Transaksi mata uang asing

transaksi mata uang asing

Dalam akuntansi, transaksi dalam mata uang asing, atau transaksi mata uang asing, atau transaksi valuta asing, terjadi ketika entitas mengadakan transaksi dalam mata uang yang berbeda dengan mata uang fungsional.

Pencatatan dan penyajian transaksi mata uang asing

PSAK 10 mengatur tentang kurs valuta asing mana yang digunakan untuk mengukur kembali mata uang asing ke dalam mata uang fungsional, yaitu sebagai berikut:

Pada saat pengakuan awal
Transaksi dalam mata uang asing harus dicatat sesuai dengan kurs spot pada tanggal transaksi. Akan tetapi, untuk alasan kepraktisan, PSAK 10 memperbolehkan penggunaan kurs yang mendekati kurs spot pada tanggal transaksi (paragraf 22). Sebagai contoh, kurs rata-rata satu bulan dapat digunakan untuk menyajikan ulang seluruh transaksi dalam mata uang asing yang terjadi selama bulan tersebut. Meskipun demikian, jika kurs berfluktuasi secara signifikan maka penggunaan kurs rata-rata untuk periode itu menjadi tidak tepat (paragraf 22).

Pada setiap tanggal pelaporan

  • Pos-pos moneter dalam mata uang asing harus diukur kembali menggunakan kurs penutup;
  • Pos-pos nonmoneter yang dicatat pada biaya historis harus dilaporkan menggunakan kurs tanggal transaksi; dan
  • Pos-pos nonmoneter yang dicatat pada nilai wajar harus diukur kembali menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai wajar tersebut ditentukan.

Ingin mahir menghitung pajak dan mengisi e-SPT?

Brevet Pajak Unsoed Purwokerto
Ikuti pelatihan Brevet Pajak Unsoed Purwokerto. Kunjungi halaman kami di Facebook untuk mendapatkan informasi pendaftaran, acara, dan aktivitas kami.

Pengertian istilah dan penjelasan

Valuta asing adalah mata uang selain mata uang fungsional entitas. Dalam artikel ini, istilah valuta asing dan mata uang asing memiliki arti yang sama dan bisa dipertukarkan satu sama lain.

Pos moneter adalah:

  • Mata uang yang dimiliki (kas dan setara kas).
  • Aset lain yang akan diterima dalam mata uang tertentu yang jumlahnya tetap atau dapat ditentukan.
  • Liabilitas yang akan dibayarkan dalam mata uang tertentu yang jumlahnya tetap atau dapat ditentukan.
Fitur utama pos moneter adalah adanya hak untuk menerima (atau kewajiban untuk menyerahkan) sejumlah mata uang yang jumlahnya tetap atau dapat ditentukan. Contoh pos moneter adalah pensiun dan imbalan kerja lain yang dibayar dengan kas, provisi yang diselesaikan secara tunai, dan dividen tunai yang diakui sebagai liabilitas. Sekuritas utang seperti obligasi juga merupakan contoh pos moneter.

Sebaliknya, fitur utama pos nonmoneter adalah tidak adanya hak untuk menerima (atau kewajiban untuk menyerahkan) mata uang yang jumlahnya tetap atau dapat ditentukan. Contoh pos nonmoneter adalah uang muka untuk barang dan jasa (contohnya beban dibayar di muka dan pendapatan diterima di muka), investasi dalam saham, goodwill, aset tak berwujud, persediaan, aset tetap, dan provisi yang diselesaikan dengan penyerahan aset nonmoneter.

Kurs spot adalah kurs untuk realisasi segera, merepresentasikan kurs yang berlaku pada tanggal transaksi.

Kurs penutup adalah kurs spot pada akhir periode pelaporan, merepresentasikan kurs yang berlaku pada tanggal laporan posisi keuangan.

Selisih kurs adalah selisih yang dihasilkan dari penjabaran sejumlah tertentu satu mata uang ke dalam mata uang lain pada kurs yang berbeda.

