Dimensions of moral philosopies – dimensi filsafat moral

Tulisan ini adalah bagian dari studi pustaka saya tentang rerangka penelitian etika bisnis. Dimensi filsafat moral merupakan salah satu dari tiga rerangka yang lazim digunakan dalam penelitian bisnis: (1) dimensi filsafat moral, (2) sistem nilai etis, dan (3) perkembangan moral kognitif (Charlson & Kacmar, 1997).

Menurut rerangka filsafat moral (moral philosophies), pertimbangan etis (ethical judgment) tergantung kepada keyakinan individu. Keyakinan individu inilah yang dimaksud dengan filsafat moral dalam pendekatan ini.

Dalam kaitannya dengan ada atau tidaknya aturan moral (moral rules) yang bersifat universal, filsafat moral dapat dibedakan menjadi dua: absolutisme dan relativisme (relativism-absolutism dimension).

Absolutisme memandang “apa yang dianggap semestinya” dan “apa yang diinginkan” memiliki makna yang abadi dan universal. Sementara itu, relativisme memandang “apa yang dianggap semestinya” dan “apa yang diinginkan” sangat tergantung kepada waktu, tempat, dan situasi-situasi konkret.

Dimensi filsafat moral lainnya adalah idealisme-pragmatisme. Seseorang yang menganut filsafat idealisme meyakini bahwa hasil akhir (outcome) yang baik akan secara automatis diakibatkan oleh perilaku yang baik. Sebaliknya, penganut pragmatisme meragukan keyakinan tersebut.

Dengan rerangka tersebut, peneliti etika bisnis mengevaluasi sikap sadar manusia terhadap perilaku etis dengan cara mengkategorikan mereka menurut filsafat moral masing-masing.

Comments

Popular posts from this blog

Penyusunan dan penetapan APBN dan APBD menurut UU No. 17 Tahun 2003

Contoh jurnal dan laporan keuangan perusahaan jasa

Download PSAK terbaru | PDF | exposure draft

Contoh jurnal dan cara menghitung PPh pasal 23

Neraca: laporan posisi keuangan

Kekuasaan atas pengelolaan keuangan negara menurut UU No. 17 Tahun 2003

Interest rate swap – definisi dan contoh ilustrasi

Akuntansi dan laporan keuangan perusahaan dagang

Akuntansi piutang usaha | piutang dagang

Keuangan negara: definisi menurut UU No. 17 tahun 2003