Percaya dan skeptis

Satu hal yang saya suka dari tradisi kebijaksanaan India adalah spiritualitas tidak berangkat dari keyakinan atau kepercayaan pada apapun. Dalam tradisi ini, skeptisisme didorong sebagai dasar aspirasi untuk mengetahui. Keyakinan yang terburu-buru justru dianggap hanya ekspresi keakuan yang berpotensi menimbulkan bencana. Realisasi, atau pengalaman spiritual secara langsung, adalah yang menjadi tujuan.

Anda yakin Tuhan yang menciptakan alam semesta hanya karena orang yang Anda percaya mengatakan demikian. Anda pun merasa aman dan nyaman dalam keyakinan itu. Anda merasa menjadi bagian dari komunitas yang memiliki pandangan teologis yang sama. Anda merasa normal seperti yang lain, mendapatkan posisi terhormat dalam komunitas dengan keyakinan Anda. Anda merasa aman dan nyaman sekali. Salahkah?

Sepanjang dengan keyakinan itu Anda merasa aman dan nyaman, tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain, semua baik-baik saja. Jika keyakinan tentang Tuhan Yang Maha Kuasa mengakar dalam batin, tingkah laku Anda merasa benar-benar diawasi dan Anda takut untuk merugikan orang lain, mencuri, bertindak asusila…masyarakat dan peradaban akan berjalan baik-baik saja.

Tradisi kebijaksanaan India menyebut keyakinan Anda bisa menjadi bencana ketika keyakinan itu, yang sebenarnya Anda peroleh begitu saja dari masyarakat yang membesarkan Anda, dipaksakan untuk dimengerti atau diikuti oleh pihak lain yang juga dibesarkan dari tradisi mereka sendiri. Keyakinan Anda adalah asumsi, seperti pandangan teologis pihak lain juga asumsi. Asumsi bertarung dengan asumsi, dan karena sama-sama dibangun dari katanya dan katanya, bukan pencerahan yang terjadi, melainkan penaklukan satu terhadap yang lain…

Keyakinan teologis, yang semula dimaksudkan untuk memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan fundamental menyangkut eksistensi Anda di dunia ini, bercampur baur dengan kepentingan ekonomi, politik, dan naluri bertahan hidup. Urusannya jadi urusan hidup, bukan lagi soal bagaimana di seberang kematian.

Ketika eskalasi pertarungan asumsi ini meningkat menjadi peperangan, daya rusak yang ditimbulkannya juga tak terelakkan. Membunuh dianggap mulia, merampas dan mencuri menjadi suci, menduduki tanah orang lain disamarkan menjadi memberadabkan…

Ketika saya mengaku bahwa saya seorang skeptis, tanggapan yang sering saya terima adalah, “Semoga Anda lekas-lekas mendapat hidayah. Ingat, umur kita singkat. Bagaimana kalau mati Anda masih begini.” Karena harapan itu tulus, refleksi dari apa yang mereka yakini, biasanya saya sahut, “Amin…”

Skeptis yang saya maksud sebenarnya berbeda dengan tidak percaya. Saya hanya tidak bisa menelan mentah-mentah yang dikatakan orang lain, apalagi kalau yang dia katakan juga kata orang. Sikap skeptis itu bermula dari pemahaman bahwa persoalan Tuhan, penciptaan, eksistensi, sangat fundamental dan karenanya tidak bisa begitu saja menerima apa yang dikatakan orang lain. Kesadaran sedang hidup, pernah dilahirkan, dan akan mati, bukan perkara enteng yang begitu saja kita sandarkan kepada orang lain yang kebetulan kita jumpai.

Skeptis juga bukan berarti tidak percaya. Saya tidak menutup kemungkinan bahwa apa yang dikatakan seseorang itu benar. Bisa jadi benar. Bahkan saya tidak ingin terburu-buru menilai pernyataan seseorang tidak valid. Sejauh asumsi dan argumentasi yang dibangun runtut, meskipun itu teori spekulatif, saya nikmati juga.

Bagi saya, sikap skeptis intinya adalah pengakuan jujur kepada diri sendiri bahwa memang tidak tahu. Jujur kepada diri sendiri saja dulu, karena kalau bilang-bilang kadang malah jadi masalah. Jujur bahwa yang kita tahu tentang apapun jauh lebih sedikit daripada yang masih misteri, jujur bahwa yang kita anggap kita tahu juga belum tentu benar. Salahkah?

Bagi yang terbiasa yakin, sikap skeptis seperti saya mungkin agak sulit untuk dipahami, atau setidaknya sulit diterima. Mungkinkah hidup tanpa meyakini Tuhan, tanpa asumsi, tanpa tahu yang benar dan yang salah, tanpa tujuan? Kalau tidak percaya, berarti Anda ateis, kafir?

Sikap skeptis dalam diri saya sebenarnya natural saja, sejak muda saya selalu berkesulitan menerima pernyataan-pernyataan dogmatis yang dimaksudkan untuk diterima begitu saja. Tapi penting untuk saya tegaskan, bahwa skeptis saya bukan juga berarti tidak percaya. Skeptis saya lebih tegasnya berarti tidak tahu.

Sadhguru, seorang tokoh spiritual dari tradisi Hindu serta beberapa tokoh sufi kontemporer dari tradisi Islam, para biksu dari tradisi Buddhis, untungnya tidak mempermasalahkan sikap skeptis itu. Mereka justru kompak mengatakan, kesadaran ketidaktahuan justru pemicu seseorang menjadi pencari spiritual dan pencerahan…

Mereka bahkan secara lugas menyatakan bahwa menyampaikan Tuhan itu begini atau begitu, hidup itu seperti ini, mati itu seperti itu, tanpa mereka ketahui dengan pasti, hanya dari katanya dan katanya, bisa saja disebut isapan jempol belaka. Bukan dengan maksud untuk menjatuhkan keyakinan siapapun, pernyataan itu diungkapkan hanya untuk menegaskan pentingnya kesadaran, bahwa hidup itu berharga, bahwa sesuatu yang berharga itu tidak boleh dijalani sambil lalu, dimaknai ala kadarnya…

Comments

Popular posts from this blog

Contoh jurnal dan laporan keuangan perusahaan jasa

Download PSAK terbaru | PDF | exposure draft

Kekuasaan atas pengelolaan keuangan negara menurut UU No. 17 Tahun 2003

Neraca: laporan posisi keuangan

Risiko murni (pure risk): definisi

Risiko spekulatif (speculative risk): definisi

Siklus akuntansi: tahap-tahap proses akuntansi

Penyusunan dan penetapan APBN dan APBD menurut UU No. 17 Tahun 2003

Persediaan: definisi menurut PSAK 14/IAS 2

Pengendalian internal: definisi, komponen, dan prinsip