adalah neraca saldo yang dibuat setelah posting (pemindahbukuan) semua jurnal penyesuaian ke buku besar tuntas dilakukan. Seperti neraca saldo sebelumnya, manfaat neraca saldo setelah penyesuaian adalah untuk mengecek kesamaan jumlah saldo debit dengan jumlah saldo kredit. Karena akun-akun di dalamnya telah mencakup semua data yang diperlukan untuk menyusun laporan keuangan, neraca saldo setelah penyesuaian adalah dasar utama untuk menyusun laporan keuangan. Format neraca saldo setelah penyesuaian sama dengan neraca saldo sebelumnya, tetapi sebagian saldo sudah berubah sesuai dengan standar akuntansi berbasis akrual.

Jika perusahaan menggunakan sistem informasi akuntansi berbasis komputer, software akuntansi yang mampu melakukan update secara seketika (real-time) bisa menghasilkan neraca saldo kapan pun diperlukan. Menyusun neraca saldo hanya dilakukan dengan mengklik tombol cetak pada tampilan bagan akun berikut saldo-saldo terakhir. Fungsi pengecekan kesamaan jumlah debit dan jumlah kredit juga dilakukan seketika sewaktu input data transaksi ke dalam sistem.

[kembali ke daftar isi]

Laporan keuangan

Tahap siklus akuntansi terpenting sebenarnya adalah penyusunan laporan keuangan. Akuntan bisa saja melakukan kompilasi laporan keuangan berdasarkan kumpulan bukti transaksi yang diberikan, tanpa melalui tahap-tahap siklus akuntansi sebagaimana diuraikan dalam artikel ini.

Akuntansi adalah sistem informasi dengan output utama berupa laporan keuangan yang terdiri dari:

  1. Laporan posisi keuangan (seringkali disebut neraca).
  2. Laporan laba-rugi (laporan keuangan perusahaan terbuka menggunakan istilah laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif lain).
  3. Laporan perubahan ekuitas (disebut juga laporan perubahan modal).
  4. Laporan arus kas.
  5. Catatan atas laporan keuangan (penjelasan dan rincian pos-pos pada empat laporan di atas).

Secara teknis, perusahaan menyusun laporan keuangan, terutama neraca dan laporan laba-rugi, berdasarkan saldo-saldo akun yang ada di dalam neraca saldo setelah penyesuaian. Dalam rangka penyusunan laporan keuangan, kita membedakan dua jenis akun, yaitu akun real dan akun nominal.

Akun real, atau kadang-kadang dieja akun riil, atau akun permanen mencakup semua akun aset, liabilitas, modal saham (atau modal pemilik dalam perusahaan perseorangan dan firma), dan saldo laba (biasa juga disebut laba ditahan). Akun ini dikatakan permanen karena tidak ditutup pada akhir periode akuntansi. Saldo-saldo akun real diteruskan ke periode akuntansi berikutnya.

Akun nominal atau akun sementara atau akun temporer adalah akun-akun yang ditutup dan saldonya dipindahkan ke saldo laba/laba ditahan (atau modal pemilik dalam perusahaan perseorangan dan firma). Akun nominal mencakup pendapatan (atau penghasilan), beban, dan dividen. Pendapatan dan beban merupakan komponen laporan laba-rugi, sedangkan dividen atau prive disajikan dalam laporan perubahan modal yang berdampak mengurangi saldo laba/laba ditahan (modal pemilik).

Langkah-langkah membuat laporan keuangan adalah sebagai berikut:

  1. Semua saldo pendapatan dan beban disajikan dalam laporan laba-rugi. Pos-pos pendapatan disajikan pada bagian atas, diikuti pos-pos beban. Laba atau rugi bersih adalah selisih antara jumlah pos pendapatan dengan beban.
  2. Laba (rugi) bersih yang diperoleh dari perhitungan laba-rugi pada tahap pertama disajikan dalam laporan perubahan ekuitas (atau laporan perubahan modal pemilik) dengan cara ditambahkan (dikurangkan) terhadap saldo laba/laba ditahan (atau modal pemilik) awal periode.
  3. Dividen atau prive disajikan langsung dalam laporan perubahan ekuitas (atau laporan perubahan modal) dengan cara dikurangkan terhadap saldo laba/laba ditahan (atau modal pemilik) awal periode. Saldo laba/laba ditahan (atau modal pemilik) awal periode ditambah laba bersih (dikurangi rugi bersih) dikurangi dividen akan menghasilkan saldo laba/laba ditahan (atau modal pemilik) akhir periode yang disajikan di laporan posisi keuangan (neraca).
  4. Laporan posisi keuangan (neraca) disusun dengan menyajikan pos-pos aset dan kewajiban terlebih dahulu, diikuti dengan pos-pos ekuitas (setelah mencerminkan saldo akhir saldo laba/laba ditahan/modal pemilik). Jumlah aset yang disajikan dalam neraca harus sama dengan jumlah liabilitas dan ekuitas.

Baca juga:

[kembali ke daftar isi]

Jurnal penutup

Tahap siklus akuntansi selanjutnya adalah pencatatan jurnal penutup dan pemindahbukuan (posting) jurnal penutup ke buku besar.

