19 August 2011

“Smart education” ala Korea Selatan

Kementerian pendidikan Korea Selatan belum lama ini mencanangkan apa yang disebutnya “pendidikan pintar” atau “smart education.” Salah satu implementasinya adalah digitalisasi buku-buku teks dan buku-buku wajib sekolah serta penempatannya ke dalam cloud network. Dengan begitu, para pelajar bisa mengaksesnya melalui komputer meja, laptop, smartphone, dan alat-alat sejenis yang terhubung ke Internet.

pendidikan pintar ala Korea Selatan

Untuk projek tersebut, pemerintah Korea Selatan berencana menginvestasikan dana sebesar $2,4 miliar. Selain faktor-faktor lain, salah satu alasan yang menjustifikasi rencana tersebut adalah penghematan biaya sekolah, karena bahan-bahan ajar digital lebih murah dibandingkan versi cetak biasa.

Kelihatannya keren, ‘kan? Tapi orang kita yang biasa latah harus berpikir seribu kali kalau ingin meniru model kebijakan tersebut. Korea Selatan itu negara kecil sehingga pengimplementasian digitalisasi bahan ajar dari SD sampai perguruan tinggi di sana relatif lebih mudah. Sementara itu, Indonesia tercinta ini lingkupnya sangat luas dan kompleks sehingga nilai investasinya juga akan jauh lebih tinggi.

Pembelian lisensi, penerjemahan, pengubahan ke bentuk digital, pengadaan dan pemasangan infrastruktur, pelatihan guru dan dosen, pelatihan bagi pengguna (pelajar), semuanya makan biaya.

Konon, jejaring Internet di Indonesia juga tidak bisa diandalkan sehingga bisa jadi akan menimbulkan masalah lain. Para pelajar dan orang tua murid juga akan dipaksa untuk membeli alat-alat tambahan untuk mengaksesnya yang pastinya tidak terjangkau bagi kebanyakan orang Indonesia. Belum lagi, tingkat melek teknologi masyarakat kita masih tergolong parah.

Ide digitalisasi memang menarik. Tapi kalaupun diimplementasikan, paling bisa di tingkat lokal, tidak distandarkan melalui kebijakan nasional. Perguruan tinggi mungkin paling siap untuk mengadopsinya, bahkan sebagian mungkin sudah melakukannya, selain sekolah-sekolah komersial yang dipasarkan untuk kelas menengah ke atas.

Implikasinya, akses terhadap teknologi ini menjadi tidak merata, hanya untuk mahasiswa dan pelajar kelas menengah ke atas. Rumit, ya? Smile

(Dihimpun dari berbagai sumber)

1 comment:

  1. There is no any dobute that Korea is providing education with the high technology. It is completely new form of education.

    ReplyDelete