Selisih kurs yang timbul pada penyelesaian pos moneter atau pada proses penjabaran pos moneter pada kurs yang berbeda dari kurs pada saat pos moneter tersebut dijabarkan pada pengakuan awal selama periode atau pada periode laporan keuangan sebelumnya diakui dalam laba-rugi pada periode saat terjadinya.

Baca juga: Mata uang fungsional dan mata uang penyajian

Contoh transaksi mata uang asing

Contoh 1:
PT ABC merupakan entitas yang didirikan di Indonesia dengan tahun pelaporan keuangan berakhir pada tanggal 31 Desember dan menggunakan Rupiah Indonesia (IDR) sebagai mata uang fungsional. Pada tanggal 15 Mei 2018, PT ABC membeli barang seharga USD100.000 dari XYZ Co. ketika kurs pada saat itu adalah USD1 = IDR9.900. XYZ Co. merupakan entitas yang didirikan di Amerika Serikat yang menggunakan dolar AS (USD) sebagai mata uang fungsional.

Berdasarkan PSAK 10, transaksi valuta asing ini harus diakui dalam IDR dengan kurs spot pada tanggal transaksi, yaitu sebagai berikut:

transaksi valuta asing

Perhatikan, pada tanggal tersebut PT ABC tidak menyerahkan USD kepada siapapun, hanya menerima faktur yang senilai USD100.000. Nilai faktur itu kemudian diukur kembali pada pembukuan PT ABC dalam IDR dengan menggunakan kurs spot tanggal transaksi. Utang usaha biasa juga disebut utang dagang.




Contoh 2:
Diasumsikan pada tanggal 31 Desember 2018, utang usaha PT ABC pada Contoh 1 di atas belum dibayar. Kurs yang berlaku pada tanggal 31 Desember 2018 adalah USD1 = IDR10.500. Utang usaha adalah contoh pos moneter (liabilitas), sehingga utang usaha yang harus dibayar dalam USD dengan jumlah tetap itu harus dilaporkan menggunakan kurs penutup (31 Desember 2012) sebesar Rp1.050.000.000.

Jurnal penyesuaian untuk menyajikan piutang usaha dengan kurs penutup adalah sebagai berikut:

transaksi mata uang asing

Karena semula utang usaha itu diakui sejumlah IDR990.000.000, akun itu dikredit (ditambah) IDR60.000.000. Selisih Kurs didebit (diakui sebagai kerugian) sebesar IDR60.000.000. Setelah penyesuaian di atas, akun piutang usaha ke XYZ Co. bersaldo Rp1.050.000.000.

Contoh 3:
Pada tanggal 5 Juni 2018 PT DEF melakukan transaksi pembelian sebidang tanah di Amerika Serikat untuk tujuan investasi. Sesuai dengan PSAK 13, PT DEF memutuskan untuk menggunakan metode biaya untuk memperlakukan properti investasi tersebut. Biaya perolehan tanah adalah USD4.000.000. Kurs yang berlaku pada tanggal 5 Juni 2018 adalah USD1 = IDR9.500. Kurs pada tanggal 31 Desember 2018 USD1 = IDR9.700.

Dalam contoh ini, properti investasi akan diakui pada tanggal 5 Juni 2018 sebesar IDR38.000.000.000 (USD4.000.000 × IDR9.500). PropertI investasi adalah contoh pos nonmoneter dan PT DEF mengadopsi metode biaya, sehingga jumlah yang dilaporkan di laporan posisi keuangan 31 Desember 2018 adalah biaya historis, yaitu IDR38.000.000.000.




