Menggunakan derivatif sebagai instrumen manajemen risiko (hedging)

Dibandingkan dengan instrumen keuangan tradisional seperti saham dan obligasi, penggunaan instrumen derivatif lebih fleksibel dan lebih murah. Dua karakteristik instrumen derivatif ini, fleksibel dan murah, menjadikan penggunaan derivatif semakin populer dalam bisnis. Baca juga: Pengertian dan contoh instrumen derivatif.

Selain untuk tujuan spekulasi (berjudi), penggunaan derivatif yang “baik” dan “benar” adalah untuk manajemen risiko. Sebagai contoh, perusahaan yang meminjam atau meminjamkan uang dalam jumlah sangat besar akan terpapar risiko suku bunga yang signifikan pula. Nilai wajar aset/liabilitas tertentu atau arus kas yang diterima/dibayarkan terkait aset/liabilitas itu bisa berubah jika suku bunga naik atau turun. Baca juga: Contoh transaksi derivatif – kontrak serah (forward contracts).

Perusahaan yang melakukan kegiatan usaha secara internasional juga terpapar risiko valuta asing—perubahan kurs valuta asing yang berpotensi berdampak negatif terhadap profitabilitas kegiatan usaha di luar negeri. Baca juga: Contoh transaksi derivatif – kontrak opsi (option contracts).

Istilah lindung nilai atau lindung risiko (hedging) secara umum berarti penggunaan instrumen derivatif untuk meng-offset atau menetralisir dampak negatif perubahan suku bunga atau perubahan kurs valuta asing. SAK mengatur perlakuan akuntansi khusus untuk instrumen keuangan derivatif yang penggunaannya dimaksudkan sebagai instrumen hedging. Baca juga: Contoh jurnal akuntansi derivatif | metode nilai wajar.


Ingin mahir menghitung pajak dan mengisi e-SPT?

brevet pajak unsoed purwokerto

Ikuti pelatihan Brevet Pajak Unsoed Purwokerto. Kunjungi halaman kami di Facebook untuk mendapatkan informasi pendaftaran, acara, dan aktivitas kami.


Lindung nilai wajar (fair value hedge)

Untuk memahami bagaimana perusahaan melakukan lindung nilai wajar, perhatikan contoh berikut. Pada tanggal 1 Desember 2018, PT Sri Mulyani memiliki persediaan (inventory) berupa ban traktor sejumlah 1.000 unit, biaya perolehan Rp200.000 per unit. Persediaan ban traktor itu disimpan untuk mengantisipasi permintaan pada musim tanam mendatang.

Dengan dimilikinya ban traktor itu, laporan posisi keuangan PT Sri Mulyani per 31 Desember 2018 menyajikan persediaan sejumlah Rp200.000.000 [= 1.000 × Rp200.000]. Kebijakan akuntansi PT Sri Mulyani menyatakan persediaan dilaporkan dengan biaya perolehan atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih rendah.

Dengan dimilikinya ban traktor itu juga, PT Sri Mulyani bisa merealisasikan keuntungan ketika harganya naik. Meskipun demikian, hingga ban traktor itu benar-benar dijual, PT Sri Mulyani terpapar risiko terkait kemungkinan turunnya nilai wajar ban traktor. Karena persediaan ban traktor itu juga digunakan sebagai agunan pinjaman bank, PT Sri Mulyani bermaksud mengelola risiko penurunan nilai wajar ini dengan melakukan lindung nilai wajar (fair value hedge).

Bagaimana caranya? Pada tanggal 2 Januari 2019, PT Sri Mulyani mengunci nilai persediaan ban traktor dengan membeli opsi untuk menjual (put option) karet dengan harga tertentu. PT Sri Mulyani menetapkan opsi itu sebagai instrumen lindung nilai wajar persediaan ban traktor. Sifat opsi jual adalah sedemikian rupa sehingga jika harga aset yang mendasarinya (dalam contoh ini karet) turun, pemegang opsi jual akan mendapatkan keuntungan dari selisih harga pasar dengan harga eksekusi.

Dengan opsi jual itu, PT Sri Mulyani berhak untuk menjual 4.000 kilogram karet dengan harga Rp50.000 per kilogram. Masa berlaku opsi dua tahun. Harga Rp50.000 per kilogram juga adalah harga karet untuk pengiriman pada tanggal tersebut (spot price).