Pengertian jurnal penutup

Jurnal penutup adalah jurnal terakhir yang dibuat dalam satu siklus akuntansi. Fungsi jurnal penutup adalah menjadikan saldo-saldo akun nominal (pendapatan, beban, dan dividen/prive) menjadi nol. Pada periode berikutnya, akun-akun nominal dibuka kembali dengan saldo awal nol.

 

Cara membuat jurnal penutup

Langkah-langkah membuat jurnal penutup adalah:

  1. Debit akun pendapatan dan penghasilan lainnya sebesar saldo akhir akun-akun tersebut, kredit akun Ikhtisar Laba-Rugi dengan jumlah yang sama. Karena pendapatan dan penghasilan lainnya memiliki saldo normal kredit, debit sejumlah saldo akhir akan menjadikan akun-akun itu bersaldo nol. Jurnal penutup ini juga akan mengakibatkan sisi kredit akun Ikhtisar Laba-Rugi menampung total pendapatan dan penghasilan.
  2. Kredit semua akun beban sebesar saldo akhir akun-akun tersebut, debit akun Ikhtisar Laba-Rugi dengan jumlah yang sama. Karena beban memiliki saldo normal debit, kredit sejumlah saldo akhir akan menjadikan akun-akun itu bersaldo nol. Jurnal penutup kedua ini juga akan mengakibatkan sisi debit akun Ikhtisar Laba-Rugi menampung total beban. Saldo akhir Ikhtisar Laba-Rugi setelah dua jurnal penutup di-posting ke buku besar akan sama dengan laba (rugi) bersih yang dilaporkan di laporan laba-rugi. Jika perusahaan mengalami laba bersih, akun Ikhtisar Laba-Rugi memiliki saldo akhir kredit. Sebaliknya, jika perusahaan mengalami rugi bersih, akun Ikhtisar Laba-Rugi memiliki saldo akhir debit.
  3. Jika akun Ikhtisar Laba-Rugi memiliki saldo akhir kredit (laba bersih), debit akun Ikhtisar Laba-Rugi sebesar jumlah laba bersih, kredit akun saldo laba (atau modal pemilik) dengan jumlah yang sama. Jurnal penutup ini akan mengakibatkan akun Ikhtisar Laba-Rugi memiliki saldo nol, dan laba bersih dipindahkan/ditambahkan ke akun saldo laba (atau modal pemilik). Hal yang sebaliknya berlaku jika akun Ikhtisar Laba-Rugi memiliki saldo akhir debit (rugi bersih).
  4. Kredit akun dividen/prive sebesar saldo akhir akun tersebut, debit akun saldo laba dengan jumlah yang sama. Jurnal penutup ini akan mengakibatkan akun dividen/prive bersaldo nol dan jumlahnya dipindahkan/dikurangkan ke akun saldo laba (atau modal pemilik).

Contoh jurnal penutup perusahaan dagang disajikan sebagai berikut:

siklus akuntansi

Anda juga mungkin tertarik untuk membaca contoh jurnal penutup perusahaan jasa dan perusahaan dagang.

[kembali ke daftar isi]

Neraca saldo setelah penutupan

Neraca saldo setelah penutupan adalah neraca saldo yang dibuat setelah semua jurnal penutup di-posting (dipindahkan) ke buku besar. Karena semua akun nominal telah ditutup, neraca saldo setelah penutupan hanya mencakup akun-akun real. Dalam sistem akuntansi manual, neraca saldo setelah penutupan berfungsi sebagai sarana terakhir untuk membuktikan kesamaan jumlah debit dan jumlah kredit saldo-saldo akun real yang akan digunakan untuk periode akuntansi berikutnya. Tahap siklus akuntansi ini tidak perlu dilakukan, terutama jika siklus akuntansi dijalankan melalui sistem informasi akuntansi berbasis komputer.

[kembali ke daftar isi]

Jurnal pembalik

Jurnal pembalik merupakan tahap opsional siklus akuntansi. Yang dibalik adalah sebagian jurnal penyesuaian yang telah dibuat pada tahap sebelumnya. Jurnal penyesuaian yang bisa dibalik di antaranya adalah:

  • Pendapatan yang masih harus diterima dan beban yang masih harus dibayar.
  • Pendapatan diterima di muka jika pada saat kas diterima dicatat sebagai pendapatan (bukan liabilitas).
  • Beban dibayar di muka jika pada saat kas dibayarkan dicatat sebagai beban (bukan aset).

Beban penyusutan dan beban piutang tak tertagih tidak termasuk jurnal penyesuaian yang dibalik. Jurnal pembalik dibuat pada awal periode, setelah neraca saldo setelah penutupan dibuat.

[kembali ke daftar isi]

 

Kesimpulan

Siklus akuntansi yang dijelaskan dalam artikel ini mengacu pada tahap-tahap proses akuntansi dalam sistem informasi akuntansi manual. Dalam praktik saat ini, sistem akuntansi manual sudah tidak lagi digunakan. Meskipun demikian, proses akuntansi dalam sistem manual pada dasarnya tidak berbeda dengan prosedur akuntansi dalam sistem informasi akuntansi berbasis komputer.

Popular posts from this blog

Contoh jurnal dan laporan keuangan perusahaan jasa

Kekuasaan atas pengelolaan keuangan negara menurut UU No. 17 Tahun 2003

Download PSAK terbaru | PDF | exposure draft

Keuangan negara: definisi menurut UU No. 17 tahun 2003

Penyusunan dan penetapan APBN dan APBD menurut UU No. 17 Tahun 2003