Contoh 4:
Pada tanggal 1 Oktober 2018, PT GHI membeli saham beberapa entitas di Amerika untuk tujuan spekulasi. Berdasarkan PSAK 55, pelaporan investasi dalam sekuritas untuk tujuan spekulasi (trading) dilakukan berdasarkan nilai wajar. Biaya investasi saham yang dikeluarkan PT GHI adalah sebesar USD120.000 dan nilai wajar pada tanggal 31 Desember 2018 adalah sebesar USD165.000. Kurs spot pada tanggal 1 Oktober 2018 dan 31 Desember 2018 masing-masing adalah USD1 = IDR9.700 dan USD1 = IDR9.600.

Pada tanggal 1 Oktober 2018, PT GHI mendebit investasi dalam saham sebagai berikut:

transaksi investasi dalam valuta asing

Meskipun kas yang dibayarkan dalam transaksi ini berupa USD (valuta asing), pada saat pengakuan awal PT GHI mencatat investasi ini dalam mata uang fungsional (IDR) dengan kurs spot yang berlaku pada tanggal transaksi, sehingga berjumlah Rp1.164.000.000 (USD120.000 × IDR9.700).

Saham dalam kasus ini adalah contoh pos nonmoneter yang dilaporkan dengan nilai wajar, sehingga nilai wajar aset itu harus diukur kembali menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai wajar itu ditentukan, yaitu dengan kurs penutup tanggal 31 Desember 2018. Jumlah investasi yang harus dilaporkan di laporan posisi keuangan adalah IDR1.584.000.000 (USD165.000 × IDR9.600).

Jurnal penyesuaian pada tanggal 31 Desember 2018 adalah sebagai berikut:

transaksi investasi dalam mata uang asing

Selisih antara nilai wajar investasi dalam saham yang diukur dengan kurs penutup (IDR1.584.000.000) dengan biaya perolehan yang diukur dengan kurs spot tanggal transaksi (IDR1.164.000.000), diakui sebagai keuntungan investasi yang tidak direalisasi dan dilaporkan sebagai komponen penghasilan dalam penghitungan laba-rugi. Karena investasi bukan pos moneter, tidak ada pengakuan keuntungan/kerugian selisih kurs sebagaimana yang diatur dalam PSAK 10.




Contoh 5:
PT BATIK merupakan entitas yang didirikan di Indonesia dan menggunakan tahun fiskal yang berakhir tanggal 31 Desember. Mata uang fungsional PT BATIK adalah Rupiah Indonesia (IDR).

Pada tanggal 12 Juli 2018, PT BATIK membeli barang dagangan (persediaan) secara kredit senilai USD10.000 dari SAM Co. Pembayaran oleh PT BATIK dilakukan pada tanggal 20 November 2018.

Kurs pada tanggal 12 Juli 2018 dan 20 November 2018 masing-masing adalah USD1 = IDR9.400 dan USD1 = IDR9.700.

Dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan PSAK 10, bagaimanakah PT BATIK mencatat pembelian barang dagangan itu pada tanggal 12 Juli 2018? Meskipun pada tanggal tersebut, PT BATIK hanya menerima faktur dan belum menyerahkan pembayaran dalam USD, pencatatan dalam pembukuan harus dilakukan dengan mata uang fungsional PT BATIK (IDR) dengan kurs spot yang berlaku pada tanggal transaksi sebagai berikut:

transaksi mata uang asing

Persediaan adalah aset nonmoneter yang mula-mula diakui dengan biaya perolehan. Utang usaha dalam USD merupakan liabilitas moneter. Jumlahnya (IDR94.000.000) ditentukan dengan mengalikan biaya perolehan dalam USD (USD10.000) dengan kurs spot tanggal 12 Juli 2018 (IDR9.400).

