Mata uang fungsional dan mata uang penyajian

mata uang fungsional

Artikel ini menjelaskan pengertian mata uang fungsional dan perbedaannya dengan mata uang penyajian dalam akuntansi, serta memberikan contoh-contoh cara menetapkan mata uang fungsional. Penggunaan mata uang fungsional yang berbeda dengan mata uang penyajian terutama terjadi pada perusahaan-perusahaan multinasional dengan jangkauan global dan sahamnya terdaftar pada bursa-bursa efek di berbagai negara.

Pengertian mata uang fungsional

Secara sederhana, mata uang fungsional (atau mata uang pengukuran) berarti mata uang yang digunakan dalam pengukuran transaksi (pencatatan satuan mata uang dalam jurnal dan akun-akun buku besar).

PSAK 10 mengharuskan entitas menetapkan mata uang fungsional dan mengukur transaksi yang dilakukannya menggunakan mata uang fungsional itu. Entitas bisa saja menyajikan atau menjabarkan laporan keuangan menggunakan mata uang lain. Meskipun demikian, PSAK 10 paragraf 38 juga menegaskan bahwa mata uang pelaporan di Indonesia umumnya adalah rupiah. Jika entitas melakukan transaksi dalam mata uang yang berbeda dengan mata uang fungsional, maka entitas itu harus “menghitung transaksi tersebut dalam mata uang fungsional”.

Menurut PSAK 10, mata uang fungsional entitas adalah mata uang yang berlaku di lingkungan ekonomi utama tempat entitas beroperasi (paragraf 8). PSAK 10 menjelaskan yang dimaksud lingkungan ekonomi utama tempat entitas beroperasi biasanya adalah lingkungan yang menjadi tempat utama entitas menghasilkan dan mengeluarkan kas (paragraf 9).

Ingin mahir menghitung pajak dan mengisi SPT?

Brevet Pajak Unsoed Purwokerto

Ikuti pelatihan Brevet Pajak Unsoed Purwokerto. Kunjungi halaman kami di Facebook untuk mendapatkan informasi pendaftaran, acara, dan aktivitas kami.

PSAK 10 juga mengharuskan entitas untuk mempertimbangkan faktor-faktor berikut dalam menentukan mata uang fungsional (paragraf 9):
  • Mata uang utama yang memengaruhi harga jual barang dan jasa.
  • Mata uang utama yang memengaruhi biaya tenaga kerja, bahan baku, dan biaya lainnya dalam penjualan barang dan jasa.
Jika kedua faktor di atas tumpang tindih, maka PSAK 10 menyatakan bahwa suatu entitas juga dapat mempertimbangkan bukti pendukung lain berikut dalam menentukan mata uang fungsional (paragraf 10):
  • Mata uang yang digunakan dalam menghasilkan aktivitas pendanaan.
  • Mata uang yang digunakan dalam menahan pendapatan dari aktivitas operasi.
Dalam menentukan mata uang fungsional entitas anak atau entitas asosiasi di luar negeri (dan operasi di luar negeri lainnya) dan menentukan apakah mata uang fungsional itu sama dengan mata uang fungsional entitas induk, faktor-faktor tambahan yang harus dipertimbangkan adalah (paragraf 11):
  • Apakah aktivitas operasi di luar negeri dilakukan sebagai perpanjangan entitas induk.
  • Apakah transaksi dengan entitas induk memiliki proporsi yang tinggi atau rendah dengan aktivitas operasi di luar negeri.
  • Apakah arus kas dari aktivitas operasi di luar negeri berpengaruh secara langsung terhadap arus kas entitas induk.
Apabila indikator-indikator di atas tumpang tindih dan mata uang operasional tidak jelas, PSAK 10 mengharuskan manajemen menggunakan penilaian (judgement) untuk menentukan mata uang fungsional yang paling mencerminkan pengaruh ekonomi dari transaksi, peristiwa dan kondisi yang dialami entitas (paragraf 12).

Istilah transaksi dalam mata uang asing atau transaksi mata uang asing memiliki arti yang sama, yaitu transaksi yang dilakukan entitas menggunakan mata uang yang bukan mata uang fungsional.




Contoh mata uang fungsional

Contoh 1:
PT Viona merupakan entitas yang didirikan di Indonesia. Sebagian besar transaksi penjualan, pembelian, dan pengeluaran operasi dilakukan menggunakan USD. Dengan demikian, mata uang fungsional PT Viona adalah USD.

Contoh 2:
PT Marina merupakan entitas yang didirikan di Indonesia. Sebagian besar transaksi penjualan, pembelian, dan pengeluaran operasi dilakukan menggunakan IDR. Dengan demikian, mata uang fungsional PT Marina adalah IDR.

Contoh 3:
PT Marsinah merupakan entitas yang didirikan di Indonesia. PT Marsinah membeli sebagian persediaan dari AS dengan menggunakan USD. Oleh karena itu, PT Marsinah menentukan harga jual berdasarkan USD, meskipun harga jual itu dinyatakan dalam IDR. Selain itu, PT Marsinah membayar remunerasi kepada manajemen puncak dalam IDR meskipun jumlah remunerasi itu disetarakan dengan USD yang dibayarkan kepada manajemen puncak entitas-entitas serupa di AS. Dengan demikian, mata uang fungsional PT Marsinah adalah USD.

Contoh 4:
Perusahaan terbuka yang didirikan dan kantornya bertempat di Jakarta bisa saja menggunakan dolar AS (USD) sebagai mata uang fungsional jika sebagian besar kas yang diterima dan dikeluarkan berupa USD. Pada saat menyusun laporan keuangan, jumlah-jumlah dalam USD itu kemudian disajikan/dijabarkan dalam Rupiah Indonesia (IDR) karena Otoritas Jasa Keuangan mengharuskan laporan keuangan emiten Bursa Efek Indonesia disajikan dalam IDR. Dalam contoh ini, mata uang fungsional adalah USD dan mata uang penyajian adalah IDR.

Baca juga: Transaksi mata uang asing

Pengertian mata uang penyajian

Mata uang penyajian adalah mata uang yang digunakan dalam menyajikan laporan keuangan (yaitu laporan posisi keuangan, laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif lain, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas). Jika mata uang penyajian berbeda dengan mata uang fungsional, maka entitas harus menjabarkan laporan keuangan sesuai dengan mata uang penyajian.

Istilah penjabaran laporan keuangan, atau translasi laporan keuangan, atau penerjemahan laporan keuangan, berarti mengkonversi unit pengukuran laporan keuangan dari mata uang fungsional ke mata uang penyajian.

Baca juga: Penjabaran laporan keuangan

Comments

Popular posts from this blog

Contoh jurnal dan laporan keuangan perusahaan jasa

Download PSAK terbaru | PDF | exposure draft

Penyusunan dan penetapan APBN dan APBD menurut UU No. 17 Tahun 2003

Neraca: laporan posisi keuangan

Kekuasaan atas pengelolaan keuangan negara menurut UU No. 17 Tahun 2003