Karena harga eksekusi opsi sama dengan harga pasar pada saat kontrak opsi dimulai, PT Sri Mulyani tidak diminta untuk membayar apapun pada saat opsi itu disepakati dan tidak ada ayat jurnal yang diperlukan pada tanggal 2 Januari 2019.

Perhatikan, opsi jual yang digunakan adalah opsi jual karet yang merupakan bahan baku utama ban traktor. Dengan asumsi bahwa fluktuasi harga ban traktor terutama ditentukan oleh fluktuasi harga karet, penggunaan opsi jual karet sebagai instrumen lindung nilai mungkin sekali efektif.

Dengan kata lain, jika harga persediaan ban traktor (item yang dilindungi) turun, penyebabnya kemungkinan besar adalah turunnya harga karet. Dengan dimilikinya opsi jual karet, potensi kerugian akibat penurunan harga ban traktor akan di-offset atau dinetralisir dengan kinerja opsi jual karet (instrumen lindung nilai) yang menguntungkan. Inilah inti dari cara kerja lindung nilai wajar.

Bagaimanakah akuntansi melaporkan kejadian di atas? Perhatikan, ada dua hal penting terkait aktivitas lindung nilai, yaitu aset yang menjadi objek lindung nilai wajar (persediaan ban traktor) dan derivatif sebagai instrumen lindung nilai (opsi jual karet).

Normalnya, persediaan dilaporkan dengan biaya perolehan atau nilai realisasi bersih, pilih yang lebih rendah, sedangkan derivatif dilaporkan dengan nilai wajar melalui laba-rugi. Akuntansi lindung nilai (hedge accounting) seringkali disebut sebagai akuntansi khusus karena dengan sengaja menyimpang dari ketentuan SAK yang berlaku jika tidak ada aktivitas lindung nilai.

Kembali kepada contoh di atas, PT Sri Mulyani menyampaikan laporan keuangan interim untuk periode tiga bulan yang berakhir tanggal 31 Maret 2019. Jika pada tanggal 31 Maret 2019 nilai wajar persediaan ban traktor turun 10% menjadi Rp180.000 per unit, PT Sri Mulyani membuat ayat jurnal penyesuaian berikut terkait persediaan ban traktor yang dimilikinya:

contoh jurnal lindung nilai

Jika Anda mengetahui akuntansi persediaan yang “lazim”, Anda akan menemukan kejanggalan mencermati ayat jurnal di atas. Ayat jurnal penyesuaian di atas dimaksudkan untuk menyajikan persediaan dengan nilai wajar, bukan dengan yang lebih rendah biaya perolehan atau nilai realisasi bersih. Dengan kata lain, ayat jurnal di atas menerapkan metode nilai wajar untuk melaporkan persediaan.

Jika manajemen secara formal menyatakan bahwa persediaan itu menjadi objek lindung nilai wajar (hedged item), perlakuan khusus di atas diperlukan agar tidak terjadi mismatch keuntungan/kerugian dalam penentuan laba-rugi.

Ayat jurnal berikut dimaksudkan untuk menyesuaikan nilai wajar opsi jual (instrumen lindung nilai) dengan asumsi harga karet yang mendasari turun 10%:

contoh jurnal lindung nilai

Perhatikan, dengan ayat jurnal di atas laporan posisi keuangan PT Sri Mulyani akan menyajikan persediaan ban traktor (item yang dilindungi) dengan nilai wajar, yaitu Rp180.000.000 [= Rp200.000.000 – Rp20.000.000]. Laporan posisi keuangan juga menyajikan opsi jual (instrumen pelindung) dengan nilai wajar, yaitu Rp20.000.000.

Di sisi lain, kerugian tidak direalisasi yang diakibatkan oleh penurunan nilai wajar ban traktor di-offset sepenuhnya dengan kenaikan nilai wajar opsi jual, sehingga pengaruhnya terhadap penghitungan laba-rugi menjadi nol.


Comments

Popular posts from this blog

Contoh jurnal dan laporan keuangan perusahaan jasa

Kekuasaan atas pengelolaan keuangan negara menurut UU No. 17 Tahun 2003

Download PSAK terbaru | PDF | exposure draft

Neraca: laporan posisi keuangan

Penyusunan dan penetapan APBN dan APBD menurut UU No. 17 Tahun 2003

Persamaan dasar akuntansi dan laporan keuangan

Siklus akuntansi: tahap-tahap proses akuntansi

Nilai wajar (fair value): definisi menurut PSAK 68/IFRS 13

Akuntansi piutang usaha | piutang dagang

Akuntansi dan laporan keuangan perusahaan dagang