Puasa dan lebaran, simpan kartu kredit Anda

kartu kredit kartu debit

Selama bulan puasa dan libur lebaran, perilaku konsumsi kebanyakan masyarakat Indonesia berubah. Meskipun di siang hari Anda menahan lapar, momen buka puasa tak jarang menjadi ajang pembalasan dendam: harus makan lebih enak, lebih spesial, lebih banyak dari biasanya.

Pakaian juga seperti diwajibkan untuk punya yang baru dan lebih bagus kualitasnya. Saat pulang kampung berkumpul dengan keluarga di kampung halaman, seringkali terjadi perlombaan terselubung untuk berpenampilan paling wah.

Bukan hanya pakaian, barang-barang yang menunjukkan status seperti kendaraan pun kalau memungkinkan harus impresif: beli baru, mendadak rental untuk pulang kampung, atau menempuh jarak puluhan bahkan ratusan kilometer bersepeda motor atau bermobil menuju ke kampung halaman. Padahal sebenarnya ada pilihan mode transportasi yang lebih nyaman, misalnya dengan menggunakan kereta api.

Kebiasaan melonjaknya konsumsi ini selalu diakomodasi dengan peningkatan belanja pegawai dari pemberi kerja. Tunjangan hari raya, gaji ke-13, gaji ke-14, adalah di antara contoh peningkatan biaya tenaga kerja. Omzet pengusaha yang memproduksi dan menjual barang-barang konsumsi juga umumnya meningkat.

Maka terjadilah…fenomena tahunan puasa dan lebaran di Indonesia menjadi yang terheboh di dunia.

Artikel ini ditujukan bagi Anda pemegang kartu kredit. Saya percaya, banyak pengguna baru kartu kredit, yang biasa disebut “generasi milenial” membutuhkan informasi persuasif ini…


Ingin mahir menghitung pajak dan mengisi e-SPT?

brevet pajak unsoed purwokerto

Ikuti pelatihan Brevet Pajak Unsoed Purwokerto. Kunjungi halaman kami di Facebook untuk mendapatkan informasi pendaftaran, acara, dan aktivitas kami.


Simpan kartu kredit Anda

Saran persuasif yang saya berikan sederhana saja: simpan kartu kredit Anda! Gunakan pendapatan ekstra yang Anda peroleh dari THR, gaji tambahan, atau kenaikan penghasilan Anda, untuk menutupi peningkatan konsumsi. Jangan gunakan kartu kredit untuk konsumsi puasa dan lebaran.

Sebagai bukan ustad, saya merasa tidak kompeten untuk mengajari dalil-dalil normatif dari kitab suci. Karena itulah pendekatan saya lebih menekankan pada rasionalitas dalam berperilaku konsumsi.

Hakikat kartu kredit

Apa sih sebenarnya kartu kredit? Mengapa harus ada makhluk yang bernama kartu kredit di dunia ini? Apakah peradaban ini lebih baik atau sebaliknya dengan adanya kartu kredit?

Hakikat kartu kredit pada awalnya adalah alat pembayaran, bukan instrumen kredit konsumsi. Dibandingkan uang tunai (cash), transaksi dengan kartu kredit lebih praktis dan aman. Anda tidak perlu membawa-bawa uang tunai ke mana-mana.

Bank atau perusahaan penyedia kartu kredit lain seharusnya sangat berhati-hati dalam memasarkan kartu kredit. Rasio penghasilan dan limit kredit yang diberikan harus benar-benar dipatuhi untuk menghindari risiko kredit macet. Tapi apakah prinsip kehati-hatian itu diterapkan sebagaimana mestinya?

Begitu mudahnya mendapatkan kartu kredit saat ini, bahkan ibu rumah tangga yang tidak punya pekerjaan saja bisa mendapatkannya. Dari kemudahan itu, serta praktik pemasaran yang tidak dibarengi dengan edukasi literasi keuangan, fungsi kartu kredit pun bergeser, dari yang semula alat pembayaran menjadi instrumen kredit konsumsi.

Orang berkartu kredit bukan untuk mempermudah transaksi lagi, tapi sebagai sarana pembiayaan. Dan di antara praktik pembiayaan terparah yang dilakukan pengguna kartu kredit adalah ketika kartu kredit itu digunakan sebagai sarana pembiayaan konsumsi.

Gunakan kartu debit untuk berbelanja

Untuk mempermudah transaksi, gunakan kartu debit sebagai alternatif. Jika pada awalnya kartu kredit berfungsi sebagai alat pembayaran, maka saat ini kartu debit atau ATM bisa sepenuhnya menggantikan fungsi itu. Hampir semua pusat perbelanjaan menerima pembayaran dengan kartu ATM. Semua belanja online juga saat ini bisa menggunakan ATM. Saya bahkan pernah menggunakan ATM dari bank tertentu untuk membeli jasa di Internet yang semula hanya bisa dilakukan dengan kartu kredit. Fitur layanan ATM dari bank itu dimodifikasi sehingga bisa 100% menggantikan fungsi kartu kredit sebagai alat pembayaran.

Keuntungan dari penggunaan kartu debit adalah, Anda bisa kembali ke jalan yang benar, menggunakan kartu sebagai alat pembayaran. Kartu debit adalah kartu ATM yang hanya bisa berfungsi jika saldo tabungan Anda tersedia di bank. Artinya, transaksi dengan kartu debit benar-benar belanja tunai, bukan berutang untuk konsumsi.

Gunakan uang tunai

Akhirnya, saran persuasif saya adalah untuk benar-benar bertaubat di bulan puasa dan lebaran: kembalilah ke uang kertas dan koin. Ini mungkin terkesan nasihat kuno bagi kaum milenial. Tapi percayalah, perilaku belanja Anda akan terdorong menjadi lebih rasional ketika Anda menggunakan uang tunai.

Kelemahan penggunaan uang tunai, yaitu risikonya yang relatif tinggi ketika dibawa ke tempat umum, justru mempunyai sisi positif, akan membatasi Anda agar tidak jor-joran dalam berbelanja.

Uang tunai berupa koin dan uang kertas adalah uang jajan Anda di masa kecil, kesan pertama ketika Anda dikenalkan dengan “uang” dalam peradaban ini. Dampaknya secara psikologis berbeda, Anda akan lebih menghargai “uang” asli daripada sekeping kartu debit atau kartu kredit.


Comments

Popular posts from this blog

Download PSAK terbaru | PDF | exposure draft

Contoh jurnal dan laporan keuangan perusahaan jasa

Neraca: laporan posisi keuangan

Kekuasaan atas pengelolaan keuangan negara menurut UU No. 17 Tahun 2003

Penyusunan dan penetapan APBN dan APBD menurut UU No. 17 Tahun 2003

Persamaan dasar akuntansi dan laporan keuangan

Instrumen keuangan (financial instrument): definisi menurut SAK/IFRS

Keuangan negara: definisi menurut UU No. 17 tahun 2003

Risiko spekulatif (speculative risk): definisi

Risiko murni (pure risk): definisi