Bagaimanakah PT BATIK mencatat pembayaran faktur pada tanggal 20 November 2018? Meskipun pembayaran USD10.000 mungkin dilakukan dengan USD yang sudah dimiliki, pencatatan dalam pembukuan PT BATIK tetap menggunakan IDR (mata uang fungsional) sebagai berikut:

transaksi dalam mata uang asing

Perhatikan, jumlah utang usaha diukur kembali dengan kurs spot tanggal 20 November 2018 sehingga menjadi bersaldo IDR97.000.000. Selisihnya dengan jumlah utang yang mula-mula dicatat (IDR94.000.000), yaitu sebesar IDR3.000.000 merupakan kerugian selisih kurs yang diakui sebagai komponen beban dalam laba-rugi. Jurnal penyelesaian utang di atas bisa digabungkan menjadi satu jurnal sebagai berikut:

transaksi valuta asing




Contoh 6:
Kembali ke kasus PT BATIK sebagaimana diilustrasikan pada Contoh 5. Asumsikan, utang usaha PT BATIK baru dilunasi pada tanggal 8 Februari 2019. Kurs spot yang berlaku pada tanggal 31 Desember 2018 (tanggal laporan posisi keuangan) adalah USD1 = IDR9.500, sedangkan pada tanggal8 Februari 2019 (saat pelunasan) adalah USD1 = IDR9.700.

Apa saja jurnal yang diperlukan dan bagaimana cara mencatat transaksi-transaksi di atas dalam pembukuan PT BATIK? Secara akuntansi, ada tiga kejadian yang perlu dicatat dalam pembukuan PT BATIK, yaitu pada 12 Juli 2018 (ketika faktur/barang diterima), 31 Desember 2018 (tanggal laporan posisi keuangan), dan 8 Februari 2019 (ketika faktur dibayar). Jurnal-jurnal dimaksud disajikan sebagai berikut:

transaksi mata uang asing

Perhatikan, utang usaha yang merupakan pos moneter diukur kembali pada tanggal 31 Desember 2018 (pada saat tutup buku) dan 8 Februari 2019 (sesaat sebelum dihentikan pengakuannya).

Berapakah utang usaha PT BATIK kepada SAM Co. pada 31 Desember 2018 dan 8 Februari 2019? Pada 31 Desember 2018, utang usaha dilaporkan berjumlah IDR95.000.000 (USD10.000 × IDR9.500). Pada 8 Februari 2019, utang usaha diukur kembali sehingga menjadi berjumlah IDR97.000.000 (USD10.000 × IDR9.700).

Berapakah kerugian selisih kurs yang diakui masing-masing pada tahun 2018 dan 2019? Kerugian selisih kurs yang diakui pada 2018 adalah IDR1.000.000 (IDR95.000.000 – IDR94.000.000) dan pada 2019 adalah IDR2.000.000 (IDR97.000.000 – IDR95.000.000).




Contoh 7:
Lincoln Co. adalah perusahaan multinasional yang berpusat di Amerika Serikat. Pada tanggal 31 Desember 2018, Lincoln Co. memiliki piutang usaha yang bersaldo USD81.300 dan utang usaha yang bersaldo USD38.900 sebelum dibuat ayat jurnal penyesuaian.

Analisis saldo kedua akun buku besar itu mengungkapkan hal-hal berikut:

Piutang usaha
  • USD28.500 dalam mata uang fungsional (USD).
  • SEK20.000 (Swedish Krona), dinyatakan dalam USD dengan kurs spot tanggal transaksi menjadi USD11.800.
  • GBP25.000 (British pound sterling), dinyatakan dalam USD dengan kurs spot tanggal transaksi menjadi USD41.000.
Utang usaha
  • USD6.850 dalam mata uang fungsional (USD).
  • CAD10.000 (Canadian dollar), dinyatakan dalam USD dengan kurs spot tanggal transaksi menjadi USD7.600.
  • GBP15.000 (British pound sterling), dinyatakan dalam USD dengan kurs spot tanggal transaksi menjadi USD24.450.
Kurs spot untuk SEK, GBP, dan CAD pada tanggal 31 Desember 2018 berturut-turut adalah USD0,66, USD1,65, dan USD0,70.

Berapakah jumlah piutang usaha yang seharusnya dilaporkan dalam laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember 2018? Jumlah piutang usaha pada akhir 2018 adalah USD82.950, dihitung sebagai berikut:
transaksi mata uang asing
Berapakah jumlah utang usaha yang seharusnya dilaporkan dalam laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember 2018? Jumlah utang usaha pada akhir 2018 adalah USD38.600, dihitung sebagai berikut:
transaksi valuta asing
Berapakah jumlah keuntungan/kerugian selisih kurs neto yang seharusnya dilaporkan dalam laba-rugi Lincoln Co. untuk tahun 2018 terkait piutang usaha dan utang usaha di atas? Jumlah piutang usaha per pembukuan adalah USD81.300 (USD28.500 + USD11.800 + USD41.000). Jumlah piutang usaha yang diukur kembali dengan kurs spot 31 Desember 2018 adalah USD82.950. Selisihnya, yaitu USD1.650 merupakan keuntungan selisih kurs.

Jumlah utang usaha per pembukuan adalah USD38.900 (USD6.850 + USD7.600 + USD24.450). Jumlah utang usaha yang diukur kembali dengan kurs spot 31 Desember 2018 adalah USD38.600. Selisihnya, yaitu USD300 ini juga merupakan keuntungan selisih kurs.

Dengan demikian, jumlah neto selisih kurs merupakan keuntungan, berjumlah USD1.950 (USD1.650 + USD300).

Bagaimana cara mencatat penerimaan kas dari semua piutang usaha di atas pada tanggal tertentu di tahun 2019 ketika kurs spot SEK dan GBP berturut-turut adalah USD0,67 dan USD1,63? Jurnal untuk mencatat penerimaan kas dari piutang dalam USD adalah sebagai berikut:

transaksi mata uang asing

USD adalah mata uang fungsional Lincoln Co., sehingga tidak ada keuntungan atau kerugian selisih kurs dari transaksi di atas.

Jurnal untuk mencatat penerimaan kas dari piutang dalam SEK adalah sebagai berikut:

transaksi mata uang asing

Perhatikan, jumlah-jumlah dalam jurnal di atas adalah dalam USD (mata uang fungsional). Saldo Piutang Usaha (SEK) sebelum penghentian pengakuan adalah USD13.400 (SEK20.000 × USD0,67). Penyelesaian piutang itu mengakibatkan selisih kurs sebesar USD200 (USD13.400 – USD13.200) yang merupakan keuntungan.

Jurnal untuk mencatat penerimaan kas dari piutang dalam GBP adalah sebagai berikut:

transaksi mata uang asing

Perhatikan, jumlah-jumlah dalam jurnal di atas adalah dalam USD (mata uang fungsional). Saldo Piutang Usaha (GBP) sebelum penghentian pengakuan adalah USD40.750 (GBP25.000 × USD1,63). Penyelesaian piutang itu mengakibatkan selisih kurs sebesar USD500 (USD40.750 – USD41.250) yang merupakan kerugian.

Bagaimana cara mencatat pembayaran kas untuk melunasi semua utang usaha di atas pada tanggal tertentu di tahun 2019 ketika kurs spot ketika kurs spot CAD dan GBP berturut-turut adalah USD0,71 dan USD1,62?

transaksi mata uang asing

Comments

Popular posts from this blog

Contoh jurnal dan laporan keuangan perusahaan jasa

Kekuasaan atas pengelolaan keuangan negara menurut UU No. 17 Tahun 2003

Download PSAK terbaru | PDF | exposure draft

Neraca: laporan posisi keuangan

Penyusunan dan penetapan APBN dan APBD menurut UU No. 17 Tahun 2003

Persamaan dasar akuntansi dan laporan keuangan

Siklus akuntansi: tahap-tahap proses akuntansi

Nilai wajar (fair value): definisi menurut PSAK 68/IFRS 13

Akuntansi piutang usaha | piutang dagang

Akuntansi dan laporan keuangan perusahaan dagang